HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Fakultas Hukum
Universita Maarif Hasyim Latif
2017
Bab 1
Pengertian Hukum Administrasi Negara
A. Pengertian dan Istilah Administrasi
Obyek Hukum Administrasi Negara (HAN) adalah Negara, disamping Ilmu Negara dan Hukum Tata Negara (HTN).
Teori-teori (ajaran-ajaran, faham-faham) mengenai timbulnya negara:
1. Teori-teori pada jaman Yunani Kuno. Dikemukakan oleh : a.
Socrates; b. Plato; c. Aristoteles; d. Epicurus; e. Zeno.
2. Jaman Romawi Kuno. Dikemukakan oleh : a. Polybius; b.
Cicero; c. Seneca.
3. Jaman Abad Pertengahan sebelum perang salib (abad ke v s/d
XII). Ajaran-ajaran yang timbul pada jaman ini bersifat teokratis
mutlak, artinya mendasarkan ajarannya itu kepada kekuasaan serta keagungan Tuhan. Dikemukan oleh: a. Augustinus; b.
Thomas Aquinas.
4. Jaman Abad Pertengahan sesudah perang salib (abad ke XII s/d
XV). Ajaran-ajaran yang timbul pada jaman ini sudah agak
bersifat kritis, jadi menjadi teokratis kritis. Ini disebabkan karena masuknya ajaran jaman Yunani kuno, terutama ajaran Aristoteles pada waktu terjadinya perang Salib. Dikemukakan oleh : a.
Marsilius van Padua.
5. Jaman Renaissance (abad ke XVI). Pada jaman ini terjadi perubahan-perubahan besar dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu kenegaraan. Hal ini terjadi karena timbulnya faham-faham baru yang mampu mempengaruhi keadaan di banyak Negara. Faham-faham tersebut adalah dari ajaran kebudayaan jaman Yunani Kuno dan Jerman Kuno. Pengaruh tersebut tidak saja masuk dalam lapangan ilmu kenegaraan, tetapi juga dalam lapangan keagamaan, sehingga menimbulkan perubahan-perubahan besar. Dalam lapangan keagamaan menimbulkan kaum Reformator, antara lain : a. Dante; b. Luther; c.
Melanchthon; d. Zwingli; e. Calvijn. Sedangkan dalam
lapangan kenegaraan timbul ajaran-ajaran dari : a. Niccolo
6. Kaum Monarkomaken (anti raja). Sebenarnya kaum ini tidak menentang raja, tapi ekses dari kekuasaan raja yang absolut, antara lain ikut campur dalam soal-soal keagamaan, dan bahkan menentukan kepercayaan apa yang harus dianut, tujuannya adalah membatasi kekuasaan raja yang absolut. Tokoh-tokohnya : a. Hotman; b. Brutus; c. Buchanan; c. Mariana; d.
Bellarmin; e. Suares; f. Milton; dan yang terpenting g. Althusius.
7. Jaman berkembangnya Teori Hukum Alam abad XVII : (berfungsi
menerangkan). Tokoh-tokohnya : a. Grotius (Hugo de Groot); b. Thomas Hobbes; c Benedictus de Spinoza; d. John
Locke.
8. Jaman berkembangnya Teori Hukum Alam abad XVIII : (berfungsi menilai). Tokoh-tokohnya : a. Frederick yang agung; b.
Montesquieu; c. Jen Jacques Rousseau; d. Immanuel Kant.
9. Jaman berkembangnya teori Kekuatan (Kekuasaan).Teori ini berkembang pada permulaan abad-abad modern. Tokoh-tokohnya adalah : a. F. Oppenheimer; b. H. J. Laski.; c. Karl
Marx.
10. Teori Positivisme. Teori ini merupakan reaksi terhadap teori-teori klasik tradisional (yang disebut diatas). Tokohnya : Hans
Kelsen.
11. Teori Modern. Teori ini sifatnya modern, karena sudah menyesuaikan dengan keadaan serta perkembangan ilmu pengetahuan modern. Tokoh-tokohnya : a. Prof. Mr. R.
Kranenburg; b. Prof. Dr. J. H. A. Logemann.
Teori Kedaulatan :
1. Teori Kedaulatan Tuhan (Gods-souvereinited)) abad ke V s/d XV. Teori ini sangat erat hubungannya dengn perkembangan agama baru, yakni Kristen. Timbul dua organisasi kekuasaan, yakni kekuasaan Negara yg diperintah oleh raja, dan kekuasaan agama yang dikepalai oleh Paus. Tokohnya : a. Augustinus; b. Thomas Aquinas; c. Marsilius. Augustinus berpendapat bahwa yang mewakili Tuhan di dunia ini adalah Paus, Thomas Aquinas berpendapat bahwa kekuasaan Raja dan Paus itu sama, hanya saja raja dalam lapangan keduniawian,
sedang Paus di lapangan keagamaan. Marsilius menitik beratkan pada kekuasaan itu pada Negara atau raja.
