BAB IV Gereja yang Bersaksi dan Melayani di Dunia
C. Gereja yang Memuridkan
……… ……… ……… ………
C. Gereja yang Memuridkan
Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan para murid di dunia dan kembali ke sorga, Ia memberikan amanat penting yang harus dilakukan oleh murid-murid-Nya. Dalam Matius 28: 18–20 Tuhan Yesus berkata,
18”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
19Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Para murid dipanggil dan dikumpulkan oleh Tuhan untuk memuridkan bangsa-bangsa dan menjadi bagian dari Kerajaan Surga. Itulah sebabnya Tuhan menjawab, ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1: 8).
Apa artinya menjadi murid Kristus? Sebagian orang mengatakan bahwa menjadi murid berarti menjadi orang Kristen. Bukankah Tuhan memerintahkan para murid agar membaptiskan semua orang dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus? Pemahaman seperti ini juga pernah dimiliki oleh para penginjil atau misionaris pada abad-abad yang lalu. Di abad XVI dan XVII, misalnya, para misionaris di Kepulauan Maluku mengira tugas mereka sudah selesai kalau mereka berhasil membaptiskan orang-orang di sana. Tidak ada tindak lanjut apapun untuk membina mereka untuk memperdalam iman dan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.
Sebagai contoh, Fransiskus Xaverius (baca: Saverius), salah seorang tokoh dan misionaris penting di Gereja Katolik Roma, pergi untuk memberitakan Injil di Maluku. Pada akhir April 1547 ia ke Ambon dan bertemu dengan teman-temannya di sana. Setahun kemudian ia meninggalkan Ambon dan pergi ke Malaka (sekarang di negara Malaysia). Dalam kunjungannya yang sangat singkat di Ambon, Xaverius berusaha menyebarkan berita injil. Ia segera berkunjung ke beberapa rumah orang Portugis dan orang-orang Kristen di desa-desa sekitarnya, yaitu Tawiri dan Hukunalo. Ia ditemani seorang anak remaja yang menjadi penerjemahnya dan beberapa rekannya yang masih muda. Bila ada orang yang sakit atau anak-anak yang ingin dibaptis, Xaverius akan masuk ke rumah itu dan mendoakan mereka. Anak-anak muda yang menemaninya akan mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli dan Dasa Titah dalam bahasa Melayu. Xaverius kemudian membacakan beberapa ayat dari Injil untuk orang yang sakit, dan kemudian membaptiskan anak-anak yang terlahir sejak kematian imam mereka sebelumnya.
Apakah orang-orang desa itu mengerti bahasa Melayu? Tampaknya tidak. Apakah ia berhasil menjadikan orang-orang desa itu pengikut Kristus? Juga tidak. Mereka memang dibaptiskan dan menjadi Kristen. Mereka juga memakai nama-nama Kristen seperti Abraham, Yakobus, Matius, Ester, Hana, dan sebagainya. Tetapi, apa artinya menjadi seorang Kristen, mereka tidak pahami dengan benar, karena pendidikan iman Kristen yang mereka terima sangat sedikit dan terbatas pada ”Pengakuan Iman Rasuli” dan ”Dasa Titah”. Bahkan Alkitab pun tidak mereka kenal. Penduduk umumnya buta huruf tidak bisa membaca. Jadi, ajaran tentang iman Kristen yang mereka terima dan pahami hanya sedikit sekali. Tidak mengherankan apabila kehidupan mereka pun tidak banyak berubah setelah mereka dibaptiskan. Akibatnya, perintah Tuhan Yesus untuk menjadikan segala bangsa di dunia murid-murid-Nya, tidak benar-benar menjadi kenyataan. Padahal seorang Kristen tidak bisa
disebut Kristen apabila ia tidak memperlihatkan hal itu di dalam kelakuannya sehari-hari, sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus telah ajarkan kepadanya.
Salah satu hal yang dilakukan oleh orang-orang Kristen perdana untuk menunjukkan bahwa mereka murid-murid Tuhan Yesus adalah menyatakan kasih mereka kepada siapapun juga. Kita sudah melihat bagaimana gereja perdana membuka dirinya terhadap orang-orang yang tersingkirkan dari masyarakat umumnya. Bagaimana dengan gereja-gereja di masa kini?
