TINJAUAN PUSTAKA
D. Hak dan Kewajiban Karyawan dalam UU Ketenagakerjaan
Sebelum membicarakan Hak dan kewajiban maka akan lebih baik mengetahui kedudukan wanita dalam masyarakat. Hal itu baik sistem hukum ataupun politik Indonesia menjamin hak-hak dan kewajiban serta kesempatan- kesempatan yang sama bagi wanita. Hal ini mencerminkan pula pada tradisi yang
32
pada umumnya memberikan kedudukan dan harkat yang tinggi pada kaum wanita. Pemerintah indonesia telah pula mengukuhkan sejak konvensi PBB tahun 1952 tentang Hak-hak Politik Wanita sampai sekarang (Daniel J. Brooks, 1989: 61). Dengan adanya kesamaan derajat antara perempuan dengan laki-laki akan membuat persamaan dalam segala aspek. Aspek tersebut meliputi ekonomi, politik, budaya terkecuali akan hal tersebut adalah aspek agama, dikarenakan tidak semua peran laki-laki dalam peribadatan bisa di gantikan oleh perempuan.
Dalam Undang-undang ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 terdapat hak- hak dan kewajiban karyawan pabrik, meskipun tidak secara ekplisit disebutkan dalam salah satu bab, akan tetapi dimulai dari pasal 77 di paragraf 4 sampai pasal 101 menunjukkan bahwa itu merupakan hak-hak karyawan untuk mendapatkan kejelasan hukum akan pekerjaannya. Maka dari itu, penulis mencoba menjelaskan satu-persatu, yaitu adalah sebagai berikut:
1. Waktu Kerja
Merupakan suatu salah satu perjanjian kerja yang harus ditaati oleh pekerja, apabila tidak maka akan ada sanksi tersendiri. Perjanjian kerja itu sendiri, adalah dalam pasal 1601a KUHPerdata memberikan pengertian aadalah sebagai berikut:
“perjanjian kerja adalah suatu perjanjian dimana suatu pihak kesatuan (si buruh),
mengikatkan dirinya untuk dibawah perintah pihak lain, simajikan untuk suatau
waktu tertentu melakukan pekerjaan dengan menerima upah”. (Husni, Lalu. 2010:
33
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 angka 14 memberikan pengertian yakni:
“ perjanjian kerja adalah suatu perjanjian antara pekerja/buruh dan pengusaha
atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja hak dan kewajiban kedua
belah pihak”.
Kembali ke waktu kerja sendiri sudah di jelaskan secara rinci di pasal 77 di angka 4 bahwasanya:
a. Setiap wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja, hal itu dimaksudkan agar pekerja mendapatkan kejelasan seberapa lama waktu kerja yang diperoleh
b. Apabila mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja maka harus adanya persetujuan dikedua belah pihak, maksimal waktu kerja 3 jam, melebihi jam kerja, pengusaha wajib membayar tambahan upah kerja lembur.
c. Mendapat waktu istirahat sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 ( empat) jam,
d. Cuti seminggu diberikan cuti sehari saja. Tidak cuma itu saja, karyawan juga diberi istirahat panjang sekurang-kurang 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama hanya diberuntukan untuk kelipatan 6 (enam) tahun
34
Serta ada lagi yaitu waktu beribadah. Dan dikhususkan bagi perempuan, terdapat beberapa keistimewaan, diantaranya adalah:
a. Tidak diwajibkan untuk pekerja yang sedang haid untuk masuk kerja, dan boleh cuti dihari pertama dan kedua.
b. Istirahat akan kehamilan karyawati yaitu 1,5 (satu setengah) sebelum melahirkan dan 1,5 (satu setengah) setelah melahirkan.
c. Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih dalam penyusuan harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.
d. Meskipun mendapatkan istirahat, tetap mendapatkan upah yang penuh.