2. Teori Kedaulatan Negara (Staats-souvereinited). Teori ini menyatakan, bahwa kedaulatan itu tidak ada pada Tuhan (Gods-souvereiniteit), tetapi ada pada negara. Negara di sini dianggap sebagai suatu keutuhan yang menciptakan peraturan-peraturan hukum, jadi adanya hukum itu karena adanya Negara, dan tidak ada satu hukumpun yang berlaku jika tidak dikehendaki oleh Negara. Tokohnya : a. Jean Bodin; b. Georg Jellinek. Jean Bodin berpendapat, bahwa kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi terhadap para warga Negara dan rakyatnya, tanpa suatu pembatasan apapun dari undang-undang, raja tidak terikat oleh undang-undang (hukum positif), karena raja yang menetapkan undang-undang. Kedaulatan itu adalah juga kekuasaan tertinggi untuk membuat hukum di dalam suatu Negara. Kedaulatan memiliki sifat: Tunggal, Asli, Abadi, Tidak dapat dibagi-bagi; Georg
Jellinek juga berpendapat, bahwa hukum itu merupakan penjelmaan
daripada kehendak atau kemauan Negara. Jadi juga negaralah yang menciptakan hukum, maka Negara dianggap satu-satunya sumber hukum, dan negaralah yang memiliki kekuasaan tertinggi atau kedaulatan.
3. Teori Kedaulatan Hukum (Rechts-souvereinited). Teori ini menyatakan, bahwa yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu Negara itu adalah hukum itu sendiri. Tokohnya : a. Krabbe, berpendapat bahwa yang menjadi sumber hukum itu adalah rasa hukum yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri. Rasa hukum ini dalam bentuknya yang masih sederhana, jadi yang masih bersifat primitive atau yang tingkatannya masih rendah disebut instink hukum. Sedang dalam bentuknya yang lebih luas atau dalam tingkatnya yang lebih tinggi disebut kesadaran hukum. Hukum tidak timbul dari kehendah Negara, dia memiliki kepribadian tersendiri. Krabbe banyak terpengaruh aliran Historis, yang berkembang setelah revolusi Prancis, yang dipelopori oleh Von Savigny, yang menyatakan bahwa hukum itu harus tumbuh di dalam masyarakat itu sendiri, berdasarkan kesadaran hukum yang terdapat dalam masyarakat. Aliran ini menolak hukum yang dikodifkasi oleh Napoleon, oleh karena hukum tersebut adalah hukum asing, yaitu hukum Romawi.
4. Teori Kedaulatan Rakyat. Tokohnya adalah J. J. Rousseau, menurutnya rakyat bukanlah penjumlahan individu-individu dalam nagara, melainkan kesatuan yang dibentuk oleh individu-individu tersebut melalui perjanjian masyarakat, yang disebut kehendak umum atau volunte generale, yang dianggap mencerminkan kemauan atau
kehendak umum. Kedaulatan Rakyat, menurut Rousseau, pada prinsipnya adalah cara atau system tertentu yang memenuhi kehendak umum. Jadi kehendak umum itu hanyalah khayalan saja bersifat abstrak, dan kedaulatan itu adalah kehendak umum itu.
Klasifikasi Negara:
1. Klasifkasi Negara Klasik-tradisonal : Monarki, Aristokrasi, Demokrasi. 2. Klasifkasi Negara Modern : Republik dan Monarki.
Republik dg system pemerintahan rakyat secara langsung (system referendum);
Republik dg system pemerintahan perwakilan rakyat (system parlementer);
Republik dengan system pemisahan kekuasaan (system presidensil).
Dan :
Monarki dengan system pemerintahan absolutisme; Monarki terbatas;
Monarki Konstitusional.
Susunan Negara:
1. Negara yang bersusunan tunggal, yang disebut Negara Kesatuan/Negara Unitaris. Negara ini memang tidak tersusun dari beberapa Negara, namun hanya terdiri dari atas satu Negara, sehingga tidak ada Negara di dalam Negara. Dengan demikian dalam Negara kesatuan hanya ada satu pemerintah, yaitu pemerintah pusat yang mempunyai kekuasaan serta wewenang tetinggi dalam bidang pemerintahan Negara, menetapkan kebijaksanaan pemeritahan dan melaksanakan pemerintahan Negara baik di pusat maupun di daerah-daerah.
Pada jaman purba, abad pertengahan, renaissance, hukum alam abad XVII maupun XVIII, kekuasaan para penguasa pada umumnya bersifat absolute, dan masih dilaksanakan asan sentralisasi dan asas konsentrasi.
