SKRIPSI
PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE 2015-2017
OLEH
MONIKA SOLA KRISTI KABAN 150503089
PROGRAM STUDI STRATA SATU DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi Program Studi Strata- 1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Agustus 2019 Yang membuat pernyataan,
Monika Sola Kristi Kaban 150503089
ABSTRAK
PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE 2015-2017
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan good corporate governance terhadap kinerja kuangan perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal. Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis regresi linier berganda yang menggunakan alat bantu pengolahan data dengan program aplikasi SPSS.
Variabel Independen pada penelitian ini adalah Good Corporate Governance yang diproksikan dengan Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit, sedangkan Variabel Dependennya adalah Kinerja Keuangan yang diproksikan dengan Return on Assets (ROA). Jumlah sampel yang digunakan yaitu sebanyak 35 sampel perusahaan sektor perbankan. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa secara simultan Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit berpengaruh signifikan terhadap ROA perusahaan sektor perbankan. Secara parsial, Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan Institusional berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA perusahaan sektor perbankan, sedangkan Dewan Komisaris Independen dan Komite Audit tidak berpengaruh terhadap ROA perusahaan sektor perbankan.
Kata Kunci: Good Corporate Governance, Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Komite Audit, Kinerja Keuangan, Return on Assets.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF THE GOOD CORPORATE GOVERNANCE’S IMPLEMENTATION ON THE FINANCIAL PERFORMANCE
OF BANKING SECTOR COMPANIES LISTED ON INDONESIA STOCK EXCHANGE
FROM 2015-2017
This study aims to identify the effect of implementing good corporate governance on financial performance of banking sector companies listed on Indonesia Stock Exchange. The research type of this study is causal associative research. Hypothesis testing is done by multiple linear regression analysis which uses data processing tool with the SPSS application program.
Independent variables in this study are Good Corporate Governance which is proxied with the Board of Independent Commissioners, Managerial Ownership, Institutional Ownership, and Audit Committee; on the other hand, the dependent variable is Financial Performance that is proxied with Return on Assets (ROA). There are 35 samples of banking sector companies used for this study. The type of data used is secondary data.
The result of this study shows, simultaneously, Independent Board of Commissioners, Managerial Ownership, Institutional Ownership, and Audit Committee significantly affect on the ROA of banking sector companies.
Meanwhile, partially, the result shows Managerial Ownership and Institutional Ownership negatively significance on the ROA of banking sector companies.
Moreover, Independent Board of Commissioners and Audit Committee affect nothing on the ROA of banking sector companies.
Keywords : Good Corporate Governance, Independent Board of Commissioners, Managerial Ownership, Institutional Ownership, Audit Committee, Financial Performance, Return on Assets.
KATA PENGANTAR
Segala puji, hormat, dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017” ini dengan baik dan tepat waktu. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Sepanjang masa perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, dukungan, dan motivasi dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting, MAFIS, Ak, CPA, selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi dan Bapak Alm. Drs. Syahrul Rambe, M.M., Ak selaku Sekretaris Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Nurzaimah, M.M., Ak, selaku Dosen Pembimbing, Ibu Dra.
Mutia Ismail, M.M., Ak sebagai Dosen Penguji, dan Bapak Drs. Hotmal Ja’far, M.M., Ak sebagai Dosen Pembanding penulis yang telah banyak memberikan perhatian dan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Keluarga yang sangat penulis kasihi yaitu, Ayahanda Ir. Marginal Dalvin Kaban, Ibunda Dra. Enma Mediawati Sebayang, M.T., dan kakak Hana Dewi Kinarina Kaban, S.Hum yang telah memberikan dukungan, bimbingan, dan motivasi. Terima kasih untuk doa, nasehat, dan kasih sayang yang tak terhingga yang diberikan kepada penulis.
5. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, yang sudah banyak berbagi ilmu pengetahuan dan keterampilan sepanjang masa perkuliahan penulis. Bapak dan Ibu karyawan Tata Usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan masalah adminisrasi sepanjang masa perkuliahan.
6. KTB “The Kajolers” yaitu Kak Luga, Kak Joyce, David, Raja, Roky, Putra, Arden, Basthian. Teman-teman penulis di S-1 Akuntansi USU 2015 yaitu Yosua, Fibri, Parlin, Pudev, Afriani, Silvana, Wansry, Ruth, Kristin, Thalia, Siska, Dear, Rini, dll. Teman-teman pengurus Campus Concern FEB USU yaitu Hartati, Afni, Ivana, Julia, Sisca, Markus, Nico, Shanya, dan segenap pihak yang membantu penulis secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terimakasih untuk doa dan dukungannya selama ini.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, penulis menyadari bahwa penyajian skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna penyempurnaan skripsi
ini di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.
