i
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM MAGISTER THEOLOGI
ALESSANDRO VALIGNANO DAN USAHA
BER-MISI AKOMODATIF: SEBUAH PENDEKATAN MISI BAGI JEPANG PADA ABAD 16
Tesis diajukan oleh : Rudy Chandra Wijaya NPM : 086312016/PPs/M.Th.
untuk memperoleh
GELAR MAGISTER THEOLOGI
2011
ii
iii
ABSTRAK
Alessandro Valignano (1539—1606) adalah seorang misionaris Jesuit dan visitator bagi misi Serikat Jesus di Hindia Timur dari tahun 1573 hingga 1606. Meskipun namanya tidak banyak dikenal orang dan tenggelam di antara nama-nama besar misionaris Asia seperti: Fransiskus Xaverius (1506—1552), Matteo Ricci (1552—1610), Roberto de Nobili (1577—1656), dan Alexander de Rhodes (1591—1660), Valignano sebenarnya adalah tokoh yang cukup penting bagi sejarah misi di Asia oleh karena jasanya di dalam mengembangkan sebuah kebijakan misi yang menghargai unsur-unsur kebudayaan lokal. Sebagai arsitek dan pengatur misi di Hindia Timur pada waktu itu, Valignano adalah orang pertama yang merumuskan dan menetapkan akomodasi (adaptasi) ke dalam kebudayaan lokal sebagai sebuah kebijakan bermisi di Asia. Meskipun pada awalnya kebijakan itu diperuntukkan hanya bagi Jepang dan Cina, kebijakan dan strategi misi akomodatif ini pada akhirnya juga berkembang ke wilayah-wilayah Asia lainnya dan menjadi kekhasan cara bermisi Serikat Jesus (SJ) di Asia hingga dua ratus tahun lamanya.
Gagasan dan apa yang dibuat oleh Valignano barangkali tidak lagi menjadi hal yang baru bagi kehidupan Gereja pada masa sekarang. Tetapi, gagasan dan aksinya itu belum menjadi hal yang umum diterima pada abad 16—
18 (periode misi besar Gereja Katolik). Kebijakan Valignano yang meminta para misionaris untuk menyesuaikan cara hidup, status, dan cara bermisi mereka ke dalam tradisi kebudayaan Jepang, misalnya, bertentangan dengan prinsip tabula rasa yang menjadi kecenderungan umum bermisi pada masa itu. Prinsip tabula rasa ini menuntut setiap orang yang ingin dibaptis untuk meninggalkan seluruh tradisi, pandangan, dan ritual keagamaan dari budaya lama mereka untuk memeluk tradisi dan agama Kristen Eropa. Sementara kebijaksanaannya untuk mendirikan seminari-seminari, novisiat, dan kolese-kolese bagi pendidikan para calon imam dan Jesuit pribumi jelas-jelas berbeda dengan kecenderungan Gereja
iv
dan para penguasa kolonial pada waktu itu yang memilih untuk mengandalkan para misionaris Eropa sebanyak mungkin di daerah-daerah misi baru.
Tesis ini ditulis pertama-tama untuk memperkenalkan Alessandro Valignano dan jasanya bagi perkembangan misi di Asia. Dari studi atas literatur- literatur mengenai sejarah perkembangan Kristianitas di Asia pada abad 16—18 serta literatur-literatur lain mengenai Alessandro Valignano dan karyanya (termasuk surat-surat dan dokumen-dokumen yang pernah ditulisnya), penulis mencoba menyajikan gambaran yang memadai mengenai prinsip dan metode akomodasi Valignano. Di sana, penulis akan memaparkan bagaimana metode akomodatif Valignano muncul sebagai ekspresi atas ―intuisi iman‖ yang dimilikinya mengenai nilai dari budaya asli bangsa-bangsa. ―Intuisi iman‖ itu sendiri dibentuk oleh berbagai macam pengalaman Valignano sebagai seorang Jesuit Italia yang pernah mengenyam pendidikan Humanisme Renaissance dan teologi skolastik (terutama dari St. Thomas Aquinas), serta menjalani Latihan Rohani St. Ignatius Loyola. Melalui penelitian ini akan ditunjukkan bagaimana metode atau kebijakan akomodasi (adaptasi) muncul sebagai ekspresi dambaan Valignano akan Gereja Jepang yang mandiri (tidak tergantung pada kehadiran para misionaris Eropa). Dengan akomodasi, Valignano berharap bahwa iman Kristiani akan sungguh dapat diterima oleh orang-orang Kristen Jepang sebagai bagian dari hidup mereka sendiri. Dengan kata lain, melalui akomodasi ke dalam budaya Jepang, Valignano mencoba mewujudkan cita-citanya akan munculnya suatu Gereja Jepang dan bukan Gereja Spanyol atau Gereja Portugis di Jepang.
***
v
ABSTRACT
Alessandro Valignano (1539—1606) was a Jesuit missionary and visitor for the Society of Jesus‘ mission in East Indies from 1573 to 1606. Although he is not as widely known as St. Francis Xavier (1506—1552), Matteo Ricci (1552—
1610), Roberto de Nobili (1577—1656), and Alexander de Rhodes (1591—1660), Valignano was an important figure for the history of mission in Asia since he developed a mission policy that respected local cultures. As the architect and organizer of East Indies mission, Valignano was the first person who formulated and set the accommodation to local cultures as his official policy for the mission in Asia. Although that policy was originally set only for Japan and China, later on it was expanded to the mission in other parts of Asia and defined the characteristics of the Jesuit‘s mission in Asia for two centuries.
Valignano‘s idea of accommodation perhaps is no longer new for our time, but it was unusual in his time. His insistence that all the missionaries who worked in Japan should adjust their lives and social status to Japanese customs, for example, can be contrasted to tabula rasa approach which was very common among the European missionaries at that time. This tabula rasa method required those, who wanted to be baptized, to leave the customs, views, and religious- beliefs of their old culture and to embrace the European-Christian culture.
Besides, while the Church and the colonial authorities would usually prefer to depend on the European missionaries to carry out the missionary works, Valignano preferred to give more attention to the education of native seminarians and Jesuit candidates by building seminaries, a novitiate, and colleges.
This thesis is written first of all to introduce Alessandro Valignano and his merits for the development of missions in Asia. By studying and researching literatures about the history of expansion of Christianity in Asia from 16th—18th centuries and other literatures about Alessandro Valignano and his works (including his official and personal letters or documents), I would like to present
vi
an adequate picture about Valignano‘s accommodation method and principles.
There, I will explain how this accommodation method of Valignano was born of the expression of his ―faith intuition‖ that indigenous cultures had values which were useful for Christian evangelization. Valignano‘s ―faith intuition‖ itself was built by many experiences which he had as an Italian born Jesuit. As an Italian, he had received a humanistic education. While as a Jesuit, he had to learn the scholastic theology (i.e. the theology of St. Thomas Aquinas) and to do the Spiritual Exercises of St. Ignatius Loyola. Through this research I would like to show how this accommodation method or policy came as an expression of Valignano‘s dream of the birth of the independent Japanese Church (a Church which is not dependent on the present of European missionaries). With his accommodation approach, Valignano wished to make the Christian faith as an integral part of the Japanese Christians‘ life. In other words, through his accommodation policy, Valignano tried to reach his goal which was the establishment of a Japanese Church and not a Spanish Church in Japan or a Portuguese Church in Japan.
***
vii
KATA PENGANTAR
Abad 16 adalah masa yang penting bagi sejarah perkembangan Kristianitas. Sebab, pada masa itulah dunia Kristen akhirnya mampu keluar dari keterkurungan mereka di Eropa, baik oleh kekuatan Islam yang sedang berkembang maupun oleh tantangan bentang alam (samudera raya, gurun dan tundra). Oleh para ahli sejarah Gereja, abad 16 dicatat sebagai awal periode misi besar Gereja di antara bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika yang berlangsung dari abad 16 sampai dengan abad 18. Pada periode itulah Kristianitas berkembang secara masif ke daerah-daerah Asia, Afrika, dan Amerika.
Dari karya misioner besar Gereja Katolik di Asia pada masa itu (abad 16), kita kemudian mengenal tokoh-tokoh misi seperti St. Fransiskus Xaverius (hidup: 1506—1552; berkarya di Asia: 1542—1552), Matteo Ricci di Cina (hidup: 1552—1610; berkarya di Cina: 1582—1610), Alexander de Rhodes di Vietnam (hidup: 1591—1660; berkarya di Vietnam: 1620—1630, 1640—1646), dan Roberto de Nobili di India (hidup: 1577—1656; berkarya di India: 1605—
1656). Selain dikenal sebagai tokoh-tokoh penyebar Kristianitas di Asia, mereka juga kita kenang sebagai para pionir di dalam usaha bermisi yang inkulturatif di Asia. Selain para misionaris tersebut, ada seorang misionaris lain yang memiliki peran sangat penting di dalam mengembangkan suatu metode bermisi yang inkulturatif, yaitu: Alessandro Valignano (hidup: 1539—1606; berkarya di Asia:
1573—1606). Istilah ―inkulturasi‖ sendiri sebenarnya belum ada pada waktu itu dan metode bermisi yang dikembangkan baik oleh Valignano maupun Ricci, de Rhodes, dan de Nobili lebih dikenal dengan nama ―metode akomodasi (adaptasi)‖.
