Bab 4 Subjek HAN
B. Hak dan Kewajiban Pejabat Pemerintahan
Ps 6 UU No. 30/2015 ttg Administrasi Pemerintahan, menyatakan: ayat (1). Pejabat pemerintahan memiliki hak utk menggunakan kewenangan dlm mengambil keputusan dan/atau tindakan; Sedangkan ayat (2) menyatakan bahwa Hak sbgmn dimaksud pd ayat (1) meliputi:
Hak Pejabat Pemerintahan:
a. Melaksanakan kewenangan yg dimiliki berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangn dan AUPB;
b. Menyelenggarakan aktivitas pemerintahan berdasarkan kewenangan yg dimiliki;
c. Menetapkan Keputusan berbentuk tertulis atau elektronis dan/atau menetapkan tindakan.
d. d. Menerbitkan atau tidak menerbitkan, mengubah, mengganti, mencabut, menunda, dan/atau membatalkan Keputusan dan/atau Tindakan;
e. e. Menggunakan Diskresi sesuai dengan tujuannya;
f. f. Mendelegasikan dan memberikan Mandat kpd Pejabat Pem lainnya sesuai dg ketentuan perat per-UU-an;
g. g. Menunjuk pelaksana harian atau pelaksana tugas utk melaksanakan tugas apbl pejabat defnitif berhalangan;
h. h. Menerbitkan izin, Dispensasi, dan/atau Konsesi sesuai dg ketentuan perat per-UU-an;
i. i. Memperoleh perlindungan hukum dan jaminan keamanan dlm menjalankan tugasnya;
j. j. Memperoleh bantuan hukum dalam pelaksanaan tugasnya;
k. k. Menyelesaikan sengketa kewenangan di lingkungan atau wilayah kewenangannya;
l. l. Menyelesaikan upaya administratif yg diajukan masyarakat atas Keputusan dan/atau Tindakan yg dibuatnya; dan
m. m. Menjatuhkan sanksi administrasi kepada bawahan yg melakukan pelanggaran sbgmn diatur dlm UU ini.
Hak-hak Pejabat Pemerintah yang lain:
1. Pejabat pemerintah berhak utk meminta persyaratan yg sesuai dg peraturan per-UU-an;
2. Pejabata pemerintah berhak meminta kelengkapan persyaratan yg ditentukan peraturan per-UU-an;
3. Pejabat pemerintah berhak memperoleh sebagian Penerimaan Negara Bukan Pajak sesuai dg peraturan per-UU-an.
Kewajiban Pejabat Pemerintahan:
Ps 7 UU No. 30/2015 ttg Administrasi Pemerintahan, ayat (1) menyatakan: “Pejabat Pemerintahan berkewajiban utk menyelenggarakan Administrasi Pemerintahan sesuai dg ketentuan peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan, dan AUPB;
Ayat (2) menyatakan Pejabat Pemerintahan memiliki kewajiban:
a. Membuat keputusan dan/atau tindakan sesuai dg kewenangannya; b. Mematuhi AUPB dan sesuai dg ketentuan perundang-undangan;
c. Mematuhi prosedur pembuatan persyaratan dan/atau keputusan tindakan;
d. Mematuhi UU ini dlm menggunakan Diskresi.
e. e. Memberi bantuan kedinasan kpd Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yg meminta bantuan utk melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan ttt;
f. f. Memberi kesempatan kpd warga masyarakat utk didengar pendapatnya sebelum membuat keputusan dan/atau tindakan sesuai dg ketentuan peraturan per-UU-an.
g. g. Memberikan kepada warga masyarakat yg berkaitan dg keputusan dan/atau tindakan yg menimbulkan kerugian paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak keputusan dan/atau tindakan ditetapkan dan/ atau dilakukan;
h. h. Menyusun standar operasional prosedur pembuatan keputusan dan/ atau tindakan.
i. i. Memeriksa dan meneliti dokumen administrasi pemerintahan, serta membuka akses dokumen administrasi pemerintahan kpd warga masyarakat, kecuali ditentukan lain oleh UU;
j. j. Menerbitkan keputusan thd permohonan warga masyarakat sesuai dg hal-hal yg diputuskan dlm keberatan/banding.