Asas Sentralisasi, adalah asas yang menghendaki bahwa segala kekuasaan serta urusan pemerintahan itu milik pemerintah pusat.
Asas Konsentrasi, adalah asas yang menghendaki bahwa segala kekuasaan serta urusan pemerintahan itu dilaksanakan sendiri oleh pemerintah pusat, baik yang ada di pusat pemerintahan maupun yang ada di daerah-daerah.
Lalu memasuki abad perkembangan hukum alam, abad XVII dan XVIII, berkembang usaha-usaha untuk membatasi kekuasaan para penguasa Negara, antara lain:
a. John Locke, dengan ajarannya hak asasi manusia; b. Montesquieu, dengan ajarannya Trias Politika;
c. J.J. Rousseau dengan ajarannya Negara hukum; dan
d. Maurice Duverger, dengan ajarannya pemilihan dan pengangkatan para penguasa Negara yang akan memegang dan melaksanakan kekuasaan Negara.
Dalam perkembangannya, karena Negara mengalami perkembangan, baik warga Negara, wilayah, maupun urusan pemerinatahannya, maka dilaksanakanlah asas dekonsentrari dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah, yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah, untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan Pemerintahan Pusat yang ada di daerah-daerah.
Dalam perkembangannya sampai dewasa ini pelaksanaan asas dekonsentrasi tersebut melahirkan pembagian wilayah Negara dalam wilayah-wilayah administratif beserta wilayahnya.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, dilaksanakan pula asas desentralisasi, yaitu penyerahan urusan pemerintahan dari pemerintah pusat atau daerah otonom tingkat atasnya kepada daerah otonom menjadi urusan rumah tangganya.
Pelaksanaan asas desentralisasi inilah yang malahirkan atau dibentuknya Daerah-daerah Otonom, yaitu suatu kesatuan masyarakat hokum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.
Selain asas dekonsentrasi dan asas desentralisasi, juga dikenal asas Tugas Pembantuan, yakni tugas untuk turut serta dalam melaksanakan pemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah Otonom oleh Pemerintah Pusah atau Daerah Otonom tingkat atasnya dengan kewajiban memepertanggung-jawabkan kepada yang menugaskannya.
Ketiga asas ini pada umumnya dilaksanakan di Negara-negara kesatuan.
2. Negara yang bersusunan jamak, yang disebut Negara Federasi, maksudnya Negara ini tersusun dari beberapa Negara yang semula telah berdiri sendiri sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat, mempunyai Undang-undang sendiri serta pemerintahan sendiri. Tetapi kemudian karena sesuatu kepentingan, entah kepentingan politik, ekonomi atau kepentingan lainnya, Negara-negara tersebut saling menggabungkan diri untuk membentuk ikatan kerja sama yang efektif. Namun disamping itu, Negara-negara saling menggabungkan diri tersebut yang kemudian disebut Negara bagian, masih ingin mempunyai urusan-urusan pemerintahan yang berwenang dan dapat diatur dan diurus sendiri di samping urusan-urusan pemerintahan yang akan diatur dan diurus bersama-sama oleh ikatan kerja samanya tersebut.
Negara Demokrasi Modern
Demokrasi kuno, yang disebut juga Demokrasi langsung, pada Yunani kuno, berkembang mencapai demokrasi tidak langsung, demokrasi perwakilan, atau demokrasi modern, ini terjadi pada abad XVII dan XVIII, maka dalam hal ini nanti akan erat hubungannya dengan ajaran hukum alam. Terutama ajaran Montesquieu, yaitu ajaran tentang pemisahan kekuasaan, yang kemudian terkenal dengan Trias Politika, karena ajaran inilah yang justru menentukan daripada demokrasi modern; dan ajaran Rousseau, yaitu ajaran kedaulatan rakyat, yang justru tidak dapat dipisahkan dengan demokrasi.
Montesquieu mengemukakan adanya dua sifat daripada manusia yang berhubungan dengan kekuasaan, yaitu:
1. Bahwa orang itu senang akan kekuasaan, apabila kekuasaan itu dipergunakan atau diperuntukkan bagi kepentingan dirinya sendiri; 2. Bahwa sekali orang itu memiliki kekuasaan, ia senantiasa ingin
Maka Montesquieu berpendapat harus dicari system pemerintahan di mana kekuasaan yang ada pada Negara itu dipisah-pisahkan. Ini yang menjadi pokok ajarannya yang disebut Trias Politika.