Medan, 1 Agustus 2019 Penulis
Monika Sola Kristi Kaban NIM. 150503089
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 10
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 11
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 11
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1 Tinjauan Pustaka ... 13
2.1.1 Teori Keagenan ... 13
2.1.2 Kinerja Keuangan ... 14
2.1.3 Good Corporate Governance ... 17
2.1.3.1 Dewan Komisaris Independen. ... 21
2.1.3.2 Kepemilikan Manajerial ... 22
2.1.3.3 Kepemilikan Institusional ... 22
2.1.3.4 Komite Audit ... 23
2.2 Penelitian Terdahulu ... 24
2.3 Kerangka Konseptual ... 26
2.3.1 Hubungan Dewan Komisaris Independen terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan ... 26
2.3.2 Hubungan Kepemilikan Manajerial terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan ... 27
2.3.3 Hubungan Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan ... 28
2.3.4 Hubungan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan ... 28
2.3.5 Hubungan Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan ... 29
2.4 Hipotesis Penelitian ... 30
BAB III METODE PENELITIAN ... 32
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 32
3.3 Batasan Operasional Penelitian ... 32
3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 33
3.4.1 Variabel Independen. ... 33
3.4.2 Variabel Dependen. ... 35
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 36
3.5.1 Populasi ... 36
3.5.2 Sampel ... 37
3.6 Jenis dan Sumber Data ... 39
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 39
3.8 Teknik Analisis Data ... 39
3.8.1 Statistik Deskriptif 40 3.8.2 Uji Asumsi Klasik 40 3.8.2.1 Uji Normalitas 40 3.8.2.2 Uji Multikolinearitas 40 3.8.2.3 Uji Heteroskedastisitas 41 3.8.2.4 Uji Autokorelasi 41 3.8.3 Analisis Regresi Linier Berganda ... 41
3.8.4 Uji Hipotesis 42 3.8.4.1 Uji Koefisien Determinasi 42 3.8.4.2 Uji Signifikansi Simultan 42 3.8.4.3 Uji Signifikansi Parsial 43 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44
4.1 Gambaran Umum ... 44
4.2 Hasil Penelitian ... 44
4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 44
4.2.2 Uji Asumsi Klasik ... 48
4.2.2.1 Uji Normalitas ... 48
4.2.2.2 Uji Multikolinearitas ... 50
4.2.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 51
4.2.2.4 Uji Autokorelasi ... 52
4.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 54
4.4 Uji Hipotesis ... 56
4.4.1 Koefisien Determinasi (R2) ... 56
4.4.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 57
4.4.3 Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ... 58
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ... 61
4.5.1 Pengaruh Dewan Komisaris Independen terhadap Return on Assets ... 61
4.5.2 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Return on Assets ... 62
4.5.3 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Return on Assets ... 63
4.5.4 Pengaruh Komite Audit terhadap Return on Assets ... 64
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 67
5.3 Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69
LAMPIRAN ... 71
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Research Gap Kinerja Keuangan. ... 8
2.1 Hasil PenelitianTerdahulu ... 24
3.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 35
3.2 Pemilihan Sampel Beradasarkan Kriteria ... 37
3.3 Sampel Perusahaan Perbankan ... 38
4.1 Hasil Analisis Statistik Deskriptif... 45
4.2 Hasil Uji Kolmogorov Smirnov ... 50
4.3 Hasil Uji Multikolinearitas ... 51
4.4 Hasil Uji Autokorelasi Durbin Watson (DW) ... 53
4.5 Durbin Watson (DW), ɑ = 5% ... 53
4.6 Hasil Uji Autokorelasi Runs Test ... 54
4.7 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda ... 55
4.8 Hasi Uji Koefisien Determinasi ... 57
4.9 Hasil Uji Signfikansi Simultan (Uji F) ... 57
4.10 F Tabel ... 58
4.11 Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ... 59
4.12 Titik Persentase Distribusi t (t Tabel ) ... 59
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
1.1 Rata-Rata ROA Perbankan Konvensional ... 2
2.1 Kerangka Konseptual ... 26
4.1 Hasil Uji Normalitas Metode Histogram ... 48
4.2 Hasil Uji Normalitas Metode Grafik Normal P-P Plot ... 49
4.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas Metode Scatterplot ... 52
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
1. Tabulasi Data Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional,
Komite Audit, dan Return on Assets 2015-2017 ... 71
2. Hasil Output SPSS ... 74
3. Tabel Durbin-Watson (DW), α = 5% ... 79
4. F Tabel, α = 5% ... 80
5. t Tabel, α = 5% ... 81
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tujuan utama dari perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham (Yulianto, 2006:19). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham adalah dengan cara meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan mencerminkan tingkat efektifitas dan efisiensi suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Sebagaimana sektor usaha lainnya, perusahaan sektor perbankan juga harus dapat memaksimalkan kekayaan pemegang sahamnya melalui peningkatan kinerja keuangan.
Profitabilitas adalah cara yang paling sesuai untuk mengukur kinerja keuangan sebuah perusahaan perbankan. Profitabilitas adalah kemampuan sebuah bank dalam menghasilkan laba atau profit. Profitabilitas erat kaitannya dengan efisiensi. Efisiensi sebuah perusahaan baru dapat diketahui setelah membandingkan laba yang diperoleh perusahaan tersebut dengan aktiva atau ekuitas yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan laba tersebut.
Kemampuan sebuah bank dalam menghasilkan laba dapat dilihat dari berbagai macam rasio keuangan, salah satu diantaranya yaitu Return On Asset (ROA). ROA adalah seberapa besar kemampuan sebuah perusahaan untuk menghasilkan laba bersih dari keseluruhan aset yang dimilikinya. Persentase ROA yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut mampu memanfaatkan aset-aset yang dimilikinya dengan efisien sehingga dapat menghasilkan laba yang tinggi.
Gambar 1.1
Rata-Rata ROA Perbankan Konvensional Sumber: www.ojk.go.id (data diolah, Januari 2019)
Gambar 1.1 memberikan gambaran mengenai rata-rata ROA pada perusahaan perbankan konvesional di Indonesia. Dapat dilihat melalui gambar tersebut bahwasanya terjadi penurunan angka persentase ROA dalam lima tahun berturut-turut sejak tahun 2013, sehingga dapat dikatakan bahwa profitabilitas perbankan cenderung mengalami penurunan. Dapat dilihat juga bahwa pada tahun 2016 menuju 2017 terjadi kenaikan angka persentase ROA sebesar 0.22%, namun meskipun begitu, kenaikan tersebut tidak bersifat signifikan jika dibandingkan dengan penurunan persentase ROA di tahun-tahun sebelumnya. Menurunnya persentase ROA pada perusahaan sektor perbankan dapat mengindikasikan bahwa kinerja keuangan perusahaan sektor perbankan masih belum efisien. Artinya aset- aset yang dimiliki oleh bank belum dimanfaatkan dengan maksimal untuk menghasilkan laba. Tingkat efisiensi suatu perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional).
Persentase rasio BOPO yang tinggi menyebabkan persentase ROA menjadi
2013 2014 2015 2016 2017
ROA (%) 2,45
2,23 2,32
2,85 3,08
3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0
rendah. Hal lain yang menyebabkan menurunnya profitabilitas bank adalah persaingan dalam sektor perbankan yang semakin ketat, dimana bank bukan lagi hanya bersaing dengan sesama bank, melainkan juga bersaing dengan perusahaan- perusahaan yang bergerak dalam bidang industri teknologi finansial (Fintech).
