HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian
4.5.1 Pengaruh Dewan Komisaris Independen terhadap Return on Assets
Variabel dewan komisaris independen memiliki koefisien negatif, yaitu -0,573 dengan tingkat signifikansi 0,568 yang nilainya lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 (5%) dimana t tabel > t hitung, sehingga dapat disimpulkan dewan komisaris independen berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return on assets. Keberadaan dewan komisaris indepeden diharapkan akan dapat meningkatkan fungsi pengawasan dan meminimalisasi kemungkinan terjadinya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Hasil penelitian ini menyatakan dewan komisaris independen berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap return on asset. Hal ini dapat terjadi karena masih banyak perusahaan (dalam hal ini perusahaan sektor perbankan) yang melakukan pengangkatan dewan komisaris independen hanya untuk formalitas dan menjalankan peraturan yang telah ditetapkan baik oleh Bank Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan, sehingga perusahaan cenderung mengabaikan aspek kompetensi dan keahlian yang dimiliki oleh dewan komisaris independen. Hal ini menyebabkan keberadaan dewan komisaris independen tidak meningkatkan fungsi pengawasan, yang pada akhirnya tidak meningkatkan kinerja keuangan suatu bank.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Aprianingsih (2016) yang menyatakan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan dengan sampel 30 bank dan tahun penelitian yaitu tahun 2011-2014, namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Sihotang (2017) yang menyatakan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan konglomerasi dengan tahun penelitian 2013- 2016.
4.5.2 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Return on Assets Variabel kepemilikan manajerial memiliki koefisien negatif, yaitu -3,380 dengan tingkat signifikansi 0,001 yang nilainya lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 (5%) dimana t tabel > t hitung, sehingga dapat disimpulkan kepemilikan
manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return on assets.
Kepemilikan manajerial adalah proporsi saham biasa yang dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan. Dengan peran ganda yang dimilikinya (yaitu sebagai manajer dan sekaligus juga pemegang saham), diharapkan akan dapat mengurangi peluang terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh manajer itu sendiri. Hasil dari penelitian ini adalah kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return on assets. Hal ini dapat terjadi karena semakin tingginya tingkat kepemilikan saham oleh manajer perusahaan akan membuat manajer lebih
mengedepankan kepentingannya sendiri dan mengabaikan kepentingan pemegang saham lainnya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Winata (2012) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan perbankan dengan sampel 88 perusahaan sektor perbankan dengan tahun penelitian 2007-2010, namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinurat (2018) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif signifikan terhadap return on assets pada perusahaan perbankan dengan sampel 30 perusahaan perbankan dengan tahun penelitian tahun 2011-2015.
4.5.3 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Return on Assets
Variabel kepemilikan institusional memiliki koefisien -4,025 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang nilainya lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 (5%) dimana t tabel > t hitung, sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return on assets.
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh lembaga insitusi. Persentase kepemilikan saham yang tinggi oleh lembaga institusi akan menyebabkan investor melakukan usaha pengawasan dan pemantauan yang lebih profesional atas perkembangan investasinya. Hasil dari penelitian ini adalah kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return on assets. Hal ini dapat terjadi karena kepemilikan saham yang tinggi oleh lembaga institusi, akan membuat lembaga institusi sebagai pemegang saham mayoritas akan mengabaikan kepentingan pemegang saham minoritas. Hal ini mengakibatkan keputusan dan kebijakan yang diambil oleh perusahaan hanya
akan menguntungkan pemegang saham mayoritas, yang pada akhirnya tidak meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Aprianingsih (2016) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan dengan sampel 30 bank dan tahun penelitian adalah 2011-2014, namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinurat (2018) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap return on assets pada perusahaan perbankan dengan sampel 30 perusahaan perbankan dan tahun penelitian tahun 2011-2015.
4.5.4 Pengaruh Komite Audit terhadap Return on Assets
Variabel komite audit memiliki koefisien negatif, yaitu -0,130 dengan tingkat signifikansi 0,897 yang nilainya lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 (5%) dimana t tabel > t hitung, sehingga dapat disimpulkan bahwa komite audit berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return on assets. Komite audit adalah suatu komite yang bekerja secara profesional dan independen yang tugasnya adalah memperkuat fungsi dewan komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko, pelaksanaan audit, dan implementasi dari corporate governance di perusahaan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa komite audit berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap return on asset. Hal ini dapat terjadi karena proses pemilihan ketua dan anggota komite audit dalam sebuah perusahaan tidak jarang hanya berdasarkan relasi yang dimiliki dengan jajaran dewan direksi, dan mengabaikan
aspek keahlian dalam bidang akuntansi dan keuangan yang seharusnya dimiliki oleh anggota komite audit. Kurangnya kompetensi oleh komite audit mengakibatkan komite audit tidak dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal, yang pada akhirnya tidak meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinurat (2018) yang menyatakan bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap return on assets pada perusahaan perbankan dengan sampel 30 perusahaan perbankan dengan tahun penelitian 2011-2015, namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Aprianingsih (2016) yang menyatakan bahwa komite audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan dengan sampel 30 bank dan tahun penelitian tahun 2011-2014.
BAB V