• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

C. HAK ATAS SUMBER DAYA ALAM SEBAGAI HAK ASASI MANUSIA

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang dimiliki semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan oleh hukum positif melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia makhluk ciptaanNya.

Asal usul gagasan mengenai HAM dengan demikian berasal dari teori hak kodrati (natural rights theory).

Dalam pandangan John Locke salah satu pemuka teori hak kodrati bahwa semua individu dikarunia oleh alam hak yang melekat atas hidup, kebebasan dan kepemilikan, yang merupakan milik mereka sendiri dan tidak dapat dicabut oleh negara. Melalui suatu kontrak sosial, perlindungan atas hak yang tidak dapat dicabut ini diserahkan kepada negara. Tetapi, menurut Locke, apabila penguasa negara mengabaikan kontrak sosial itu dengan melanggar hak-hak kodrati individu, maka rakyat di negara itu bebas menurunkan penguasa dan mengantikannya dengan suatu pemerintah yang bersedia menghormati hak-hak teresebut. Melalui teori hak-hak kodrati ini, maka eksistensi hak-hak-hak-hak individu yang pra positif mendapat pengakuan kuat.31

Undang-undang dasar suatu negaralah yang memuat ketentuan-ketentuan kepada siapa kekuasaan itu diserahkan, termasuk menjamin HAM. Berkaitan dengan hak atas sumber daya alam, merupakan bagian dari hak atas hidup sejahtera lahir dan batin yang

31 Rhona K Smith et al, Hukum Hak Asasi Manusia, Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2008, hal.12.

26 menjadi substansi dari hak asasi manusia, sebagaimana diatur dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Kebijakan berbasis HAM (human based approach) bagi pengakuan, perlindungan dan pemenuhan HAM masyarakat hukum adat sudah seharusnya menjadi prioritas tinggi setiap Negara. Kebijakan negara sebagai pelaksanaan tanggung jawab negara dalam rangka melindungi hak-hak tradisional masyarakat adat mengandung makna bahwa segala sumber daya yang ada ditujukan untuk merealisasikan pemenuhan HAM tersebut, termasuk merumuskan kebijakan pemenuhan hak masyarakat adat atas sumber daya alam.

Integrasi Bangsa Indonesia tidak akan dapat diraih apabila terdapat salah satu komponen bangsa yaitu masyarakat adat tercerabut dari akarnya. Sejumlah pelanggaran hak-hak tradisional masyarakat adat yang bersifat struktural dan sistemik berakar pada kesalahan konseptual dan kesalahan tentang posisi struktural masyarakat adat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesalahan konseptual tersebut kemudian tertuang dalam sejumlah undang-undang sektoral yang memerlukan koreksi untuk mewujudkan jaminan konstitusional hak-hak tradisional masyarakat adat yang terdapat dalam ketentuan Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28 I ayat (1) UUD 1945.

Ketentuan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menentukan bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-undang. Seterusnya, ketentuan Pasal 28I ayat (3) menentukan bahwa Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

Pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat digantungkan dengan kenyataan yang ada serta tidak menganggu tercapainya tujuan undang-undang yang mengakuinya.

Model-model pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat semacam ini, selain bermakna sebagai pengakuan bersyarat juga bermaksud memberikan batasan-batasan atas hak-hak masyarakat adat. Sejatinya, kebijakan berbasis HAM atau Human Rights Based

27 Approach menekankan pentingnya HAM menjadi aspek utama pada kebijakan awal dalam kerangka hukum, utamanya bagi kelompok rentan seperti masyarakat adat.32

Ketentuan Pasal 8 Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM menegaskan bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan HAM merupakan tanggung jawab pemerintah di samping juga masyarakat. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan dan meratifikasi berbagai instrumen hukum HAM internasional, seperti Konvensi ILO 1986 tentang Hak-hak Masyarakat Adat, Konvenan Hak Ekonomi Sosial melalui Undang Undang Nomor 11 Tahun 2005 dan Budaya serta Kovenan Hak Sipil dan Politik melalui Undang Undang Nomor 12 tahun 2005.

Philip Alston dalam Bulletin of Human Rights (Rachel Hodgkin&Peter Newell, 1998:22) menyatakan dalam perspektif hukum internasional, kewajiban untuk menghargai (to respect) mensyaratkan Negara pihak untuk menahan diri dari setiap tindakan yang dapat melanggar setiap HAM warga Negaranya. Kewajiban melindungi (to protect) mensyaratkan Negara membentuk kebijakan legislasi yang melindungi keberadaan masyarakat hukum adat. Sedangkan kewajiban untuk memastikan (to ensure) menyiratkan kewajiban afirmatif (afirmative obligation) dalam rangka mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjamin penikmatan hak-hak masyarakat adat yang relevan. Untuk itu, Negara perlu menetapkan pendekatan khusus bagi perlindungan hak-hak masyarakat agar masyarakat adat sebagai kelompok rentan dapat menikmati sebesar mungkin hak asasi mereka.(Sekretariat Nasional Koalisi Perempuan Indonesia: 2002:2).