Dalam aktivitas operasionalnya, pemegang saham (investor) mendelegasikan kewenangan untuk mengelola perusahaan kepada individu lain (manajer) secara profesional. Akan tetapi, dengan dipisahkannya antara kepemilikan perusahaan dengan pengelolaan perusahaan, manajer mungkin memiliki tujuan-tujuan pribadi yang bersaing dengan tujuan utama dari perusahaan. Perbedaan kepentingan antara pemegang saham (prinsipal) dengan manajer (agen) dapat menimbulkan potensi terjadinya konflik kepentingan. Selain perbedaan kepentingan antara prinsipal dengan agen, adanya informasi yang asimetris juga dapat menimbulkan konflik kepentingan. Manajer sebagai sekelompok individu yang diberikan wewenang oleh pemegang saham untuk mengelola perusahaan, akan mengetahui informasi internal dan prospek dari perusahaan dengan lebih baik dibandingkan pemegang saham. Konflik kepentingan dapat mendorong manajer untuk memaksimalkan utilitasnya dengan mengorbankan pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976). Mekanisme yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Good corporate governance adalah proses pelaksanaan aktivitas operasional perusahaan dengan se-efektif dan efisien mungkin dimana tujuan utama dari good corporate governance adalah untuk meningkatkan nilai pemegang saham dalam
jangka panjang, namun dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders yang lain. Dalam good corporate governance terdapat lima prinsip dasar yang melandasinya yaitu transparency, accountability, responsibility, independency dan fairness (TARIF). Penerapan good corporate governance yang efektif diharapkan akan dapat meminimalisasi masalah keagenan yang terjadi dalam sebuah perusahaan, hingga pada akhirnya good corporate governance dapat menjadi sebuah alat bantu untuk meningkatkan kinerja keuangan sebuah perusahaan terutama sektor perbankan. Menurut sebuah kajian yang diselenggarakan oleh Bank Dunia, lemahnya implementasi sistem tata kelola perusahaan atau yang biasa dikenal dengan istilah Corporate Governance merupakan salah satu faktor penentu parahnya krisis yang terjadi di Asia Tenggara (The World Bank 1998, dalam Dewayanto, 2010). Terungkapnya kasus pembobolan dana nasabah yang terjadi di Citibank oleh Inong Malinda Dee pada tahun 2011, skandal laporan keuangan ganda oleh Bank Lippo, kasus penyelewengan dana sebesar 6,7 triliun oleh Bank Century, dan kasus dikeluarkannya Letter of Credit fiktif pada salah satu kantor cabang bank BNI yang menyebabkan kerugian 1,2 triliun rupiah menjadi bukti nyata masih lemahnya penerapan good corporate governance dalam dunia perbankan sehingga menyebabkan terjadinya fraud dan kerugian yang luar biasa (Retnadi, 2008 dalam Kusmayadi, 2012). Terungkapnya kasus-kasus yang disebutkan diatas, berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat kepada bank, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan bank. Perbankan adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat, kemudian
dana tersebut disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan dana melalui kredit. Oleh karena fungsinya yang sebagai lembaga intermediasi, bank sangat bergantung pada dana dan kepercayaan dari masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri.
Banyak manajer perusahaan (termasuk juga manajer perusahaan sektor perbankan) yang berpendapat bahwa penerapan good corporate governance membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan akan menghambat perkembangan usahanya, padahal penerapan good corporate governance sangat penting dalam usaha meningkatkan kinerja keuangan suatu bank. Oleh karena hal tersebut penulis tertarik untuk meneliti dalam bidang perbankan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, alasan yang mendorong penulis sehingga tertarik untuk melakukan penelitian di bidang perbankan karena perbankan merupakan suatu bisnis yang berlandaskan kepercayaan masyarakat. Masyarakat menyimpan dananya di bank semata-mata berlandaskan kepercayaan bahwa dananya akan kembali ditambah dengan sejumlah keuntungan yang berasal dari bunga.
Selanjutnya dana tersebut akan diputar menjadi berbagai bentuk investasi seperti pemberian kredit dan pembelian surat berharga. Jika dana ini tidak ditangani secara profesional, transparan dan hati-hati (prudential banking) akan menimbulkan risiko dan bencana bagi bank tersebut.
Mulyati (2011) meneliti hubungan antara kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komisaris independen, dan komite audit dengan kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan menggunakan Tobin’s Q. Hasil penelitian menemukan bukti bahwa kepemilikan institusional dan komisaris
independen tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan, kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, komite audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Winata (2012) melakukan penelitian tentang pengaruh struktur kepemilikan terhadap kinerja perusahaan perbankan. Struktur Kepemilikan diukur dengan indikator kepemilikan manajerial, kepemilikan institusi, kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, kepemilikan publik sementara kinerja keuangan perusahaan perbankan diproksikan dengan ROA (Return on Assets) dan ROE (Return on Equity) . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja perusahaan, kepemilikan institusi tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Aprianingsih (2016) melakukan penelitian mengenai bagaimana pengaruh penerapan good corporate governance, struktur kepemilikan, dan ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan perbankan. Good corporate governance diukur dengan variabel dewan komisaris independen, dewan direksi, dan komite audit. Struktur kepemilikan diukur dengan kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional, dan juga variabel ukuran perusahaan. Kinerja keuangan perbankan diukur dengan ROA. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa (1) dewan komisaris independen dan kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan. (2) komite audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan. (3)
kepemilikan insitusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan.
Sihotang (2017) melakukan penelitian mengenai bagaimana pengaruh komisaris independen, komite audit, dewan direksi, komite tata kelola terintegrasi terhadap kinerja keuangan perusahaan konglomerasi. Kinerja keuangan perusahaan diukur dengan CFROA (Cash Flow Return on Assets). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa (1) komisaris independen berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, (2) komite audit berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Sinurat (2018) melakukan penelitian mengenai pengaruh good corporate governance terhadap kinerja perusahaan perbankan. Dalam penelitian tersebut, good corporate governance diukur dengan menggunakan variabel kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komisaris independen, komite audit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kepemilikan institusional berpengaruh secara positif terhadap kinerja perbankan, (2) kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kinerja perbankan., (3) komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja perbankan, (4) komite audit tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja perbankan.