Montesqueieu membedakan adanya tiga jenis kekuasaan Negara, yaitu: 1. Kekuasaan yang bersifat mengatur, atau menentukan
peraturan;
2. Kekuasaan yang melaksanakan peraturan tersebut;
3. Kekuasaan yang bersifat mengawasi pelaksanaan peraturan tersebut.
Ketiga kuasaan itu didistribusikan kepada beberapa organ:
1. Kekuasaan perundang-undangan diserahkan kepada badan legislatif;
2. Kekuasaan pelaksanaan diserahkan kepada badan eksekutif; 3. Kekuasaan pengawasan diserahkan kepada badan yudikatif. Ajaran Trias Politika ditafsirkan dalam tiga macam:
1. Di Amerika Serikat: Perencana konstitusi berpendapat bahwa harus ada pemisahan kekuasaan secara mutlak, secara sempurna, yang dikenal dg sistem presidensiel;
2. Di Eropa Barat, disponsori Inggris: berpendapat bahwa antara organ satu dengan lainnya ada hubungan timbal balik, khususnya legislatif dan eksekutif, yang dikenal dengan sistem parlementer;
3. Di Swiss: berpendapat bahwa badan eksekutif hanya merupakan badan pelaksana saja dari apa yang diputuskan badan legislative, yang dikenal degan sistem badan pekerja (referendum).
Negara Autokrasi Modern
Negara ini juga sering disebut Negara dengan system satu partai, atau berpartai tunggal. Autokrasi dalam pengertiannya yang asli/kuno dapat dikatakan sudah tidak ada, sedang autokrasi modern ini sifatnya samar-samar karena mengkamufir dirinya seakan dari luar terlihat demokrasi modern.
Hakekat Negara
Negara dengan system autokrasi disebut memiliki hakekat suatu organisme, suatu kesatuan yang mempunyai dasar-dasar hidup, serta kehidupan, kepentingan dan kepribadian sendiri. Jika terjadi pertentangan antara kepentingan rakyat dan Negara, maka rakyat yang dikalahkan.
Sedang Negara dengan system Demokrasi, berpandangan bahwa Negara itu pada hakekatnya adalah suatu kumpulan atau kesatuan daripada individu. Jadi Negara sifatnya sekunder, sedang individu primer.
Tujuan Negara
Tujuan Negara autokrasi adl menghimpun kekuasaan sebesar-besarnya pada Negara, c.q. kepala Negara.
Sedang Sistem demokrasi dengan rumusan singkat bertujuan untuk mengusahakan serta menyelenggarakan kebahagiaan serta kesejahteraan rakyatnya.
Badan Perwakilan Rakyat
Di Negara-negara fascist, pemilihan anggota badan perwakilan rakyat dimulai dari pengajuan calon-calon sementara oleh kesatuan-kesatuan sosial yang ada dalam Negara itu, yang diakui secara syah oleh Negara. Kesatuan-kesatuan social itu seperti serikat pekerja, golongan militer, kaum buruh dll. Calon sementara diajukan kepada Dewan Partai Fascist, yaitu organ pusat partai itu. Dewan partai memilih, memuat, lalu memindahkan ke daftar calon tetap. Lalu calon tetap ditawarkan kepada rakyat pemilih. Seperti pernah terjadi di Italy.
Di Negara-negara demokrasi modern, pemilihan atau pengangkatan anggauta-anggauta, rakyat mempunyai peranan penting dlm menentukan secara langsung siapa yang duduk dalam badan perwakilan rakyat.
Susunan badan perwakilan rakyat pada Negara autokrasi modern bersifat korporatif, bukan wakil individu tapi wakil kesatuan social yang syah diakui Negara.
Di Negara demokrasi modern bersifat atoomistis, karena badan perwakilan rakyat adal wakil dari rakyat pemilih.
Sifat kekuasaan badan perwakilan rakyat Negara autokrasi modern hanya pendukung saja terhadap keputusan-keputusan badan eksekutif. Kekuasaan sebenarnya ada pada badan eksekutif, yang sesungguhnya ada pada satu orang. Seperti pernah di Jerman pada pemerintahan Nazi, pimpinan eksekutif
(fuhrer), di jaman pemerintahan Hitler.
Maurice Duverger menamakan dua Weltanschaung itu dengan istilah:
Individualisme dan kolektivisme.
Pengertian Administrasi (Kamus Umum Bahasa Indonesia, J.S. Badudu & Sutan M. Zain): tata usaha, urusan pemerintahan negeri atau suatu perusahaan; melakukan administrasi, mengurus tata usaha.
Secara etimologis, Administrasi yg bahasa inggrisnya “Administration”, berasal dari kata latin, yaitu: “Ad+ministrare” dan “Administratio”.
“Ad+Ministrare”: melayani, membantu atau memenuhi. Sedang
“Administratio”: pemberian bantuan, pelaksanaan, pimpinan, pemerintahan. Jadi dpt diambil pengertian: “bahwa Administrasi pada hakekatnya adalah usaha untuk menolong, usaha untuk membantu, usaha untuk memimpin atau mengarahkan semua kegiatan dalam pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
Dalam arti sempit, Administrasi, merupakan kegiatan pencatatan, penyimpanan, pengiriman dan reproduksi daripada surat-surat, data-data, informasi, berdasarkan sistem dan cara kerja tertentu. Sekarang istilah yang tepat adalah: Ketata-usahaan.
