PERKEMBANGAN GEREJA METHODIST INDONESIA DI MEDAN
4.3 Gereja Methodist Indonesia Satu Distrik Kembali
4.3 Gereja Methodist Indonesia Satu Distrik Kembali
Pembubaran distrik Tionghoa atau distrik pengembangan tahun 1983 pada dasarnya menimbulkan pertentangan atau perpecahan di Tubuh Gereja Methodist Indonesia, terutama dalam pengambil alihan departemen-departemen yang didirikan mengatas namakan Gereja Methodist Indonesia, tetapi sejak saat itu Gereja Methodist secara Yuridis yang ada di Indonesia menjadi satu.
Kelompok Tionghoa yang telah dibubarkan distriknya dan tetap bertahan sebagai warga Gereja Methodist Indonesia terpaksa harus bergabung dengan gereja yang anggota jemaatnya adalah etnis Batak. Ada beberapa tanggapan tentang pembubaran distrik Tionghoa yaitu dari kalangan Batak dan dari kelompok Tionghoa sendiri. Kelompok Tionghoa menilai bahwa dengan pembubaran distrik Tionghoa, akan semakin memperbesar peluang orang Batak dalam kepemimpinan Methodist, sedangkan dari kelompok Batak sendiri
beranggapan, pembubaran ini akan semakin mempererat hubungan antara kelompok Tionghoa dengan kelompok Batak.
Jumlah jemaat Methodist dari kelompok Batak semakin lama semakin berkembang, sedangkan jemaat Tionghoa persentasenya tetap, tidak ada pertambahan, dan bahkan mengalami pengurangan. Pengurangan ini berlangsung hingga tahun 1985, sampai Bishop A. Sitorus habis periodisasinya. Bishop A. Sitorus digantikan oleh Pdt. J Gultom untuk periode 1985-1989 setelah konferensi agung pada bulan Oktober 1985.
Terpilihnya bishop J. Gultom untuk periode 1985, memberikan semangat baru kepada kelompok Tionghoa, yang menyimpan harapan bahwa dengan bishop baru ini kelompok Tionghoa akan semakin diperhatikan, paling tidak sudah lebih baik dari pada mantan bishop A. Sitorus yang telah menyepakati bubarnya distrik Tionghoa.55
Jemaat Methodist dari kelompok Tionghoa memberikan semangat baru terhadap suasana baru yaitu bishop baru. Beberapa hari setelah terpilih, jemaat Tionghoa mengusulkan terbentuknya “Pusat Persekutuan Injil Gereja Methodist Indonesia” (PPIGMI) yang bermottokan “bersatu mengabarkan Injil”. Tujuan dari pembentukan ini adalah,
1. Menyatukan jemaat Tionghoa bersama-sama bertanggung-jawab untuk mengabarkan injil, saling memperteguh agar pelayanan dapat lebih ditingkatkan lagi.
2. Mentaati disiplin Gereja Methodist Indonesia yang mengharapkan dorongan yang besar dari pusat Gereja Methodist Indonesia.
55
3. Memajukan dan mempererat hubungan dengan gereja lain agar dapat membangkitkan semangat yang lebih tinggi untuk mengabarkan injil.56 Sasaran pokok dari pembentukan ini adalah pemberian perhatian kepada kelompok Tionghoa, yang merasa dikesampingkan setelah penghapusan distrik bercorak etnisitas. Organisasi ini diharapkan menjadi salah satu wadah yang nantinya sebagai penyatu bagi jemaat Gereja Methodist Indonesia yang etnisitasnya Tionghoa.
Waktu pematangan pembentukan “Pusat Persekutuan Injil Gereja Methodist Indonesia”, harapan dari kelompok pemrakarsa sangat besar terhadap pengurus Methodist, sebab cara ini diharapkan dapat mengembalikan keharmonisan antara kelompok Tionghoa kepada Gereja Methodist Indonesia.
Harapan dari pihak pemrakarsa ternyata terbalik kepada hal yang tidak diduga, sebab forum tidak menerima gagasan tersebut. Alasan yang kuat dari kelompok kontra masih seputar terhadap terjadinya pengkotak-kotakan di tubuh Methodist. Pendeta A. Sihombing salah satu dari peserta menilai bahwa gerakan ini akan mengembalikan Methodist kemasa terbentuknya distrik Tionghoa. Pendapat yang sama juga diutarakan oleh Pendeta R.P.M. Tambunan.