Bab 7
Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) Asas-asas Umum Pemerintahan yang Layak
Freies Ermessen dapat memunculkan peluang terjadinya benturan
kepentingan antara pemerintah dengan rakyat baik dalam bentuk
onrechtmatig overgeidsdaad (tindakan pemerintah yang bertentangan
dengan hukum), detournement de pouvoir (penyalahgunaan wewenang), maupun dalam bentuk willekeur/abus de droit (sewenang-wenang), yang merupakan bentuk penyimpangan tindakan pemerintahan yang mengakibatkan terampasnya hak-hak asasi warga Negara. Guna menghindari atau meminimalisir benturan tersebut, pada tahun 1946 pemerintah Belanda membentuk komisi yang dipimpin oleh de Monchy yang bertugas memikirkan dan meneliti beberapa alternative tentang
Verhoogde Rechtsbescherming atau peningkatan perlindungan hukum
bagi rakyat dari tindakan administrasi Negara yang minyimpang. Pada tahun 1950 komisi de Monchy kemudian melaporkan hasil penelitiannya tentang Verhoogde Rechtsbescherming dalam bentuk “algemene
beginselen van behoorlijk bestuur” (abbb) atau asas-asas umum
pemerintahan yang layak (AAUPL). Hasil penelitian komisi ini tidak seluruhnya disetujui yang berujung dibubarkannya komisi ini. Lalu dibentuk komisi van de Greenten, komisi ini juga mengalami nasib yang sama. Pemerintah Belanda tidak sepenuh hati mewujudkan peningkatan perlindungan hukum bagi rakyat dari tindakan administrasi Negara.
Meskipun demikian, ternyata hasil penelitian de Monchy kini digunakan dalam pertimbangan putusan-putusan Raad van State dalam perkara admiministrasi. Meskipun AAUPL tidak dengan mudah memasuki wilayah birokrasi untuk dijadikan sebagai norma bagi tindakan pemerintahan, tetapi tidak demikian halnya dalam wilayah peradilan. Bahkan sekarang AAUPL telah diterima dan dimuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Nederland.
AAUPL berkembang menjadi wacana yang dijadikan kajian pada sarjana dan ini menunjukkan bahwa AAUPL merupakan konsep terbuka (open begrip). Sebagai konsep terbuka, ia akan berkembang dan disesuaikan dengan ruang dan waktu dimana konsep itu berada. Atas dasar ini tidaklah
mengherankan jika secara kontemplatif maupun aplikatif AAUPL ini berbeda-beda antara satu Negara dengan Negara lainnya atau antara sarjana satu dengan lainnya.
Berdasarkan penelitiannya, Jazim Hamidi menemukan pengertian AAUPL sebagai berikut:
a. AAUPL merupakan nilai-nilai etik yang hidup dan berkembang dalam lingkungan hukum administrasi Negara;
b. AAUPL berfungsi sebagai pegangan bagi pejabat administrasi Negara dalam menjalankan fungsinya, merupakan alat uji bagi hakim administrasi dalam menilai tindakan administrasi Negara (yang berwujud penetapan/beschikking), dan sebagai dasar pengajuan gugatan bagi pihak penggungat;
c. Sebagian besar dari AAUPL masih merupakan asas-asas yang tidak tertulis, masih abstrak, dan dapat digali dalam praktek kehidupan di masyarakat;
d. Sebagian asas yang lain sudah menjadi kaidah hukum tertulis dan terpencar dalam berbagai peraturan hukum positif. Meskipun sebagian dari asas itu berubah menjadi kaidah hukum tertulis, namun sifatnya tetap sebagai asas hukum.50
Kedudukan AAUPL dalam Sistem Hukum
Menurut Philipus M. Hadjon, AAUPL harus dipandang sebagai norma-norma hukum tidak tertulis, yang senantiasa harus ditaati oleh pemerintah, meskipun arti yang tepat dari AAUPL bagi tiap keadaan tersendiri tidak selalu dapat dijabarkan dengan teliti. Dapat pula dikatakan, bahwa AAUPL adalah asas-asas hukum tidak tertulis, dari mana untuk keadaan-keadaan tertentu dapat ditarik aturan-aturan hukum yang dapat diterapkan.51 Sebenarnya menyamakan AAUPL dengan norma hukum tidak tertulis dapat menimbulkan salah paham, sebab antara “asas” dengan “norma” terdapat perbedaan. Asas merupakan dasar pemikiran yang umum dan abstrak, ide atau konsep, dan tidak mempunyai sanksi, sedangkan norma adalah aturan yang konkret, penjabaran dari ide, dan mempunyai sanksi.52 Pada
50 Jazim Hamidi, Penerapan Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Layak
(AAUPL) di Lingkungan Peradilan Administrasi Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999,
hlm. 24.