Adapun tesis ini berbicara mengenai sosok misionaris yang bernama Alessandro Valignano ini. Meskipun namanya belum dikenal oleh kebanyakan orang, dia adalah tokoh kunci bagi perkembangan metode akomodasi di Asia.
Berkarya di Asia pada tahun 1573—1606 (efektif mulai tahun 1574), Valignano adalah arsitek utama misi di Asia yang karyanya akan mewarnai seluruh cara
viii
bermisi Serikat Jesus (SJ) hingga dua ratus tahun setelahnya, bahkan hingga saat ini. Jika sekarang ini kita mengenal dan mengagumi sosok misionaris seperti Matteo Ricci, maka Valignano adalah tokoh penting di balik kesuksesan misi Ricci di Cina. Sebab, dialah yang membawa Ricci ke Cina serta mendorongnya untuk mempelajari budaya Cina (terutama Confusianisme), dan untuk beradaptasi sejauh mungkin ke dalam budaya Cina tersebut.
Tema ini dipilih oleh penulis pertama-tama untuk mengangkat dan memperkenalkan Alessandro Valignano dan metode akomodasinya. Oleh karena itu, di dalam tesis ini akan diuraikan: siapakah Valignano, apa itu metode akomodasi, apa faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan apa yang menjadi kekhasan metode tersebut bagi jalannya misi Gereja di antara bangsa-bangsa pada abad 16—18. Tesis ini sendiri ditulis untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar magister teologi pada Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Oleh karena itu, di dalam tesis ini juga akan disampaikan refleksi penulis mengenai sumbangan atau relevansi dari karya bermisi akomodatif Valignano bagi usaha bermisi Gereja di tengah-tengah masyarakat Asia (pada umumnya) dan Indonesia (pada khususnya) di masa sekarang ini.
Tesis ini tidak mungkin terselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan puji dan syukur pada Allah yang Maharahim atas terselesaikannya usaha penulisan tesis ini sendiri. Secara khusus, penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Fl. Hasto Rosariyanto, S.J. yang telah memberi inspirasi untuk pemilihan tema dan penulisan tesis ini, serta menjadi teman diskusi selama proses penulisan tesis ini.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. C. Putranto, S.J. yang telah memberi banyak masukan berharga di dalam penyusunan tesis ini. Penulis juga berterima kasih kepada Dr. M. Purwatma, Pr. yang telah berkenan untuk membaca dengan teliti tesis ini dan memberikan berbagai saran serta masukan untuk menyempurnakannya. Tidak lupa pula penulis berterima kasih kepada Indira Primasari yang telah membantu mencarikan bahan-bahan, juga kepada teman-teman CLC lokal Yogyakarta, teman-teman CLC dari kelompok Linguae Amoris (LA), dan Komunitas Kolese St. Ignatius periode tahun 2010—2011 yang
ix
telah banyak memberi dukungan moral dan spiritual bagi penulis selama menyusun tugas akhir ini.
Penulis juga menyadari bahwa penulisan tesis ini masih jauh dari sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis membuka diri terhadap berbagai macam kritik, saran, dan masukan yang dapat diberikan oleh para pembaca atas tesis ini. Akhirnya, penulis berharap semoga tesis ini sungguh dapat berguna bagi Gereja dan masyarakat Indonesia tercinta ini yang bersama-sama tengah berjuang untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik bagi semua orang.
Penulis
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………...……….. i
HALAMAN PENGESAHAN ……… ii
ABSTRAK ……….……… iii
ABSTRACT ………... v
KATA PENGANTAR ………... vii
DAFTAR ISI ……….………. x
DAFTAR ISTILAH ……… xiv
BAB I: PENDAHULUAN ……….……… 1
1.1 Latar Belakang ……….………... 2
1.2 Tujuan ……….….... 13
1.3 Hipotesis dan Kerangka Teori ……… 15
1.4 Mengapa Penelitian Ini Akan Diterima oleh Masyarakat? ……… 18
1.5 Sumbangan bagi Ilmu Pengetahuan ………... 19
1.6 Metodologi Penelitian ………... 20
1.7 Sistematika ……….. 21
BAB II: MISI GEREJA PADA ABAD 16—18 DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA ………. 24
2.1 Faktor-faktor yang Memengaruhi Misi Gereja pada Abad 16—18 …….... 25
2.1.1 Semangat Penaklukan: dari Reconquista ke Conquista ……….. 27
2.1.2 Sistem Patronatus ……… 31
2.1.3 Paradigma yang Mendasari Misi Gereja pada Abad 16—18 ………….. 35
2.1.4 Gerakan Humanisme Renaissance ……….. 43
xi
2.2 Model-model Misi Gereja pada Periode Tahun 1500—1800 ………. 49
2.2.1 Model-model Misi di Amerika ……… 50
2.2.1.1 Model Imperial Katolik Roma ………. 50
2.2.1.2 Model Kenabian (Profetik) ……….……….. 53
2.2.1.3 Model Convento ……… 55
2.2.1.4 Model Reduksi-reduksi Jesuit ……….. 56
2.2.2 Model-model Misi Gereja Katolik di Asia ……….. 57
2.2.2.1 Model Tabula Rasa ………... 59
2.2.2.2 Model Akomodatif ………... 61
2.3 Kesimpulan ………. 64
BAB III: METODE AKOMODASI SEBAGAI BAGIAN DARI PEMBARUAN MISI VALIGNANO DI JEPANG ……… 67
3.1 Siapakah Alessandro Valignano? ……… 68
3.2 Metode Akomodasi di Jepang sebelum Valignano ……… 71
3.2.1 Metode Akomodasi pada Masa Fransiskus Xaverius (1549-1551) ……. 71
3.2.2 Metode Akomodasi setelah Fransiskus Xaverius Pergi hingga Saat Kedatangan Alessandro Valignano (1551-1579) ……… 75
3.2.2.1 Metode Akomodasi di Bawah Rezim Francisco Cabral ………... 76
3.2.2.2 Metode Akomodasi Organtino Soldo Gnecchi ……… 79
3.3 Beberapa Persoalan di Misi Jepang ……… 81
3.3.1 Kurangnya Tenaga untuk Misi Jepang ……… 81
3.3.2 Adanya Relasi yang Buruk antara Misionaris Eropa dan Pribumi …….. 83
3.3.3 Tidak Adanya Formasi yang Layak bagi Para Kandidat SJ Pribumi ….. 84
3.3.4 Cara Hidup Para Misionaris Eropa yang Tidak Sesuai dengan Cara Hidup Bangsa Jepang ………... 85
3.4 Akomodasi sebagai Kebijakan Resmi Valignano bagi Misi di Jepang ….. 87
3.4.1 Klerus Pribumi Demi Gereja Jepang yang Mandiri ……… 88
3.4.2 Il Modo Soave dalam Gubernasi Serikat Jesus ………... 92
xii
3.4.3 Novisiat dan Kolese-kolese untuk Kandidat SJ Pribumi ………. 95
3.4.4 Adaptasi: Demi Iman yang Semakin Kuat Berakar ………. 97
3.4.4.1 Panduan Akomodasi di Dalam Buku Advertimentos ……… 101
3.4.4.2 Akomodasi di Dalam Buku Catechismus Christianae Fidei ………… 106
3.5 Kesimpulan ………. 109
BAB IV: AKOMODASI SEBAGAI MISI YANG MELIBATKAN ………… 114
4.1 Gereja sebagai Societas Perfecta dan Misi sebagai Tugas untuk Membawa Semua Orang ke Dalam Persekutuan dengan Gereja ………… 116
4.2 Faktor-faktor yang Membentuk Pendekatan/ Model Tabula Rasa ………. 120
4.2.1 Pandangan yang Kurang Positif terhadap Hal-hal Duniawi ………….... 122
4.2.2 Perasaan Superior Kebudayaan Eropa-Kristiani ………. 125
4.2.3 Paradigma Penaklukan dan Misi sebagai Perang Salib Baru ………….. 127
4.3 Jejak-jejak Humanisme Renaissance, Teologi Thomas Aquinas, dan Latihan Rohani di Dalam Metode Akomodasi Valignano ……….. 128
4.3.1 Humanisme Renaissance dan Metode Akomodasi Valignano ………… 130
4.3.2 Teologi Thomas Aquinas dan Metode Akomodasi Valignano ……... 133
4.3.3 Misteri Inkarnasi Sebagai Dasar Metode Akomodasi Valignano ……... 139
4.4 Kesimpulan ……….... 141
BAB V: KESIMPULAN UMUM DAN RELEVANSI ………. 144
5.1 Misi Abad 16—18: Satu Misi dalam Beragam Model ………... 145
5.2 Akomodasi: Bukan Hanya Demi Pembaptisan ……….. 148
5.3 Antara Jepang dan Cina: Sebuah Catatan ………... 150
5.4 Akomodasi sebagai Suatu Dialog Inter-kultural ……… 153
5.5 Relevansi Metode Akomodatif Valignano bagi Misi Gereja Saat Ini …… 155
5.6 Penutup ……… 162
xiii
DAFTAR PUSTAKA ……… 164
LAMPIRAN 1: Tabel Tahun dan Peristiwa di Seputar Kehidupan
Valignano dan Sejarah Gereja Jepang Abad 16—18 ………... 173 LAMPIRAN 2: Penyesuaian Status Para Misionaris ke dalam Struktur
Sosial Masyarakat Jepang oleh Alessandro Valignano ……... 182 LAMPIRAN 3: Peta Daerah Misi Jesuit di Hindia Timur pada Masa
Alessandro Valignano ……….. 184 LAMPIRAN 4: Peta Jepang pada Abad Kristiani ………. 185 LAMPIRAN 5: Lukisan Wajah Alessandro Valignano dan Everard
Mercurian ………. 186
xiv
DAFTAR ISTILAH
Akomodasi : penyesuaian ke dalam suatu kebudayaan tertentu. Di dalam tesis ini, istilah ―akomodasi‖ tidak dibedakan dari istilah ―adaptasi‖.