Penolakan terhadap pembentukan PPIGMI ini adalah sebagai keputusan pertemuan. Bishop Gultom ternyata tidak memberikan pendapat tentang penolakan ini. Bishop menyerahkan pemecahan masalah kepada Forum, sehingga dengan cepat forum memutuskan untuk menolak pembentukan Pusat Persekutuan Injil Gereja Methodist Indnesia ini. Kelompok yang menginginkan adanya Persekutuan Injil Gereja Methodist Indonesia merasa kecewa terhadap keputusan
56
Lampiran surat Pendeta Boaz Yahya kepada Pendeta J. Napiun tanggal 27 Januari 1986, Arsip GMI, Medan, 1986 (beraksara Tionghoa, yang diterjemahkan kedalam bahasa
kali ini. Alasan penolakan pembentukan departemen tersebut dinilai sebagai wujud pembedaan di tubuh Gereja Methodist Indonesia dan akan menimbulkan terjadinya pertentangan di tubuh Methodist. Kalangan orang Tionghoa sangat kecewa setelah rencana ini dibatalkan, dan juga bishop hanya dapat menarik keputusan sesuai dengan suara terbanyak.
Jemaat Methodist dari etnis Tionghoa tidak berhenti mencari solusi sebagai upaya peningkatan kelompok etnisnya. Pada tahun selanjutnya mereka mendidirikan Yayasan Kristen tanpa memakai nama Methodist, sebagai upaya pelepasan pengaruh gereja terhadap semua aktivitas jemaat Methodist. Tiga daerah yang menjadi sasaran pembangunan tersebut, yaitu Tebing tinggi, Lubuk Pakam dan Pematang Siantar.
Pembangunan ini dilakukan tanpa ada hubungannya dengan Konferensi Agung maupun Konfrensi Tahunan. Perguruan baru ini dinamakan dengan “Yayasan Perguruan Kristen Ostrom”, dimana masyarakat jemaat Methodist etnis Tionghoa sebagai pelaku tunggal terhadap pembentukan ini.57
Pengaruh yang dirasakan masyakat Tionghoa akibat pembentukan Perguruan Kristen Ostrom ini adalah perkembangan bagi kelompoknya dari sisi pendidikan, mereka dominan memfokuskan perkembangannya dalam bidang pendidikan dari pada pengembangan gereja. Di dalam gereja pertisipasi kelompok Tionghoa semakin berkurang, tetapi pendidikan selalu mengalami peningkatan.
Kelompok etnis Tionghoa yang gerejanya adalah Methodist lebih banyak waktunya mendekatkan diri kekalompok Tionghoa lainnya yang agamanya adalah Kristen Protestan melalui pembentukan organisasi kelompok China yang
Indonesia. 57
beragama Kristen Protestan seperti Chinese Coordination Center Of Word Evangelism (CCCOWE). Organisasi ini merupakan organisasi yang levelnya adalah internasional, sehingga jumlahnya sangat besar.
Teguran yang diberikan oleh bishop terhadap jemaat Methodist yang masuk terhadap organisasi ini adalah memberiakan pilihan kepada mereka untuk memilih salah satu kelompok tertentu, antara Methodist dengan CCCOWE, sebab organisasi ini juga dianggap adalah gerakan yang sifatnya pengekklusifan masyarakat Tionghoa didalam kelompok tertentu.
Sejak teguran inilah kelompok Tionghoa menghentikan segala aktivitasnya yang sifatnya pengkhususan kepada kelompok mereka, sebab selalu ada dugaan yang sifatnya pengekklusifan kelompoknya dari masyarakat Indonesia lainnya dalam satu gereja. Gereja Methodist Indonesia selalu tetap memperhatikan jemaatnya, organisasi yang sifatnya etnisitas di tubuh Gereja Methodist Indonesia selalu dijauhkan oleh pengurus GMI Pusat, sehingga sampai saat ini perbedaan etnisitas menjadi salah satu kekuatan bagi tubuh Methodist, yang diatur dengan tata tertib Gereja Methodist Indonesia.