51 Philipun M. Hadjon, et.al., op. cit., hlm. 270.
52 Ateng Syafrudin, Asas-asas Pemerintahan yang Layak Pegangan bagi Pengabdian Kepala
kenyataannya, AAUPL ini meskipun merupakan asas namun tidak semuanya merupakan pemikiran yang umum dan abstrak, dan dalam beberapa hal muncul sebagai aturan hukum yang konkret atau tertuang secara tersurat dalam pasal undang-undang, serta mempunyai sanksi tertentu. Berkenaan dengan hal ini, SF. Marbun mengatakan bahwa norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat umumnya diartikan sebagai peraturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang mengatur bagaimana manusia seyogyanya berbuat. Karena itu pengertian norma (kaedah hukum) dalam arti sempit mencakup asas-asas hukum dan peraturan hukum konkret, sedangkan dalam arti luas pengertian norma ialah suatu sistem hukum yang berhubungan satu sama lainnya.53Lebih lanjut disebutkan bahwa asas hukum merupakan sebagian dari kejiwaan manusia yang merupakan cita-cita yang hendak diraihnya. Dengan demikian, apabila asas-asas umum pemerintahan yang layak dimaknakan sebagai asas atau sendi hukum, maka asas-asas umum pemerintahan yang layak dapat dimaknakan sebagai asas hukum yang bahannya digali dan ditemukan dari unsur susila, didasarkan pada moral sebagai hukum riil, bertalian erat dengan etika, kesopanan, dan kepatutan berdasarkan norma yang berlaku.54Berdasarkan keterangan ini tampak, sebagaimana juga disebutkan Jazim Hamidi,55bahwa sebagian AAUPL masih merupakan asas hukum, dan sebagian lainnya telah menjadi norma hukum atau kaidah hukum.
Fungsi dan Arti Penting AAUPL
Pada awal kemunculannya, AAUPL hanya dimaksudkan sebagai sarana perlindungan hukum (rechtsbescherming) warga Negara dari tindakan pemerintah yaitu sebagai dasar penilaian dalam peradilan dan upaya administrasi, disamping sebagai norma hukum tidak tertulis bagi tindakan pemerintah. Dalam perkembangannya, AAUPL memiliki arti penting dan fungsi sebagai berikut:
1. Bagi Administrasi Negara, bermanfaat sebagai pedoman dalam melakukan penafsiran dan penerapan terhadap ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang bersifat sumir, samara atau tidak jelas. Kecuali itu sekaligus membatasi dan menghindari kemungkinan administrasi Negara mempergunakan freis ermessen/melakukan kebijaksanaan yang jauh menyimpang dari ketentuan
perundang-53 SF. Marbun, pembentukan, Pemberlakuan, dan Peranan Asas-asas Umum Pemerintahan
yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Bak dan Bersih di Indonesia. Disertasi,
Universitas Padjadjaran, Bandung, 2001, hlm. 72
54Ibid., hlm. 73
undangan. Dengan demikian administrasi Negara diharapkan terhindar dari perbuatan onrechmatigedaad, detournement de pouvoir, abus de
droit, dan ultra vires (beyond the power-latin).