Masitoh dan Hidayah (2018) melakukan penelitian mengenai pengaruh penerapan good corporate governance terhadap kinerja perusahaan. Dalam penelitian tersebut, good corporate governance diukur dengan menggunakan variabel kepemilikan publik, kepemilikan manajerial, ukuran dewan direksi, proporsi dewan direksi independen, dan proporsi komisaris independen. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kepemilikan manajerial dan proporsi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap ROE pada perusahaan perbankan.
Tabel 1.1
Research Gap Kinerja Keuangan
Variabel Peneliti Hasil
Dewan Komisaris Independen
Aprianingsih (2016) Berpengaruh negatif Sihotang (2017) Berpengaruh positif Masitoh dan Hidayah (2018) Tidak berpengaruh Kepemilikan
Manajerial
Winata (2012) Berpengaruh negatif Sinurat (2018) Berpengaruh positif Masitoh dan Hidayah (2018) Tidak berpengaruh Kepemilikan
Institusional
Winata (2012) Tidak berpengaruh Aprianingsih (2016) Berpengaruh negatif Sinurat (2018) Berpengaruh positif Komite Audit Aprianingsih (2016) Berpengaruh positif Sinurat (2018) Tidak berpengaruh
Sebagai sebuah mekanisme yang kompleks, good corporate governance mengatur seluruh pihak yang memiliki kepentingan dalam suatu perusahaan agar bertindak se-efisien mungkin dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pihak- pihak yang diatur dalam good corporate governance sebaiknya meliputi pemegang saham (mayoritas maupun minoritas), dewan komisaris, dewan direksi, komite audit, sekretaris perusahaan, manajer serta karyawan, auditor internal, auditor eksternal, dan pemangku kepentingan lainnya seperti kreditur dan pelanggan. Penelitian ini menggunakan good corporate governance sebagai variabel independen yang diukur dengan variabel Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit serta Kinerja Keuangan sebagai variabel dependen. Pertimbangan penulis sehingga memilih variabel Good Corporate Governance yaitu: variabel Dewan Komisaris
Independen dipilih karena faktor independensinya dalam mengawasi perusahaan, variabel Kepemilikan Manajerial dipilih karena manajer dalam hal ini bertindak sebagai pengelola sekaligus juga pemilik perusahaan sehingga diharapkan dapat mengurangi masalah keagenan, variabel Kepemilikan Institusional dipilih karena dapat meningkatkan fungsi pengawasan menjadi lebih efektif melalui investor institusional, dan variabel Komite Audit dipilih karena diharapkan dapat mencegah penyimpangan yang dilakukan oleh manajer perusahaan melalui aktivitas monitoring yang dilakukannya. Peneliti tidak memasukkan variabel dewan direksi dan dewan komisaris dalam penelitian ini karena mempertimbangkan bahwa tugas dari dewan direksi, dewan komisaris dan dewan dewan komisaris independen adalah hampir sama, sehingga peneliti lebih memilih menggunakan dewan komisaris independen sebagai variabel penelitian karena faktor independensinya.
Pengukuran kinerja keuangan dalam penelitian ini menggunakan ROA ((Return on Assets). Peneliti memilih ROA karena dapat menggambarkan seberapa besar tingkat pengembalian (return) yang akan didapatkan oleh investor pada saat menanamkan modalnya dalam sebuah bank. Semakin tinggi nilai ROA, maka investor akan semakin tertarik untuk menanamkan modalnya di bank tersebut. Ini adalah hal yang baik karena salah satu kegiatan utama dalam bisnis perbankan adalah menghimpun dana dari masyarakat dan kemudian menyalurkan dana tersebut pada masyarakat. ROA adalah hal yang penting dalam menambah modal bank. Selain itu, ROA juga dapat mengukur keefektifan manajemen dalam mengelola perusahaannya. Atas dasar research gap atau perbedaan pendapat dari
hasil penelitian sebelumnya dan perlunya perluasan penelitian yang didukung teori yang melandasi, maka penelitian ini berjudul “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini berdasarkan latar belakang masalah di atas adalah:
1. Apakah Dewan Komisaris Independen berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017?
2. Apakah Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017?
3. Apakah Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017?
4. Apakah Komite Audit berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017?
5. Apakah Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit berpengaruh secara simultan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017?
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan, yaitu untuk mengetahui :
1. Pengaruh Dewan Komisaris Independen terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
2. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
3. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
4. Pengaruh Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
5. Pengaruh Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Manajemen Institusi
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan dalam pengelolaan perusahaan.
b. Bagi Investor
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan investasi, secara khusus untuk menilai kinerja sebuah perusahaan perbankan.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai good corporate governance untuk mengembangkan penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori Keagenan (Agency Theory) adalah hal yang paling mendasar yang dapat digunakan untuk memahami suatu konsep yang dinamakan Corporate Governance. Hubungan keagenan terjadi saat seorang atau lebih individu berperan sebagai prinsipal, menjalin kontrak dengan individu atau organisasi yang lain yang berperan sebagai agen untuk kemudian menjalankan operasional dari organisasi tersebut, agen juga diberikan kewenangan untuk mengambil keputusan. Masalah keagenan muncul saat agen tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal (Sugiarto, 2009:54). Agen cenderung memilih kebijakan akuntansi yang mendukung kepentingan mereka, meski seringkali kebijakan yang dipilih tersebut bukan yang terbaik bagi prinsipal. Masalah asimetri informasi adalah hal yang menyebabkan terjadinya masalah keagenan. Agen tentunya lebih mengetahui mengenai keadaan perusahaannya dibandingkan prinsipal. Agen (dalam hal ini manajemen perusahaan) memiliki kewajiban untuk menyampaikan informasi kepada prinsipal (dalam hal ini pemegang saham).
Akan tetapi, agen terkadang menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan keadaan perusahaan yang sebenarnya kepada prinsipal. Agen sebagai orang yang berada di dalam perusahaan memiliki keunggulan
informasi dibandingkan dengan investor yang bukan merupakan orang yang berada di dalam perusahaan. Manajer dapat mengeksploitasi keunggulan tersebut melalui pengelolaan informasi yang disampaikan kepada investor.
Hal ini dikenal sebagai istilah adverse selection. Jenis lain asimetri informasi adalah moral hazard.