Seterusnya, dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan “Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, masyarakat, dan Pemerintah”.

Salah satu mekanisme yang berkembang dalam upaya penguatan hak masyarakat adat atas sumber daya alamnya adalah mekanisme Persetujuan Bebas Tanpa Syarat (Free and Prior Informed Consent/FPIC). Keberadaan mekanisme ini bila dikaitkan dengan doktrin tanggung jawab Negara dalam pemenuhan hak asasi manusia maka ia meliputi

32 Nicola Colbran. 2008. Seminar Hasil Penelitian Hak Ekosob Status dan Kondisi Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan di Tiga Wilayah (Aceh, Yogyakarta dan Kalimantan Timur), Makalah pada Workshop Hak Ekosob diselenggarakan oleh Pusham UII kerja sama dengan Norwegian Centre for Human Rights, Yogyakarta 16-18 Desember 2008), hal. 4

28 penghormatan (to respect), perlindungan (to protect), pemenuhan (to fullfill) hak masyarakat adat terhadap sumber daya alamnya terhadap setiap tindakan yang dilakukan pihak luar terhadap masyarakat adat. Dalam konsep FPIC terdapat empat unsur penting yang berlaku secara kumulatif. Keempat prinsip itu dapat diartikan sebagai berikut: Free:

berkaitan dengan keadaan bebas tanpa paksaan. Artinya kesepakatan hanya mungkin dilakukan di atas berbagai pilihan masyarakat. Prior: artinya sebelum proyek atau kegiatan tertentu diijinkan pemerntah, terlebih dahulu harus mendapat ijin dari masyarakat.

Informed: artinya informasi yang terbuka dan seluas-luasnya mengenai proyek yang akan dijalankan baik sebab maupun akibatnya Consent: artinya persetujuan diberikan oleh masyarakat sendiri.

Seyogyanya, posisi masyarakat hukum adat akan jauh lebih baik dalam suatu Negara nasional, khususnya oleh karena negara nasional lazimnya didasarkan pada faham kebangsaan dan integrasi bangsa. Warga masyarakat hukum adat yang hidup secara turun temurun pada tanah ulayat di kampung halamannya masing-masing adalah bagian menyeluruh dari rakyat negara yang bersangkutan. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Salah satu faktor penyebabnya adalah berbagai kebijakan negara yang sektoral, selain karena munculnya berbagai kepentingan dalam Negara nasional tersebut, untuk menguasai sumber daya alam yang ada di wilayah masyarakat hukum adat. Dalam keadaan yang demikian, eksistensi masyarakat adat tersebut cepat atau lambat membuka peluang untuk dinafikannya masyarakat hukum adat tersebut.

Tuntutan global mendesak negara di berbagai belahan dunia untuk melakukan pembangunan berbasis HAM (right-based development) sebagai suatu standar internasional HAM yang diarahkan untuk mendukung dan melindungi HAM.

Pembangunan berbasis HAM itu sendiri pada hakikatnya memadukan norma-norma dan standar-standar (perjanjian, konvensi dan deklarasi) serta prinsip-prinsip (kesetaraan, keadilan, pemberdayaan, akuntabilitas dan partisipasi) sistem internasional HAM ke dalam perencanaan, kebijakan dan proses-proses pembangunan. Karena itu, strategi ini mengandung elemen-elemen: a) menunjukkan kaitan langsung dengan HAM, b) akuntabilitas, c) pemberdayaan, d) partisipasi, dan e) tidak diskriminatif dan memberi perhatian kepada kelompok-kelompok rentan.

Perjuangan untuk perlindungan, pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat tidak hanya berlangsung pada tataran nasional, tetapi juga pada tataran

29 internasional. International Labour Organization (ILO), termasuk lembaga yang berhasil mengesahkan Konvensi tentang perlindungan dan pengakuan terhadap hak masyarakat hukum adat. Pengkakuan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat mengalami perkembangan yang besar pada saat Sidang Umum PBB berhasil mengesahkan UN Declaration on the of the Indigenous Peoples.33

Di dalam Deklarasi tersebut dimuat konsep Free and Prior Informed Consent (FPIC). FPIC sebenarnya, bukanlah konsep asing pada masyarakat pedesaan di Indonesia.

