BAB II KERANGKA TEORI
B. Hak Asasi Manusia
2. Hak Asasi Manusia dalam Islam
Hakekat HAM merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi dan menjunjung tinggi HAM, menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antar individu, pemerintah (aparatur pemerintahan baik sipil maupun militer dan Negara).36
2. Hak Asasi Manusia dalam Islam
Seiring dengan menuatnya kesadaran global akan arti penting HAM dewasa ini, persoalan tentang universalitas HAM dan hubungannya dengan berbagai sistem nilai atau tradisi agama terus menjadi pusat perhatian dalam perbincangan wacana HAM kontemporer. Harus diakui bahwa agama berperan memberikan landasan etik kehidupan manusia.37
Perkembangan wacana global tentang HAM memberikan penilaian tersendiri bagi posisi islam. Hubungan antara islan dan HAM muncul menjadi isu penting mengingat, kecuali didalamnya terdapat interpensi yang beragam yang terkesan mengundang perdebatan yangswngit, perkembangan politik global memberikan implikasi tersendiri antara hubungan Islam dan Barat. Meskipun aspek terakhir ini tidak memberikan konsekuensi yang sigmifikan bagi munculnya interpretasi terhadap hubungan islam dan HAM, namun perlu dicatat bahwa faktor tersebut tidaklah dapat dipandang kecil. Islam dan barat, menurut A.K. Brohi, sebenarnya mengupayakan tercapainya pemeliharaan HAM dan kemerdekaan fundamental individu dalam masyarakat, namun perbedaan terletak pada pendekatan yang digunakan.38
36 Azyumardi Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia & Masyarakat Madani, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 200.
37 Lihat Lebih Lanjut Rasjidi, Sumbangan Agama Terhadap Hak-hak Asasi Manusia
dalam Hukum dan Masyarakat, (Jakarta: Madjalah Persahi, No. 2 Thn Viii, 1968), h. 85-96.
38 Madja El Muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia dari UUD 1945
Sampai dengan Perubahan UUD 1945 Tahun 2002, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group,
HAM yang dikemukakan oleh Harun Nasution adalah: tuntutan yang secara moral bisa dibenarkan, agar seluruh manusia dapat menikmati dan melaksanakan kebebasan dasar mereka, harta benda dan pelayanan-pelayanan mereka dipandang perlu untuk mencapai harkat kemanusiaan, yaitu hak asasi manusia pada dasarnya merupakan suatu hak atau kepunyaan seseorang yang sama sekali tidak dapat ditarik dari dalam diri seseorang.39
Hak asasi manusia dalam Islam tertuang secara transenden untuk kepentingan manusia, lewat syariah Islam yang diturunkan melalui wahyu. Menurut syaria‟ah manusia adalah makhluk bebas yang mempunyai tugas dan tanggung jawab, dan karenanya ia juga mempunyai hak dan kebebasan. Dasarnya adalah keadilan yang ditegakkan atas dasar persamaan atau egaliter, tanpa pandang bulu. Artinya, tugas yang diemban tidak akan terwujud tanpa adanya kebebasan, sementara secara eksistensi tidak terwujud tanpa adanya tanggung jawab itu sendiri. 40
Jika HAM dalam pandangan dunia Barat dan Amerika bersandar pada ideologi individualistik dan sosialis komunis bersandar pada ideologi kolektifitas atau komunal, maka islam tidak terjebak alternatif salah satu dari paham tersebut, melainkan memilih toleransi demi kepentingan harkat dan martabat kemanusiaan sebagai ciptaan yang diberi derajat tertinggi dimuka bumi. Islam mengakui dan menghormati hak-hak personal individual manusia sebagai nikmat karunia yang dianugerahkan Tuhan Allah SWT dan mengakui dan menghormati hak-hak kolektivitas sebagai hak publik dalam rangka menata kehidupan di muka bumi dengan konsep hablum minannas wahablum minallah. Islam meletakkan hak-hak individu dan penggunaannya memberi manfaat baik bagi manusia individu maupun bagi manusia lainnya (manusia yang baik yang dapat memberi manfaat bagi manusia lainnya). Hak-hak publik yang dikelola oleh negara harus memberi maslahat bagi ,asyarakat luas termsuk individu0individu yang harus ditanggung
39
Harun Nasution dan Bakhtiar Efendy, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka. Firdaus, 1987), h.19.
40 M. Luqman Hakim, Deklarasi Islam tentang HAM, (Surabaya: Risalah Gusti, 1993), h. 12.
24
oleh negara. Pandangan islam tentang HAM dengan tegas dan jelas dapat dicermati dalam Piagam Madinah (konstitusi madinah sebagai perjanjian yang dilakukan ole Rasulullah Muhammad SAW dengan beberapa golongan dikala itu, yang secara substansial mengakomodir HAM di bidang politik, di bidan sosial, ekonomi, budaya, dan agama.