2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Hal demikian terdapat dalam pasal 86 ayat 1, yang disitu mulai berisi tentang pasal-pasal Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yaitu pekerja mempunyai hak memperoleh perlindungan atas:
a. keselamatan dan kesehatan kerja;
b. moral dan kesusilaan; dan
c. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai- nilai agama.
Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkaan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan
35
kesehatan kerja. Perlindungan tersebut dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk mewujudkan perlindungan keselatan kerja, maka pemerintah telah melakukan upaya pembinaan norma di bidang ketenagakerjaan. Dalam pengertian pembinaan norma ini sudah mencakup pengertian pembentukan, penerapan dan pengawasan norma itu sendiri (Husni, 2010: 147). Selanjutnya penegasan akan hal tersebut, untuk diwajibkan bagi setiap perusahaan untuk menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Kebijakan Pengupahan
Dalam pasal 88 berisi kebijakan pengupahan. Pada ayat 1
menyebutkan “Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang
memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Memang upah memegang peran penting dan merupakan ciri khas suatu hubungan yaitu hubungan kerja, bahkan merupakan tujuan utama orang yang bekerja kepada orang atau badan hukum lain (Husni, Lalu. 2010: 158). Maka dari itu, menyambung dari ayat 1 tadi, pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan untuk melindungi pekerja/buruh. Kebijakan tersebut meliputi: a. Upah minimum;
b. Upah kerja lembur;
c. Upah tidak masuk kerja karena berhalangan;
d. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain diluar pekerjaannya;
36
e. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;
f. Bentuk dan cara pembayaran upah;
g. Denda dan potongan upah;
h. Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;
i. Struktur dan skala pengupahan yang proporsional;
j. Upah untuk pembayaran pesangon; dan
k. Upah untuk perhitungan pajak penghasilan.
Pemerintah menetapkan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan mem-perhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Upah minimum dapat terdiri atas :
a. Upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota;
b. Upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota.
Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan. Ketentuan diatas tidak berlaku, dan pengusaha wajib membayar upah apabila :
a. Pekerja/buruh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;
b. Pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua
37
c. Pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah, menikahkan, mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia;
d. Pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara;
e. Pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalan- kan ibadah yang diperintahkan agamanya;
f. Pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha;
g. Pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat;
h. Pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atas persetujuan pengusaha; dan
i. Pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.
Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang sakit sebagai berikut :
1) Untuk 4 (empat) bulan pertama, dibayar 100% (seratus perseratus) dari upah;
38
2) Untuk 4 (empat) bulan kedua, dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari upah;
3) Untuk 4 (empat) bulan ketiga, dibayar 50% (lima puluh perseratus) dari upah; dan
4) Untuk bulan selanjutnya dibayar 25% (dua puluh lima perseratus) dari upah sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh pengusaha.
Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang tidak masuk bekerja selain ijin sakit diatas, sebagai berikut :
1) Pekerja/buruh menikah, dibayar untuk selama 3 (tiga) hari;
2) Menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;
3) Mengkhitankan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari
4) Membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;
5) Isteri melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;
6) Suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal dunia, dibayar untuk selama 2 (dua) hari; dan
7) Anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, di bayar untuk selama 1 (satu) hari.
39
Pengaturan pelaksanaan ketentuan tersebut, ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok dan tunjangan tetap. Pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh karena kesengajaan atau kelalaiannya dapat dikenakan denda. Pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh. Pemerintah mengatur pengenaan denda kepada pengusaha dan/atau pekerja/buruh, dalam pembayaran upah.
4. Kesejahteraan
Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja. Untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja/buruh dan keluarganya, pengusaha wajib menyediakan fasilitas kesejahteraan. Dengan memperhatikan kebutuhan pekerja/buruh dan ukuran kemampuan perusahaan. Untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh itu juga, dibentuk koperasi pekerja/buruh dan usaha-usaha produktif di perusahaan. Yang berupaya menumbuhkembangkan koperasi pekerja/buruh, dan mengembangkan usaha produktif.
40 BAB III