Bonze : istilah dalam bahasa Jepang untuk menyebut biarawan di dalam agama Budha (bhiksu).
Daimyo : istilah dalam bahasa Jepang yang berarti: tuan tanah.
Dojuku : istilah dalam bahasa Jepang untuk menyebut katekis awam.
Irmão : istilah dalam bahasa Portugis yang berarti: orang yang sedang berada di dalam masa formasi pada Ordo Serikat Jesus (skolastik).
Kebudayaan : seluruh sistem nilai, kepercayaan, dan pola tingkah laku yang diwariskan secara turun-temurun dan menentukan cara berada dan cara berelasi seseorang pada suatu kelompok masyarakat tertentu.
Tabula Rasa : prinsip atau metode atau pendekatan di dalam bermisi yang mengharuskan orang untuk meninggalkan adat-istiadat, cara pandang, serta praktek-praktek keagamaan dari budayanya yang lama sebelum dia bisa dibaptis menjadi orang Kristen.
Visitator : wakil Pater Jenderal (pemimpin tertinggi) SJ untuk suatu daerah misi tertentu yang memiliki kewenangan administratif yang luas untuk mengatur daerah misi yang menjadi tanggung jawabnya itu (kecuali hal-hal yang memang dikhususkan bagi Pater Jenderal sendiri). Seorang visitator dipilih dan diangkat secara pribadi oleh Jenderal SJ. Dia bertanggung jawab langsung kepada Jenderal SJ dan masa jabatannya secara resmi berakhir dengan berakhirnya masa jabatan Jenderal SJ yang mengangkatnya.
***
BAB I
PENDAHULUAN
Abad 16—18 Masehi adalah sebuah periode yang penting bagi sejarah perkembangan Kristianitas. Pada masa itu, Kristianitas berkembang secara masif ke daerah-daerah Amerika, Asia, dan Afrika setelah sejak abad ke-7 mengalami kehilangan wilayah yang cukup banyak oleh karena invasi pasukan Islam. Oleh karena adanya perkembangan Kristianitas yang cukup masif itu, periode abad 16—18 ini sering disebut sebagai Periode Kemajuan (Advance) oleh para ahli sejarah Kristianitas. Pada masa tersebut, gerakan misi memang mendapatkan suatu gairah baru yang disebabkan antara lain oleh penemuan-penemuan benua baru (Amerika) dan jalur-jalur pelayaran baru dari Eropa ke Asia. Selain itu, gerakan misi (pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa) juga disemangati oleh Perang Salib dan keberhasilan Reconquista Semenanjung Iberia (718—1492).
Di dalam Periode Kemajuan inilah muncul misionaris-misionaris besar Asia seperti: Fransiskus Xaverius (1506—1552), Matteo Ricci (1552—1610), Roberto de Nobili (1577—1656), dan Alexander de Rhodes (1591—1660). Selain para misionaris tersebut, salah seorang tokoh misionaris lain yang memiliki peran yang penting bagi perkembangan misi di Asia adalah: Alessandro Valignano (1539—1606), seorang Jesuit berkebangsaan Italia yang menjadi visitator misi Serikat Jesus (SJ) di Hindia Timur (East Indies, yaitu: wilayah sub-benua India
yang meliputi: Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Oseania). Valignano adalah arsitek utama misi SJ di Hindia Timur pada abad 16—18. Dia adalah misionaris pertama yang menetapkan akomodasi (adaptasi) ke dalam budaya-budaya lokal (dalam hal ini: budaya Jepang dan Cina) sebagai sebuah kebijakan resmi bagi para misionaris SJ yang ingin bekerja di Asia. Jika sekarang ini orang mengenal tokoh- tokoh seperti Matteo Ricci, Roberto de Nobili, dan Alexander de Rhodes sebagai para misionaris besar Asia yang menerapkan inkulturasi di dalam cara bermisi mereka, karya-karya inkulturatif mereka itu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kebijakan akomodatif Valignano sendiri (walaupun tentu saja Ricci, Nobili, dan de Rhodes pasti mengembangkan prinsip-prinsip akomodatif Valignano itu di dalam karya-karya mereka).
1.1 Latar Belakang
Hubungan antara Injil (dan dengan demikian: penginjilan) dan budaya adalah hal yang selalu menarik untuk diamati dan direfleksikan. Di dalam sejarah Gereja, hubungan antara Injil (penginjilan) dan budaya tidaklah selalu berjalan harmonis. Bahkan, sejak awal perkembangan Kristianitas selalu ada polemik mengenai hubungan antara Injil dan budaya-budaya. Konsili Yerusalem (49 Masehi), yang berbicara mengenai perlu atau tidaknya orang-orang Kristen bukan Yahudi diwajibkan untuk bersunat dan mengikuti tradisi-tradisi Yahudi (ingat:
Kristianitas baru sungguh terpisah dari Yudaisme pada tahun 70-an1), adalah contoh konkrit gejolak di dalam relasi antara Injil dan budaya-budaya. Di dalam
1 Tom Jacobs, S.J., Paham Allah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2002, 142.
polemik yang mendahului dipanggilnya Konsili Yerusalem, banyak para pengikut Kristus (terutama yang berasal dari bangsa Yahudi) berpikir bahwa untuk bisa menjadi seorang Kristiani (pengikut Kristus), seseorang pertama-tama harus berpikir dan bertindak sebagai seorang Yahudi (oleh karena Yesus Kristus adalah orang Yahudi)2. Jika ditarik lebih jauh lagi, permasalahan hubungan Injil dan budaya bahkan sudah muncul pada masa Yesus Kristus sendiri. Yesus, yang adalah orang Yahudi, sering dituduh oleh lawan-lawan-Nya sebagai orang yang hendak mengubah (atau bahkan melawan) tradisi dan hukum Taurat Musa. Yesus sendiri menegaskan bahwa diri-Nya sama sekali tidak pernah bermaksud untuk mengubah atau meniadakan Hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (bdk.
Mat. 5:17—20).
Munculnya berbagai macam polemik mengenai hubungan antara Injil dan budaya-budaya ini sebenarnya tidak dapat lepas dari fakta bahwa di satu sisi bagaimana pun juga Injil selalu membutuhkan suatu kebudayaan tertentu untuk mengekspresikannya, tetapi di sisi yang lain Injil itu sendiri tidak terikat hanya pada satu kebudayaan tertentu saja3. Di satu pihak tidak mungkin dibayangkan adanya suatu Injil an sich yang tidak terikat pada suatu kebudayaan tertentu, tetapi di pihak yang lain Injil juga tidaklah dapat dibatasi oleh suatu kebudayaan tertentu saja. Mengenai Injil atau penginjilan dan kebudayaan tersebut, Paus Paulus VI di dalam himbauan apostoliknya, Evangelii Nuntiandi (EN), mengatakan sebagai berikut: ―Injil, dan oleh karenanya penginjilan, tentu saja tidak identik dengan kebudayaan. Meskipun begitu, Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Injil dihayati
2 Parmananda R. Divarkar, S.J., ―Reflections on the Problem of Inculturation‖, dalam FABC Papers 7 (1978) 3.
3 Michael M. Amaladoss, S.J., ―Culture and Dialogue‖, East Asian Pastoral Review 1 (1985) 67.
oleh manusia-manusia yang secara sangat mendalam terikat pada suatu kebudayaan‖ (EN 20)4. Ketika Injil diwartakan ke dalam suatu lingkup kebudayaan baru, Injil itu sendiri selalu sudah terbungkus dalam suatu kebudayaan tertentu5. Sebab, Injil itu selalu diwartakan oleh seorang manusia, dan manusia tidak pernah bisa lepas dari suatu konteks kebudayaan tertentu, yaitu:
kebudayaan tempat di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Kebudayaan yang tertentu itu kemudian memberi dia sarana untuk memperkembangkan dan mengekspresikan iman Kristianinya itu. Kondisi ini tentu memengaruhi juga aktivitas mereka di dalam menyebarluaskan Injil6. Jika orang yang mewartakan Injil itu sudah pasti dipengaruhi oleh suatu kebudayaan tertentu, demikian juga orang atau pihak yang akan menerima Injil itu. Sebagai konsekuensinya, pewartaan Injil kepada seseorang yang berasal dari lingkup kebudayaan yang berbeda dari si pewarta Injil selalu menjadi medan perjumpaan antar-budaya.
