BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBENTUKAN HIPOTESIS
2. Good Corporate Governance
Istilah corporate governance untuk pertama kali diperkenalkan oleh
Cadburry Committee pada tahun 1992. Istilah tersebut dicantumkan dalam laporan
mereka yang kemudian dikenal sebagai Cadburry Report. Laporan ini dipandang
sebagai titik balik (turning point) yang sangat menentukan bagi praktik corporate
governance di seluruh dunia. Cadbury Report mendefinisikan corporate
governance sebagai berikut :
...the system by which organizations are directed and controlled.1
Istilah Good Corporate Governance merupakan sebuah sistem
pengendalian dan pengaturan perusahaan yang dapat dilihat dari mekanisme hubungan antara berbagai pihak yang mengurus perusahaan (hard definition),
maupun ditinjau dari “nilai-nilai” yang terkandung dari mekanisme pengelolaan itu sendiri (soft definition)
(Suatu sistem yang berfungsi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi.)
Definisi lain dari Cadburry Committee memandang corporate
governance sebagai :
A set of rules that define the relationship between shareholders, managers, creditors, the government, employees and other internal and external stakeholders in respect to their rights and responsibilities.
Seperangkat aturan yang merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manager, kreditor, pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka.
1
Menurut Mardiasmo (2002:17), pengertian governance dapat diartikan
sebagai cara mengelola urusan-urusan publik. World Bank memberikan definisi
governance sebagai “the way state power is used in managing economic and
social resources for development of society”. Sementara itu United Nation
Development Program (UNDP) mendefinisikan governance sebagai “the exercise
of political, economic, and administrative authorithy to manage a nation’s affair
at all levels”.
Corporate Governance merupakan konsep yang diajukan demi
peningkatan kinerja perusahaan melalui pengawasan kinerja manajemen dan menjamin akuntanbilitas manajemen terhadap stakeholder dengan mendasarkan
pada kerangka peraturan. Konsep Corporate Governance diajukan demi
tercapainya pengelolaan perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan (FCGI : 2003). Istilah GCG tentunya bukan istilah yang asing lagi di telinga, karena awal mula penerapan GCG di Indonesia sendiri ditetapkan melalui edaran surat keputusan menteri BUMN No.Kep-117/M-MBU/2002 pada tanggal 1 Agustus 2002 tentang penetapan praktek GCG pada setiap Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaing berisi sebagai berikut :
BUMN memiliki kewajiban untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten dan atau menjadikan prinsip-prinsip Good Gorporate Governance sebagai landasan operasionalnya, yang pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntanbilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, dan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.
Tjager et. all (2003: 25-26) sebagaimana dikutip dalam FCGI (Forum for
Corporate Governance in Indonesia) mendefinisikan tata kelola korporat
(Corporate Governance) sebagai berikut :
“...Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan tata kelola korporat ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders).”
Bank Dunia memberikan definisi GCG sebagai kumpulan hukum, peraturan, kaidah yang wajib dipenuhi yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
Dalam Pedoman GCG Perbankan Indonesia dinyatakan, untuk terciptanya
kondisi yang mendukung implementasi GCG yang efektif, salah satu tugas yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan otoritas terkait adalah penerbitan peraturan perundang-undangan yang memungkinkan dilaksanakannya GCG secara efektif. Selain itu, pemerintah dan otoritas terkait harus mampu menjamin dan membuktikan bahwa penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara
serius.
Di sisi lain, sebagai subjek GCG, bank perlu menerapkan standar akuntasi dan standar audit yang sama dengan standar yang berlaku umum serta melibatkan auditor eksternal dalam proses audit. Tujuannya supaya diperoleh ukuran yang sama dengan ukuran yang berlaku di tempat lain. Dengan demikian, stakeholders
boleh berharap akan interpretasi yang sama atas fenomena-fenomena yang sejenis. Sebab, pada dasarnya, persoalan GCG adalah persoalan tanggung jawab perusahaan kepada stakeholders.