2. Bagi warga masyarakat, sebagai pencari keadilan, AAUPL dapat dipergunakan sebagai dasar gugatan sebagaimana disebutkan dalam pasal 53 UU No. 5/1986;
3. Bagi Hakim TUN, dapat dipergunakan sebagai alat menguji dan membatalkan keputusan yang dikeluarkan Badan atau Pejabat TUN; 4. Kecuali itu, AAUPL tersebut juga berguna bagi badan legislative dalam
merancang suatu undang-undang.56
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Layak di Indonesia
Seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan politik di Indonesia, beberapa asas muncul dan dimuat dalam suatu UU yaitu UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Dengan format yang berbeda dengan AAUPL dari negeri Belanda, dalam Pasal 3 UU No. 28 Tahun 1999 disebutkan beberapa asas umum penyelenggaraan Negara yaitu:
1. Asas Kepastian Hukum: asas dalam Negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan negara;
2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara: asas yang menjadi landasan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggara negara;
3. Asas Kepentingan Umum: asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif;
4. Asas Keterbukaan: asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan Negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia Negara; 5. Asas Proporsionalitas: asas yang mengutamakan keseimbangan
antara hak dan kewajiban penyelenggara negara;
56 SF. Marbun, Menggali dan Menemukan Asas-asas Umum pemerintahan yang Baik di
Indonesia, tulisan pada Dimensi-dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara, UII Press,
Yogyakarta, 2001, hlm. 210-211. Di dalam disertasinya, SF. Marbun menguraikan secara panjang lebar mengenai catur fungsi dari AAUPL ini, lihat halaman 122-149
6. Asas Profesionalitas: asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
7. Asas Akuntabilitas: asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Asas-asas yang tercantum dalam UU No. 28/1999 tsb ditujukan utk para penyelenggara Negara secara keseluruhan, sementara AAUPL pada dasarnya hanya ditujukan pada pemerintah dalam arti sempit.
AAUPL yang dirumuskan oleh penulis Indonesia, khususnya Koentjoro
Purbopranoto dan SF. Marbun adalah sbb:
1. Asas kepastian hukum (principle of legal security); 2. Asas keseimbangan (principle of proportionality);
3. Asas kesamaan dalam mengambil keputusan (principle of equality); 4. Asas bertindak cermat (principle of carefulness);
5. Asas motivasi untuk setiap keputusan (principle of motivation);
6. Asas tidak mencampuradukkan kewenangan (principle of non-misuse of competence);
7. Asas permainan yang layak (principle of fair play);
8. Asas keadilan dan kewajaran (principle of reasonable or prohibition of arbitrariness);
9. Asas kepercayaan dan menanggapi pengharapan yang wajar (principle of meeting raised expectation);
10. Asas meniadakan akibat suatu keputusan yang batal (principle of un-doing the concequences of an annulled decision);
11. Asas perlindungan atas pandangan atau cara hidup pribadi (principle of protecting the personal way of life);
12. Asas kebijaksanaan (sapientia);
13. Asas penyelenggaraan kepentingan umum (principle of public service).
Penjelasan masing-masing asas-asas umum pemerintahan yang layak, adalah sebagai berikut:57
1/ Asas kepastian hukum.
Asas ini memiliki dua aspek, yang satu lebih bersifat hukum material, yang lain bersifat formal. Aspek hukum material terkait erat dengan asas kepercayaan. Dalam banyak keadaan asas kepastian hukum menghalangi badan pemerintahan untuk menarik kembali suatu keputusan atau mengubahnya untuk kerugian yang berkepentingan. Dengan kata lain, asas ini menghendaki dihormatinya hak yang telah diperoleh seseorang berdasarkan suatu keputusan pemerintah, meskipun keputusan itu salah. Jadi demi kepastian hukum , setiap keputusan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah tidak untuk dicabut kembali. Adapun aspek yang bersifat formal dari asas kepastian hukum membawa serta bahwa ketetapan yang memberatkan dan ketentuan yang terkait pada ketetapan-ketetapan yang menguntungkan, harus disusun dengan kata-kata yang jelas. Asas kepastian hukum memberikan hak kepada yang berkepentingan untuk mengetahui dengan tepat apa yang dikehendaki daripadanya, contoh: Surat Kuasa, Surat perintah. Asas ini berkaitan dengan dengan prinsip dalam hukum administrasi Negara yaitu asas het
vermoeden van rechmatigheid atau presumtio justea causa (praduga
rechtmatig), yang berarti setiap keputusan badan atau pejabat tata usaha Negara yang dikeluarkan dianggap benar menurut hukum, selama belum dibuktikan sebaliknya atau dinyatakan sebagai keputusan yang bertentangan dengan hukum oleh hakim administrasi.