Singkatnya, pertemuan Injil dengan suatu kebudayaan pun kemudian selalu sekaligus merupakan suatu pertemuan antar-budaya7.
Di dalam EN, Paus Paulus VI juga mengatakan demikian:
Evangelisasi akan kehilangan banyak kekuatannya dan keefektipannya jika tidak memperhatikan umat yang secara nyata diberi pewartaan, bila tidak menggunakan bahasa mereka, tanda-tanda dan simbol- simbol mereka. Hal tersebut juga akan terjadi bila evangelisasi tidak menjawab persoalan-persoalan yang mereka ajukan, dan tidak punya pengaruh terhadap hidup mereka yang konkret. Demikian pula ada bahaya bahwa evangelisasi kehilangan pengaruhnya dan akan lenyap
4 Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, diterjemahkan oleh J. Hadiwikarta, Pr., Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta 1990, 20.
5 Michael M. Amaladoss, S.J., ―Inculturation and Tasks of Mission‖, East Asian Pastoral Review 2 (1980) 117.
6 Parmananda R. Divarkar, S.J., ―Reflection on the Problem of Inculturation‖, 1—2.
7 John Coleman, S.J., ―How Culture and the Gospel Meet and Interact‖, Origins 4 (2001) 58.
jika isinya dikosongkan atau diubah, dengan dalih untuk menerjemahkannya‖ (EN 63)
Kata-kata Paus Paulus VI ini kiranya menyatakan dengan tegas pentingnya kebudayaan dalam suatu pewartaan Injil. Sebuah pewartaan Injil akan berhasil dan berdaya guna jika Injil yang diwartakan itu pada akhirnya sungguh dapat menemukan ekspresinya di dalam kebudayaan orang yang menerimanya. Injil, dan dengan demikian: iman Kristiani, tidak akan berdaya guna jika hanya berhenti sebagai suatu abstraksi mulia yang diabadikan dalam satu perangkat rumusan doktrinal8. Injil haruslah menjadi bagian penting dan aktif dari hati dan kehidupan manusia untuk bisa menghasilkan buah yang baik di dalam hidup orang tersebut.
Untuk itu, jika kebudayaan dipandang sebagai cara aktual seseorang untuk menjalani hidupnya, maka sebuah pewartaan Injil mau-tidak mau haruslah memperhatikan situasi konkret orang yang menerimanya dan disampaikan dalam
―bahasa‖ yang nyambung dengan konteks budaya orang yang menerimanya.
Pernyataan Paus Paulus VI itu sekaligus menyampaikan sebuah peringatan bahwa usaha untuk inkulturasi (atau akomodasi/ adaptasi Injil ke dalam budaya-budaya) janganlah sampai menghilangkan inti pewartaan Injil itu sendiri.
Di dalam sejarah perkembangan Kristianitas dari jaman Para Rasul hingga sekarang, pertemuan yang positif antara Injil dengan budaya-budaya terjadi dalam bentuk akomodasi-akomodasi (penyesuaian-penyesuaian), baik tradisi-tradisi kekristenan itu sendiri maupun cara-cara penyampaian Injil itu sendiri. Salah satu contoh pertemuan yang positif antara Injil dengan budaya lokal
8 Parmananda R. Divarkar, S.J., ―Reflection on the Problem of Inculturation‖, 2—3.
pada masa-masa awal perkembangan Kristianitas adalah: dihilangkannya kewajiban untuk menjalankan Taurat Musa (misal: kewajiban sunat) bagi jemaat Kristen bukan Yahudi melalui Konsili Yerusalem (49 M). Munculnya Kristologi- Logos (oleh para Apologet abad 2) adalah contoh lain dari akomodasi iman Kristiani ke dalam kebudayaan lokal (dalam hal ini: Yunani). Dengan Kristologi- Logos itu, para Apologet abad 2 (misalnya: Yustinus Martir) mencoba merumuskan iman Kristen akan siapakah Kristus dan apa hubungan-Nya dengan Allah Bapa di dalam alam pikir Hellenis (Yunani)9. Bangsa Yunani memahami Allah sebagai sesuatu yang transenden, di mana di antara Allah dengan dunia manusia (ciptaan) terdapat jurang yang lebar sehingga Allah tidak mungkin berinteraksi langsung dengan manusia tanpa peran seorang pengantara. Peran pengantara ini dipenuhi oleh Logos. Para apologet kemudian menyamakan Kristus yang pra-ada dengan konsep logos dari filsafat Yunani ini. Selain itu, akomodasi juga terjadi ke dalam kebudayaan Romawi. Hal ini terlihat di dalam penggunaan bahasa Latin, pakaian liturgi, dan cara berpikir Romawi yang masih terlihat pengaruhnya sampai sekarang ini.
Uraian singkat di atas kiranya menegaskan bahwa tugas untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa, sebagaimana yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada para murid-Nya (misal: dalam Matius 28:16-20;
Markus 16:14-18), seharusnya tidaklah mengabaikan atau menyingkirkan sama sekali kekayaan budaya bangsa-bangsa kepada siapa Injil itu diwartakan.
Sebaliknya, Injil dan pewartaan Injil membutuhkan budaya-budaya untuk
9 Dr. Nico Syukur Dister, OFM, Teologi Sistematika 1: Allah Penyelamat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2004, 191.
menyampaikan pesannya secara efektif dan berdaya guna. Realitas perambatan kekristenan awal di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi sebenarnya telah menunjukkan keterbukaan dan apresiasi yang baik dari tradisi dan iman Kristen terhadap kekayaan budaya-budaya asing. Walaupun demikian, pertemuan antara Injil dengan kebudayaan bangsa-bangsa tidaklah selalu berlangsung secara damai dan mulus. Penyebabnya sangat bermacam-macam, mulai dari suatu cara pandang teologis yang kurang positif terhadap hal-hal keduniawian, semangat nasionalisme yang berlebihan, hingga kepentingan-kepentingan politis dan ekonomis. Salah satu contoh perjumpaan yang konfrontatif antara pewartaan Injil dengan tradisi- tradisi kebudayaan bangsa-bangsa setempat terjadi di dalam misi Gereja di antara bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika pada Periode Kemajuan (abad 16—18), yaitu periode yang akan menjadi konteks dari pembicaraan tesis ini mengenai karya misi akomodatif Alessandro Valignano di Jepang.
Pada bagian awal dari Bab 1 ini telah disebutkan bahwa periode abad 16—18 adalah periode yang penting bagi sejarah perkembangan Kristianitas oleh karena pada masa itulah Kristianitas berkembang secara masif ke daerah-daerah di luar Eropa. Misi Gereja di antara bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika pada abad 16—18 itu sendiri ditandai dengan beberapa karakter sebagai berikut:
a) Menekankan pembaptisan orang sebanyak mungkin10.
Sebelum Konsili Vatikan II (1962—1965), Gereja sangat dipengaruhi oleh paham bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla
10 Mgr. J. Harjosusanto, MSF, ―Menemukan Wajah Misioner Gereja di Indonesia: Sebuah Keharusan dan Tantangan‖, dalam Al. Bagus Irawan, MSF (ed), Gereja Misioner yang Diterangi Sabda Allah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2011, 71.
salus). Oleh karena Gereja adalah satu-satunya institusi yang menjadi pengantara keselamatan, maka orang hanya bisa selamat jika dia dibaptis dan menjadi anggota Gereja. Atas dasar paham ini, para misionaris Katolik pada abad 16—18 pun berlomba-lomba untuk memasukkan sebanyak mungkin orang ke dalam institusi Gereja Katolik dengan cara membaptis mereka.
Keberhasilan karya misi pun diukur dengan jumlah orang yang dibaptis.
Semakin banyak orang yang menerima pembaptisan, semakin dipandang berhasillah karya misi itu, dan begitu pula sebaliknya11. Salah satu akibat negatif dari pemahaman ini adalah: pembaptisan begitu ditekankan dan kemendalaman iman diabaikan.
b) Ekspansif.
