BAB IV: AKOMODASI SEBAGAI MISI YANG MELIBATKAN
4.3 Jejak-jejak Humanisme Renaissance, Teologi Thomas Aquinas, dan
4.3.2 Teologi Thomas Aquinas dan Metode Akomodasi Valignano
Selain menganjurkan para misionarisnya untuk menyesuaikan diri dengan cara hidup dan etiket bangsa Jepang, Alessandro Valignano juga menganjurkan supaya para misionaris (terutama para skolastik) mempelajari dengan baik pokok-pokok ajaran sekte-sekte Budhisme di Jepang supaya mereka dapat menyangkalnya. Dia sendiri menuangkan pemahaman dan pemikirannya mengenai ajaran sekte-sekte itu di dalam Catechismus Christianae Fidei. Selain itu, di dalam Bab 3 tesis ini juga telah dijelaskan bahwa melalui buku katekismus yang ditulisnya itu, Valignano juga berusaha menyesuaikan nilai-nilai moral Kristiani ke dalam konteks kehidupan konkrit jemaat Kristiani Jepang212. Jika dengan penyesuaian ke dalam etiket dan cara hidup bangsa Jepang Valignano telah berusaha merebut hati (kehendak) orang Jepang ke dalam Kristianitas, maka dengan mempelajari pokok-pokok ajaran Budhisme serta adaptasi nilai-nilai moral Kristiani itu Valignano mencoba memenangkan budi bangsa Jepang.
Dengan demikian, di dalam usahanya untuk mewartakan Injil di Jepang, Valignano telah mendayagunakan seluruh kemampuan kodrati manusia untuk menerima pewartaan Injil itu sendiri. Hal ini jelas bertentangan dengan pendekatan para misionaris Fransiskan dan para pendukung tabula rasa lain yang melihat kodrat manusia sebagai sesuatu yang diliputi dengan kedosaan. Meskipun penghargaan terhadap martabat atau kodrat manusia adalah salah satu kekhasan dari gerakan Humanisme Renaissance, keberanian Valignano untuk
212 Lihat Bab 3 pada sub bagian 3.4.4.2 Akomodasi di Dalam Buku Catechismus Christianae Fidei.
mempergunakan seluruh daya kodrati manusia itu sendiri sebenarnya juga menampakkan pengaruh teologi skolastik (Thomas Aquinas) terhadap gagasan bermisinya.
Valignano telah menjalani masa-masa formasinya sebagai seorang Jesuit di Roma. Sebagai seorang Jesuit, dia juga dapat dipastikan telah mempelajari teologi skolastik, terutama teologi St. Thomas Aquinas. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa sejak awal didirikannya Serikat Jesus, St. Ignatius Loyola sendiri telah menentukan teologi Thomas Aquinas sebagai otoritas teologi utama bagi para Jesuit. Adapun Thomas dipilih setidaknya karena dua alasan, yaitu: ortodoksi ajarannya yang tidak diragukan lagi dan adanya unsur-unsur teologi Thomas yang cocok dengan visi religius Serikat Jesus213. Karya-karya Thomas sendiri telah cukup lama diakui dan dihargai oleh para Humanis Italia, khususnya di Roma, dan hal ini tidak mungkin luput dari perhatian para patres primi SJ214.
Ada dua gagasan teologi Aquinas yang memang cocok dengan visi religius SJ, yaitu: pandangannya bahwa rahmat tidaklah berlawanan dengan kodrat, tetapi bahkan dibangun di atasnya, dan pemahamannya mengenai hubungan antara rahmat dan kehendak bebas manusia. Ajaran Thomas mengenai kodrat dan rahmat didasarkan pada ajaran St. Agustinus mengenai kejatuhan manusia. Berbeda dari Agustinus yang menekankan konkupisensi (kecenderungan untuk berbuat dosa) pada diri manusia sebagai akibat dari dosa Adam, Thomas menekankan keterarahan kodrat manusia pada Allah sendiri. Kodrat manusia,
213 John W. O‘Malley, The First Jesuits, Harvard University Press, Cambridge - London 1993, 249.
214 John W. O‘Malley, ―Renaissance Humanism and the Religious Culture of the First Jesuits‖, 477.
meski terluka, tetap memiliki suatu pengetahuan dan kerinduan alamiah akan Allah215. Namun, karena kondisi manusia yang sudah jatuh itu, manusia tidak akan pernah mencapai Allah tanpa bantuan dari Allah sendiri216. Di sinilah rahmat akan menyempurnakan kodrat ketika rahmat itu membantu kodrat manusia untuk mencapai kepenuhannya. Asumsi dasar Thomistik ini cocok dengan keyakinan Ignatius sendiri yang muncul dari pengalaman personalnya, yaitu: bahwa pelayanan seseorang seharusnya tidak bergantung pada rahmat Allah saja tetapi juga menggunakan seluruh sarana manusiawi yang ada217.
