• Tidak ada hasil yang ditemukan

Good Corporate Governance

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH MONIKA SOLA KRISTI KABAN (Halaman 34-41)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.3 Good Corporate Governance

Sebagaimana sebuah konsep, Good Corporate Governance tentunya tidak memiliki definisi yang tunggal. Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada tahun 2004 mendefinisikan Corporate Governance sebagai suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah pada perusahaan secara berkesinambungan dalan jangka panjang bagi pemegang saham, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku. Hal ini bertujuan

untuk menciptakan keteraturan dalam kewenangan direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu. Isu corporate governance muncul karena perusahaan senantiasa berkembang, terutama karena perusahaan tersebut berubah menjadi go public sehingga pemilik perusahaan umumnya tidak menjadi pengelola atau manajemen perusahaan sendiri (kepemilikan perusahaan dimiliki oleh berbagai pihak). Kondisi seperti ini dapat menimbulkan masalah keagenan. Dengan adanya tata kelola perusahaan yang baik, maka agen (dalam hal ini manajer perusahaan) akan senantiasa bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal (dalam hal ini pemilik perusahaan) dan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik adalah serangkaian sistem yang mengelola dan mengendalikan perusahaan dengan sedemikian rupa, sehingga dari tata kelola perusahaan yang baik ini diharapkan dapat tercipta suatu nilai tambah bagi masing- masing pemangku kepentingan. Menurut Surya dan Yustiavandana (dalam Effendi, 2016:8), penerapan good corporate governance secara konkret memiliki tujuan terhadap perusahaan sebagai berikut:

1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing.

2. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah.

3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan.

4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari para pemangku kepentingan terhadap perusahaan.

5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.

Dalam good corporate governance terdapat lima prinsip dasar yang melandasinya yaitu transparency, accountability, responsibility, independency dan fairness (TARIF).

1. Transparency (Keterbukaan)

Transparency yaitu keterbukaan dalam hal pengungkapan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan. Perusahaan harus dapat menyediakan informasi yang memadai dan akurat secara tepat waktu untuk dapat disebut transparan. Di samping itu, informasi tersebut harus dapat diakses dengan mudah oleh investor dan kreditur pada saat dibutuhkan. Informasi yang tidak memadai akan membuat kemampuan investor dalam memperhitungkan nilai dan risiko serta pertambahan dari perubahan investasi menjadi terbatas.

2. Accountability (Akuntabilitas)

Penerapan prinsip akuntabilitas yang dilaksanakan secara efektif dapat menghindarkan perusahaan dari kemungkinan terjadinya benturan kepentingan (conflict of interest) oleh berbagai pihak dalam perusahaan.

Permasalahan yang kerap terjadi di dalam perusahaan-perusahaan di Indonesia yaitu fungsi pengawasan oleh Dewan Komisaris dilaksanakan secara kurang efektif. Oleh karena itu perusahaan seharusnya mendefinisikan fungsi, hak, tanggung jawab, dan kewajiban masing-masing organ perusahaan serta mengomunikasikan hal-hal tersebut kepada setiap pihak yang berkepentingan (Effendi, 2016:13).

3. Responsibility (Pertanggungjawaban)

Responsibility (pertanggungjawaban) adalah sebuah prinsip kepatuhan di dalam tata kelola perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan serta kententuan-ketentuan lainnya yang berlaku, sehingga pada akhirnya manajer dapat menjalankan operasional perusahaannya dengan etika bisnis yang sehat. Peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang disebutkan sebelumnya termasuk diantaranya yang mengatur tentaang perpajakan, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan dan keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan bisnis yang sehat.

4. Independency (Kemandirian)

Independency atau kemandirian adalah suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada pihak-pihak yang lain yang turut mencampuri urusan operasional perusahaan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan etika bisnis yang sehat.

Independensi penting sekali dalam proses pengambilan suatu keputusan.

Bila tidak ada independensi dalam proses pengambilan keputusan, hal tersebut akan berdampak pada keputusan yang diambil, dimana keputusan tersebut menjadi tidak objektif.

5. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)

Fairness adalah kesetaraan dalam pemenuhan hak-hak pemangku kepentingan, yang acuannya berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku secara umum. Penerapan prinsip Fairness diharapkan akan dapat melindungi kepentingan pemegang saham secara fair (adil dan wajar). Fairness juga harus memberikan sebuah

kejelasan terhadap hak-hak para pemangku kepentingan berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku untuk memberikan perlindungan terhadap hak- hak investor khususnya pemegang saham non-pengendali dari berbagai jenis kecurangan.

Sebagai sebuah proses pengendalian internal, Good Corporate Governance memiliki unsur-unsur pendukung yang bukan hanya berasal dari dalam perusahaan, melainkan juga berasal dari luar perusahaan.

Penelitian ini menggunakan variabel Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, dan Komite Audit sebagai unsur pendukung GCG yang berasal dari dalam perusahaan, dan Kepemilikan Institusional sebagai unsur pendukung yang berasal dari luar perusahaan.

2.1.3.1 Dewan Komisaris Independen

Untuk mengawasi dan menilai kinerja manajemen suatu perusahaan, biasanya perusaahan memiliki sebuah badan yang disebut Dewan Komisaris Independen. Komisaris Independen berasal dari luar perusahaan. Dewan Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan yang tidak memiliki afiliasi apapun dengan dewan direksi dan dewan komisaris lainnya, yang mana dapat menyebabkan Dewan Komisaris Independen kehilangan independensinya (tidak netral). Keberadaan komisaris independen dalam perusahaan perbankan telah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55 /POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum.

Dalam peraturan ini, Dewan Komisaris wajib terdiri dari Komisaris Independen dan Komisaris Non Independen. Komisaris independen wajib 50% (lima puluh persen) dari jumlah anggota Dewan Komisaris.

2.1.3.2 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan Manajerial adalah proporsi saham biasa yang dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan. Oleh karena hal tersebut, manajer perusahaan memiliki peran ganda sebagai agen sekaligus prinsipal. Manajer sebagai pihak yang berada di dalam dan yang terlibat langsung dalam setiap aktivitas operasional perusahaan tentunya mengetahui lebih banyak informasi mengenai keadaan internal perusahaan. Keunggulan dalam hal penguasaan informasi ini dapat membuka peluang bagi manajer untuk melakukan kecurangan dan merugikan prinsipal. Dengan peran ganda yang dipegangnya (sebagai agen dan sekaligus sebagai prinsipal), maka peluang untuk terjadinya kecurangan dapat diminimalisir, karena manajer akan senantiasa mengedepankan kepentingan pemegang saham (yang adalah manajer itu sendiri).

2.1.3.3 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh lembaga keuangan bukan bank yang mengelola dana atas nama orang lain, seperti perusahaan asuransi, perusahaan investasi, perusahaan reksadana, perusahaan leasing. Persentase kepemilikan saham yang tinggi oleh institusional akan menyebabkan

investor melakukan usaha pengawasan dan pemantauan yang lebih profesional atas perkembangan investasinya. Fungsi pengawasan yang dilaksanakan secara profesional ini akan dapat meminimalisir potensi penyelewengan ataupun juga kecurangan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Selain itu, keterlibatan pemilik saham dari pihak institusi dalam proses pengambilan keputusan di dalam perusahaan, akan membuat manajer menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

2.1.3.4 Komite Audit

Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) (dalam Efendi, 2016:

48) mendefinisikan komite audit sebagai suatu komite yang bekerja secara profesional dan independen yang dibentuk oleh dewan komisaris, dengan demikian tugasnya adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko, pelaksanaan audit, dan implementasi dari corporate governance di perusahaan-perusahaan. Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55 /POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum disebutkan bahwa komite audit beranggotakan paling sedikit satu orang komisaris independen, satu orang dari pihak independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan dan akuntansi, satu orang pihak independen yang memiliki keahlian di bidang hukum atau perbankan. Komite audit diketuai oleh Komisaris Independen.

Menurut Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) juga, “perlu kriteria khusus bagi seseorang yang akan menjabat sebagai ketua maupun anggota komite audit, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang sangat strategis”.

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH MONIKA SOLA KRISTI KABAN (Halaman 34-41)

Dokumen terkait