Ciri ekspansif ini merupakan konsekuensi dari pembaptisan sebanyak mungkin orang sebagai target dari suatu misi12. Penemuan-penemuan daerah-daerah baru oleh Spanyol dan Portugal serta perjumpaan-perjumpaan dengan bangsa- bangsa yang belum mengenal Kristus pada daerah-daerah baru tersebut mengejutkan dunia Kristen Barat oleh karena setelah berabad-abad lamanya, ternyata masih ada banyak orang yang belum mengenal Kristus. Keyakinan bahwa keselamatan jiwa orang-orang ini hanya bisa didapatkan jika mereka dibaptis kemudian menggerakkan para misionaris Eropa ke daerah-daerah baru
11 Mgr. J. Harjosusanto, MSF, ―Menemukan Wajah Misioner Gereja di Indonesia‖, 71.
12 Mgr. J. Harjosusanto, MSF, ―Menemukan Wajah Misioner Gereja di Indonesia‖, 71.
tersebut untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang hendak meluncur ke api neraka13.
c) Agresif.
Yang dimaksud dengan ciri/ karakter agresif di sini adalah: bahwa pembaptisan sebagai tolok ukur keberhasilan misi itu diusahakan dengan berbagai cara, bukan hanya dengan persuasi tetapi tidak jarang juga dengan paksaan-paksaan (kekerasan militer, diskriminasi, dan perbudakan). Hal ini tidak lepas dari pengaruh Perang Salib dan Reconquista Semenanjung Iberia yang berlangsung lama dan menguras baik tenaga maupun pikiran dari dunia Kristen Barat selama abad-abad sebelumnya. Semangat yang sama kemudian dibawa dan diteruskan oleh para misionaris Eropa ke daerah-daerah yang baru ditemukan tersebut. Misi pun menjadi suatu perluasan Perang Salib untuk menaklukkan bangsa-bangsa yang belum Kristen ke bawah kekuasaan raja-raja Kristen (Spanyol dan Portugal). Dalam mentalitas ini, penaklukan atas wilayah- wilayah bangsa lain diikuti dengan pemaksaan kepada bangsa yang kalah untuk segera memeluk kekristenan dan diasimilasikan ke dalam kebudayaan bangsa yang dominan14. Selain itu, fakta bahwa misi pada abad 16—18 sangat tergantung pada sistem Patronatus Kerajaan (dalam bahasa Portugis:
Padroado; atau dalam bahasa Spanyol: Patronato) menjadikan karya misi di antara bangsa-bangsa pada waktu itu sangat rentan ditunggangi oleh
13 Jacob Kavunkal, SVD, ―Penaklukan atau Kehadiran: Misi di Asia Dalam Milenium Ketiga‖, dalam Georg Kirchberger, SVD – John Mansford Prior, SVD (ed), Mendengarkan dan Mewartakan, Sekretariat Bersama Provinsi SVD Seindonesia – Penerbit Nusa Indah, Ende 2003, 211.
14 David J. Bosch, Transforming Mission: Paradigm Shifts in Theology of Mission, Orbis Books, Maryknoll 1991, 227.
kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi Kerajaan Spanyol dan Portugal.
Tidak jarang pemaksaan-pemaksaan ke dalam pembaptisan itu terjadi bukan demi misi itu sendiri tetapi demi kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi para penguasa koloni-koloni baru Spanyol dan Portugal itu.
d) Tidak simpatik terhadap tradisi budaya-budaya setempat.
Meskipun model-model pendekatan misi para misionaris pada abad 16—18 itu tidak seragam, pada umumnya gerakan misi Gereja Katolik pada waktu itu berkecenderungan untuk memusnahkan tradisi-tradisi kebudayaan serta praktek-praktek kepercayaan dari bangsa-bangsa setempat (bangsa yang menerima pewartaan Injil)15. Di sini, Kristianitas dipertentangkan dengan budaya-budaya setempat. Orang yang ingin menjadi Kristen diharuskan untuk meninggalkan tradisi-tradisi kebudayaannya sebelum bisa dibaptis. Tradisi- tradisi dan kepercayaan-kepercayaan budaya lokal itu dipandang sebagai sesuatu yang menghambat seseorang untuk menerima iman Kristen dan dengan demikian harus dimusnahkan, jika perlu bahkan dengan paksaan/ kekerasan16. Stephen B. Bevans dan Roger P. Schroeder menyebut pendekatan semacam ini sebagai pendekatan/ model tabula rasa.
Akibat dari paradigma yang kurang tepat mengenai misi dan kebudayaan bangsa-bangsa Eropa tersebut adalah merebaknya praktek perbudakan (yang juga
15 Di dalam buku Constant in Context: A Theology of Mission for Today, Stephen B. Bevans dan Roger P. Schroeder menyebutkan adanya bermacam-macam pendekatan/ model misi di Amerika, Asia, dan Skandinavia pada periode tahun 1492—1773. Hal ini akan dibicarakan secara lebih lanjut di dalam Bab 2 dari tesis ini.
16 Stephen B. Bevans – Roger P. Schroeder, Constants in Context: A Theology of Mission for Today, Orbis Books, New York 2004, 178.
dilegalkan oleh Gereja pada waktu itu) dan penghancuran kebudayaan- kebudayaan lokal. Di mana pun misi-misi Kristiani dilaksanakan di bawah otoritas kerajaan Spanyol dan Portugal, para baptisan baru harus menjadi sekaligus orang-orang Spanyol atau Portugis dan Kristiani17. Demi iman Kristiani, mereka harus menanggalkan budaya mereka yang lama dan memeluk budaya yang baru, yaitu: Portugis atau Spanyol. Salah satu contoh dari praktek tabula rasa ini adalah: orang yang dibaptis harus mengubah namanya menjadi nama yang bernuansa Spanyol atau Portugis. Jejak dari praktek tabula rasa ini masih bisa ditemukan di negara-negara bekas koloni Spanyol atau Portugal seperti Brasil atau Timor Leste. Ironisnya, meskipun misi pada waktu itu menekankan pentingnya orang-orang yang baru bertobat untuk menerima norma-norma budaya Eropa sebagai bagian penting dari kehidupan baru mereka, pada kenyataannya baik penguasa Spanyol maupun Portugal tidak memiliki usaha yang serius atau rencana jangka panjang untuk menularkan ―budaya tinggi‖ Eropa pada penduduk asli18.
Di dalam konteks misi Gereja di antara bangsa-bangsa pada abad 16—18 yang semacam inilah pembicaraan mengenai metode akomodasi Valignano diletakkan. Seperti yang sudah disebutkan sebelum ini, model-model misi pada abad 16—18 tidaklah seragam. Sebagai kontras dari metode bermisi yang tidak akomodatif terhadap budaya-budaya lokal itu, para misionaris Jesuit (terutama yang bekerja di Asia) membentuk dan mengembangkan suatu pendekatan misi yang akomodatif terhadap tradisi-tradisi budaya lokal. Dengan semangat yang memantulkan Humanisme Renaissance Katolik Roma, para Jesuit muncul
17 Andrew C. Ross, A Vision Betrayed: The Jesuits in Japan and China 1542-1742, Edinburgh University Press, Edinburgh 1994, XIII.
18 Andrew C. Ross, A Vision Betrayed, XIII.
melawan perspektif tabula rasa dari para misionaris Fransiskan dan Dominikan dan juga metode serta mentalitas penaklukan Portugis19. Alessandro Valignano sendiri adalah seorang Jesuit berkebangsaan Italia yang ditunjuk menjadi Visitator Serikat Jesus (SJ) untuk Hindia Timur (East Indies). Dia adalah pembaru misi SJ di Jepang dan perencana misi bagi Michele Ruggieri dan Matteo Ricci di Cina.
Dia adalah orang yang menginstruksikan agar Ruggieri dan Ricci menerjemahkan teks-teks kunci filsafat Konfusianisme serta untuk mempelajarinya. Tujuannya adalah supaya para misionaris itu dapat memasuki dunia kaum terpelajar Konfusian yang telah memerintah Cina selama berabad-abad. Selain itu, Valignano juga menyetujui keinginan Ricci dan para misionaris Jesuit lain di Cina untuk berpakaian (berpenampilan) sebagai kaum terpelajar sebagai usaha eksternal untuk membentuk Kristianitas Cina yang mengadopsi pemikiran- pemikiran Konfusian sebagaimana Thomas Aquinas telah mengadopsi pemikiran- pemikiran filosofis Aristoteles20. Valignano membarui misi di Asia dengan suatu cara yang berbeda sama sekali dari pendekatan perambatan iman Kristiani yang dilakukan oleh para misionaris yang bekerja di bawah otoritas Spanyol dan Portugal21. Dari penelitiannya atas hasil misi Katolik selama tujuh puluh tahun di India, dia memperoleh keyakinan bahwa kedekatan misi Kristiani dengan ekspansi kolonialisme bangsa-bangsa Barat ternyata lebih merugikan daripada membawa keuntungan bagi pewartaan iman22. Oleh karena itu, dia menentang
19 Stephen B. Bevans – Roger P. Schroeder, Constants in Context, 184.
20 Andrew C. Ross, ―Valignano, Alessandro‖, dalam Gerald H. Anderson (ed), Biographical Dictionary of Christian Mission, Simon and Schuster Macmillan, New York 1998, 694.