Istilah Administrasi dlm hub dg aktivitas kenegaraan mempunyai arti luas sekali, yaitu: semua aktivitas pemerintah mengenai tugasnya, menyelenggarakan kepentingan umum.
Adapun dlm pengertian sehari-hari, memiliki arti pelaksanaan surat-menyurat mengenai segala sesuatu dlm organisasi.
1. Dalam arti luas, dari kata “administration”:
a. Memimpin, menguasai, mengendalikan, malaksanakan hukum;
b. Melayani/mengatur kepentingan dengan berpedoman kepada peraturan hukum, sebagai kekuasaan pemerintah guna mengatur kepentingan umum dan negara.
2. Fungsi Administrasi pada sebuah organisasi: 1. Fungsi Perencanaan;
2. Fungsi Pengorganisasian; 3. Fungsi Pengkoordinasian.
3 Pengertian Administrasi (kenegaraan), C.S.T. Kansil:
1. Sebagai aparatur negara, aparatur pemerintah, atau instansi politik (kenegaraan) artinya meliputi organ yg berada di bawah pemerintah, mulai dari Presiden, Menteri (termasuk Sekjen, Irjen, Gubernur, Bupati dsb) pokoknya semua organ yg menjalankan administrasi negara; 2. Sebagai fungsi atau sebagai aktivitas, yaitu sebagai kegiatan
pemerintahan artinya sebagai kegiatan mengurus kepentingan negara; 3. Sebagai proses teknis penyelenggaraan UU meliputi tindakan aparatur
negara dalam menjalankan UU.
Kesimpulan pendapat C.S.T. Kansil
Pendapat C.S.T. Kansil dpt dipahami bahwa administrasi merupakan aparatur pemerintaha diluar yudikatif dan legislatif, administrasi disini yakni merupakan aparatur pemerintah di bidang eksekutif, dimana mereka itu dalam menjalankan kepentingan negara didasarkan atas UU atau kata lain mereka itu menjalankan UU.
A. Unsur-unsur/sub-sub sistem administrasi:
1. Manusia; 2. Tujuan; 3. Tugas; 4. Kerjasama; 5. Sarana.
B. Pengertian Administrasi Negara
1. Administrasi Negara sebagai “apparatuur” daripada yg dikepalai dan digerakkan oleh Pemerintah (Presiden) guna menyelenggarakan UU serta kebijaksanaan2 dan kehendak2 (Keputusan2) Pemerintah;
2. Administrasi Negara sebagai fungsi atau aktivitas, atau administrasi dalam arti dinamis atau fungsional sbg fungsi hukum (juridische
3. Administrasi Negara sebagai suatu proses tata kerja penyelenggaraan atau proses teknis.
Administrasi Negara menurut Nur Yanto, S.H., M.H.:
“Keseluruhan tindakan aparatur pemerintah dalam melakukan berbagai aktivitas atau tugas-tugas negara berdasarkan UU atau berdasarkan peraturan di bawahnya, guna mencapai tujuan yang telah ditentukan”.
C. Hukum Administrasi Negara
Letak HAN bisa dilihat dalam bidang-bidang hukum publik dan hukum privat: Ilmu Hukum Publik:
1. Hukum Tata Negara;
2. Hukum Tata Usaha Negara/HAN; 3. Hukum Pidana;
4. Hukum Acara Pidana; 5. Hukum Acara Perdata, dan 6. Hukum Antar Negara.
Ilmu Hukum Privat: 1. Hukum Perdata.
Tujuan HAN:
1. Memberikan batasan dan kewenangan terhadap pejabat administrasi negara;
2. Memberikan perlindungan terhadap rakyat atau badan hukum perdata dari tindakan sewenang-wenang pejabat administrasi negara.
Tujuan UU No. 30/2015 ttg Administrasi Pemerintahan:
a. Menciptakan tertib penyelenggaraan administrasi pemerintahan; b. Menciptakan kepastian hukum;
c. Mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang;
e. Memberikan perlindungan hukum kepada warga masyarakat dan aparatur pemerintahan;
f. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan dan menerapkan AUPB; dan
g. Memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada warga masyarakat.
D.