2.1.2 Kinerja Keuangan
Perusahaan adalah suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai fungsi yang berjalan sedemikian rupa secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu yang menjadi tujuan bersama. Pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam sebuah perusahaan harus bekerja sama secara sistematis dan konsisten demi tercapainya tujuan bersama tersebut. Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah mencapai tujuan tersebut melalui aktivitas operasionalnya, salah satu cara yaitu dengan melihat kinerja dari perusahaan tersebut. Kinerja adalah gambaran hasil yang telah dicapai dari seluruh aktivitas operasional yang telah dilaksanakan. Penilaian kinerja merupakan suatu bentuk refleksi kewajiban dan tanggung jawab untuk melaporkan kinerja, aktivitas dan sumber daya yang telah dipakai, dicapai dan dilakukan. Untuk menilai apakah tujuan yang telah ditetapkan sudah tercapai bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Hal ini karena hal tersebut menyangkut aspek-aspek manajemen yang tidak sedikit jumlahnya.
Kinerja (performance) adalah tingkat keberhasilan sebuah tujuan yang dapat dicapai oleh sekelompok individu baik secara kualitas ataupun kuantitas. Kinerja tidak akan bisa diketahui dan diukur jika sekolompok
individu tidak memiliki kriteria untuk mengetahui tercapai atau tidaknya suatu tujuan. Efektivitas operasional dari suatu perusahaan dapat diketahui melalui pengukuran kinerja perusahaan tersebut. Jika kinerja suatu perusahaan telah dapat diukur dan diketahui, manajer dapat melakukan perbaikan atas aktivitas operasionalnya sehingga perusahaan dapat mencapai suatu keunggulan kompetitif.
Untuk memutuskan suatu badan usaha atau perusahaan memiliki kinerja yang baik maka ada dua penilaian yang paling dominan yang dapat dijadikan acuan. Penilaian ini dilakukan dengan melihat sisi kinerja keuangan, (financial performance) dan kinerja non keuangan (non financial performance) (Fahmi, 2017:2). Pengukuran kinerja non keuangan adalah pengukuran kinerja suatu perusahaan dengan menggunakan kualitas produk, kepuasan konsumen, kepuasan pegawai sebagai informasi pengukurannya. Pengukuran kinerja keuangan adalah pengukuran kinerja suatu perusahaan dengan menggunakan data-data yang terdapat di dalam laporan keuangan. Kinerja keuangan dapat mencerminkan tingkat efektifitas dan efisiensi suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Efektifitas adalah kemampuan untuk memilih cara yang paling tepat dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Efisiensi adalah penggunaan sumber daya dengan jumlah tertentu untuk mencapai hasil yang optimum. Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat diketahui dengan cara menghitung rasio keuangan.
Rasio keuangan adalah perbandingan sejumlah angka dengan sejumlah angka lainnya yang terdapat dalam laporan keuangan. Ada bermacam-
macam rasio keuangan yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.
Menurut Fahmi (2017:53), ada tiga rasio keuangan yang paling dominan yang dijadikan rujukan oleh investor untuk melihat kondisi kinerja keuangan suatu perusahaan, yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas.
Profitabilitas adalah cara yang paling sesuai dalam mengukur kinerja keuangan sebuah perusahaan perbankan. Profitabilitas adalah kemampuan sebuah bank dalam menghasilkan laba atau profit. Filosofi dasar yang dipegang oleh para pemegang saham pada saat menanamkan sahamnya dalam suatu perusahaan, adalah untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal (Surya dan Yustiavandana, 2008:70). Untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, dapat dilakukan dengan cara menjalankan operasional bank secara efektif dan efisien. Semakin tinggi laba yang dihasilkan oleh sebuah bank, maka semakin efektif dan efisien juga bank tersebut dalam aktivitas operasionalnya. Kemampuan sebuah bank dalam menghasilkan laba dapat dilihat dari berbagai macam rasio profitabilitas seperti Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Assets (ROA), Return on Investment (ROI), dan rasio profitabilitas lainnya.
Penelitian ini menggunakan ROA untuk mengukur kinerja keuangan bank. ROA digunakan untuk mengukur seberapa efektif sebuah perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya.
Dengan kata lain, ROA dapat memberikan gambaran sejauh mana tingkat pengembalian yang diperoleh oleh bank dari seluruh aset yang mereka
miliki. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar juga laba yang dihasilkan oleh bank tersebut dan semakin efektif juga bank tersebut dalam menggunakan asetnya. ROA diukur dengan cara membandingkan laba bersih (setelah pajak) dengan total aset.
Mengukur kinerja keuangan suatu bank dengan ROA memiliki keunggulan karena ROA merupakan pengukuran yang bersifat komprehensif dimana mempengaruhi laporan keuangan yang tercermin melalui rasio ini secara menyeluruh. Laporan keuangan yang dapat tercermin melalui ROA ialah laporan laba rugi komprehensif dan laporan posisi keuangan. Keunggulan lain dari penggunaan ROA untuk mengukur kinerja keuangan suatu bank adalah ROA cukup mudah dihitung dan dipahami. Pada akhirnya, semakin besar nilai ROA, menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik karena hal tersebut berarti tingkat pengembalian atas investasi yang semakin besar juga.
2.1.3 Good Corporate Governance
Sebagaimana sebuah konsep, Good Corporate Governance tentunya tidak memiliki definisi yang tunggal. Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada tahun 2004 mendefinisikan Corporate Governance sebagai suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah pada perusahaan secara berkesinambungan dalan jangka panjang bagi pemegang saham, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku. Hal ini bertujuan
untuk menciptakan keteraturan dalam kewenangan direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu. Isu corporate governance muncul karena perusahaan senantiasa berkembang, terutama karena perusahaan tersebut berubah menjadi go public sehingga pemilik perusahaan umumnya tidak menjadi pengelola atau manajemen perusahaan sendiri (kepemilikan perusahaan dimiliki oleh berbagai pihak). Kondisi seperti ini dapat menimbulkan masalah keagenan. Dengan adanya tata kelola perusahaan yang baik, maka agen (dalam hal ini manajer perusahaan) akan senantiasa bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal (dalam hal ini pemilik perusahaan) dan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik adalah serangkaian sistem yang mengelola dan mengendalikan perusahaan dengan sedemikian rupa, sehingga dari tata kelola perusahaan yang baik ini diharapkan dapat tercipta suatu nilai tambah bagi masing- masing pemangku kepentingan. Menurut Surya dan Yustiavandana (dalam Effendi, 2016:8), penerapan good corporate governance secara konkret memiliki tujuan terhadap perusahaan sebagai berikut:
1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing.
2. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah.
3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan.
4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari para pemangku kepentingan terhadap perusahaan.
5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.
Dalam good corporate governance terdapat lima prinsip dasar yang melandasinya yaitu transparency, accountability, responsibility, independency dan fairness (TARIF).
1. Transparency (Keterbukaan)
Transparency yaitu keterbukaan dalam hal pengungkapan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan. Perusahaan harus dapat menyediakan informasi yang memadai dan akurat secara tepat waktu untuk dapat disebut transparan. Di samping itu, informasi tersebut harus dapat diakses dengan mudah oleh investor dan kreditur pada saat dibutuhkan. Informasi yang tidak memadai akan membuat kemampuan investor dalam memperhitungkan nilai dan risiko serta pertambahan dari perubahan investasi menjadi terbatas.
2. Accountability (Akuntabilitas)
Penerapan prinsip akuntabilitas yang dilaksanakan secara efektif dapat menghindarkan perusahaan dari kemungkinan terjadinya benturan kepentingan (conflict of interest) oleh berbagai pihak dalam perusahaan.
Permasalahan yang kerap terjadi di dalam perusahaan-perusahaan di Indonesia yaitu fungsi pengawasan oleh Dewan Komisaris dilaksanakan secara kurang efektif. Oleh karena itu perusahaan seharusnya mendefinisikan fungsi, hak, tanggung jawab, dan kewajiban masing-masing organ perusahaan serta mengomunikasikan hal-hal tersebut kepada setiap pihak yang berkepentingan (Effendi, 2016:13).
3. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Responsibility (pertanggungjawaban) adalah sebuah prinsip kepatuhan di dalam tata kelola perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan serta kententuan-ketentuan lainnya yang berlaku, sehingga pada akhirnya manajer dapat menjalankan operasional perusahaannya dengan etika bisnis yang sehat. Peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang disebutkan sebelumnya termasuk diantaranya yang mengatur tentaang perpajakan, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan dan keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan bisnis yang sehat.
4. Independency (Kemandirian)
Independency atau kemandirian adalah suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada pihak-pihak yang lain yang turut mencampuri urusan operasional perusahaan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan etika bisnis yang sehat.
Independensi penting sekali dalam proses pengambilan suatu keputusan.
Bila tidak ada independensi dalam proses pengambilan keputusan, hal tersebut akan berdampak pada keputusan yang diambil, dimana keputusan tersebut menjadi tidak objektif.
5. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)
Fairness adalah kesetaraan dalam pemenuhan hak-hak pemangku kepentingan, yang acuannya berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku secara umum. Penerapan prinsip Fairness diharapkan akan dapat melindungi kepentingan pemegang saham secara fair (adil dan wajar). Fairness juga harus memberikan sebuah
kejelasan terhadap hak-hak para pemangku kepentingan berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku untuk memberikan perlindungan terhadap hak- hak investor khususnya pemegang saham non-pengendali dari berbagai jenis kecurangan.
Sebagai sebuah proses pengendalian internal, Good Corporate Governance memiliki unsur-unsur pendukung yang bukan hanya berasal dari dalam perusahaan, melainkan juga berasal dari luar perusahaan.
Penelitian ini menggunakan variabel Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, dan Komite Audit sebagai unsur pendukung GCG yang berasal dari dalam perusahaan, dan Kepemilikan Institusional sebagai unsur pendukung yang berasal dari luar perusahaan.
2.1.3.1 Dewan Komisaris Independen
Untuk mengawasi dan menilai kinerja manajemen suatu perusahaan, biasanya perusaahan memiliki sebuah badan yang disebut Dewan Komisaris Independen. Komisaris Independen berasal dari luar perusahaan. Dewan Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan yang tidak memiliki afiliasi apapun dengan dewan direksi dan dewan komisaris lainnya, yang mana dapat menyebabkan Dewan Komisaris Independen kehilangan independensinya (tidak netral). Keberadaan komisaris independen dalam perusahaan perbankan telah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55 /POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum.
Dalam peraturan ini, Dewan Komisaris wajib terdiri dari Komisaris Independen dan Komisaris Non Independen. Komisaris independen wajib 50% (lima puluh persen) dari jumlah anggota Dewan Komisaris.
2.1.3.2 Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan Manajerial adalah proporsi saham biasa yang dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan. Oleh karena hal tersebut, manajer perusahaan memiliki peran ganda sebagai agen sekaligus prinsipal. Manajer sebagai pihak yang berada di dalam dan yang terlibat langsung dalam setiap aktivitas operasional perusahaan tentunya mengetahui lebih banyak informasi mengenai keadaan internal perusahaan. Keunggulan dalam hal penguasaan informasi ini dapat membuka peluang bagi manajer untuk melakukan kecurangan dan merugikan prinsipal. Dengan peran ganda yang dipegangnya (sebagai agen dan sekaligus sebagai prinsipal), maka peluang untuk terjadinya kecurangan dapat diminimalisir, karena manajer akan senantiasa mengedepankan kepentingan pemegang saham (yang adalah manajer itu sendiri).
2.1.3.3 Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh lembaga keuangan bukan bank yang mengelola dana atas nama orang lain, seperti perusahaan asuransi, perusahaan investasi, perusahaan reksadana, perusahaan leasing. Persentase kepemilikan saham yang tinggi oleh institusional akan menyebabkan
investor melakukan usaha pengawasan dan pemantauan yang lebih profesional atas perkembangan investasinya. Fungsi pengawasan yang dilaksanakan secara profesional ini akan dapat meminimalisir potensi penyelewengan ataupun juga kecurangan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Selain itu, keterlibatan pemilik saham dari pihak institusi dalam proses pengambilan keputusan di dalam perusahaan, akan membuat manajer menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
2.1.3.4 Komite Audit
Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) (dalam Efendi, 2016:
48) mendefinisikan komite audit sebagai suatu komite yang bekerja secara profesional dan independen yang dibentuk oleh dewan komisaris, dengan demikian tugasnya adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko, pelaksanaan audit, dan implementasi dari corporate governance di perusahaan-perusahaan. Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55 /POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum disebutkan bahwa komite audit beranggotakan paling sedikit satu orang komisaris independen, satu orang dari pihak independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan dan akuntansi, satu orang pihak independen yang memiliki keahlian di bidang hukum atau perbankan. Komite audit diketuai oleh Komisaris Independen.