Penegasan tentang pandangan islam tentang HAM di dunia internasional dideklarasikan di Kairo pada Tahun 1990 (Cairo Declaration On Human Rights
In Islam 1990). Naskah tentang HAM deklarai Kairo disusun selama 13 tahun
dengan perundingan-perundingan yang diadakan oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi islam sedunia. Secara garis besar HAM yang diatur dalam Deklarasi tersebut meliputi HAM di bidang Ekonomi, bidang persamaan atau equal, bidang gender, bidang hak hidup atau life, bidang pekerjaan, medis dan kesehatan, penghidupan yang laak dan pendidikan.
Selain butir konsepsi HAM dalam pandangan islam tersebut di atas, menarik diurai dan dibentangkan dengan merujuk pada nas Al-Qur‟an. Hak untuk hidup (rifgt of life) menurut Al-Qur‟an, nyawa manusia itu suci. Dalam firman Allah:
اًؼي ًَِج َطاَُّنا َمَرَق اًََََّؤَكَف ِض ْسَ ْلْا يِف ٍداَغَف َْٔأ ٍظْفََ ِشْيَغِت اًغْفََ َمَرَق ٍَْي
(٢٣:جذئاًنا جسٕع) اؼيًَِج َطاَُّنا اَيْحَأ اًََََّؤَكَف اَْاَيْحَأ ٍَْي َٔ
Artinya: “Barangsiapa membunuh seseorang selain karena membunuhorang lain atau karena membuat kekacauan di atas bumi, ia seolah-olah telah membunuh seluruh umat manusia, barang siapa memberikan kehidupan kepada suatu jiwa, ia seakan-akan telah menghidupkan seluruh manusia”. (QS.
Al-Maidah 5:32).
Hak untuk memperoleh keadilan (rights to justice), merupakan salah satu tugas kerasulan Nabi Muhaammad SAW. Tugas utama dan pertama Nabi Muhammad SAW, adalah untuk menegakkan keadilan. Tugas ini merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat dan badam-badan pemerintahan. Firman Allah:
َٰٗهَػ ٍو َْٕق ٌُآََُش ْىُكََُّي ِشْجَي َلَ َٔ ۖ ِظْغ ِقْناِت َءاَذَُٓش ِ َّ ِلِلّ ٍَيِيا ََّٕق إَُُٕك إَُُيآ ٍَيِزَّنا آَُّيَأ اَي
ٌُٕهًَْؼَذ اًَِت ٌشيِثَخ َ َّاللَّ ٌَِّإۚ َ َّاللَّ إُقَّذا َٔ ۖ ٰٖ َْٕقَّرهِن ُبَشْقَأ َُْٕ إُنِذْػا ۚ إُنِذْؼَذ َّلََأ
)٨ :جذئاًناجسٕع(
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berdiri teguhlah untuk Allah,sebagai saksi dalam keadilan dan jangan sampai rasa permusuhan suatu golongan terhadap kamu menjadikan kamu bertindak atau berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa. Dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Tahu tentang apa yang mereka lakukan. (QS.
Al-Maidah 5:8).
Hak persamaan (equal rights), dalam Al-Qur‟an hanya menunjukkan satu kriteria yang dapat menjadikan seseorang lebih tinggi dari yang lainnya, yaitu kelebihan taqwanya. Perbedaan atau dasar keturunan, kesukuan, warna kulit atau tanah air tidak diperhitungkan. Firman Allah:
ٌَِّإ ۚ إُف َساَؼَرِن َمِئاَثَق َٔ اًتُٕؼُش ْىُكاَُْهَؼَج َٔ َٰٗثَُْأ َٔ ٍشَكَر ٍِْي ْىُكاَُْقَهَخ اََِّإ ُطاَُّنا آَُّيَأ اَي
(٣٢:خاشجحنا جسٕع) شيِثَخ ٌىيِهَػ َ َّاللَّ ٌَِّإ ۚ ْىُكاَقْذَأ ِ َّاللَّ َذُِْػ ْىُكَي َشْكَأ ٌٌ
Artinya: “Hai manusia! Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, dan kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling berkenalan. Sesungguhnya yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Sadar (QS. 49:13).
Hak Kebebasan dalam kepercayaan adalah pilihan spiritual bagi manusia sesuai fitrah kemanusiannya. Firman Allah:
ِخُٕ ادَّوناِت ْشدُفْكَي ٍْ دًََف ۚ ِ ّيدَغْنا ٍَ دِي ُذدْش ُّشنا ٍََّيَثَذ ْذَق ۖ ٍِيِّذنا يِف َِا َشْكِإ َلَ
ادددََٓن َواددَ ِفَْا َلَ َٰٗقْص ُٕدددْنا ِج َٔ ْشُؼْناددِت َردددَغ ًَْرْعا ِذددَقَف ِ َّلِلّادددِت ٍْ ِي ْمددُي َٔ
ُ َّاللَّ َٔ
ٌغي ًَِع
ٌىيِهَػ
)
جشقثناجسٕع
:
٦٥٢
(
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak
26
akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2:256).