21 Andrew C. Ross, A Vision Betrayed, XI.
22 Samuel Hugh Moffett, A History of Christianity in Asia, Vol. II: 1500-1900, Orbis Books, New York 2005, 107.
sistem Patronatus dan membatasi campur tangan yang terlalu banyak dari pemerintah kolonial (Spanyol dan Portugal) atas kepentingan-kepentingan Gereja di daerah misi. Dia dengan tegas juga menolak pendekatan penaklukan dan tabula rasa yang dilakukan oleh kebanyakan orang Spanyol dan Portugal. Valignano berkeyakinan bahwa budaya-budaya Jepang dan China memiliki unsur-unsur kebenaran dan moralitas di mana iman Kristen dapat dibangun, sehingga orang Jepang atau Cina tidak perlu mengabaikan sama sekali budaya mereka dan memeluk budaya Spanyol atau Portugal untuk menjadi orang Kristen23.
1.2 Tujuan
Penelitian ini dimaksudkan untuk memahami secara lebih mendalam pendekatan akomodatif Alessandro Valignano, khususnya bagi misi di Jepang.
Valignano memang menetapkan metode akomodasi sebagai kebijakan resmi misi Serikat Jesus di Jepang dan Cina. Tetapi, oleh karena keterbatasan sumber data dan informasi yang ada, serta mempertimbangkan keluasan topik permasalahan yang ada, penelitian ini hanya akan membatasi pada usaha-usaha akomodasi Valignano bagi misi di Jepang. Di dalam penelitian ini akan dipertanyakan beberapa hal berikut: apa yang dimaksud dengan metode akomodasi, apa kekhasan metode akomodasi Valignano dibandingkan dengan model-model yang sudah dikembangkan oleh para misionaris sebelumnya, apa sebenarnya motif Valignano di dalam menerapkan metode akomodasi sebagai kebijakan resminya bagi misi di Jepang dan Cina, dan faktor-faktor apa yang memengaruhi kebijakan
23 Andrew C. Ross, A Vision Betrayed, XII-XIII.
bermisi akomodatif dari Valignano tersebut. Selain itu, penelitian ini juga akan berusaha mengangkat kekhasan metode akomodasi Valignano jika dibandingkan dengan kecenderungan umum bermisi pada abad 16—18. Untuk itu, pada Bab 2 dari tesis ini akan dipaparkan terlebih dahulu situasi misi Gereja Katolik di antara bangsa-bangsa (Asia dan Amerika) pada abad 16—18. Di sana akan dibicarakan:
pendekatan-pendekatan misi yang muncul pada abad 16—18 dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Dari sana, diharapkan akan menjadi jelas juga: apa sebenarnya sumbangan Valignano bagi sejarah misi Gereja Katolik itu sendiri.
Setelah itu, berdasarkan apa yang ditemukan di dalam penelitian ini tentang metode akomodasi Valignano dan sumbangannya bagi perkembangan misi Gereja Katolik di antara bangsa-bangsa pada abad 16—18, di dalam tesis ini akan direfleksikan apa kira-kira relevansi dan sumbangan pendekatan Valignano bagi usaha bermisi pada jaman sekarang.
Alessandro Valignano sendiri dipilih karena dia adalah arsitek utama misi Serikat Jesus di daerah Hindia Timur pada abad 16—18. Dia adalah orang pertama yang menetapkan akomodasi ke dalam kebudayaan setempat sebagai suatu cara bertindak yang harus dipatuhi oleh setiap misionaris yang ingin bekerja di Jepang dan Cina. Dia juga merupakan orang pertama yang secara sistematis merumuskan bagaimana akomodasi ke dalam kebudayaan setempat itu harus dilakukan oleh para misionaris di Jepang. Valignano adalah tokoh penting di balik kisah-kisah sukses misi inkulturatif Michele Ruggieri dan Matteo Ricci di Cina.
Meskipun pada awalnya Valignano merancang kebijakan akomodasi ini hanya bagi misi di Jepang dan Cina, metode akomodasinya ini terbukti sangat
memengaruhi corak bermisi Serikat Jesus di seluruh wilayah Asia lainnya selama dua ratus tahun. Roberto de Nobili di India dan Alexander de Rhodes di Vietnam adalah contoh dua orang misionaris Jesuit yang berhasil mewarisi dan mengembangkan metode akomodasi tersebut di luar wilayah Jepang dan Cina.
1.3 Hipotesis dan Kerangka Teori
Hipotesis awal dari tesis ini adalah bahwa kekhasan pendekatan akomodatif Alessandro Valignano tidak terletak pada tujuan misi itu sendiri (yang pada masa itu dipahami sebagai: membaptis sebanyak mungkin orang), tetapi pada keyakinan Valignano mengenai pentingnya proses pewartaan Iman itu sendiri hingga orang dengan bebas mau menerima pembaptisan tersebut. Di sini, Valignano berbeda karena memiliki suatu ―intuisi‖ iman akan nilai-nilai positif kebudayaan asli bangsa-bangsa bagi proses penanaman iman itu sendiri. Hal itu disebut sebagai suatu ―intuisi‖, karena pada Valignano hal tersebut belumlah direfleksikan secara sistematis. Walaupun demikian, intuisi itu juga merupakan suatu ―intuisi iman‖ oleh karena intuisi itu juga didasarkan pada pengalaman iman Valignano akan misteri inkarnasi, yaitu: Sang Sabda yang menjadi manusia Yesus demi mewujudkan rencana keselamatan Allah. Sebagai seorang misionaris, Valignano tidaklah berbeda dari para misionaris dan orang-orang Kristen lain sejamannya yang melihat pembaptisan sebagai satu-satunya jalan keselamatan bagi setiap orang. Oleh karena itu, bagi Valignano pun pembaptisan atau masuknya seluruh Jepang ke dalam Kristianitas dipandang sebagai suatu tujuan jangka panjang dari seluruh usaha misinya di Jepang. Walaupun demikian,
Valignano berbeda dari para misionaris sejamannya karena dia sangat peduli dengan kemendalaman penerimaan orang-orang Jepang terhadap iman Kristiani.
Cita-cita yang menggerakkan Valignano adalah: bahwa iman Kristiani sungguh diterima sebagai bagian hidup dari bangsa Jepang sendiri dan tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang asing lagi.
Adapun keyakinan Valignano pada pentingnya proses pewartaan Injil tersebut dan ―intuisi‖ imannya akan nilai-nilai positif dari budaya-budaya asli bangsa-bangsa muncul sebagai pengaruh dari gerakan Humanisme Renaissance yang pada saat itu sedang berkembang di Eropa. Pengaruh gerakan Humanisme ini pada diri Valignano tidak hanya tampak di dalam kemampuannya untuk melihat budaya-budaya sebagai sesuatu yang luhur, tetapi juga di dalam keyakinannya bahwa pewartaan Injil yang baik haruslah mampu menggerakkan orang yang diwartai untuk menerima isi pewartaan itu dengan sepenuh hati dan budinya. Maka, misi bagi Valignano bukanlah sekedar membaptis orang, tetapi mengenai bagaimana iman Kristiani dikomunikasikan dan orang diyakinkan untuk memeluknya serta menghidupinya.
Lalu, dari manakah hipotesis ini didapat? Hipotesis ini didapat dari pengamatan terhadap pergulatan-pergulatan Valignano mengenai misi di Jepang.
Valignano bukanlah orang pertama yang merintis misi di Jepang. Ketika pada tahun 1573 dia diangkat oleh Pater Jenderal Everard Mercurian sebagai visitator pribadinya untuk misi SJ di Hindia Timur, misi SJ di Jepang sudah berjalan selama lebih dari dua puluh tahun. Jika keberhasilan misi hanya dilihat dari jumlah orang yang dibaptis, maka misi SJ di Jepang pun tidak bisa dikatakan
sebagai misi yang gagal. Ketika Valignano tiba untuk pertama kalinya di Jepang pada tahun 1579, jumlah orang Katolik di Jepang sudah mencapai 100.000 jiwa24. Hal yang meresahkan Valignano pada waktu itu justru fakta bahwa begitu mudahnya pembaptisan massal selalu diikuti juga dengan begitu mudahnya orang Kristiani Jepang meninggalkan iman mereka dan bahkan melawannya. Setelah mendengarkan masukan-masukan dari berbagai pihak, Valignano kemudian membuat beberapa kebijakan yang mendorong para misionaris untuk menyesuaikan cara hidup mereka dengan cara hidup bangsa Jepang, dan yang mengusahakan keterlibatan yang lebih besar dari orang-orang Jepang sendiri terhadap karya misi di Jepang (misal: dengan mengusahakan formasi bagi calon- calon Jesuit dan klerus pribumi). Munculnya kebijakan-kebijakan ini sendiri tidak lepas dari keyakinan Valignano pada kualitas intelektual bangsa Jepang dan Cina yang dianggapnya setara dengan bangsa Eropa sendiri25. Dengan kemampuan intelektual mereka itu, Valignano percaya bahwa jika diberi kesempatan yang tepat, bangsa Jepang dan Cina seharusnya bisa menerima, meneruskan, dan mengembangkan iman Kristiani dengan lebih baik26.