Bab 2
Hubungan HAN dg Ilmu lainnya
A. HAN dg HTN.
Persamaan dan Perbedaan HTN dan HAN:
HTN:
1. HTN adl sekumpulan peraturan hukum yg menentukan badan-badan kenegaraan serta memberikan wewenang itu kepada badan-badan tsb dr yg tertinggi sampai yg terendah kedudukannya (C.V.Vollen Hoven); 2. HTN ialah keseluruhan aturan hk yg mengadakan alat-alat
perlengkapan dan mengatur kekuasaannya(J. Oppenheim); 3. HTN mengatur negara dlm keadaan pasif (Fritz Flener).
HAN:
1. HAN adl keseluruhan peraturan yg mengatur ttg aparatur pemerintah dlm melakukan berbagai aktivitas atau tugas-tugas negara, guna mencapai tujuan yg telah ditentukan;
2. HAN adl keseluruhan aturan-aturan hk yg menjalankan kekuasaannya, jd pd asasnya mengatur negara dlm keadaan bergerak (staat in
beweging);
3. HAN mengatur negara dlm keadaan bergerak (Fritz Flener).
E. Ruang Lingkup HAN
Menurut Prajudi Atmosudirdjo, ada 6 ruang lingkup:
1. Hukum ttg dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum dari administrasi negara;
2. Hukum ttg organisasi negara;
3. Hukum ttg aktivitas-aktivitas dari administrasi negara, terutama yg bersifat yuridis;
4. Hukum ttg sarana-sarana dr administrasi negara terutama mengenai kepegawaian negan dan keuangan negara;
5. Hukum administrasi pemerintah daerah dan wilayah, yg dibagi menjadi:a/ H.A. Kepegawaian, b/ H.A. Keuangan, c/ H.A. Materiil, d/ H.A. Perusahaan Negara;
6. Hukum ttg Peradilan Administrasi Negara.
Menurut Kusumadi Pudjosewojo, ada 4 bidang pokok HAN: 1. Hukum Tata Pemerintahan;
2. Hukum Tata Keuangan termasuk Hukum Pajak; 3. Hukum Hubungan Luar Negeri;
4. Hukum Pertahanan dan Keamanan Umum.
Walther Burekhardt menyebut 2 bidang pokok HAN:
1. Hukum Kepolisian, mengatur norma tingkah laku, larangan, batasan ttt thd kepentingan umum;
2. Hukum Perlembagaan, Aturan hukum yg ditujukan kpd penguasa utk penyelenggaraan perkembangan masyarakat di lapangan kebudayaan, kesenian, Ilmu Pengetahuan, kerohanian dan kejasmanian, kemasyarakatan dll.
• Baron de Gerando: HAN adl ilmu hukum yg tumbuh langsung berdasarkan keputusan-keputusan alat perlengkapan negara berdasarkan praktik kenegaraan sehari-hari (keputusan raja dlm menyelesaikan sengketa antara pejabat dg rakyat merupakan kaidah HAN).
• Mr. W,F. Prins: HAN merupakan aanhangsel (embel-embel/tambahan) dari HTN.
• Dr. Romeyn: HTN menyinggung dasar-dasar drpd negara, sedang HAN adl mengenai pelaksanaan teknisnya.
• Donner (teori Dwi Praja): HTN menetapkan tugas (taakstelling), sedang HAN pelaksanya (taakverwezenlijking).
• Van Vollenhoven: HTN adl keseluruhan peraturan hk yg membentuk alat perlengkakan negara dan menentukan kewenangan alat-alat perlengkapan negara tsb, sedang HAN adl keseluruhan ketentuan yg mengikat alat-alat itu akan menggunakan kewenangan ketatanegaraan.
• Oppenheim: HTN memperhatikan negara dlm keadaan tidak bergerak
(staat in rust), HAN memperhatikan negara dlm keadaan bergerak (staat in beweging).
“Hukum Tata Negara” (staatsrecht), para sarjana hukum Belanda sepakat membedakan antara HTN dlm arti luas (staantsrecht in ruime zin) dan HTN dalam arti sempit (staatsrecht in enge zin). HTN dalam arti luas terdiri dari: HTN dalam arti sempit atau yang dinamakan HTN
(staatsrecht); dan Hukum Tata Usaha Negara/Hukum Administrasi Negara (administratief recht).
Hukum Tata Usaha Negara ialah hukum mengenai susunan, tugas dan
wewenang, dan hubungan kekuasaan satu sama lain, hubungan dengan pribadi-pribadi hukum lainnya dari alat-alat perlengkapan (jabatan-jabatan) tata usaha Negara sebagai pelaksana segala usaha Negara (perundang-undangan, pemerintahan, dan peradilan) menurut prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh alat-alat perlengkapan Negara tertinggi
(badan legislatif, badan eksekutif, dan badan yudikatif). Disini tidak perlu dianut trias politika Montesquieu atau teori pemisahan kekuasaan lainnya. Jadi, kita namakan hakim-hakim atau pengadilan itu sebagai alat perlengkapan tata usaha yang mempunyai tugas khusus untuk memelihara tertib hukum dalam masyarakat.
