• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM

3. Hak dan Kewajiban Konsumen dan Pelaku Usaha

Pembangunan dan perkembangan perekonomian di bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah menghasilkan berbagai variasi barang/jasa yang dapat dikonsumsi. Ditambah dengan perdagangan bebas yang didukung oleh kemajuan teknologi telekomunikasi kiranya memperluas ruang gerak arus transaksi barang dan/jasa.Akibatnya barang dan/jasa yang ditawarkan bervariasi baik produksi luar negeri maupun produksi dalam negeri. Kondisi seperti ini disatu pihak mempunyai manfaat bagi konsumen karena kebutuhan akan barang dan jasa yang diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebar, karena adanya kebebasan untuk memilih aneka jenis dan kualitas barang dan/atau jasa

35 Abdul Hakim Siagian 1, Op.Cit., hlm.9

27

sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen. Tetapi dapat mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang.36

Konsumen berada pada posisi yang lemah, oleh sebab itu untuk melindungi konsumen maka terdapat beberapa hak-hak konsumen yang secara umum dikenal ada 4 (empat) hak dasar konsumen. Hak-hak dasar umum tersebut pertama kali dikemukakan oleh John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat, pada tanggal 15 Maret 1962, melalui pidato kenegaraan di hadapan Kongres Amerika Serikat yang berjudul “Special Message for the Protection of the Consumer Interest”atau yang lebih dikenal dengan istilah “Deklarasi Hak Konsumen”

(Declaration of Consumer Right).37

Selanjutnya, Bob Widyahartono menyebutkan bahwa deklarasi tersebut menghasilkan empat hak dasar konsumen (the four consumer basic rights) yang meliputi hak-hak sebagai berikut38 :

a. Hak untuk Mendapat atau Memperoleh Keamanan (The Right To Be Secured)

Setiap konsumen berhak mendapatkan perlindungan atas barang/jasa yang dikonsumsi. Misalnya, konsumen merasa aman jika produk makanan atau minuman yang dikonsumsinya dirasa aman bagi kesehatannya. Artinya, produk makanan tersebut memenuhi standar kesehatan, gizi, dan sanitasi, serta tidak mengandung bahan yang membahayakan bagi jiwa manusia. Di Amerika Serikat, hak ini merupakan hak tertua yang tidak kontroversial karena didukung oleh masyarakat ekonomi.

b. Hak untuk Memperoleh Informasi (The Right To Be Informed) Setiap konsumen berhak mendapatkan informasi yang jelas dan komprehensif tentang suatu produk barang/jasa yang dibeli atau

dikonsumsi. Akses terhadap informasi sangat penting karena konsumen bisa mengetahui bagaimana kondisi barang/jasa yang akan dibeli atau

36Ahmad Miru dan Sutarman Yodo Op.Cit hlm. 37

37 Dedi Herianto, Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Terhadap Periklanan yang Menyesatkan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 11

38Happy Susanto, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan, (Jakarta: Visimedia, 2008), hlm.

24-25

28

dikonsumsi. Jika suatu saat ada resiko negatif dari barang/jasa yang telah dikonsumsinya, konsumen telah mengetahui hal tersebut sebelumnya.

Artinya, konsumen memiliki hak untuk mengetahui ciri/atribut negatif dari suatu produk, seperti efek samping dari mengonsumsi suatu produk atau adanya peringatan dalam label atau kemasan produk.

c. Hak untuk memilih (The Right To Choose)

Setiap konsumen berhak memilih produk barang/jasa dengan harga yang wajar. Artinya, konsumen tidak boleh dalam kondisi tertekan atau paksaan untuk memilih suatu produk tersebut yang mungkin bisa merugikan hak- haknya. Ia harus dalam keadaan atau kondisi yang bebas dalam

menentukan pilihannya terhadap barang/jasa yang akan ia konsumsi.

d. Hak untuk Didengarkan(Right To Be Heard)

Konsumen harus mendapatkan haknya bahwa kebutuhan dan klaimnya bisa didengarkan, baik oleh pelaku usaha yang bersangkutan maupun oleh lembaga-lembaga perlindungan konsumen yang memperjuangkan hak-hak konsumen.

Empat hak dasar sebagaimana disampaikan oleh Presiden Amerika, John F. Kennedy tersebut memberikan pemikiran baru tentang perlindungan hak-hak konsumen. Empat dasar tersebut sering digunakan dalam merumuskan hak-hak dan perlindungan konsumen.

Berdasarkan Pasal 4 UUPK, ada hak-hak yang dimiliki konsumen.

