METODE PENELITIAN
4.1. Glukosa Darah
Data glukosa darah yang diambil adalah jumlah rerata dari glukosa darah pada awal penelitian (hari ke-1), yaitu saat tikus dinyatakan DM dan normal, (hari ke-7) dan akhir penelitian (hari ke-14) masing-masing kelompok. Kelompok N merupakan kelompok tikus normal, kelompok D merupakan kelompok tikus diabetes tanpa terapi, dan kelompok D + Cc adalah kelompok tikus diabetes yang diberikan terapi ekstrak kayu manis Cinnamomum cassia 300mg/kgbb selama 14 hari. Data yang didapatkan selama penelitian adalah :
Grafik 4.1 Rerata glukosa darah hari ke-1 hari ke-7 hingga hari ke-14 pada semua kelompok penelitian.
Keterangan : N, kelompok normal (N= 4), D, kelompok diabetes (N = 4), D + Cc, kelompok diabetes dengan terapi ekstrak Cinnamomum cassia (N = 4).
0 100 200 300 400 500 600 700 800
Hari 1 Hari 7 Hari 14
Glukosa
Da
ra
h mg/dL
Waktu Pemeriksaan Glukosa darah
N D D + Cc
Pemberian aloksan sebagai agen diabetogenik dapat meningkatkan rerata
glukosa darah pada kelompok DM dan kelompok uji melalui proses destruksi sel β
pankreas dibandingkan dengan rerata glukosa darah kelompok normal.
Dari grafik 4.1 dapat dilihat bahwa kadar rerata glukosa darah pada kelompok terapi lebih rendah dari kelompok DM terutama pada hari ke 14, meskipun kadar rerata glukosa kelompok terapi belum mencapai nilai glukosa darah pada kelompok normal. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak Cinnamomum cassia dengan dosis 300mg/kgbb selama 14 hari dapat menurunkan glukosa darah tikus.
Selanjutnya perbedaan rerata glukosa darah pada hari ke 14 di uji secara statistik dengan menggunakan Oneway Annova dan didapatkan p-value 0,001, yang
berarti bahwa pada signifikansi α 5% terdapat perbedaan kadar rerata glukosa yang
bermakna di antara semua kelompok penelitian
Hal ini sesuai dengan studi yang membuktikan pemberian ekstrak kayu manis selama 30 hari dengan dosis 200mg/kgbb dapat menurunkan glukosa darah tikus secara signifikan.23
Penelitian ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan saima et al (2011), yang melihat penurunan glukosa darah dengan pemberian ekstrak Cinnamomum, sp
pada dosis 200mg/kgbb selama 6 minggu. Hasil penelitian menunjukkan, penurunan glukosa darah baru signifikan pada minggu ke empat (p<0,05) dan minggu ke enam (p<0,01). Sedangkan penurunan trigliserida sudah bermakna pada minggu kedua (p<0,05).22
Dengan ini peneliti ingin melihat dan membuktikan sendiri apakah pada dosis 300 mg/kgbb selama 2 minggu dapat menurunkan glukosa secara signifikan.21 Sehingga pada studi ini akhirnya dapat dibuktikan bahwa pemberian ekstrak
Cinnamomum cassia selama 14 hari dengan dosis 300 mg/kgbb dapat menurunkan glukosa darah secara signifikan (p <0,05).22
37
Al Jamal et al (2010) juga telah melakukan penelitian menggunakan ekstrak kayu manisdengan dosis 160mg/kgbb selama 28 hari, dan hasilnya terjadi penurunan glukosa darah(p<0,01). 44
Dalam berbagai penelitian dilaporkan bahwa ekstrak Cinnamomum cassia
memiliki properti antidiabetik dari Cinnamaldehyde 75%. Hasil beberapa penelitian menyebutkan Ekstrak Cinnamomum memiliki kandungan MHCP yang memiliki aktifitas insulin-mimetik yang berfungsi mengaktifasi glikogen sintase dan inhibisi glikogen sintase kinase 3β.25
Selain itu, MHCP juga dapat meningkatkan sensitifitas reseptor insulin dengan jalan aktivasi insulin reseptor kinase dan inhibisi insulin reseptor phosphatase.24 Gaber et al (2012) juga melaporkan bahwa ekstrak Cinnamomum
memiliki bahan aktif IPF yang dapat meningkatkan sekresi insulin dari sel β pankreas
sehingga mampu menurunkan kadar glukosa darah.22
4.2 Berat Badan
Data berat badan yang diambil adalah data rerata berat badan setiap hari mulai hari ke-1 sampai hari ke-14 pada semua kelompok. Pemberian aloksan sebagai agen diabetogenik dapat mengganggu metabolisme protein yang ditandai dengan penurunan berat badan pada kelompok DM dibandingkan dengan kelompok normal dengan berat badan yang relatif stabil dan kelompok terapi yang memiliki rasio berat badan lebih baik.
