• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjalanan Misi Methodist Di Pulau Jawa

SEJARAH RINGKAS ALIRAN METHODIST

3.2 Masuknya Ajaran Methodist Ke Indonesia

3.2.1 Perjalanan Misi Methodist Di Pulau Jawa

John Russel Denyes, yang merupakan seorang pendeta yang melayani di misi Methodist Amerika, diminta badan misi Methodist Singapura untuk mengajar di sekolah yang didirikan oleh kelompok orang Tionghoa di Singapura. Permintaan ini tidak ditolak oleh Russel, karena pekerjaan yang akan dilaksanakannya adalah bentuk pelayanan atau pengabdian kepada sesama manusia.

Russel mengajar di sekolah Anglo Chinese, dimana sekolah ini merupakan salah satu sekolah faforit bagi orang Tionghoa yang ada di Hindia Belanda dan Malaysia. Murid-murid yang ada di sekolah Anglo Chinese pada dasarnya mengenal Russel sebagai guru, bukan sebagai penyebar injil, karena itulah Russel

tidak mendapat halangan yang berat ketika perlahan-lahan memanfaatkan situasi yang ada mulai menyebarkan berita tentang injil.25

Masyarakat Tionghoa yang ada di sekolah Anglo mulai mengikuti ajaran Methodist yang diberikan oleh Russel. Russel membagi waktunya dalam memberikan pelajaran sekolah dan waktu memberi pelajaran tentang injil. Para muridnya tidak memberikan kritikan kepada Russel ketika Russel memberitakan ajaran injil, hal ini disebabkan karena Russel tidak ada menganjurkan atau memaksa murid-muridnya untuk meninggalkan kepercayaannya dan masuk menjadi pengikut Methodist, tetapi materi yang diberikan saat penginjilan adalah gembaran tentang Tuhan, Kekristenan dan arti pentingnya Juruslamat yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Kelompok pelajar Tionghoa dari Hindia Belanda yang mengikuti pendidikan di Angglo Chinese, tertarik dengan metode yang diberikan oleh Russel, sehingga kelompok pelajar tersebut memintakan Russel supaya mengajar di pulau Jawa, sebab jumlah siswa yang sedang menuntut ilmu di Singapura yang berasal dari pulau Jawa tergolong besar. Jumlah ini akan bertambah jika sekolah yang sama juga didirikan di Jawa.

Permintaan yang diajukan kelompok pelajar Tionghoa kepada Russel, disampaikan dan diteruskan kepusat misi Methodist yang ada di Amerika Serikat. Misi Methodist di Amerika Serikat Menerima permintaan Russel dengan memperbesar anggaran dana penginjilan dan segera menyediakan tenaga Pengajar untuk melayani di sekolah-sekolah yang akan dibuka di pulau Jawa tersebut.

25

Tahun1905 tepatnya tanggal 12 Maret, Russel bersama-sama dengan B.F West (pimpinan Distrik Singapura) melakukan kunjungan ke Pulau Jawa, untuk melihat perkembangan pekabaran injil di pulau tersebut. Mereka melihat pekerjaan pekabaran injil yang dilakukan di pulau Jawa telah membentuk kelompok-kelompok tertentu berdasarkan wilayah yaitu, Surabaya, Mojowarno, Semarang, dan Yoyakarta. Sebelum misi Methodist sampai di Pulau Jawa, aktivitas pekabaran injil telah berlangsung di pulau Jawa yang dikelola oleh misi zending dari Belanda dengan nama Nederlands Zendings Vereniging (NZV).

Pendekatan pekabaran injil yang dilakukan oleh misi Methodist lebih memberikan harapan kepada kelompok masyarakat Tionghoa yang sebelumnya telah mendapat berita tentang injil ketika sebagian anak mereka berada di sekolah Angglo Chinese di singapura. Melihat hal ini B.F West menilai bahwa wilayah Batavia adalah wilayah yang tepat sebagai tempat penyebaran ajaran Methodist, berbeda dengan wilayah Malaya yang sangat sulit mengalami perkembangan. Hal ini tidak luput dari permasalahan agama yang telah mereka miliki, yaitu agama Islam yang mereka anut ternyata sudah mendarah daging terutama kepada kelompok suku Melayu yang ada di Malaka, sedangkan pada masyarakat Tionghoa yang ada di pulau Jawa sudah hampir meninggalkan tradisi kepercayaan yang dimiliki oleh leluhurnya.26