Di India ada sekelompok orang yang disebut ”Dalit”. Mereka adalah orang-orang yang tidak berkasta dan tidak boleh disentuh karena dianggap haram, najis, dan bisa menyebabkan noda pada diri yang melakukannya. Begitu najisnya kaum Dalit ini sehingga mayoritas masyarakat India tidak rela makanannya disediakan oleh seorang Dalit. Makanan itu dianggapnya akan tercemar. ”Kita bisa menyentuh kucing, anjing, atau binatang apapun, namun menyentuh orang-orang ini adalah polusi,” kata G.K. Gokhale (dalam M.R. Arulraja, Jesus the Dalit, 1996).
Orang-orang Dalit telah berabad-abad ditindas dan disingkirkan dalam sistem kasta India. Mahatma Gandhi, tokoh pendiri India, pernah menyebut Dalit dengan istilah ”Harijan” atau ”anak-anak Tuhan”. Namun kaum Dalit sendiri menolak istilah ini karena tidak menyelesaikan masalah dan penderitaan yang mereka alami. Jumlah mereka sangat besar yaitu sekira 240 juta jiwa di antara lebih dari 1 miliar penduduk India. Banyak dari kaum Dalit ini yang menjadi Kristen, dengan harapan bahwa mereka akan diterima sepenuhnya dan tidak akan didiskriminasikan lagi. Namun sayangnya, banyak orang Kristen India yang masih terkungkung dalam ikatan-ikatan kasta dan tidak bisa menerima kaum Dalit sepenuhnya. Akibatnya, orang-orang Dalit kembali mendapatkan perlakuan diskriminatif di gereja. Pastor Yesumariya, dari Gereja Katolik Roma di India mengatakan, ”Di Tamil Nadu, lebih dari 70% umat Katolik berasal dari latar belakang Dalit. Tetapi hanya 4 dari 18 uskup kami yang berasal dari komunitas Dalit Kristen” (Prof. M.M. Ninan, Praxis, Orthopraxis, and Orthodoxy). Dari sini jelas bahwa gereja perlu bekerja lebih keras untuk membuat orang-orang Kristen menerima kaum Dalit dan pada akhirnya menghilangkan sistem kasta dari seluruh masyarakat India. Di Indonesia, gereja-gereja pun sadar akan tugasnya untuk memperjuangkan hak asasi manusia. Di Papua, Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dan Gereja KINGMI (Kemah Injil Gereja Indonesia) telah lama menyuarakan perlawanan terhadap praktik-praktik ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat Papua. Pada 2012, Pdt. Alberth Yoku, ketua Sinode GKI di Tanah Papua, mengatakan, ”Selama ini kami berusaha untuk menyampaikan masalah-masalah Papua ke Dewan Gereja[-gereja se-Dunia]. Memang masalah HAM (Hak Asasi Manusia) berat untuk diperjuangkan. Akan tetapi, jangan lelah untuk tetap memperjuangkannya.” (”Gereja-gereja di Tanah Papua Berkomitmen
Perjuangkan Kasus-kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia” dalam Kabar Gereja, September 2012).
Kegiatan 1: Perdalaman Materi
1. Apakah yang dimaksudkan dengan ”Pengakuan Iman Rasuli” dan ”Dasa Titah” itu? Dapatkah kamu menyebutkannya luar kepala?
2. Bagaimana konsep ”menjadi murid Yesus” dipahami di lingkungan gerejamu? Apa kriteria yang digunakan? Dalam Matius 7: 21, Tuhan Yesus berkata, ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Kata-kata-Nya ini menunjukkan betapa iman harus menjadi nyata dalam perbuatan kita sehari-hari. Apabila kita mengaku bahwa kita adalah murid-murid Kristus, maka pengakuan itu harus diperlihatkan dalam buah yang baik. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus,
”Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik” (Mat. 7: 17–18).
3. Menurut kamu, apa kaitan ucapan Tuhan Yesus di atas dengan pembahasan kita mengenai keterlibatan gereja dan orang Kristen dalam menolong orang lain? Coba diskusikan masalah ini dengan teman sebangkumu, lalu tuliskan hasilnya di bawah ini.
……… ……… ……… ……… ……….………