2/ Asas Keseimbangan.
Asas ini menghendaki adanya keseimbangan antara hukuman jabatan dan kelalaian atau kealpaan seorang pegawai. Asas ini menghendaki pula adanya kriteria yang jelas mengenai jenis-jenis atau kualifkasi pelanggaran atau kealpaan yang dilakukan seseorang sehingga memudahkan penerapannya dalam setiap kasus yang ada dan seiring dengan persamaan perlakuan serta sejalan dengan kepastian hukum. Artinya terhadap pelanggaran atau kealpaan serupa yang dilakukan orang yang berbeda akan dikenakan sanksi yang sama, sesuai dengan kriteria yang ada, contoh: Ps. 6 PP No. 30/1980 ttg. Peraturan Disiplin
Pegawai, ditentukan adanya: a. Hukuman disiplin ringan, b. Hukuman disiplin sedang, 3. Hukuman disiplin berat.
3/ Asas Kesamaan dalam Mengambil Keputusan.
Asas ini menghendaki agar badan pemerintahan mengambil tindakan yang sama (dlm arti tidak bertentangan) atas kasus-kasus yang faktanya sama.
4/ Asas Bertindak Cermat atau Asas Kecermatan.
Asas ini menghendaki agar pemerintah bertindak cermat dalam melakukan berbagai aktivitas, sehingga tidak menimbulkan kerugian warga Negara.
5/ Asas Motivasi untuk Setiap Keputusan.
Asas ini menghendaki agar setiap keputusan badan-badan pemerintahan harus mempunyai motivasi atau alasan yang cukup sebagai dasar keputusan tersebut. Motivasi atau alasan ini harus benar dan jelas, sehingga pihak administrable memperoleh pengertian yang cukup atas keputusan yang ditujukan kepadanya.
6/ Asas tidak Mencampuradukkan Kewenangan.
Setiap pejabat pemerintah memiliki wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku atau berdasarkan pada asas legalitas. Dengan wewenang yang diberikan itulah pemerintah melakukan tindakan-tindakan hukum dalam rangka melayani atau mengatur warga Negara. Kewenangan pemerintah secara umum mencakup tiga hal; kewenangan dari segi materiil (bevoegheid ratione
materiale), kewenangan dari segi wilayah (bevoegheid ratione loci), dan
kewenangan dari segi waktu (bevoegheid ratione temporis). Seorang pejabat pemerintahan memiliki wewenang yang sudah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan baik dari segi materi, wilayah, maupun waktu. Aspek-aspek wewenang ini tidak dapat dijalankan melebihi apa yang sudah ditentukan oleh peraturan yang berlaku. Artinya asas tidak mencampuradukkan kewenangan ini menghendaki agar pejabat pemerintahan tidak menggunakan wewenangnya untuk tujuan lain selain yang telah ditentukan dalam peraturan yang berlaku atau menggunakan wewenang yang melampaui batas.
7/ Asas Permainan yang Layak (fair play).
Asas ini menghendaki agar warga Negara diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mencari kebenaran dan keadilan serta diberi kesempatan untuk membela diri dengan memberikan argumentasi-argumentasi sebelum dijatuhkannya putusan administrasi. Asas ini juga menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan dalam proses penyelesaian sengketa. Adanya instansi banding akan memungkinkan terealisasinya asas ini, karena warga Negara yang tidak puas terhadap putusan pengadilan tingkat pertama masih diberi kemungkinan untuk mencari kebenaran dan keadilan, baik melalui instansi pemerintah yang lebih tinggi atau instansi lain dari yang mengeluarkan keputusan administrasi (melalui system administratief beroep) maupun melalui badan peradilan yang lebih tinggi. Asas ini penting dalam peradilan administrasi Negara karena terdapat perbedaan kedudukan antara pihak penggugat dengan tergugat.