Hukum Tata Negara ialah hukum mengenai organisasi Negara pada
umumnya (hubungan penduduk dengan Negara, pemilihan umum, kepartaian, cara menyalurkan pendapat dari rakyat, wilayah Negara, dasar Negara, hak asasi manusia, lagu, bahasa, lambang, pembagian Negara atas kesatuan-kesatuan kenegaraan, dan sebagainya), mengenai system pemerintahan Negara (structure gouvernementale), mengenai kehidupan politik rakyat dalam hubungannya dengan susunan organisasi negara, mengenai susunan, tugas dan wewenang, hubungan kekuasaan satu sama lain, serta hubungannya dengan rakyat dari alat-alat perlengkapan ketatanegaraan sebagai jabatan-jabatan tertinggi yang menetapkan prinsip umum bagi pelaksanaan berbagai usaha Negara. Singkatnya, segala sesuatu mengenai organisasi Negara yang tidak termasuk hukum tata usaha Negara.
Menurut Le Crince le Roy, Hukum Tata Administrasi menggerogoti ranting-ranting hukum lain, seperti Hukum Agraria yang semula termasuk Hukum Perdata, dan juga Hukum Ketenagakerjaan (arbeidsrecht, labour
law).
“Ilmu Negara” (Staatlehre/Theory of State/The General Theory of
State/Political Theory/Theorie d’etat), sebagai istilah teknis adalah akibat
penyelidikan dari sarjana Jerman George Jellinek, dikenal sebagai bapak Ilmu Negara. Dia yang berjasa membuat Ilmu Negara menjadi Ilmu Pengetahuan yang berdiri sendiri. Ilmu Negara adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki asas-asas pokok dan pengertian-pengertian pokok tentang Negara dan Hukum Tata Negara. Jellinek membagi ilmu kenegaraan menjadi dua bagian, yaitu: Ilmu Negara dalam arti sempit
(staatswissenschaften) dan Ilmu Pengetahuan Hukum
(rechtwissenschaften).
Pengertian rechtwissenschaten adalah Hukum Publik yang menyangkut soal kenegaraan, seperti HTN, HAN, H. Pidana, dll. Sedang
staatwissenschaft, yang lebih pentina, memiliki tiga bagian: 1/ Beschreibende Staatswissenschaft :Sifat Ilmu kenegaraan ini adalah
deskriptif yang hanya menggambarkan dan menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadiyang berhubungan dengan Negara; 2/ Theoretische
lanjut dari bahan-bahan yang dikumpulkan bagian pertama tadi, dengan mengadakan analisis-analisis dan memisahkan mana yang mempunyai ciri-ciri yang khusus. Mengadakan penyusunan tentang hasil-hasil penyelidikannya dalam satu kesatuan yang teratur dan sistematis. Inilah ilmu kenegaraan yang merupakan ilmu pengetahuan yang sebenarnya; 3/
Praktische Staatswissenschaft : Ilmu pengetahuan yang tugasnya mencari
upaya bagaimana hasil penyelidikan bagian ini dapat dilaksanakan di dalam praktik dan pelajaran-pelajara yang diberikan itu semata-mata mengenai hal-hal yang berguna untuk tujuan praktik.
Jellinek melihat Negara dari sudut sosiologis dan yuridis, namun sebagian besar dari uraiannya berkisar di bidang yuridis.
Hoetink mengatakan bahwa ilmu politik adalah semacam sosiologi dari
Negara. Ilmu Negara dan HTN menyelidiki kerangka yuridis dari Negara, sedangkan ilmu politik menyelidiki bagiannya yang ada di sekitar kerangka itu. Ilmu Negara menggunakan metode yuridis, sedangkan ilmu politik menggunakan metode sosiologis.
Barents menggambarkan ilmu politik dan HTN dengan perumpamaan
HTN adalah kerangkanya, sedangkan Ilmu Politik adalah daging yang ada disekitarnya.
Perbedaan antara ilmu Negara dengan ilmu politik adalah ilmu Negara menitikberatkan pada sifat-sifat teoritis tentang asas-asas pokok dan pengertian-pengertian pokok tentang Negara. Oleh karena itu, ilmu Negara kurang dinamis. Sementara itu, ilmu plitik lebih menitikberatkan pada factor-faktor yang konkret, terutama berpusat kepada gejala-gejala kekuasaan, baik mengenai organisasi Negara maupun yang memengaruhi pelaksanaan tugas-tugas Negara. Oleh karena itu, ilmu politik lebih dinamis dan hidup.