Sebagai penjabaran hak-hak tersebut dapat diuraikan kembali secara sistematis:

a. Hak konsumen mendapatkan keamanan

Hak atas kenyamanan mengandung pengertian bahwa konsumen berhak mendapatkan produk yang nyaman, nyaman dan yang memberi keselamatan. Oleh karena itu, konsumen harus dilindungi dari segala bahaya yang mengancam kesehatan, jiwa, dan harta bendanya karena memakai atau mengonsumsi produk (misalnya makanan). Dengan demikian, setiap produk, baik dari segi komposisi bahannya, dari segi desain dan konstruksi, maupun dari segi kualitasnya harus

29

diarahkan untuk mempertinggi rasa kenyamanan, keamnana dan keselamatan konsumen.39

b. Hak untuk memilih

Hak untuk memilih, dalam mengkonsumsi suatu produk, konsumen berhak menentukan pilihannya.Ia tidak boleh mendapatkan tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli. Seandainya ia pun jadi membelinya, ia juga berhak menentukan produk mana yang akan dibeli. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan situasi pasar. Jika seorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa, maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk yang lain.40

c. Hak untuk mendapatkan informasi yang benar

Hak untuk mendapatkan informasi yang benar, bahwa setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar.Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak samapi mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat disampaikan dengan berbagai cara seperti lisan kepada konsumen, malalui iklan berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk (barang).41

Hak untuk mendapatkan informasi, menurut Hans W. Micklitz, seorang ahli hukum konsumen dari Jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30 Oktober 1998

39 Janus Sidabalok, Op.Cit, hlm 40

40 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op. Cit, hlm 36

41 Ibid., hlm 34

30

membedakan konsumen berdasarkan hak ini.42 Hans menyatakan sebelum melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan.

Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan 2 (dua) tipe konsumen, yaitu : a. Konsumen yang terinformai (well-informed)

b. Konsumen yang tidak terinformasi

Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama adalah43 : a. Memiliki tingkat pendidikan tertentu

b. Mempunyai sumber daya ekononomi yang cukup, sehingga dpat berperan dalam ekonomi pasar

c. Lancar berkomunikasi

Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki ciri-ciri sebagai berikut44 :

a. Kurang berpendidikan

b. Termasuk kategori kelas menengah ke bawah c. Tidak lancar berkomunikasi

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khusunya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orang asing (yang tidak dapat

42 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Grasindo, 2000), hlm.20

43 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op. Cit, hlm 35

44 Ibid.

31

berkomunikasi dengan bahasa setempat) sebagai jenis konsumen yang wajib dilindungi oleh Negara. Informasi ini harus diberikan secara sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif)45

d. Hak Untuk Didengar

Hak untuk didengar ini merupakan hak dari konsumen agar tidak dirugikan lebih lanjut, atau hak untuk menghindarkan diri dari kerugian. Hak ini dapat berupa pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan produk-produk tertentu b apabila informasi yang diperoleh tentang produk tersebut kurang memadai, ataukah berupa pengaduan atas adanya kerugian yang telah dialami akibat penggunaan suatu produk, atau yang berupa pernyataan/pendapat tentang suatu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan konsumen. Hak ini disampaikan baik secara perorangan, maupun secara kolektif, baik yang disampaikan secara langsung maupun diwakili oleh suatu lembaga tertentu, misalnya YLKI.46

e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Mengingat bahwa produsen berada dalam kedudukan yang kuat, baik secara ekonomis maupun dari segi kekuasaan (bargaining powe, bargaining position) dibanding dengan konsumen, maka konsumen perlu mendapat advokasi, perlindungan, serta upaya penyelesaian sengeketa secara patut atas hak-haknya.

45 Ibid., hlm 35

46 Ahmadi Miru & Sutarman Yudo, Op.Cit. hlm.44

32

Perlindungan itu dibuat dalam suatu peraturan perundang-undangan serta dilaksanakan dengan baik.47

f. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen

Hak untuk mendapatkan pendidikan konsumen, masalah perlindungan konsumen termasuk hal yang baru, oleh karena itu,wajar masih banyak konsumen yang belum menyadari hak-haknya, kesadaran akan hak tidak dapat dipungkiri sejalan dengan kesadaran hukum. Makin tinggi tingkat kesadaran hukum masyarakat, makin tinggi penghormatannya pada hak-hak dirinya dan orang lain.

