• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat yang tidak terjawab

Dalam dokumen Pemikiran Politik Soe Hok Gie (Halaman 63-68)

BAB IV : Peranan Soe hok Gie dalam Melihat Permasalah Mahasiswa dan Pemerintahan Indonesia

CATATAN SANG DEMONSTRAN

B.1. Hakikat yang tidak terjawab

Pada tanggal 25 Oktober 1966, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) akan merayakan ulang tahunnya yang kedua.. Tahun ketiga yang akan di jalani KAMI adalah tahun yang lebih sulit lagi. Di dalam dunia mahasiswa sendiri terasa frustrasi dan apatisme yang makin besar. Banyak mahasiswa panik dan bertanya-tanya tentang pemimpin-pemimpin mereka yang mondar-mandir ke luar negeri, tentang cerita-cerita dekadensi para pemimpin mahasiswa, tentang perseturaan di atas, tentang pengempesan ban-ban mobil milik para tokoh Presidium KAMI di markas Laskar Arief Rachman Hakim dan seribu satu soal lainnya.

82

KAMI dilahirkan sebagai jawaban atas kemelut politik Indonesia dan kemelut dunia mahasiswa.

B.1. Hakikat yang tidak terjawab

83

81

Stanley, & Santoso, Aris, tulisan Soe Hok gie (Kompas, 25 dan 26 oktober 1967),Ibid. , hal. 15

82

Stanley, & Santoso, Aris, Op.cit, hal :16

83

Francois Raillon, Op.cit, hal : 14

Waktu itu, tanah air kita sedang berada dalam krisis. PKI baru saja mencoba mengadakan coup dan kekuatan-kekuatan

Soekarnoisme sedang mencoba menyusun barisannya kembali. Presiden Soekarno berusaha mati-matian untuk mengecilkan arti coup PKI dan sedang giat berusaha mencari keseimbangan politik baru.

Dalam dunia mahasiswa timbul suasana kegelisahan. Mereka ingin bertindak aktif untuk menyelamatkan Indonesia dari bahaya PKI, tetapi alatnya tidak ada. PPMI, yang merupakan sarang vested interest mahasiswa, ternyata telah gagal. Bahkan plin-plan. Waktu berjalan terus dan keadaan tidak dapat menunggu dialog-dialog dalam PPMI yang bertele-tele. Dalam keadaan itulah sekelompok mahasiswa (para tokohnya) mengambil inisiatif mendirikan sebuah wadah baru yang dinamakan KAMI. Tanpa mempedulikan akan PPMI yang tidak dapat lagi menyalurkan kehendak mahasiswa di bawah. Syarief Tayeb (Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan) juga aktif membantu pendirian KAMI.84

Akhir Oktober 1966, diskusi menghasilkan terbentuk-nya KAMI. Pada waktu itu KAMI mempunyai dua aspek. Aspek pertama adalah aspek

perjuangan

PKI dan rezim Nasakom (Nasionalis, sosialis, dan komunis) Soekarno.85

84

Francois Raillon, Op. Cit, hal : 12

85

Soe Hok Gie, gie menjelaskan moral force adalah soal prinsipil bagi kemanusian. Op. cit, hal : 143

Pemimpin-pemimpinnya tidak memperhitungkan oportunisme politik yang lazim berlaku. Mereka bergerak atas dasar ukuran benar dan salah. Pola yang lama salah, karena ia membawa negara ke jurang kehancuran. Suasana di bawah (dunia mahasiswa) sangat ditandai oleh semangat ini, terbakarnya

kembali semangat patriotisme yang jujur. Dalam pandangan Gie pertama-tama kita harus “ who am I ”. Dan saya telah menjawab bahwa saya adalah intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin selalu mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi, juga ketidak-populeran. Ada yang lebih besar : kebenaran.86

Dari sini terlihatlah dua wajah KAMI. Di satu pihak, ia merupakan suatu katalisator dari kekuatan-kekuatan patriotisme bawah, yang berhitung atas dasar benar dan salah. Tetapi di lain pihak, ia merupakan lanjutan dari PPMI lama yang selalu berhitung atas dasar kuat dan lemah. Di dalamnya terkandung kekuatan moral dan kekuatan politik.

Tetapi, di samping aspek pertama ini, terdapat pula aspek lainnya. KAMI dalam penyusunannya mengalami kompromi praktis, mereka tidak berhitung atas dasar kuat dan lemah. HMI yang merupakan ormas mahasiswa terbesar, tidak dimasukkan dalam Presidium karena perhitungan oportunisme politik

Sebaliknya ormas-ormas mahasiswa yang hampir tak berakar dalam dunia mahasiswa diikutsertakan dalam Presidium karena induk-nya besar. GMNI yang plinplan ditarik-tarik agar mau masuk KAMI dan ditawarkan kursi Ketua Presidium. Syukurlah GMNI menolak.

87

86

Soe Hok Gie, Op. cit, hal : 173

87

Stanley, & Santoso, Aris. Op.cit, hal : 17

Inilah kekuatan KAMI pada saat kelahirannya. Tetapi ini juga yang akan merupakan sumber kehancuran KAMI.

