• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM

2. Pengertian Pelaku Usaha dan Konsumen

Dalam membicarakan hukum perlindungan konsumen, tidak terlepas dari istilah pelaku usaha. Pelaku usaha atau produsen sering diartikan sebagai

“pengusaha yang menghasilkan barang dan jasa. Dalam pengertian ini termasuk di dalamnya pembuat, grosir, laveransir, dan pengecer professional.”24 Yaitu setiap orang/badan yang ikut serta dalam penyediaan barang dan jasa hingga sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian pelaku usaha/produsen tidak hanya diartikan sebagai pihak pembuat/pabrik yang menghasilkan produk saja, tetapi juga mereka yang terkait dengan penyampaian/peredaran produk hingga sampai ke tangan konsumen.

Dalam hubungan dengan produk makanan hasil industri (pangan olahan), maka produsennya adalah setiap orang yang terkait dalam proses pengadaan makanan hasil industri (pangan olahan) itu hingga sampai ke tangan konsumen.

Pelaku usaha/produsen itu adalah : Pabrik (pembuat), distributor, eksportir atau importir, pengecer, baik yang berbentuk badan hukum maupun yang tidak berbentuk badan hukum.25

Dalam Pasal 1 angka 3 UUPK, pelaku usaha diartikan sebagai berikut:

“Pelaku usaha adalah setiap orang perorang atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.”

24 Ibid., hlm 16

25Ibid.

22

Pada Bab penjelasan tentang Pasal 1 angka 3 UUPK ini dijelaskan bahwa pelaku usaha dalam pengertian ini adalah perusahaan, korporasi, BUMN, koperasi, importir, pedagang, distributor dan lain - lain.26 Pengertian pelaku usaha dalam pasal ini cukup luas karena meliputi grosir, leveransir, pengecer, dan sebagainya. Cakupan luasnya pengertian pelaku usaha menurut UUPK tersebut memiliki persamaan pengertian pelaku usaha dalam Masyarakat Eropa terutama Negara Belanda, bahwa yang dapat dikualifikasi sebagai produsen adalah :

“Pembuat produk jadi (finished product); penghasil bahan baku; pembuat suku cadang; setiap orang yang menampakkan dirinya sebagai produsen, dengan jalan mencantumkan namanya, tanda pengenal tertentu, atau tanda lain yang membedakan dengan produk asli, pada produk tertentu importir suatu produk dengan maksud untuk diperjualbelikan, disewakan, disewagunakan (leasing) atau bentuk distribusi lain dalam transaksi perdagangan, pemasok (supplier), dalam hal identitas dari produsen atau importir tidak dapat ditentukan”.27

Dalam pengertian pelaku usaha tersebut, tidaklah mencakup eksportir atau pelaku usaha di luar negeri, karena UUPK membatasi orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia28

Pengertian pelaku usaha yang bermakna luas tersebut akan memudahkan konsumen untuk menuntut ganti kerugian. Konsumen yang dirugikan akibat penggunaan produk tidak akan begitu kesulitan dalam menemukan kepada siapa tuntutan dapat diajukan, karena banyak pihak yang dapat digugat, namun akan

26Ahmad Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007), hlm 8.

27 Ibid.

28 Ibid., hlm.9

23

lebih baik apabila UUPK memberikan rincian sebagaimana dalam Directive, sehingga konsumen dapat lebih mudah lagi untuk menentukan kepada siapa ia akan mengajukan tuntutan jika dirugikan akibat penggunaan produk29.

Dalam Pasal 3 Directive ditentukan bahwa30 :

a. produsen berarti pembuat produk akhir, produsen dari setiap bahan mentah, atau pembuat dari suatu suku cadang, dan setiap orang yang memasang nama, mereknya, atau suatu tanda pembedaan yang lain pada produk, menjadikan dirinya sebagai produsen;

b. tanpa mengurangi tanggung gugat produsen, maka setiap orang yang mengimpor suatu produk untuk dijual, dipersewakan, atau untuk leasing, atau setiap bentuk pengedaran dalam usaha perdagangannya dalam Masyarakat Eropa, akan dipandang sebagai produsen dalam arti Directive ini, dan akan bertanggung gugat sebagai produsen;

c. dalam hal produsen suatu produk tidak dikenal identitasnya, maka setiap leveransir/supplier akan bertanggung gugat sebagai produsen, kecuali ia memberitahukan orang yang menderita kerugian dalam waktu yang tidak terlalu lama mengenai identitas produsen atau orang yang menyerahkan produk itu kepadanya. Hal yang sama akan berlaku pada kasus barang/produk yang diimpor, jika produk yang bersangkutan tidak menunjukkan identitas importir sebagaimana yang dimaksud dalam Ayat 2, sekalipun nama produsen dicantumkan.