Menurut Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) juga, “perlu kriteria khusus bagi seseorang yang akan menjabat sebagai ketua maupun anggota komite audit, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang sangat strategis”.
2.2 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian telah dilakukan berkaitan dengan variabel independen yang dihubungkan dengan kinerja keuangan. Hasil dari penelitian tersebut digunakan dalam penelitian ini sebagai referensi, adapun penelitian terdahulu telah disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian Mulyati
(2011)
Variabel Independen:
1. Kepemilikan Institusional 2. Kepemilikan Manajerial 3. Komisaris Independen 4. Komite Audit
Variabel Dependen:
Kinerja Keuangan Perusahaan (Tobin’s Q)
1. Kepemilikan Institusional dan Komisaris Independen tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan.
2. Kepemilikan Manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
3. Komite Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan
Winata (2012) Variabel Independen:
1. Kepemilikan Manajerial 2. Kepemilikan Institusi 3. Kepemilikan Pemerintah 4. Kepemilikan Asing 5. Kepemilikan Publik Variabel Dependen:
Kinerja Perusahaan Perbankan (ROA dan ROE)
1. Kepemilikan Manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja perusahaan.
2. Kepemilikan Institusi tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Aprianingsih (2016)
Variabel Independen:
1. Dewan Komisaris Independen 2. Dewan Direksi
3. Komite Audit
4. Kepemilikan Manajerial 5. Kepemilikan Institusional 6. Ukuran Perusahaan 7. Variabel Dependen:
Kinerja Keuangan Perbankan (ROA)
1. Dewan Komisaris Independen dan Kepemilikan Manajerial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Kinerja Keuangan Perbankan.
2. Komite Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan Perbankan.
3. Kepemilikan Insitusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan Perbankan.
Sihotang (2017)
Variabel Independen:
1. Ukuran Dewan Komisaris Independen
2. Ukuran Komite Audit 3. Ukuran Dewan Direksi
4. Komite Tata Kelola Terintegrasi Variabel Dependen:
Kinerja Keuangan (CFROA)
1. Komisaris Independen berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
2. Komite Audit berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Sinurat (2018)
Variabel Independen:
1. Kepemilikan Institusional 2. Kepemilikan Manajerial 3. Komisaris Independen 4. Komite Audit
Variabel Dependen:
Kinerja Perbankan (ROA)
1. Kepemilikan Institusional berpengaruh secara positif terhadap Kinerja Perbankan.
2. Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap Kinerja Perbankan.
3. Komisaris Independen berpengaruh terhadap Kinerja Perbankan.
4. Komite Audit tidak memiliki pengaruh terhadap Kinerja Perbankan.
Masitoh dan Hidayah (2018)
Variabel Independen:
1. Kepemilikan Publik 2. Kepemilikan Manajerial 3. Ukuran Dewan Direksi 4. Proporsi Dewan Direksi
Independen
1. Kepemilikan Manajerial, dan Proporsi Komisaris
Independen tidak
berpengaruh terhadap ROE pada perusahaan perbankan.
H2
H5
H3
H4 Komite Audit
(X )
Kepemilikan Institusional (X )
Kepemilikan Manajerial (X2)
Dewan Komisaris Independen (X1)
Variabel Dependen:
Kinerja Perusahaan (ROE)
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual menjelaskan bagaimana hubungan antara variabel variabel yang diteliti, yaitu variabel independen dan variabel dependen.
H1
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.3.1 Hubungan Dewan Komisaris Independen terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan
Dewan Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak memiliki hubungan apapun baik itu hubungan kekeluargaan, hubungan
Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor
Perbankan (Y)
kepemilikan saham, hubungan keuangan, maupun hubungan lainnya dengan anggota dewan direksi dan dewan komisaris lainnya, yang mana hubungan tersebut dapat menyebabkan Dewan Komisaris Independen kehilangan independensinya (tidak netral). Dalam upaya penerapan GCG, keberadaan komisaris independen sangatlah vital. Pengawasan dari pihak independen yang lemah dan kekuasaan eksekutif yang terlampau besar dapat menyebabkan manajemen bertindak tidak bersih dan tidak transparan.
Keberadaan komisaris independen diharapkan mampu menjadi motor penggerak terwujudnya tata kelola perusahaan yang baik. Jika suatu perusahaan mampu menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap aktivitas operasionalnya secara berkesinambungan dan konsisten, maka akan terjadi peningkatan kinerja perusahaan yang dapat dilihat melalui kinerja keuangan perusahaan tersebut.
2.3.2 Hubungan Kepemilikan Manajerial terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan
Kepemilikan Manajerial adalah proporsi saham biasa yang dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan. Oleh karena hal tersebut, manajer perusahaan memiliki peran ganda sebagai agen sekaligus prinsipal. Manajer sebagai pihak yang berada di dalam dan yang terlibat langsung dalam setiap aktivitas operasional perusahaan tentunya mengetahui lebih banyak informasi mengenai keadaan internal perusahaan. Keunggulan dalam hal penguasaan informasi ini dapat membuka peluang bagi manajer untuk melakukan kecurangan dan merugikan prinsipal. Dengan peran ganda yang
dipegangnya (sebagai manajer dan sebagai pemegang saham secara bersamaan), maka peluang untuk terjadinya kecurangan dapat diminimalisasi. Manajer akan berhati-hati dalam bertindak, karena jika tidak, manajer akan ikut menanggung risiko dari tindakan yang dilakukannya. Melalui kepemilikan manajerial diharapkan akan dapat tercipta aktivitas operasional yang transparan. Semakin besar proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer, akan semakin mendorong manajer untuk lebih mengoptimalkan kinerja perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan tersebut.