Pergulatan KAMI adalah pergulatan untuk mencari hakikat mahasiswa Indonesia. Apakah ia kekuatan moral atau kekuatan politik pada dasarnya. Sudah jelas bahwa tidak mungkin KAMI menjadi moral force dalam arti semurni-murninya. Demikian pula sebagai kekuatan politik. Hakikat dasarnya tidak terjawab.

Rapat-rapat Presidium KAMI adalah rapat-rapat untuk mencari modus dari hakikat KAMI dalam berbagai isu. Hal ini berlaku mulai dari Pusat sampai rapat KAMI Fakultas. Sebagian ingin melancarkan isu yang dirasakan tidak benar macam NASAKOM, misalnya. Tetapi sebagian lagi menolak karena melihat yang akan ditentangnya lebih kuat dari mereka sendiri. Mulai dari soal “turunkan harga bensin” sampai soal “gantung koruptor” pada hakikatnya adalah merupakan soal mencari hakikat diri KAMI.88

Tanggal l0 Januari 1966 adalah tanggal yang maha penting bagi perkembangan KAMI. Pada hari itu, para mahasiswa Jakarta berdemonstrasi ke tempat Chairul Saleh untuk memprotes kenaikan harga. Seperti yang direncanakan, demonstrasi tersebut adalah demonstrasi biasa. Tetapi sekali arus telah berjalan, ia tak bisa ditahan lagi. Mahasiswa-mahasiswa yang ikut serta, bergerak dan mencetuskan apa yang telah lama terpendam dalam dirinya. Mereka tidak berpikir bahwa Chairul Saleh kuat atau tidak. Mereka hanya berpikir bahwa kenaikan harga di tengah berbagai kemewahan Soekarno dan kawan-kawannya adalah sesuatu yang tidak adil. 89

88

Stanley, & Santoso, Aris, Ibid : 18

89

Dasar perhitungan di atas adalah dasar oportunis politik yang semata-mata berdasarkan neraca moral. sekali ia turun, ia tak bisa ditahan lagi. Hari berikutnya keluar yal-yel menteri goblok, tukang kawin, menteri ngobyek dan lain-lainnya, yang kalau dibicarakan di Presidum akan ditolak karena tidak taktis. Pada hari-hari ini, golongan moral force memegang ‘kuasa’ di KAMI.90

Arus moral force ini tidaklah diterima dengan ‘gembira’ di atas yang menggunakan neraca oportunisme politik. Saya masih ingat bagaimana sejumlah mahasiswa Psikologi dan Sastra mati-matian mencoba meyakinkan DMUI (Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia) dan KAMI agar mau mempublikasi sebuah penerbitan demonstrasi mahasiswa. Tetapi usaha para mahasiswa tersebut gagal. Akhirnya brosur itu diterbitkan oleh sebuah majalah fakultas, Gema Psikologi, dan Soal utama yang muncul adalah soal mogok kuliah di UI. Beberapa ormas mengeluarkan instruksi agar menghentikan mogok kuliah, termasuk DMUI.91

90 Stanley, & Santoso, Aris, Ibid : 19

91

Stanley, & Santoso, Aris, Ibid : 19

Tetapi anak buahnya tidak mau peduli. Di Psikologi, perundingan antara Syarief Tayeb dengan para pemimpin mahasiswa yang sebagian besar dari golongan moral force, mengalami jalan buntu. Bahkan, Menteri Syarief Tayeb disambut dengan yel-yel “Mogok Terus”. Kalau dilihat dari segi taktis politik (yang berhitung atas dasar kuat dan lemah) tindakan ini adalah gila. Tetapi mahasiswa menjalankannya atas dasar perhitungan benar dan salah. Dan selama minggu-minggu sulit itu, dari bawah muncul tokoh-tokoh

mahasiswa yang dapat lebih “mewakili” aspirasi moral force di bawah.92 Tokoh-tokoh ini tidak berbicara sebagai politikus, tetapi sebagai mahasiswa biasa. Pada hari-hari itu kita lihat munculnya Fahmi Idris, Hakim Sorimuda yang melejit dengan cepat ke atas. Terbunuhnya Arief Rachman Halim merupakan suatu point of no return bagi perjuangan para mahasiswa. Presidium formal jarang lagi turun ke lapangan, mungkin karena perhitungan oportunisme politik, dan pimpinan lapangan berada di tangan mahasiswa-mahasiswa non-politikus.93

la berbicara secara jujur tentang berbagai persoalan menyerang Soekarno (pada waktu semua orang masih menjilatnya), ia menyerang Ruslan Abdulgani dan Leimena (yang masih jadi Waperdam), ia menyerang Ibnu Sutowo (yang dianggap korupsi). la juga menggugat Mas Agung, Darmosugondo, Hartini dan semuanya yang dianggap tidak benar. Di samping itu, ia mengecam KAMI, KASSI dan KAPPI yang mabuk kemenangan.

Demikianlah keadaannya sampai 12 Maret 1966.

Dalam dokumen Pemikiran Politik Soe Hok Gie (Halaman 63-68)