• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gereja sebagai Societas Perfecta dan Misi sebagai Tugas untuk

BAB IV: AKOMODASI SEBAGAI MISI YANG MELIBATKAN

4.1 Gereja sebagai Societas Perfecta dan Misi sebagai Tugas untuk

Bagaimana Gereja menjalankan misinya di antara bangsa-bangsa pada abad 16—18 adalah suatu permasalahan yang kompleks. Penjelasan di dalam Bab 2 dan 3 dari tesis ini menunjukkan bahwa ada banyak faktor historis yang memengaruhi berjalannya misi pada abad 16—18 tersebut. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan pendekatan Alessandro Valignano dari pendekatan tabula rasa yang masih menjadi kecenderungan umum pada waktu itu? Dari paparan di dalam Bab 3 mengenai metode akomodasi Valignano sebenarnya menjadi cukup jelas bahwa yang membedakan pendekatan Valignano dari pendekatan tabula rasa bukanlah pertama-tama mengenai pemahaman akan tujuan dari misi itu sendiri.

Sama seperti para misionaris lain sejamannya, Valignano berangkat ke daerah misi dengan tujuan untuk mengkristenkan sebanyak mungkin orang di daerah-daerah tersebut dengan membaptis mereka. Hal ini tampak, misalnya, di dalam dukungannya kepada suara mayoritas peserta Konsultasi Jepang yang menghendaki agar misi di Jepang tidaklah dibatasi di daerah-daerah yang sudah menjadi Kristen saja, sebab: ―… no opportunity should be lost of extending the Christian faith in the different kingdoms; rather every effort should be made to set all Japan aflame with the fire of divine love‖183. Kebijakan-kebijakan akomodatif Valignano pun sebenarnya tidaklah lepas dari cita-citanya untuk mengkristenkan seluruh Jepang tersebut.

183 Consulta de Jappon, Pregunta 4a, J. 2, 48—49, seperti dikutip oleh Josef Franz Schütte, S.J., Valignano’s Mission Principles for Japan, Part 2, 224.

Adanya pemahaman umum pada waktu itu mengenai pembaptisan sebagai tujuan dari sebuah pewartaan Injil tidaklah lepas dari pengaruh pandangan umum pada waktu itu bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla salus). Doktrin dari St. Siprianus pada abad ketiga ini semakin diperteguh oleh ajaran St. Agustinus mengenai Gereja di dunia sebagai satu-satunya Gereja sejati dan satu-satu-satunya institusi yang menjadi pengantara keselamatan. Gereja pun kemudian memandang dirinya sebagai suatu societas perfecta yang sudah memiliki segala-galanya (yang dibutuhkannya untuk memperoleh keselamatan) di dalam dirinya184. Hal ini tidak lepas dari kepercayaan Gereja bahwa Yesus Kristus sendiri, sang pemilik keselamatan itu, telah mempercayakan tugas untuk menyebarluaskan karya keselamatan itu kepada Gereja.

Oleh karena Gereja itu merupakan satu-satunya institusi di dunia ini yang membawa keselamatan, Gereja pun penting bagi keselamatan masing-masing pribadi. Keselamatan dengan demikian ada di bawah monopoli Gereja Katolik.

Dalam cara pandang tersebut, tujuan misi pun kemudian dipahami sebagai:

membawa masuk semua orang ke dalam Gereja. Misi pun menjadi identik dengan tugas untuk membaptis dan mendirikan Gereja-gereja di wilayah-wilayah yang belum mengenal Kristus. Oleh karena itu wajar jika wajah misioner Gereja pada waktu itu pun ditandai dengan pembaptisan sebanyak mungkin orang dan ciri ekspansif, di mana para misionaris pun pergi ke negeri-negeri yang jauh untuk

184 Jacob Kavunkal, SVD, ―Penaklukan atau Kehadiran‖, 210—211.

menyelamatkan jiwa-jiwa yang hendak meluncur ke api neraka (Maximum Illud, 18)185.