Keyakinan Thomas bahwa rahmat dibangun di atas kodrat juga sejalan dengan keyakinan St. Ignatius Loyola bahwa ciptaan (kodrat) menghadirkan kebaikan, kasih dan kemuliaan Allah218. Oleh karena itu, ciptaan (kodrat), bagi Ignatius adalah tempat di mana tujuan Allah dan manusia menemukan pemenuhannya219. Keyakinan Ignatius ini paling jelas terungkap di dalam
―Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta‖ (Latihan Rohani [LR] nomer 230—
237). Di dalam LR 235, misalnya, Ignatius menulis:
Memandang bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaan-Nya:
dalam unsur-unsur, memberi ―ada‖nya; dalam tumbuh-tumbuhan,
215 Jose Antonio E. Aureada, O.P., ―The Concept of Grace in St. Thomas Aquinas: (I) Analysis of the Term Natura‖, Philippiniana Sacra 86 (1994) 202.
216 Kodrat manusia tertuju pada Allah. Mengikuti ajaran Aristoteles, Thomas berpendapat bahwa tujuan terakhir manusia adalah kebahagiaan. Tetapi, kebahagiaan itu bukanlah kebahagiaan yang diperoleh di dunia fana ini melainkan di alam baka, yaitu ketika dia mampu memandang wajah Allah sebagai sumber dari segala kebahagiaan. Jadi, tatapan yang membahagiakan (visio beatifica) itulah tujuan terakhir manusia (Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual, 146).
217 John W. O‘Malley, The First Jesuits, 249.
218 Kata ―kodrat‖ (natura) di dalam pemahaman teologi Thomas Aquinas mengacu pada seluruh ciptaan, termasuk manusia (Jose Antonio E. Aureada, O.P., ―The Concept of Grace in St.
Thomas Aquinas: [I] Analysis of the Term Natura‖, 195).
219 Michael Amaladoss, ―Inculturation and Ignatian Spirituality‖, The Way Supplement 79 (1994) 42.
memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia, memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan oleh-Nya aku bait-Nya, karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung220.
Dalam penjelasannya mengenai Humanisme Ignasian, Ronald Modras menyebut keyakinan Thomistik: ―rahmat dibangun di atas kodrat‖ ini sebagai inti dari Humanisme Ignasian221. Hanya karena adanya keyakinan pada pertalian yang erat di antara rahmat dan kodrat itulah St. Ignatius Loyola berani meminta para Jesuit untuk menggunakan juga sarana-sarana manusiawi dan tidak bergantung hanya kepada rahmat Allah saja222. Hal inilah yang kemudian diterapkan oleh Valignano sebagai metode bermisinya. Ia tidak mau hanya mengandalkan rahmat Allah saja, tetapi sungguh-sungguh mengeksplorasi dan mendayagunakan daya-daya kodrati manusia di dalam mewartakan Injil di Jepang dan Cina.
Hal lain yang masih berhubungan erat dengan asumsi dasar Thomistik bahwa ―rahmat menyempurnakan kodrat‖ adalah pemahaman akan hubungan antara rahmat dan kehendak bebas manusia. Dosa asal memang melukai kodrat manusia, tetapi tidak menghancurkannya. Bagi Thomas, kenyataan bahwa manusia membutuhkan rahmat Allah tidaklah berarti bahwa rahmat itu kemudian menghilangkan kebebasan manusia. Sebaliknya, rahmat itu selalu membiarkan kehendak untuk bekerja sama dengannya, sehingga dalam cara yang misterius tanggung jawab manusia akan memainkan perannya dalam proses keselamatan223.