Agar sistematis dan kontinu, pelaksanaan GCG oleh perbankan dapat dilakukan melalui lima tindakan, yakni penetapan visi, misi, dan corporate values
yang sesuai dengan prinsip GCG; penyusunan corporate governance structure;
pembangunan corporate culture yang sesuai dengan prinsip GCG; penetapan
sasaran public disclosures yang sesuai dengan prinsip GCG; serta penyempurnaan
kebijakan-kebijakan bank agar dapat memenuhi prinsip GCG. Penetapan visi, misi, dan corporate values merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Lewat
infrastruktur itu, stakeholders bisa menilai jati diri bank yang bersangkutan.
Untuk pembentukan corporate governance structure, bank dapat
menempuh empat tahapan. Satu, kebijakan corporate governance yang
dirumuskan, selain memuat visi dan misi bank, juga harus memuat tekad untuk melaksanakan GCG serta memuat pedoman pokok penerapan prinsip GCG yang terdiri atas transparrency, accountability, resposibility, independency, dan
fairness. Dua, merumuskan code of conduct yang memuat pedoman perilaku yang
wajar bagi pimpinan dan karyawan bank. Tiga, merumuskan tata tertib kerja dewan komisaris dan direksi yang memuat hak dan kewajiban serta akuntabilitas dewan komisaris dan direksi serta masing-masing para anggotanya. Organisasi yang ada di dalamnya juga harus mencerminkan adanya risk management,
internal control, dan compliance. Empat, merumuskan kebijakan risk
resources policy yang jelas serta corporate plan yang menggambarkan arah
jangka panjang yang jelas.
Sementara itu, corporate culture dibentuk melalui penetapan prinsip dasar
(guiding principles), nilai-nilai (values), dan norma-norma (norms) yang
disepakati serta dilaksanakan secara konsisten dengan contoh konkret dari pimpinan bank. Serangkaian diskusi yang intensif dan panjang serta program-program komunikasi sosial diperlukan untuk pembentukan budaya perusahaan ini. Karena GCG adalah cerminan tanggung jawab bank kepada stakeholder-nya,
maka sasaran-sasaran public disclosures serta penyempurnaan berbagai kebijakan
bank perlu dilakukan. Tujuannya adalah agar masyarakat menerima informasi-informasi yang seharusnya mereka peroleh untuk bekal pengambilan keputusan yang intinya adalah keputusan untuk percaya atau tidak percaya kepada bank yang bersangkutan.
Penerapan Corporate Governance memberikan empat manfaat (FCGI :
2001), yaitu :
Penerapan Corporate Governance memberikan empat manfaat (FCGI, 2001), yaitu: (1) meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi perusahaan, serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders, (2) mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak rigit (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value, (3) mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, dan (4) pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders’s values dan dividen.
Berdasarkan uraian mengenai Corporate Governance tersebut, dapat
dirumuskan suatu kesimpulan bahwa Good Corporate Governance adalah suatu
menaikkan nilai saham sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada stakeholders, karyawan, kreditor, dan masyarakat sekitar. GCG berusaha menjaga keseimbangan di antara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat. Tantangan dalam Corporate Governance adalah mencari cara untuk
memaksimumkan penciptaan kesejahteraan sedemikian rupa sehingga tidak membebankan ongkos yang tidak patut kepada pihak ketiga atau masyarakat luas. Dan khusus bagi penerapan GCG di dunia perbankan, maka tiga prinsip utama yang harus dipegang yaitu kemandirian, integritas dan transparansi merupakan modal dasar menyelenggarakan bisnis perbankan secara efektif dan berkesinambungan (sustainable).
Dalam buku Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia
(2006:2) menyatakan bahwa tujuan penerapan GCG yaitu :
1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntanbilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan.
2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan, yaitu Dewan Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham.
3. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya.
5. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
b. Prinsip-Prinsip Dasar Good Corporate governance
Dalam keputusan Menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tentang
penerapan GCG juga dijabarkan tentang prinsip-prinsip yang dirumuskan oleh OECD sebagai berikut :
1. Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenail perusahaan.
2. Kemandirian, yaitu suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
3. Akuntanbilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggung jawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif 4. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip-prinsip korporat.
5. Kewajaran, yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian peraturan perundang-undangan yang berlaku.