• Tidak ada hasil yang ditemukan

ATAS SUMBER DAYA ALAM

D. KESIMPULAN DAN SARAN 1.Kesimpulan

Dari hasil analisis dapat disimpulkan masih terjadinya konflik norma seperti:

1. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyebutkan bahwa Pasal 1 huruf f disebutkan bahwa Hutan adat adalah hutan Negara yang berada dalam wilayah masyarakat adat. Dan hal ini dipertegas kembali dalam Pasal 4 ayat (3) Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Selanjunya dalam pasal 5 ayat (1) Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari: a. hutan negara, dan b. hutan hak. Ayat (2) Hutan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dapat berupa hutan adat.

Ayat (3) Pemerintah menetapkan status hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2); dan hutan adat ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya. Ayat (4)

99 Apabila dalam perkembangannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan tidak ada lagi, maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada Pemerintah.

Pernyataan dalam pasal ini seolah memberikan pengakuan atas keberadaan hutan adat dan memberikan hak pada masyarakat hukum adat untuk melakukan pemanfaatan hutan namun jika kita kaji secara lebih mendalam bahwa hutan yang dimaksud tetap saja merupakan hutan Negara sehingga pemanfaatan hutan adat oleh masyarakat hukum adat tersebut dianggap sebagai hutan negara bukan sebagai hutan adat. Kondisi ini menunjukkan bahwa seolah-olah Negara merupakan pemilik semua hutan dan adanya hutan adat hanya merupakan semacam “kebaikan hati” Negara terhadap masyarakat hukum adat. Hal ini jelas tidak sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 “(3) menyatakan Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dan Undang-Undang Pokok-Pokok Agraria 5/1960. Pasal 1 Ayat (1) UUPA menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia. Artinya, bangsa Indonesialah yang menjadi pemilik dan sumber hak atas seluruh sumberdaya agraria, termasuk hutan. Dan Pasal 5 menjadikan hukum adat sebagai dasar hukum pertanahan di Indonesia.

2. PP Nomor 6 Tahun 2007 jo. PP nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyususnan Rencana Pengelolaan hutan serta Pemanfaatan Hutan Secara substansi Peraturan Pemerintah ini bertentangan peraturan perundangan yang lebih tinggi yakni peraturan-peraturan yang berkaitan dengan otonomi daerah maupun UU No. 41 Tahun 1999. Karena semangat PP tersebut adalah eksploitasi, sehingga PP ini juga bertentangan dengan Ketetapan MPR No. IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Pasal 5 ayat (2) huruf a Tap MPR ini menyatakan bahwa: “arah kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah melakukan pengkajian ulang berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam dalam rangka sinkronisasi kebijakan antar sektor yang berdasarkan prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud Pasal 4 Ketetapan ini.” Seharusnya sebelum mengeluarkan PP ini Pemerintah terlebih dahulu melakukan pengkajian ulang dan sinkronisasi terhadap peraturan Sumber Daya Alam dengan mempelajari ulang ketentuan pokoknya, yakni UU No. 41 Tahun 1999, baru

100 kemudian membuat aturan-aturan pelaksanaannya.

3. Pengakuan Hukum terhadap Masyarakat Hukum Adat. Agar pelaksanaan pengelolaan Hutan Adat oleh Masyarakat Hukum Adat dapat mencapai tujuan dan sasaran, maka Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib segera melakukan pengaturan mengenai Hutan Adat dan Masyarakat Hukum Adat yang diberi hak untuk melakukan pengelolaan hutan dan pemanfaatan hasil hutan, yang menyangkut mengenai, prosedur, tata cara atau dasar penetapan hutan adat, dan masyarakat hukum adat dalam melaksanakan hak dan kewajibannya, sehingga diperoleh kepastian hukum pengelolaan hutan Masyarakat adat sudah terbukti mampu menyangga kehidupan dan keselamatan mereka sendiri sebagai komunitas dan sekaligus menyangga layanan sosio-ekologis alam untuk kebutuhan seluruh mahluk. Dengan pranata sosial yang bersahabat dengan alam, masyarakat adat memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan rehabilitasi dan memulihkan kerusakan hutan di areal-areal bekas konsesi HPH dan lahan-lahan hutan kritis (community-based reforestation and rehabilitation) dengan pohon-pohon jenis asli komersial. Bagaimana pun, kearifan adat yang berbasis komunitas ini merupakan potensi sosial-budaya yang sangat besar untuk direvitalisasi, diperkaya, diperkuat dan dikembangkan sebagai landasan baru menuju perubahan kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang selama ini terpusat di tangan pemerintah dan telah terbukti menimbulkan pengrusakan hutan dan memarjinalisasi ekonomi masyarakat adat di seluruh pelosok nusantara beserta habitatnya. Tidak berlebihan untuk menyatakan bahwa masa depan keberlanjutan kehidupan bangsa Indonesia berada di tangan masyarakat adat yang berdaulat memelihara kearifan adat dan praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam.

4. Undang-undang ini tidak mengakui pluralisme hukum dalam hukum kehutanan. Hutan adat tidak diakui sebagai entitas sendiri. Hal ini dapat dilihat salah satunya dari ketentuan Pasal 5 yang mengatur status hutan seperti telah dikemukakan di atas.

Berdasarkan statusnya, hutan hanya dibagi menjadi 2 (dua) yaitu hutan negara dan hutan hak. hutan adat merupakan bagian dari atau termasuk ke dalam kategori hutan Negara.

5. Undang-undang ini dalam hal implementasi pengelolaan kehutanan secara sektoral oleh Departemen Kehutanan. Pasal 4 ayat (2) menyebutkan bahwa penguasaan hutan oleh Negara itu dilaksanakan oleh Pemerintah, dalam hal ini Menteri Kehutanan

101 (sektoral). Pengurusan hutan mulai dari perencanaan kehutanan, pengelolaan hutan, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan kehutanan, sampai kepadapengawasan, semuanya dilaksanakan oleh Menteri Kehutanan.

2. Saran

1. Perlu segera memperbaharui UU No. 41 tentang Kehutanan yang nyata-nyata melanggar UUD 1945 dan amandemennya. UU Kehutanan harus mematuhi dan tidak boleh bertentangan dengan konstitusi yang jelas-jelas mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak masyarakat adat, termasuk perubahan PP dan Permennya. Dalam UU yang baru nanti, posisi dan peran masyarakat adat harus ditempatkan sebagai pelaku utama pengelolaan hutan, baik untuk menjaga dan memelihara fungsi lindung dan konservasi hutan, memanfaatkan hutan untuk fungsi produksi dan juga melakukan rehabilitasi terhadap kawasan-kawasan yang sudah dirusak selama ini, maupun untuk mengamankan hutan dari perngrusakan.

2. Kebijakan tentang otonomi daerah harus ditinjau kembali agar memprioritaskan terjadinya devolusi, yaitu mendorong terjadinya pergeseran kekuasaan dan wewenang yang lebih besar ke tingkat komunitas adat (otonomi asli komunitas masyarakat adat)

102 BAB V

ANALISIS SINKRONISASI HUKUM SUMBER DAYA KELAUTAN DALAM