24 Josef Franz Schütte, S.J., Valignano’s Mission Principles for Japan, Volume 1: From His Appointment as Visitor until His First Departure from Japan (1573-1582), Part 1: The Problem (1573-1580), diterjemahkan dari Valignanos Missionsgrundsätze für Japan, I Band: Von der Ernennung zum Visitator bis zum ersten Abschied von Japan (1573-1582); I Teil: Das Problem (1573-1580), oleh John J. Coyne, S.J., Gujarat Sahitya Prakash, Anand 1980, 269.
25 Di dalam beberapa suratnya, Valignano menyebut bangsa Jepang dan Cina sebagai ―white people‖. Hal ini bukan berarti bahwa Valignano seorang yang rasis. Penyebutan bangsa Jepang dan Cina sebagai ―white people‖ ini lebih berkaitan dengan harapannya pada kemampuan yang lebih besar dari kedua bangsa itu untuk menerima dan memahami misteri iman Kristen. Hal ini tampak, misalnya, di dalam suratnya kepada jenderal dari Mozambik, 7 Agustus 1574 mengenai bangsa Afrika yang mengatakan: ―They are a very untalented race..., incapable of grasping our holy religion or practicing it; because of their naturally low intelligence they cannot rise above the level of senses...‖ (Josef Franz Schütte, S.J., Valignano’s Mission Principles for Japan, Part 1, 131).
26 Josef Franz Schütte, S.J., Valignano’s Mission Principles for Japan, Part 1, 133.
1.4 Mengapa Penelitian Ini Akan Diterima oleh Masyarakat?
Sumbangan utama Alessandro Valignano bagi sejarah misi Gereja adalah sikapnya yang positif (simpatik) terhadap kebudayaan setempat dan usahanya untuk mengkontekstualisasikan pesan Injil ke dalam situasi konkrit yang dihidupi oleh para penerima pewartaan Injil itu. Metode akomodasi Valignano bukan hanya menyangkut masalah penyesuaian cara hidup para misionaris ke dalam tradisi kebudayaan Jepang saja, tetapi juga meliputi penerimaan atas beberapa perayaan kerakyatan yang sudah menjadi tradisi bangsa Jepang. Dengan seluruh usahanya itu, secara tidak langsung Valignano membuktikan bahwa Injil tidaklah terbatasi pada suatu kebudayaan tertentu (Eropa) saja untuk mengekspresikan dirinya. Dengan akomodasi-akomodasi ke dalam kebudayaan Jepang yang dilakukannya, Valignano justru membuktikan bahwa kebudayaan-kebudayaan asli bangsa-bangsa pun bernilai dan mampu mengekspresikan nilai-nilai Injili secara lebih jelas bagi orang yang menghidupi kebudayaan tersebut. Melalui usahanya itu, Valignano telah merintis jalan kepada inkulturasi iman Kristiani ke dalam kebudayaan asli bangsa Asia.
Penelitian ini diharapkan akan dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, karena berbicara mengenai salah seorang tokoh besar bagi misi di Asia yang berjasa membuka jalan bagi suatu inkulturasi Injil ke dalam budaya-budaya Asia.
Usaha Valignano untuk menjadikan Kristianitas sebagai bagian dari kehidupan pihak yang menerimanya ini (dalam konteks Valignano adalah bangsa Jepang) diharapkan dapat menjadi suatu inspirasi bagi umat Kristiani Indonesia untuk terus mengusahakan terwujudnya inkulturasi Injil ke dalam kebudayaan
Indonesia. Dengan demikian, diharapkan pula bahwa Kristianitas pun dapat semakin dihidupi dan menghidupi masyarakat Indonesia.
1.5 Sumbangan bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini dibuat dalam rangka studi teologi. Oleh karena itu penulis juga akan lebih menjelaskan sumbangan penelitian ini bagi teologi, khususnya misiologi. Alessandro Valignano adalah arsitek misi Serikat Jesus di Asia pada abad 16—18. Meskipun namanya tidak cukup dikenal dan tenggelam di antara nama-nama besar para misionaris Asia lain seperti: Fransiskus Xaverius, Matteo Ricci, Roberto de Nobili, dan Alexander de Rhodes, peran Valignano di dalam sejarah perkembangan Kristianitas di Asia itu sendiri sangatlah penting. Dia adalah orang yang mengembangkan gagasan Xaverius mengenai suatu akomodasi (penyesuaian) cara bermisi ke dalam konteks kebudayaan setempat. Dia juga merupakan orang pertama dalam sejarah misi di Asia yang mengatur bagaimana akomodasi itu harus dipraktekkan dan menetapkannya sebagai suatu kebijakan resmi misi SJ di Jepang dan Cina. Kebijakan bermisi akomodatifnya inilah yang kemudian dikembangkan oleh para misionaris Jesuit lain di seluruh wilayah Asia.
Prinsip-prinsip bermisinya yang akomodatif itu pulalah yang mewarnai misi SJ di Asia hingga dua ratus tahun setelahnya, dan bahkan hingga saat ini.
Penelitian ini dimaksudkan pertama-tama untuk memperkenalkan tokoh misi Asia yang bernama Alessandro Valignano ini beserta metode akomodasi yang diusahakannya di Jepang dan Cina. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai metode akomodasi yang dibuat oleh Valignano
(khususnya di Jepang), motif yang mendasarinya, gagasan-gagasan atau faktor- faktor yang memengaruhinya, dan relevansinya bagi misi Gereja pada masa sekarang. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini juga dapat semakin melengkapi mata rantai usaha inkulturasi di dalam sejarah misi di Asia, yang sudah dimulai oleh Fransiskus Xaverius dan yang terus berlangsung hingga sekarang ini.
1.6 Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan sebagai suatu penelitian pustaka (teks/ literatur).
Selain mengkaji literatur-literatur yang ada mengenai Alessandro Valignano dan karyanya selama menjabat sebagai visitator SJ untuk Hindia Timur, pengkajian juga akan dilakukan terhadap literatur lain mengenai sejarah Gereja Asia, khususnya misi Gereja di Asia pada abad 16—18. Data-data mengenai karya misi Valignano itu kemudian akan diperbandingkan dengan data mengenai bagaimana misi Gereja di antara bangsa-bangsa pada abad 16—18 secara umum dijalankan.
Dari perbandingan itu, diharapkan menjadi semakin jelas apa yang menjadi kekhasan serta sumbangan Valignano bagi misi pada jamannya dan juga bagi misi pada masa sekarang.
Adapun sumber-sumber primer yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah: dua jilid buku karya Josef Franz Schütte, S.J. yang berjudul Valignano’s Mission Principles for Japan (Part 1 dan Part 2), buku The Japanese and the Jesuits: Alessandro Valignano in Sixteenth-Century Japan karya J.F.
Moran, buku Deus Destroyed: The Image of Christianity in Early Modern Japan
karya George Elison, dan buku A Vision Betrayed: The Jesuits in Japan and China 1542—1742 dari Andrew C. Ross. Sumber-sumber primer tersebut masih dilengkapi dengan sumber-sumber lain berupa artikel-artikel maupun tulisan- tulisan lain mengenai Valignano dan karyanya, misi Gereja di Asia, maupun misi Gereja pada umumnya pada abad 16—18. Kajian terhadap bahan-bahan mengenai sejarah Gereja pada abad 16—18 ini dimaksudkan untuk menampilkan konteks dan membandingkan karya Valignano dengan situasi umum misi Gereja di antara bangsa-bangsa pada abad 16—18 tersebut. Dari hasil kajian terhadap pendekatan- pendekatan misi Valignano tersebut kemudian akan dicari relevansi dan sumbangannya bagi misi Gereja pada masa sekarang.
1.7 Sistematika
Adapun kerangka penulisan tesis ini akan dibuat sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bagian ini dijelaskan apa yang menjadi latar belakang penulisan tesis, tujuannya, mengapa penelitian ini akan diterima oleh masyarakat, sumbangannya bagi ilmu pengetahuan (khususnya teologi misi), metodologi penelitian, dan sistematika penulisan tesis.
Bab II Misi Gereja Pada Abad 16—18 dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya
Pada bagian ini dipaparkan situasi misi pada abad 16 dengan perhatian khusus pada faktor-faktor yang memengaruhinya serta model-model misi
yang berkembang pada waktu itu. Beberapa faktor yang dibicarakan antara lain: Reconquista Semenanjung Iberia, sistem Patronatus Kerajaan, Teologi St. Agustinus, dan munculnya gerakan Humanisme Renaissance.