Pelaku usaha yang meliputi berbagai bentuk/jenis usaha sebagaimana yang dimaksud dalam UUPK, sebaiknya ditentukan urutan-urutan yang seharusnya digugat oleh konsumen apabila dirugikan oleh pelaku usaha. Urutan-urutan tersebut sebaiknya disusun sebagai berikut31:

a. Yang pertama digugat adalah pelaku usaha yang membuat produk tersebut jika berdomisili di dalam negeri dan domisilinya diketahui oleh konsumen yang dirugikan.

b. Apabila produk yang merugikan konsumen tersebut diproduksi di luar negeri, maka yang digugat adalah importirnya, karena UUPK tidak mencakup pelaku usaha di luar negeri.

c. Apabila produsen maupun importir dari suatu produk tidak diketahui, maka yang digugat adalah penjual dari siapa konsumen membeli barang tersebut.

29Ibid.

30Ibid.

31Ibid, hlm.10

24

Urutan-urutan di atas tentu saja hanya diberlakukan jika suatu produk mengalami cacat pada saat diproduksi, karena ada kemungkinan barang mengalami cacat pada saat sudah berada di luar kontrol atau di luar kesalahan pelaku usaha yang memproduksi produk tersebut.

Selain produsen di dalam membicarakan hukum perlindungan konsumen juga berkaitan dengan konsumen. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (Inggris-Amerika, atau consument/konsument (Belanda). Secara harfiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang.32

Pengertian konsumen secara yuridis formal ditemukan dalam Pasal 1 angka 2 UUPK yaitu : “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”

Selanjutnya dalam Bab Penjelasan Pasal 1 angka 2 UUPK dinyatakan bahwa :

Di dalam kepustakaan ekonomi dikenal konsumen akhir dan konsumen antara.

konsumen akhir adalah penggunaan atau pemanfaatan akhir dari suatu produk, sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk sebagian dari proses produksi suatu produk lainnya. Maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsumen dalam UUPK adalah konsumen akhir.

Pengertian konsumen dalam Pasal 1 angka 2 UUPK mengandung unsur-unsur sebagai berikut :33

a. Konsumen adalah setiap orang

32 Celine Tri Siwi Kristiyanti, Op.Cit., hlm.22

33 A. Hakim Siagian, Pertanggungjawaban Pelaku Usaha Terhadap Konsumen dalamPerjanjian Baku, (Medan : Jabal Rahmat 2012) hlm.12 (Selanjutnya disebut sebagai Abdul Hakim Siagian 2)

25

Maksudnya adalah orang perorang dan termasuk juga badan usaha (badan hukum atau non badan hukum).

b. Konsumen sebagai pemakai

Pasal 1 angka 2 UUPK hendak menegaskan bahwa UUPK menggunakan kata “pemakai” untuk pengertian konsumen sebagai konsumen akhir (end user). Hal ini disebabkan karena pengertian pemakai lebih luas, yaitu semua orang mengkonsumsi barang dan/ atau jasa untuk diri sendiri.

c. Barang dan/jasa

Barang yaitu segala macam benda (berdasarkan sifatnya untuk diperdagangkan) dan dipergunakan oleh konsumen. Jasa yaitu layanan berupa pekerjaan atau prestasi yang tersedia untuk digunakan oleh konsumen.

d. Barang dan/jasa tersebut tersedia dalam masyarakat. Barang dan/jasa yang akan diperdagangkan telah tersedia di pasaran, sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan untuk mengkonsumsinya.

e. Barang dan/jasa digunakan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain atau makluk hidup lain. Dalam hal ini tampak adanya teori kepentingan pribadi terhadap pemakaian suatu barang dan/jasa.

f. Barang dan/jasa tidak untuk diperdagangkan

Pengertian konsumen dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen dipertegas, yaitu hanya konsumen akhir, sehingga maksud dari pengertian ini adalah konsumen tidak memperdagangkan barang dan/jasa yang telah diperolehnya namun untuk dikonsumsi sendiri.

Selain itu, Az Nasution juga mengklarifikasian pengertian konsumen menjadi tiga bagian:34

a. Konsumen dalam arti umum, yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat dan/atau jasa untuk tujuan tertentu.

b. Konsumen antara yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat dan/atau jasa untuk diproduksi menjadi barang dan/jasa lain untuk memperdagangkannya (distributor) dengan tujuan konmersial. Konsumen antara lain sama dengan pelaku usaha.

c. Konsumen akhir yaitu pemakai pengguna dan/atau pemanfaat dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri, keluarga atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan kembali. Konsumen akhir inilah yang dengan jelas diatur perlindungannya dalam UUPK.

Bukan hanya di Indonesia, pengertian konsumen pada intinya mengandung makna yang sama seperti di Perancis, berdasarkan doktrin dan yurisprudensi yang berkembang, konsumen diartikan sebagai “the person who

34Ibid.

26

obtains goods service for personal or family purposes.” Definisi itu terkandung dua unsur :

a. Konsumen hanya orang dan,

b. barang atau jasa yang digunakan untuk keperluan pribadi atau keluarga.

Di Amerika Serikat dan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa), kata

“konsumen” yang berasal dari Consumer sebenarnya berarti bukan “pemakai”.

Namun, di Amerika Serikat kata ini dapat diartikan lebih luas lagi sebagai “korban pemakaian produk yang cacat”, baik korban tersebut pembeli atau bukan pembeli tetapi pemakai, bahkan juga bukan pemakai karena perlindungan hukum dapat dinikmati pula bahkan oleh korban yang bukan pemakai. 35

Dokumen terkait