Adanya paham bahwa tujuan misi adalah membaptis sebanyak mungkin orang ini di satu sisi memang menjadi salah satu faktor pendorong bagi para misionaris untuk pergi ke seluruh penjuru dunia. Tetapi, penekanan yang berlebihan pada pembaptisan ini juga membuat banyak misionaris tidak sungguh memperhatikan penyerapan para baptisan baru itu atas doktrin-doktrin Kristiani186. Setelah pembaptisan terjadi, biasanya para misionaris akan segera berpindah ke tempat lain. Akibatnya, iman Kristiani pun tidak dapat sungguh tertanam secara kuat di dalam diri para baptisan baru tersebut. Selain itu, pembaptisan sebagai tujuan misi itu tidak jarang juga diusahakan bukan hanya dengan persuasi yang meyakinkan, tetapi seringkali justru dengan pedang (dengan paksaan/ kekerasan) atau membelinya dengan keuntungan-keuntungan duniawi lainnya187. Yang dimaksud ―membeli dengan keuntungan duniawi‖ di sini contohnya adalah pembaptisan sekitar 20.000 orang Paravar (India) pada tahun 1536 sebagai imbalan (syarat) atas perlindungan yang diberikan pemerintah Portugis kepada mereka dari kaum Muslim. Dengan demikian, agresif menjadi ciri lain dari misi Gereja pada abad 16—18, sebab tercapainya tujuan misi diusahakan bukan hanya dengan persuasi tetapi dengan paksaan-paksaan, entah yang berupa penaklukan dengan kekuatan militer, perbudakan, diskriminasi, atau pengkondisian-pengkondisian tertentu.

185 Jacob Kavunkal, SVD, ―Penaklukan atau Kehadiran‖, 211.

186 Josef Glazik, ―The Springtime of the Missions in the Early Modern Period‖, 595.

187 Josef Glazik, ―The Springtime of the Missions in the Early Modern Period‖, 595.

Pembenaran penggunaan cara-cara paksaan ini sendiri tidak terlepas dari pemahaman bahwa demi kebaikan jiwa orang yang bersangkutan, maka pemaksaan untuk menerima pembaptisan dapat dibenarkan. Hal ini tidak jauh dari pengaruh ajaran St. Agustinus yang membenarkan penggunaan tekanan eksternal untuk membantu orang menghindari kutukan abadi188. Meskipun Agustinus sebenarnya memaksudkan hal ini hanya pada mereka yang meninggalkan Gereja, tetapi rupanya masyarakat Kristen Eropa pada abad 16—18 memperluasnya juga pada mereka yang belum pernah mengenal Kristianitas. Perluasan pembenaran penggunaan tekanan eksternal ini rupanya juga dipengaruhi oleh semangat Perang Salib dan Reconquista Semenanjung Iberia. Kedua perang panjang bernuansa nasionalisme dan agama itu telah membangkitkan suatu semangat di dalam diri bangsa-bangsa Kristen Eropa untuk memperebutkan jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus dengan segala cara yang mungkin, baik yang persuasif maupun agresif.

Meskipun semangat bermisi Valignano digerakkan oleh cita-cita untuk memasukkan semua orang ke dalam persekutuan dengan Gereja, Valignano memiliki cara pandang yang sama sekali berbeda dari para misionaris sejamannya mengenai penggunaan tekanan eksternal (paksaan) dan model tabula rasa dalam pewartaan Injil. Sejak awal masa tugasnya sebagai seorang visitator, Valignano menentang pendekatan misi sebagai suatu penaklukan (conquista) atas bangsa-bangsa yang bukan Kristen. Hal ini tidak lepas dari keyakinannya pada prinsip ―il modo soave‖, yang juga menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh Pater Jenderal

188 Lihat penjelasan pada Bab 2 tesis ini, terutama sub bagian 2.1.3.

Everard Mercurian (yang mengangkatnya menjadi visitor). Selain itu, pengamatan langsung Valignano terhadap bangsa Jepang dan Cina juga meyakinkannya bahwa pendekatan yang bersifat penaklukan hanya akan mengundang resistensi keras dari kedua bangsa itu. Sebab, kedua bangsa itu memiliki kebudayaan yang tinggi (setara atau bahkan melampaui bangsa-bangsa Eropa) dan memiliki rasa harga diri yang sangat tinggi. Valignano juga berbeda dari kebanyakan misionaris yang hanya menekankan pembaptisan dan tidak peduli pada penyerapan doktrin-doktrin Kristiani oleh para baptisan baru. Dari pemaparan di dalam Bab 3 tesis ini terlihat bahwa masalah penyerapan iman dan doktrin-doktrin Kristiani ini justru menjadi keprihatinan dan perhatian utama dari Valignano bagi misi di Jepang.