Ajaran islam memberikan tempat yang layak dan perlindungan yang memadai terhadap hak untuk memeluk agama dan keyakinan tersebut. Ayat diatas mengandung penghormatan terhadap hak ssetiap orang untuk memeluk suatu agama ataua keyakinan. Tidak seorangpun yang berhak untuk memaksa orang lain untuk memeluk suatu agama atau keyakinan, meskipun secara objektif agama yang ditawarkannya adalah agama yang paling benar dan sempurna. Allah SWT menegaskan bahwa islam adalah agama yang sempurna dan diridhai oleh Alah SWT. Ajaran islampun menyuruh umatnya untuk mengajak manusia untuk memeluk agama islam. Akan tetapi, semua itu tidak berarti ada hak untuk memekasakan ajaran islam kepada seseorang. Islam harus disebarkan melalui cara-cara yang baik dan bijaksana. Islam memberikan penghargaan kepada siapa yang menerima dakwah islam. Islampun menhormati orang-orang yang menolak ajaran-ajaran islam.41
Hak untuk menyatakan kebenaran atau pendapat (riht tp truth). Bagi orang beriman terlekat kewajiban baginya untuk menyatakan kebenaran, pendapat yang benar tanpa harus merasa takut meskipun itu pahit baginya. (QS. An-Nisa 4:135). Hak mendapatkan perlindungan terhadap penindasan karena perbedaan agama, merupakan konsekuensi dari dilarangnya suatu paksaan dalam beragama. (QS. 5:48 & QS. 6.108). Hak untuk mendapatkan kehormatan dan nama baik, merupakan salah satu unsur kelanggengan masyarakat, karenanya dalam islam, perlindungan terhadap nama baik dan kehormatan anggota masyarakat merupakan unsur utama dalam nilai-nilai sosial yang harus dijaga oleh setiap orang, terutama badan-bdan pemerintahan (QS. 33:60-61 &QS. 49:12).
Hak ekonomi (righta to economic), dalam islam telah digariskan bahwa setiap orang berkewaajiban memperoleh pendapatan dan penghasilan secara legal,
41 Ikhwan, Hak Aasi Manusia Dalam Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2004), h. 62-63.
memberikan sumbangan kepada dana umum (baitul maal) yang disediakan bagi orang-orang yang membutuhkan. Firman Allah:
ْمدُق ۚ ِل ْص ِّشدنا ٍَ دِي ِخادَثِّيَّونا َٔ ِِِدادَثِؼِن َل َش دْخَأ يدِرَّنا ِ َّاللَّ َحدَُي ِص َو َّشَح ٍَْي ْمُق
َيِْ
ُم دِّ َفَُ َرِن َٰزدَك ِح دَياَيِقْنا َو َْٕي ًحَ ِنا َخ اَيَُّْذنا ِجاَي َحْنا يِف إُُ َيآ ٍَيِزَّهِن
ٌَٕ ًَُهْؼَي ٍو َْٕقِن ِخاَي ْلْا
)
جسٕع
فاشػلْا
:
٦٢
(
Artinya: Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari
Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-a‟raf 7:32)
Hak untuk memiliki (rigts to property), dalam islam telah ditegaskan bahwa:
ا ًشيِثَك َ َّاللَّ أُشُكْرا َٔ ِ َّاللَّ ِمْضَف ٍِْي إُغَرْتا َٔ ِض ْسَ ْلْا يِف أُشِشَرَْاَف ُج َلََّ نا ِدَي ِضُق اَرِإَف
(٣.:ّؼًجناجصٕع ) ٌَُٕحِهْفُذ ْىُكَّهَؼَن
Artinya: “jika shalat telah kau tunaikan, maka bertebaranlah di mukabumi untuk mencari karuia Tuhanmu, dna banyak-banyaklah meningat Allah, semoga beroleh kesejahteraan/kemakmuran” (QS. Al-jumi‟ah 62:10).
Jika dikaji lebih mendalam tentang ideologi islam tentang HAM, maka dapat dikatakan ideologi Islam merupakan ideologi humanistik, karena Islam menempatkan manusia sebagai sentral dalam kehidupan dimuka bumi. Manusia diberi derajat tertinggi sebagai khalifah, wakil Tuhan di muka bumi. Islam memandang manusia individu sama dengan manusia kolektivitas, yang membedakannya hanya taqwa diantara mereka.42
Kebersamaan menjaga dan menghargai hak-hak asasi manusia , kiranya menjadi wadah dalam memenuhi kebutuhan manusia, baik jasmani maupun
42 Nurul Qamar, Hak Asasi Manusia dalam Negara Hukum Demokrasi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 88.
28
rohani sesuai dengan konsep maqashid al-syariah, kebutuhan manusia dikategorikan kepada tiga jenis, dharuri, haji, dan tahsini. HAM tergolong kepada kebutuhan dahruri (primer) yang dalam sitilah Ghazali disebut dengan
al-dharuriyah al-khamsah: hifdz al-din, (pemeliharaan agama), nafs (jiwa), nasl
(keluarga), dan al-mal (harta).43