220 St. Ignatius Loyola, Latihan Rohani, 128.
221 Ronald Modras, Ignatian Humanism, 66.
222 Ronald Modras, Ignatian Humanism, 66.
223 John W. O‘Malley, The First Jesuits, 249.
Pemahaman Thomistik akan hubungan positif antara rahmat dan kehendak bebas manusia itu sendiri cocok dengan spiritualitas Ignatian, yang menghargai pentingnya peran kehendak bebas manusia pada rencana keselamatan Allah. Jika Latihan Rohani St. Ignatius Loyola menjadi salah satu sumber acuan dari spiritualitas Ignatian, Latihan Rohani itu sendiri dapat dilihat sebagai suatu sarana untuk membantu orang supaya dia dalam kebebasan kehendaknya sungguh mampu bekerja sama dengan rahmat Allah yang menyelamatkan itu. Hal ini tampak dengan jelas, misalnya, pada LR 21 mengenai tujuan Latihan Rohani, di mana Ignatius menuliskan demikian: ―Latihan Rohani bertujuan: menaklukkan diri dan mengatur hidup begitu rupa hingga tak ada keputusan diambil di bawah pengaruh rasa lekat tak teratur mana pun juga‖224. Dari rumusan di dalam LR 21 ini menjadi jelas bahwa Latihan Rohani berhubungan erat dengan masalah pengambilan keputusan dan bertujuan untuk membantu orang agar memperoleh kebebasan yang sejati di dalam pengambilan keputusan itu225. Perhatian Ignatius yang besar terhadap peran kehendak bebas manusia dalam suatu karya agung keselamatan Allah juga tampak di dalam LR 23 ―Asas dan Dasar‖. Di sana, Ignatius menuliskan demikian:
Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan… Oleh karena itu, kita perlu
224 St. Ignatius Loyola, Latihan Rohani, 44.
225 Di dalam buku Ignatian Humanism, Ronald Modras bahkan menyebut bahwa dinamika Latihan Rohani secara keseluruhan memuncak pada suatu pertimbangan untuk membuat suatu pemilihan yang baik (LR 169—189). Modras juga menyebutkan bahwa para ahli dalam spiritualitas Ignatian biasanya melihat ―pemilihan‖ atau keputusan sebagai tujuan dasar dari melakukan Latihan Rohani (Ronald Modras, Ignatian Humanism, 29—30).
mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan226.
Dengan rumusan ―Asas dan Dasar‖ tersebut, Ignatius hendak menegaskan bahwa meskipun Allah telah menciptakan manusia untuk suatu tujuan tertentu dan Dia memberi manusia rahmat untuk mencapainya, manusia tetaplah memiliki kebebasan kehendaknya. Rahmat tidaklah meniadakan kehendak bebas, dan bahkan kehendak bebas manusia itu masuk dalam rencana Allah.
Gagasan mengenai pentingnya kerja sama antara rahmat dan kehendak bebas manusia dalam menanggapi tawaran keselamatan dari Allah ini rupanya juga ditangkap dengan baik oleh Valignano. Meskipun dia meyakini bahwa pembaptisan seseorang adalah sesuatu yang mutlak perlu bagi keselamatan jiwa orang itu, Valignano juga sadar bahwa pembaptisan hanya akan berbuah bagi jiwa orang yang bersangkutan jika diterima berdasarkan kehendak bebasnya. Itulah sebabnya Valignano sangat menentang model penaklukan (seperti yang dipraktekkan oleh Kerajaan Spanyol atas Amerika).
Gagasan teologis Thomas Aquinas mengenai rahmat, kodrat manusia, serta kehendak bebas ini sangat penting karena memberikan pendasaran teologis pada metode akomodasi Valignano. Keberanian Valignano untuk merangkul tradisi dan budaya Jepang di dalam menjalankan misi untuk mewartakan Injil pada akhirnya bukanlah suatu tindakan yang didasarkan pada kreativitas buta, tetapi sungguh muncul dari keyakinan imannya bahwa budaya-budaya merupakan bagian dari kodrat manusia yang sungguh dikehendaki oleh Allah sendiri. Jika
226 St. Ignatius Loyola, Latihan Rohani, 45.
rahmat Allah sungguh tidak bertentangan dengan kodrat manusia tetapi dibangun di atasnya, dan kebudayaan manusia (sebagai sarana kodrati) mampu mengekspresikan dengan baik nilai-nilai kebaikan yang akan dihidupi oleh manusia, maka menggunakan budaya sebagai sarana untuk mewartakan Injil adalah suatu tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak mengurangi apa pun dari kebenaran sejati yang hendak disampaikan oleh Gereja (sebagaimana biasa dituduhkan oleh para Fransiskan pada metode akomodasi para Jesuit).