Russel sangat menginginkan situasi seperti yang terjadi di Pulau Jawa ini, maka dengan segenap usaha dilakukannya untuk pindah dari distrik Malaya yang dipimpinnya ke Batavia. Permohonan ini diajukan Russel kepada pimpinan Methodist yang ada di Asia Tenggara, maka pada tahun 1905 Russel diberi izin

26

untuk misi tersebut, dan saat itu juga Russel membawa keluarganya berangkat menuju Batavia. Perpindahan ini sekaligus mejadikan Russel menduduki jabatan sebagai pimpinan Methodist untuk Distrik Hindia Belanda.27

Russel segera memulai pekerjaannya dengan memberikan pemberitaan tentang injil kepada kelompok sekolah, dengan pelajaran yang dibawakannya adalah bahasa Inggris. Pelajaran bahasa Inggris diarahkan untuk menterjemahkan Bible (Alkitab) dan The Methodist Hymnal. Dengan pelajaran ini maka Masyarakat Tionghoa yang sekolah, akhirnya banyak yang mengerti isi Alkitab dan Hymnal Methodist sehingga membuahkan pertobatan dikalangan masyarakat Tionghoa.

Kelompok yang bertobat (menurut pandangan Methodist) mula-mula langsung dikukuhkan menjadi pengikut Kristen tepatnya menjadi anggota Gereja Methodist setelah proses Babtis yang dilakukan oleh Russel. Pekerjaan ini yang membuat Russel mendapat gelar dari kalangan masyarakat Methodist sebagai Pak Ek Poi (Petobat Pertama) di Batavia.28

Pekerjaan Russel yang memadukan antara pelayanan dengan pengembangan masyarakat, membuahkan pengikut Methodist berkembang secara cepat di Batavia. Selama dua tahun (1905-1907) Russel telah membentuk sebuah Jemaat Methodist, dimana Russel menjadi gembala sidang atas gereja tersebut.

Pengakuan gelar kepada Russel adalah sebagai wujud keakraban antara masyarakat Tionghoa dengan kelompok Methodist yang melakukan penginjilan di Batavia.

Jemaat Methodist yang dipimpin Russel dan pusat Methodist Amerika Serikat semakin terbuka memberikan bantuannya kepada Russel. Bantuan ini

27

Arsip Gereja Methodist Indonesia, Medan Sumatera Utara. 28

dipergunakan untuk membangun gereja Methodist dan akhirnya tahun 1907 gereja Methodist pertama dibangun di pulau Jawa.29

Terbentuknya gereja Methodist pertama di pulau Jawa, diiringi dengan pengembangan metode penginjilan, seperti pembentukan pos penginjilan di Pasar Senen, Tanah Abang, Kebantenan dan Cibinong. Metode pelayanan yang baru ini membuat penginjilan semakin melebar kepada suku-suku Jawa, Ambon, Sunda dan suku yang lainnya yang ada di pulau Jawa. Kelompok masyarakat yang mayoritas sebagai pengikut Methodist pertama-tama dari kelompok baru ini masih didominasi oleh suku Jawa.

Latar belakang perbedaan suku yang diinjili oleh Gerakan Methodist menyebabkan kebaktian-kebaktian yang dilakukkan di pulau Jawa dilakukan dengan bahasa masing-masing yaitu menggunakan bahasa suku mayoritas dalam gereja tersebut. Sejak saat inilah perbedaan bahasa dalam kebaktian Methodist mulai ada.30

Gerakan Methodist di pulau Jawa diperbesar oleh proses perpindahan jemaat Katolik yang tertarik dengan metode pengembangan yang dilakukan oleh Russel. Perkembangan Methodist yang bercorak dengan suku-suku mayoritas di dalam Gereja Methodist semakin lama mulai diarahkan sesuai dengan disiplin gereja Methodist, sebagai upaya mengembalikan ajaran Methodist yang sebenarnya.31

Russel mulai mendidik beberapa orang dari kelompok suku yang dilayaninya menjadi pelayan dalam misi Methodist. Tujuan tindakan Russel adalah pendekatan antara penginjil dengan kelompok suku yang dilayaninya.

29

Lihat Gambar 1 30

Hasil dari tindakan yang dilakukan oleh Denyes adalah berkembangnya pengikut Methodist di Pulau Jawa baik dari suku Jawa, Ambon, Tionghoa, sunda.dan suku-suku yang lainnya.