8/ Asas Keadilan dan Kewajaran.
Asas ini menghendaki agar setiap tindakan badan atau pejabat administrasi Negara selalu memperhatikan aspek keadilan dan kewajaran. Asas Keadilan menuntut tindakan secara proporsional, sesuai, seimbang, dan selaras dengan hak setiap orang. Karena itu setiap pejabat pemerintah dalam melakukan tindakannya harus selalu memperhatikan aspek keadilan ini. Sedang asas kewajaran menekankan agar aktivitas pemerintah memperhatikan nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakat, baik itu berkaitan dengan agama, moral, adat istiadat, maupun nilai-nilai lainnya.
9/ Asas Kepercayaan dan Menanggapi Pengharapan yang Wajar.
Asas ini menghendaki agar setiap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah harus menimbulkan harapan-harapan bagi warga Negara.
10/ Asas Meniadakan Akibat Suatu Keputusan yang Batal.
Asas ini berkaitan dengan pegawai yang dipecat dari pekerjaannya. Seorang pegawai yang dipecat karena diduga melakukan kejahatan tetapi setelah dilakukan proses pemeriksaan di pengadilan, ternyata pegawai yang bersangkutan tidak bersalah, maka pegawai tersebut
harus dikembalikan lagi pada pekerjaan semula. Bahkan harus diberi ganti rugi dan harus direhabilitasi nama baiknya.
12/ Asas Kebijaksanaan
Asas ini menghendaki agar pemerintah dalam melaksanakan tugasnya diberi kebebasan untuk menerapkan kebijaksanaan tanpa harus terpaku pada peraturan undangan formal. Karena peraturan perundang-undangan formal atau hukum tertulis selalu membawa cacat bawaan yang berupa tidak feksibel dan tidak dapat menampung semua persoalan, serta cepat ketinggalan zaman, sementara perkembangan masyarakat bergerak dengan cepat. Karena itu pemerintah bukan saja dituntut untuk bertindak cepat , tetapi juga dituntut untuk berpandangan luas dan jauh serta mampu memperhitungkan akibat-akibat yang muncul dari tindakannya tersebut.
13/ Penyelenggaraan Kepentingan Umum.
Asas ini menghendaki agar pemerintah dalam melaksanakan tugasnya selalu mengutamakan kepentingan umum, yakni kepentingan yang mencakup semua aspek kehidupan orang banyak. Asas ini merupakan konsekuensi dianutnya konsepsi Negara hukum modern (welfare state), yang menempatkan pemerintah selaku pihak yang bertanggungjawab untuk mewujudkan bestuurzorg (kesejahteraan umum) warga negaranya. Pada dasarnya pemerintah dalam menjalankan berbagai kegiatan harus berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku (asas legalitas), akan tetapi karena ada kelemahan dan kekurangan asas legalitas seperti tersebut di atas, pemerintah dapat bertindak atas dasar kebijaksanaan untuk menyelenggarakan kepentingan umum.
Penyelenggaraan kepentingan umum dapat berwujud hal-hal sebagai berikut:
a. Memelihara kepentingan umum yang khusus mengenai kepentingan Negara. Contoh: tugas pertahanan dan keamanan.
b. Memelihara kepentingan umum dalam arti kepentingan bersama dari warga Negara yang tidak dapat dipelihara oleh warga Negara sendiri. Contoh: persediaan sandang pangan, perumahan kesejahteraan, dll.
c. Memelihara kepentingan bersama yang tidak seluruhnya dapat dilakukan oleh para warga Negara sendiri, dalam bentuk bantuan Negara. Contoh: pendidikan dan pengajaran, kesehatan, dll.
d. Memelihara kepentingan dari warga Negara perseorangan yang tidak seluruhnya dapat diselenggarakan oleh warga Negara sendiri, dalam bentuk bantuan Negara. Adakalanya Negara memelihara seluruh kepentingan perseorangan tsb. Contoh: memelihara fakir miskin, anak yatim, anak cacat, dll.
e. Memelihara ketertiban, keamanan, dan kemakmuran setempat. Contoh: peraturan lalu-lintas, pembangunan, perumahan, dll.