• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERPRETASI TEORITIK

4.15 Guru sebagai pengajar dan sebagai pembimbing

Proses pembelajaran ataupun kegiatan belajar-mengajar tidak bisa lepas dari keberadaan guru. Tanpa adanya guru pembelajaran akan sulit dilakukan, apalagi dalam rangka pelaksanaan pendidikan formal, guru menjadi pihak yang sangat vital. Guru memiliki peran yang paling atif dalam pelaksanaan pendidikan demi mencapai tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Guru melaksanakan pendidikan melalui kegiatan pembelajaran dengan mengajar peserta didik atau siswa.

Di kabupaten sidoarjo dapat dilihat bahwa sebagian besar guru sudah melakukan kegiatan belajar secara akif, hal ini di buktikan dengan prosentase yang cukup besar, Berdasarkan pada Tabel 3.45 diketahui bahwa 55 responden atau setara dengan 55% menyatakan bahwa sebagai guru responden melakukan kegiatan belajar mengajar secara sangat aktif, sedangkan 45% lainnya melakukan kegiatan belajar mengajar secara aktif. Dalam kegiatam pengembangan literasi dini disekolah, keaktivan guru dalam mengajar dan memberikan materi akan memaksimalkan kegiatan literas dini. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara sangat aktiv dan aktiv, hanya saja ada sebagian pembelajaran di sekolah yang bersifat full day school. Hal ini senada dengan Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta

didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi.16

Berdasarkan pada Tabel 3.46 diketahui bahwa 55 responden atau setara dengan 55% menyatakan bahwa sebagai guru responden sangat sering melakukan identifikasi dan membantu anak yang mengalami kesulitan, sedangkan 43% responden menyatakan sering dan 2% lainnya kadang-kadang. Di kabupaten sidoarjo responden sebagian besar melakukan kegiatan identifikasi belajar secara dini, hal ini dimaksudkan agar guru bisa mengetahui kesulitan kemudian melakukan pelatihan untuk anak yang mengalami kesulitan beljar sedini mungkin. Dalam hal ini persis seperti yang dikatakan ariana dalam bukunya Psikologi pendidikan bahwa inti dari peran guru sebagai pembimbing adalah terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru dengan anak yang dibimbingnya. Guru sebagai pembimbing dituntut untuk mampu mengidentifikasi anak yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar,17 melakukan diagnosa,

prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).

Kemudian Berdasarkan tabel 3.47 diketahui bahwa mayoritas sumber informasi utama yang digunakan oleh guru yang pertama kali dikenalkan pada anak adalah mainan edukatif dengan persentase sebesar 96% responden dan 4% sisanya menjadikan buku dan perpustakaan sebagai sumber informasi utama yang dikenalkan pada anak. Responden guru di sidoarjo mayoritas menggunkan mainan edukatif sebagai sarana sumber informasi yang dikenalkan pertama kali pada anak, hal ini dikarenakan peprustakaan ataupun buku diperpustakaan masih terlalu sulit dipahami oleh murid. Sebgaimana yang dikatan oleh salah seorang responden guru asal kecamatan sidoarjo “ kalau perpustakaan kita masih belum terlalu mengenalkan mbak, ada perpustakaan disekolah tapi, untuk usia 4 tahun kita kenaklan mainan edukatif dlu sebab masa anak usia dini adalah bermain”

dengan alasan bahwa TK memiliki tahapan permainan seperti permainan yang

16 Arina Restian, Psikologi Pendidikan, UMM Press, Malang, 2015, hlm.221 17 Ibid hlm.222

IV-

bersifat membentuk konstruksi yang bermanfaat mengembangakan kreativitas dan imajinasi.18 Hal ini senada dengan Steinberg yang menyatakan membaca yang

diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah19. Program ini menekankan pada perhatian perkataan-perkataan yang utuh, bermakna dalam konteks pribadi anak-anak dan diberikan melalui permainan permainan yang menarik sebagai perantara pembelajaran. Selain itu dalam perkembangannya guru dapat memulai mengembangkan Literasi dini dengan menunjukkan bagaimana buku dapat menjadi sumber informasi yang menarik. Guru dapat membaca sebuah cerita dari buku untuk anak-anak TK tersebut.

Berdasarkan uraian diatas Menurut piaget adalah benar bahwa belajar tidak harus berpusat pada guru, tetapi anak harus lebih aktif.20 Kesadaran anak akan

keterlibatannya dalam proses pembelajaran perlu diarahkan guru. Teori piaget juga mengisyaratkan bahwa kemampuan berpikir anak dengan orang dewasa itu berbeda . implikasinya bahwa sekuensi (urutan) bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Anak akan sulit memahami bahan pelajaran jika sekuensi bahan pelajaran itu meloncat – loncat. Implikasi dan teori piaget lainnya bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. Materi yang dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus meransang kemampuan berpikir mereka. Tahap kemampuan berpikir sensori motorik mengimplikasikan bahwa proses belajar harus mencapai kerangka dasar kemampuan berbahasa, hubungan tentang objek, kontrol skema, kerangka berpikir, pembentukan pengertian, dan pengenalan hubungan sebab akibat. Ini berarti bahwa orang tua atau lingkungan harus memberikan rangsangan yang banyak terhadap bayi. Tahap kemampuan berpikir praoperasional ditandai dengan berpikir anak yang bersifat egosentris – simbolis. Implikasi dalam proses belajarnya ialah belajar harus berpusat pada anak karena anak melihat sesuatu berdasarkan dirinya sendiri,

18 Ball, C., & Gettinger, M. (2009). Monitoring children's growth in early literacy skills: Effects of feedback on performance

and classroom environments. Education & Treatment of Children, 32(2), 189-212. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/202675817?accountid=25704

19 Ahmad Santoso, Perkembangan Anak Usia Dini, Kencana Prenadamedia Group, Jakarta, 2011. hlm 83

20

metode yang paling tepat adalah metode bermain.tahapan perkembangan berpikir praoperasional ini terutama terjadi pada anak usia TK. Tahap kemampuan berpikir operasional konkret ditandai oleh kemampuan anak untuk mengoperasikan kaidah – kaidah logika, meskipun masih terikat oleh objek – objek bersifat konkret. Tahap ini umumnya dialami anak SD. Tahap kemampuan berfikir formal mengimplikasikan bahwa anak melalui proses belajar mengajar harus mampu menemukan sendiri, memecahkan masalah sendiri, bahkan berpikir menurut konsep sendiri. Mencari dan menemukan (inquiri - discovery), metode logika yang tinggi ini sudah bisa digunakan dalam proses belajar mengajar.