Berikut ini data rerata rasio berat badan pada hari ke-14:
Grafik 4.2 Rerata rasio berat badan hari ke-14 semua kelompok penelitian.
Keterangan : N, kelompok normal (N= 4), D, kelompok diabetes (N = 4), D + Cc, kelompok diabetes dengan terapi ekstrak Cinnamomum cassia (N = 4).
Berdasarkan grafik 4.2 dapat dilihat bahwa rerata rasio berat badan pada kelompok terapi lebih tinggi dari kelompok DM terutama pada hari ke 14 meskipun angka rerata rasio berat badan belum setinggi rerata rasio berat badan pada kelompok normal. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak Cinnamomum cassia dengan dosis 300mg/kgbb selama 14 hari dapat mempertahankan berat badan akhir kelompok tikus DM. Sangal (2011) melaporkan adanya kandungan MHCPpada kayu manis dapat meningkatkan autofosforilasi reseptor insulin pada sel otot skelet dan adiposa, hal ini dapat menurunkan proses katabolisme protein sehingga berat badan tikus dapat dipertahankan stabil bahkan terjadi peningkatan.24
0 20 40 60 80 100 120 140 Hari ke-14 Ras io Ber a t Badan (%)
Waktu Pemeriksaan Berat Badan
N D D + Cc
39
Selanjutnya dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji One Way Annova
karena distribusi data yang normal dan homogen. Dan didapatkan nilai p-value
sebesar 0,409 (>0,05). Yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan berat badan yang signifikan antara kelompok penelitian. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan pengaruh pemberian ekstrak Cinnamon selama 30 hari dengan dosis 600mg/kgbb terhadap kenaikan berat badan tikus tidak bermakna secara statistik ( p-value >0,05).29
4.3 Trigliserida
Pemeriksaan kadar triglserida dilakukan pada hari ke-14 setelah pemberian ekstrak kayu manis. Kadar trigliserida langsung diukur dari plasma hasil sentrifugasi darah yang diambil dari vena cava inferior tikus untuk mendapatkan hasil terbaik.
Grafik 4.3 Rerata kadar trigliserida hari ke-14 pada semua kelompok penelitian
Keterangan : N, kelompok normal (N= 4), D, kelompok diabetes (N = 4), D + Cc, kelompok diabetes dengan terapi ekstrak Cinnamomum cassia (N = 4).
0 50 100 150 200 250 300 350 Hari 14 Trigliserida ( mg /dL) Waktu Pemeriksaan TG N D D + Cc
Berdasarkan Grafik 4.3 dapat dilihat bahwa pemberian aloksan sebagai agen diabetogenik dapat mempengaruhi metabolisme lipid yang ditandai dengan tingginya kadar rerata trigliserida pada kelompok DM dibandingkan dengan kelompok terapi dan kelompok normal. Pada kelompok terapi didapatkan rerata trigliserida yang lebih rendah dibandingkan kelompok DM meskipun belum mencapai kadar rerata trigliserida pada kelompok normal. Hal ini membuktikan bahwa pada pemberian ekstrak kayu manis 300mg/kgbb selama 14 hari menunjukkan adanya efek hipolipidemik.
Selanjutnya dilakukan uji statistik dengan menggunakan Oneway Annova,
namun data trigliserida tidak normal dan tidak homogen walaupun telah dilakukan transformasi data. Sehingga dilakukan non-parametric test yaitu uji Kruskal Wallis.20
Dari hasil uji Kruskal Wallis didapatkan nilai p-value 0,018 yang berarti nilai
ini bermakna pada α 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kadar trigliserida yang bermakna antara semua kelompok penelitian. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Gaber et al (2012), pemberian ekstrak kayu manis selama 30 hari dengan dosis 200 mg/kgbb, 400 mg/kgbb, 600mg/kgbb dan 1200 mg/kgbb dapat menurunkan kadar trigliserida secara signifikan (p < 0,05).22 Al Jamal
et al (2010) juga telah melakukan penelitian menggunakan ekstrak kayu manis dengan dosis 160mg/kgbb, dan hasilnya menunjukkan terdapat penurunan trigliserida secara signifikan setelah 28 hari (p <0,05). 44
Menurut penelitian yang dilakukan Mannan et al (2014), kandungan
Cinemaldehyd mempunyai efek insulin-like activity yang mampu menurunkan kadar trigliserida.45 Studi yang lain menyebutkan pemberian insulin dapat memperbaiki fungsi LPL sehingga dapat menurunkan level trigliserida, hal ini sesuai dengan efek
Cinemaldehyd yang terkandung dalam ekstrak kayu manis yang bekerja sebagai insulin mimetik.23 Selain itu, penelitian sebelumnya melaporkan terdapat kandungan fenol berupa Cinnamate pada ekstrak Cinnamomum yang mampu menghambat