2.3.3 Hubungan Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh lembaga keuangan bukan bank yang mengelola dana atas nama orang lain.
Salah satu pihak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam sebuah perusahaan adalah investor institusional. Dengan adanya pengawasan dari lembaga keuangan bukan bank, manajer akan lebih berhati-hati dalam mengelola perusahaan dan kemungkinan terjadinya manipulasi keuangan oleh manajer akan dapat diminimalisasi. Semakin besar proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh institusi keuangan, maka semakin besar pula dorongan untuk menciptakan pengawasan yang lebih optimal sehingga nilai perusahaan dapat meningkat yang pada akhirnya diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
2.3.4 Hubungan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan
Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) (dalam Efendi, 2016: 48) mendefinisikan komite audit sebagai suatu komite yang bekerja secara profesional dan independen yang dibentuk oleh dewan komisaris, dengan demikian tugasnya adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko, pelaksanaan audit, dan implementasi dari corporate governance di perusahaan-perusahaan. Komite audit berperan vital dalam mengawasi pengendalian internal perusahaan. Komite audit juga menjadi penghubung antara auditor internal perusahaan dengan auditor eksternal, sehingga pada akhirnya laporan keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan dapat sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku secara umum serta transparan. Melalui keberadaan komite audit yang senantiasa diharuskan untuk bertindak secara independen di dalam suatu perusahaan, diharapkan akan mampu mewujudkan transparansi baik dalam aktivitas operasional maupun pelaporan keuangan perusahaan.
Aktivitas operasional perusahaan serta pelaporan keuangan yang transparan, akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. Peningkatan kinerja perusahaan tentunya berdampak juga pada peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
2.3.5 Hubungan Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan
Penerapan Good Corporate Governance (GCG) dapat membuat aktivitas operasional perusahaan menjadi bersih dan transparan. Hal ini dikarenakan penerapan Good Corporate Governance akan mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi dan efektivitas, terutama melalui fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris Independen dan Komite Audit. Terwujudnya peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam aktivitas operasional perusahaan pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. Selain melalui fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris Independen dan Komite Audit, penerapan Good Corporate Governance melalui kepemilikan saham oleh manajerial dan institusional juga diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Kepemilikan oleh manajerial akan mendorong terwujudnya transparansi di dalam perusahaan dikarenakan manajer bertindak sebagai investor (prinsipal) sekaligus manajer (agen). Terwujudnya transparansi dalam aktivitas operasional perusahaan pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan. Fungsi pengawasan juga dapat dilakukan melalui Kepemilikan Institusional, karena pemilik saham dari pihak institusi turut terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang strategis di dalam perusahaan. Kepemilikan saham oleh pihak institusional akan membuat manajer lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. H1: Dewan Komisaris Independen berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
2. H2: Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
3. H3: Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
4. H4: Komite Audit berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
5. H5: Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit berpengaruh secara simultan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan untuk menganalisis penelitian mengenai “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017” adalah jenis penelitian asosiatif kausal. Menurut Sugiyono (dalam Sujarweni, 2015:16) “penelitian asosiatif kausal merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih”.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Sumber data penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang tidak diambil secara langsung dari perusahaan terkait. Data diambil dari situs resmi indeks saham Indonesia untuk perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lokasi penelitian bersifat fleksibel dikarenakan tidak ada satu lokasi objek penelitian yang spesifik. Waktu Penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti untuk meneliti kurang lebih selama 20 minggu.
3.3 Batasan Operasional Penelitian
Peneliti memberi kajian penelitian batasan operasional agar tujuan penelitian dapat tercapai, adapun batasan tersebut antara lain :
1. Faktor-faktor yang diteliti diperkirakan dapat memengaruhi kinerja keuangan perusahaan sektor perbankan adalah Dewan Komisaris Independen,
Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Komite Audit.
2. Objek penelitian ini adalah perusahaan sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2015-2017 dan yang melaporkan laporan keuangan selama periode tersebut.
3. Periode penelitian yang diamati adalah tahun 2015 sampai dengan 2017.
3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Penelitian ini melibatkan variabel yang terdiri dari empat variabel bebas (independen) dan satu variabel terikat (dependen). Variabel independen dalam penelitian ini meliputi dewan komisaris independen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan komite audit. Variabel dependennya adalah kinerja keuangan perusahaan perbankan yang diukur menggunakan ROA.
3.4.1 Variabel Independen
6. Dewan Komisaris Independen
Dewan Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan yang tidak memiliki afiliasi apapun dengan dewan direksi dan dewan komisaris lainnya, yang mana dapat menyebabkan Dewan Komisaris Independen kehilangan independensinya (tidak netral). Dewan komisaris independen diukur dengan menggunakan skala rasio melalui perbandingan antara jumlah komisaris independen dengan total anggota dewan komisaris
perusahaan.
DKI = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑛𝑔𝑔𝑜𝑡𝑎 𝐷𝑒𝑤𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛 x 100%
2. Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah proporsi saham yang dimiliki oleh dewan direksi dan dewan komisaris sebagai pihak yang berada di dalam perusahaan (pihak internal, manajemen perusahaan) yang turut mengambil keputusan dalam suatu perusahaan. Kepemilikan manajerial diukur dengan menggunakan skala rasio melalui perbandingan antara jumlah saham yang dimiliki oleh pihak manajemen dengan total saham perusahaan yang beredar.
MNJ = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠
x 100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
3. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah proporsi saham yang dimiliki oleh institusi keuangan seperti perusahaan asuransi, perusahaan perbankan, perusahaan investasi, dll. Kepemilikan institusional diukur dengan menggunakan skala rasio melalui perbandingan antara jumlah saham yang dimiliki oleh investor institusional dengan total saham perusahaan yang beredar.
INS = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝐼𝑛𝑠𝑡𝑖𝑡𝑢𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙
x 100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
4. Komite Audit
Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) (dalam Effendi, 2016:48) mendefinisikan komite audit sebagai berikut:
Suatu komite yang bekerja secara profesional dan independen yang dibentuk oleh dewan komisaris dan dengan demikian tugasnya adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris (atau dewan pengawas) dalam menjalankan fungsi pengawasan (oversight) atas pelaporan keuangan, manajemen