Upaya pendidikan konsumen tidak selalu harus melalui jenjang pendidkan formal, tetapi dapat melewati media massa dan kegiatan lembaga swadaya masyarakat. 48

g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar, jujur, serta tidak diskriminatif

Dalam memperoleh pelayanan, konsumen berhak juga untuk diperlakukan secara benar dan jujur serta sama dengan konsumen lainnya, tanpa ada pembeda-bedaan berdasarkan ukuran apapun, misalnya suku, agama, budaya, daerah, pendidikan, kaya, miskin, dan status sosial lainnya.49

h. Hak untuk mendapatkan ganti kerugian

Hak untuk mendapatkan ganti kerugian artinya jika konsumen merasakan, kuantiatas atau kualitas barang dan/atau jasa yang dikondumsi tidak sesuai dengan niali tukar yang diberikannya, ia berhak mendapatkan ganti kerugian yang pantas.

47 Janus Sidabolok, Op.Cit., hlm. 42

48 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op. Cit, hlm. 40

49 Janus Sidabalok, Op.Cit., hlm. 42

33

Jenis dan jumlah ganti kerugian itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak.

Untuk mengindari dari kewajiban memberikan ganti kerugian, sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausul-kalusul eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. Klausul seperti

“barang yang diblei tidak dapat dikembalikan” merupakan hal yang lazim ditemukan pda took-toko. Pencantuman secara sepihak demikian tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapat ganti kerugian.50

i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Konsumen berhak mendapatkan hak-hak lainnya sesuai dengan kedudukannya sebagai konsumen berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan ini membuka kemungkinan berkembangnya pemikiran tentang hak-hak baru dari konsumen di masa yang akan dating, sesuai dengan perkembangan zaman.

Adapun hak-hak lain yang diatur di luar UUPK adalah :

a. Hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat

Hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di dunia.

Dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup, hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini dinyatakan

50 Celine Tri Siwi Kristiyanti, Op.Cit., hlm 37

34

secara tegas. Desakan pemenuhan konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat semakin mengemuka akhir-akhir ini.Misalnya munculnya gerakan konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan.51

b. Hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang

Hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. Persaingan curang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha berhasil menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasarkan dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan iktikad baik dan kejujuran dalam pergaulan perekonomian. Hak konsumen untuk terhindar dari akibat negatif persaingan curang dengan dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan, khusunya oleh pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen.52

Dari beberapa uraian mengenai hak-hak yang dimiliki oleh konsumen, terlihat bahwa hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen merupakan hal yang paling penting dan paling utama dalam perlindungan konsumen. Barang dan/atau jasa yang penggunaannya tidak memberikan kenyamanan terlebih lagi yang tidak aman atau membahayakan keselamatan

51 Ibid., hlm. 39

52 Ibid.

35

konsumen jelas tidak layak untuk diedarkan dalam masyarakat.53 Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen ini juga berkaitan dengan hak untuk mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau produk yang dijual oleh pelaku usaha. Informasi yang benar, jujur dan jelas dapat menjamin bahwa suatu barang/produk dalam penggunaannya akan memberikan keamanan dan tidak membahayakan konsumen penggunanya.

Untuk itu, sangatlah penting bagi konsumen untuk memperhatikan hak-haknya, apabila hak-haknya dilanggar, maka konsumen tidak hanya diam tapi dpaat memperjuangkan hak-haknya tersebut.

Selain terdapat pengaturan mengenai hak-hak konsumen, juga terdapat pengaturan mengenai kewajiban konsumen.

Adapun kewajiban konsumen sebagaimana diatur dalam Pasal 5 UUPK, adalah:

a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa demi keamanan dan keselamatan;

b. Beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian disepakati;

c. Membayar sesuai dengan niali tukar yang disepakati;

d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut;

Adanya kewajiban konsumen membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa demi keamanan dan keselamatan, merupakan hal penting mendapatkan pengaturan.Adapun pentingnya kewajiban ini karena sering pelaku usaha telah menyampaikan

53 Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm 30

36

peringatan secara jelas pada label suatu produk, namun konsumen tidak membaca peringatan yang telah disampaikan kepadanya. Dengan pengaturan kewajiban ini, memberikan konsekuensi pelaku usaha tidak bertanggung jawab, jika konsumen yang menderita kerugian akibat mengabaikan kewajiban tersebut.54

Menyangkut kewajiban konsumen beritikad baik hanya tertuju pada transaksi pembelian barang dan/atau jasa.Hal ini tentu saja disebabkan karena bagi konsumen, kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen.Berbeda dengan pelaku usaha kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimuai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen. (pelaku usaha)

Kewajiban konsumen membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati dengan pelaku usaha adalah hal yang sudah biasa dan sudah semestinya disepakati. Kewajiban lain yang perlu mendapat penjelasan lebih lanjut adalah kewajiban konsumen mengikuti upaya penyelesaian konsumen secara patut.

Kewajiban ini dianggap sebagai hal baru, sebab sebelum diundangkannya UUPK tidak dirasakan adanya kewajiban secara khusus seperti ini dalam perkara perdata, sementara dalam kasus pidana tersangka/terdakwa lebih banyak dikendalikan oleh aparat kepolisian dan/atau kejaksaan.