Sejak lama, konsep ini mengakar pada tradisi dan kebiasaan masyarakat pedesaan di Indonesia. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam, klausula ini memberi jaminan bahwa masyarakat yang terkena dampak harus dimintakan persetujuannya tanpa paksa sebelum ijin kegiatan diberikan pemerintah. Negosiasi mendapat persetujuan itu harus didahului dengan pemberian informasi yang menyingkap keuntungan dan kerugian serta konsekuensi hukum atas suatu kegiatan tertentu.

Pengadopsian mekanisme FPIC dalam sejumlah instrumen hukum dan standarisasi telah diinisiasi oleh lembaga multipihak. Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat (United Nation Declaration on The Rights of Indigenous People) yang disahkan tahun 2007 mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan FPIC, diantaranya adalah ketentuan Pasal 18 yang menentukan bahwa masyarakat adat berhak untuk mengambil bagian dalam pengambilan keputusan tentang hal-hal yang akan berpengaruh terhadap hak-hak tradisional mereka, lewat wakil-wakil yang mereka pilih sendiri sesuai dengan cara dan prosedur pemilihan mereka, dan juga untuk memelihara dan mengembangkan lembaga pengambilan keputusan mereka sendiri.

Selanjutnya, Pasal 19 menentukan bahwa Negara patut berkonsultasi dan bekerjasama dengan niat baik yang saling mempercayai dengan masyarakat adat terkait lewat lembaga perwakilan mereka sendiri untuk mendapatkan persetujuan yang bebas, mendahului tindakan, setelah ada informasi yang jelas kepada mereka untuk mendapatkan persetujuan sebelum mengadopsi dan menerapkan tindakan-tindakan legislatif atau administratif yang dapat berdampak terhadap mereka.

Perundang-undangan di Indonesia memang belum banyak yang mengadopsi mekanisme ini. Baru Undang Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang mengadopsi beberapa konsep FPIC dalam ketentuan

33 Maria SW Sumarjono, Op cit, hal 156.

30 tentang hak-hak masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Beberapa ketentuan dalam Pasal 60 Undang-undang tersebut menyatakan bahwa masyarakat berhak untuk:

a. Memperoleh akses terhadap perairan yang telah ditetapkan;

b. Memperoleh kompensasi karena hilangnya akses terhadap Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menjadi lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan

c. Memperoleh manfaat atas pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

d. ...

Dalam penegakan hak asasi manusia, pemerintah adalah pemegang kewajiban dan tanggung jawab (duty holderr) dan masyarakat, secara individu dan kolektif, adalah pemegang hak (right holder). Relasi ini menjadi jelas karena pemerintah mempunyai kewenangan melalui kebijakan, regulasi, program, dan anggaran untuk merealisasikan kewajiban dan tanggung jawabnya, untuk memenuhi hak warga Negara. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menegakkan hak asasi manusia (no execuse). Pemerintah berkewajiban mendayagunakan sumber dayanya untuk menghormati, melindungi, memenuhi, dan memajukan hak asasi manusia, utamanya hak-hak kelompok rentan karena secara sumber daya ekonomi, sosial dan budaya kelompok ini lemah pada saat berhadapan dengan kelompok masyarakat lainnya, pemodal bahkan Negara.

Pelanggaran hak-hak tradisional masyarakat hukum adat dapat terjadi melalui tiga bentuk, yaitu:

1. Pelanggaran HAM dengan tindakan (by commission), dimana pemerintah dengan sengaja bertindak melalui kebijakan dan regulasi sehingga melanggar hak-hak masyarakat adat.

2. Pelanggaran HAM dengan pembiaran (by omission), dimana pemerintah dengan sengaja membiarkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia padahal mempuyai kemampuan untuk mencegah dan menindak pelanggaran tersebut.

3. Pelanggaran HAM berupa ketidakpatuhan (non compliance), dimana pemerintah tidak mematuhi aturan hak asasi manusia di tingkat nasional maupun internasional yang telah diratifikasinya.

31 Konsekuensi dari institusionalisasi prinsip dan norma HAM internasional ke dalam hukum nasional melalui tindak ratifikasi sejumlah instrumen HAM internasional adalah Negara terikat untuk menjalankan obligasinya. Pada tanggal 13 September 2007 yang lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa telah mensahkan The U.N. Declaration on the Rights of the Indigenous Peoples, yang juga didukung oleh perutusan Republik Indonesia di badan dunia tersebut.