Bab III Metode Akomodasi sebagai Bagian dari Pembaruan Misi Valignano di Jepang
Bagian ini berisi informasi mengenai siapakah Alessandro Valignano, perkembangan metode akomodasi di Jepang sebelum kedatangan Valignano mulai dari masa Fransiskus Xaverius hingga Francisco Cabral, beberapa persoalan misi di Jepang yang dihadapi oleh Valignano pada saat kedatangannya di sana, dan metode akomodasi yang diterapkan oleh Valignano sendiri.
Bab IV Akomodasi sebagai Misi yang Melibatkan
Di dalam bab ini akan disampaikan refleksi atas metode akomodasi Alessandro Valignano dan perbandingannya dengan model tabula rasa yang menjadi kecenderungan umum pendekatan misi pada abad 16—18.
Secara khusus pada bagian ini akan direfleksikan faktor-faktor apa saja yang kiranya memengaruhi dan mendasari pendekatan akomodatif Valignano.
Bab V Kesimpulan dan Penutup
Pada bagian ini akan disampaikan kesimpulan akhir atas penelitian terhadap pendekatan akomodatif Alessandro Valignano bagi misi di
Jepang. Selain itu, pada bagian ini pula akan disampaikan apa kira-kira relevansi dan sumbangan pendekatan akomodatif Valignano itu bagi misi Gereja pada masa sekarang.
***
BAB II
MISI GEREJA PADA ABAD 16—18
DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA
Alessandro Valignano berkarya sebagai visitator Ordo Serikat Jesus (SJ) di Asia pada akhir abad 16 hingga awal abad 17 (1573—1606). Oleh sebagian ahli sejarah misi, dia dianggap sebagai seorang misionaris terbesar bagi misi Jesuit di Asia setelah St. Fransiskus Xaverius. Seorang ahli sejarah Asia Timur seperti J.F.
Schütte, misalnya, menyebutnya sebagai seorang ―superior dan organisator terbesar misi Jesuit di Timur Tengah dan Timur Jauh semenjak Fransiskus Xaverius‖27.
Pendapat mengenai kebesaran Valignano itu sendiri hanya dapat dibuktikan jika ada pembandingnya. Oleh karena itu, Bab 2 ini dimaksudkan untuk memberi gambaran mengenai bagaimana secara umum misi di antara bangsa-bangsa dilakukan oleh Gereja pada abad 16—18. Tulisan pada Bab 2 ini sendiri akan dimulai dengan pemaparan mengenai beberapa faktor yang kiranya ikut membentuk karakter dan model misi Gereja pada abad-abad tersebut.
Pemaparan mengenai faktor-faktor ini diharapkan akan membantu usaha untuk memahami bagaimana para misionaris bekerja pada waktu itu.
27 J.F. Schütte, ―Valignano, Alessandro‖, dalam Berard L. Marthaler, O.F.M. Conv., S.T.D., Ph.D., dkk (ed), New Catholic Encyclopedia, XIV, Gale, Washington D.C. 2003, 375.
2.1 Faktor-faktor yang Memengaruhi Misi Gereja pada Abad 16—18
Situasi seperti apakah yang dihadapi oleh Gereja pada awal abad ke-16?
Peristiwa atau faktor-faktor apa sajakah yang membentuk misi Gereja pada abad 16—18 di Amerika dan Asia? Di dalam tulisan mereka tentang ekspansi Kristianitas pada tahun 1500—1800, John McManners dan Kenneth Scott Latourette menyebutkan bahwa pada akhir abad ke-15 Kristianitas tengah mengalami suatu krisis yang disebabkan terutama oleh tekanan dari Islam.
Ekspansi Islam yang terjadi pada abad 7—15 telah menyebabkan dunia Kristen kehilangan banyak wilayah yang dikuasainya. Bukan hanya itu, pada akhir abad 15 Kristianitas bahkan hanya menjadi agama Eropa saja dan terkurung oleh Islam di Timur, Gurun Sahara di Selatan, tundra yang gersang di Utara, dan Samudra Atlantik di Barat28.
Meskipun terkepung dan telah kehilangan banyak wilayah, situasi Kristianitas pada akhir abad 15 juga tidak bisa disamakan dengan situasi pada abad 1—3 di mana Kristianitas hidup hanya sebagai satu kelompok keagamaan kecil saja di wilayah Mediterania dan sekitarnya. Sejak Kaisar Konstantinus Agung mengeluarkan Edik Milano (313) yang memberikan kebebasan bagi para pemeluk iman Kristen untuk menghayati dan menyebarluaskan keyakinan imannya, Kristianitas dengan cepat berkembang ke seluruh wilayah Kekaisaran Romawi dan bahkan melewati batas-batas wilayahnya. Pada tahun 500, iman Kristen sudah menjadi iman yang diakui oleh mayoritas penduduk di daerah-
28 John McManners, ―The Expansion of Christianity‖, dalam John McManners, dkk (ed), The Oxford Illustrated History of Christianity, Oxford University Press, New York 1990, 301. Lihat juga: Stephen B. Bevans - Roger P. Schroeder, Constants in Context, 171.
daerah yang paling penting pada waktu itu. Sementara di berbagai daerah yang masih didominasi oleh budaya-budaya lain, Kristianitas juga berhasil berkembang meskipun hanya sebagai kelompok minoritas29. Demikianlah pada tahun 500, Kristianitas sudah ada di daerah-daerah seperti: Palestina, Siria, Yunani, Afrika Utara, Italia, Spanyol, Gallia, Jerman, Inggris, Irlandia, Mesir, Armenia, Georgia, Kekaisaran Persia, bangsa-bangsa Balkan, bangsa-bangsa Goth, India, Abyssinia, dan Arabia. Kembali pada situasi tahun 1500, meskipun terdesak oleh Islam dan tidak lagi menjadi satu-satunya iman yang mendominasi dunia, Kristianitas tetaplah hadir sebagai entitas yang penting di wilayah Mediterania dan Eropa. Hal ini setidaknya masih dapat dilihat dari fakta bahwa pada akhir abad pertengahan (1500), seluruh wilayah Eropa (sebagai salah satu kekuatan yang akan mendominasi dunia pada abad 16 dan sesudahnya) tanpa diragukan lagi sudah menjadi Kristen30.
Pemahaman akan situasi umum yang dihadapi oleh Gereja pada awal abad 16 itu penting untuk memahami makna gerakan misi besar-besaran Gereja Katolik di antara bangsa-bangsa bukan Eropa yang diawali pada akhir abad 15 atau awal abad 16. Setelah sekian lama terkurung dan terdesak di Eropa oleh Islam, penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa bukan Eropa membawa suatu gairah dan harapan baru bagi dunia Kristen. Pertanyaannya kemudian:
bagaimanakah misi itu dilaksanakan oleh para misionaris Eropa di antara bangsa- bangsa? Sebelum menjawab pertanyaan itu, marilah terlebih dahulu melihat
29 Kenneth Scott Latourette, A History of The Expansion of Christianity, I, Zondervan Publishing House, Michigan 1970, 173.
30 David J. Bosch, Transforming Mission, 214.
beberapa faktor yang cukup memengaruhi mentalitas dan karakter bermisi pada abad 16—18 tersebut.
2.1.1 Semangat Penaklukan: dari Reconquista ke Conquista
Penjelasan mengenai situasi Gereja pada awal abad 16 pada bagian sebelum ini sudah menyinggung tentang adanya invasi Islam ke daerah-daerah Kristen pada abad 7—15. Gerakan penaklukan oleh para pengikut Nabi Muhammad (610—632) ini muncul tidak lama setelah wafatnya Sang Nabi pada tahun 632. Dalam jangka waktu yang tidak lama, para pejuang Muslim berhasil merebut dan menaklukkan daerah-daerah penting kekristenan seperti: Yerusalem (638), Kaisarea (640, yang berarti: seluruh Palestina dan Siria), Aleksandria dan seluruh Mesir (642), dan Kartago (697). Pada tahun 715, mereka bahkan berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Spanyol. Pada tahun itu juga mereka menguasai Punjab dan masuk jauh ke Asia Tengah. Invasi Islam ke wilayah Eropa sempat terhenti sejenak ketika pada tahun 732 pasukan mereka dikalahkan secara telak oleh Charles Martel di Tours, Perancis. Walaupun demikian, di daerah lain ekspansi mereka tidak mengalami hambatan yang berarti. Pada tahun 902 Sisilia direbut dan menjadi negara Islam. Puncak dari ekspansi Islam atas wilayah- wilayah Kristen terjadi pada tahun 1453 ketika Konstantinopel jatuh ke tangan Turki dan menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi Timur, yang selama seribu tahun menjadi kubu Kekristenan31.
31 Stephen Neill, A History of Christian Missions, Penguin Books, Middlesex 1964, 63.