Adapun kewajiban seperti ini diatur dalam UUPK dianggap tepat, sebab kewajiban ini adalah untuk menyeimbangi hak konsumen untuk mendapatkan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Hak ini akan menjadi lebih mudah diperoleh jika konsumen mengikuti upaya penyelesaian

54Ahmadi Miru dan Sutarman Yudo, Op.Cit,hlm. 47

37

sengketa secara patut. Hanya saja kewajiban konsumen ini, tidak cukup untuk maksud tersebut jika tidak diikuti oleh kewajiban yang sama dari pihak pelaku usaha.55

Adapun kewajiban pelaku usaha menurut Pasal 7 UUPK , yaitu : a. Beriktikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

b. Memberikan informasi yang benar, jelasm dan jujur mengenai diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/

atau jasa yang berlaku;

e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau diperdagangkan;

f. Memberi kompensasi, gantu rugi, dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima dan/atau dimanfaatkan konsumen tidak sesuai dengan perjanjian.

g. Memberikan kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Dalam UUPK, pelaku usaha diwajibkan beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya, sedangkan bagi konsumen diwajibkan beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. Dalam UUPK tampak bahwa itikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha, karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya, sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beritikad baik dimulai sejak barang dirancang atau diproduksi sampai pada tahap penjualan, sebaliknya konsumen hanya diwajibkan melakukan itikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kerugian bagi

55Ibid., hlm. 47-50

38

konsumen dimulai sejak barang dirancang atau diproduksi oleh produsen atau pelaku usaha, sedangkan bagi konsumen, kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen.56

Tentang kewajiban kedua pelaku usaha, yaitu memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan, disebabkan karena informasi disamping merupakan hak dari konsumen juga karena tidak adanya informasi atau informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi) yang akan merugikan konsumen.57

Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen mengenai suatu produk, agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi, peringatan maupun yang berupa instruksi.58

Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk, karena salah satu penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah misrepresentasi terhadap produk tertentu. Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam kaitannya dengan mispresentasi banyak disebabkan karena tergiur oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu, sedangkan iklan atau brosur tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk yang dipromosikan, sebaliknya kelemahan produk tersebuut ditutupi.59

56Ibid., hlm.54

57Ibid., hlm. 54-55

58 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op.Cit., hlm 44

59 Ahmadi Miru dan Sutarman Yudo, Op.Cit., hlm 55

39

Pelaku usaha wajib mencantumkan informasi yang berupa penjelasan, petunjuk atas suatu produk, agar produk tersebut tidak dianggap cacat dan agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai produk tersebut. Sebaliknya, konsumen juga wajib membaca dan mengikuti petunjuk informasi dan penjelasan atas suatu produk agar konsumen dapat memakai atau memanfaatkannya secara baik dan benar demi keamanan konsumen.

Dalam menjalankan usaha, Undang-Undang memberikan sejumlah hak dan membebankan sejumlah kewajiban dan larangan kepada pelaku usaha (produsen).

Pengaturan tentang hak, kewajiban, dan larangan itu dimaksudkan untuk menciptakan hubungan yang sehat antara produsen dan konsumennya, sekaligus menciptakan iklim berusaha yang kondusif bagi perkembangan usaha dan perekonomian pada umumnya.60

Adapun hak pelaku usaha menurut Pasal 6 UUPK, adalah:

a. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

b. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsuemn yang beritikad tidak baik;

c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam menyelesaikan sengketa konsumen;

d. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hak pelaku usaha untuk menerima pembayaran sesuai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan, menunjukkan bahwa pelaku

60 Janus Sidabalok, Op.Cit., hlm 83

40

usaha tidak dapat menuntut lebih banyak jika kondisi barang dan/atau jasa yang diberikan kepada konsumen tidak atau kurang memadai menurut harga yang berlaku pada umumnya atas barang dan/atau jasa yang serupa, maka para pihak menyepakati harga yang lebih murah.Dengan demikian yang dipentingkan dalam hal ini adalah harga yang wajar.61

Sedangkan hak pelaku usaha huruf b sampai dengan d, sebenarnya merupakan hak-hak yang lebih banyak berhubungan dengan pihak aparat pemerintah dan/atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen/Pengadilan dalam tugasnya melakukan penyelesaian sengketa. Yang berhubungan dengan kewajiban konsumen adalah mengikuti upaya penyelesaian segketa secara patut.62

Terakhir tentang hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya, seperti hak-hak yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang larangan Prakter Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Undang-Undang Pangan dan undang-undang lainnya.63

Dokumen terkait