Herman Heller menyimpulkan pelbagai pendapat tentang perbedaan
antara ilmu Negara dan ilmu politik: 1. Ada yang menganggap ilmu politik sebagai suatu ilmu pengetahuan praktis yang ingin membahas keadaan dalam kenyataan, sedangkan ilmu Negara dinamakan ilmu pengetahuan teoritis yang sangat mementingkan segi normative; 2/ Ada yang menganggap bahwa ilmu politik mementingkan sifat-sifat dinamis dari Negara, yaitu proses-proses kegiatan dan aktivitas Negara; perubahan
Negara yang terus-menerus yang disebabkan oleh golongan-golongan yang memperjuangkan kekuasaan. Subjek ilmu politik ialah gerakan-gerakan dan kekuatan-kekuatan di belakang evolusi yang terus-menerus. Sebaliknya, ilmu Negara dianggap lebih mementingkan segi-segi statis dari Negara, seolah-oleh Negara adalah beku dn membatasi diri pada penelitian lembaga kenegaraan yang resmi; 3/ Ilmu Negara dianggap lebih tajam konsep-konsepnya dan lebih terang metodologinya, tetapi ilmu politik dianggap lebih konkret dan lebih mendekati realita; 4/ Perbedaan yang praktis ialah ilmu Negara lebih mendapat perhatian dari ahli hukum, sedangkan ahli-ahli sejarah dan sosiologi lebih tertarik kepada ilmu politik.
Ilmu Negara yang merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki pengertian-pengertian pokok dan sendi-sendi pokok Negara dapat memberikan dasar-dasar teoritis yang bersifat umum untuk HTN. Oleh karena itu, agar dapat mengerti dengan sebaik-baiknya dan sedalam-dalamnya system hukum ketatanegaraan sesuatu negera tertentu, sudah sewajarnyalah kita harus memiliki pengetahuan segala hal ihwalnya secara umum tentang Negara yang didapat dalam ilmu Negara.
Berdasarkan penjelasan di atas, ilmu Negara merupakan pelajaran pengantar dan ilmu dasar pokok bagi pelajaran HTN. Oleh karena itu HTN tdk dpt dipelajari secara ilmiah dan teratur sebelum terlebih dahulu dipelajari pengetahuan tentang pengertian-pengertian pokok dan sendi-sendi pokok pada Negara pada umumnya. Maka ilmu Negara dapat memberikan dasar-dasar teoritis untuk HTN yang positif. HTN merupakan penerapan dlm kenyataan konkret dari bahan-bahan teoritis yang dihasilkan oleh ilmu Negara. Oleh karena itu, ilmu HTN mempunyai sifat praktis applied science yang bahan-bahannya diselidiki, dikumpulkan, dan disediakan oleh pure science ilmu Negara.
• •
B. HAN dengan H. Perdata
• Paul Scholten: HAN merup Hk khusus ttg organisasi negara, dan H. Perdata sbg hk umum.
Ada 2 Asas:
1. Negara dan dan badan hukum publik dpt menggunakan peraturan-peraturan dr hukum perdata, spt H. Perjanjian;
2. Lex Specialis Derogat Lex Generalis.
C. HAN dan H. Pidana
• Romeyn: H. Pidana dpt dipandang sbg bahan pembantu (hulprecht) bg HAN, krn penetapan sanksi pidana merup satu sarana utk menegakkan HAN, dan sebaliknya HAN dpt dimasukkan dlm lingkungan H. Pidana. • E. Utrecht: H. Pidana memberi sanksi istimewa baik atas pelanggaran
kaidah H. Privat maupun H. Publik.
• Viktor Situmorang: Apabila ada kaidah HAN yg diulang kembali menjadi kaidah H. Pidana, atau ada pelanggaran kaidah HAN, maka sanksinya terdapat dlm H. Pidana.
D. HAN dg Ilmu Administrasi Negara
• Dimock & Dimock: Sebagai suatu studi, Administrasi Negara membahas setiap aspek kegiatan pemerintah yg dimaksudkan utk melaksanakan hk dan memberikan pengaruh pd kebijakan publik
(public policy); Sebagai suatu proses, Administrasi Negara adl seluruh
langkah-langkah yg diambil dlm penyelesaian;
• Sebagai suatu bidang kemampuan, Administrasi Negara mengorganisasikan dan mengarahkan semua aktivitas yg dikerjakan org-org dlm lembaga-lembaga publik.
• Kegiatan Administrasi Negara tdk dpt dipisahkan dr kegiatan politik pemerintah, kegiatan-kegiatan Administrasi Negara bukan hanya melaksanakan keputusan Pemerintah saja, tp jg mempersiapkan dan menentukan keputusan politik.
BAB 3
Sumber-Sumber HAN
A. Sumber Hukum Materiil HAN:
1) Sejarah/Historis: a) UU/Sistem hukum tertulis; b) Dokumen, surat, keterangan lain dr masa lampau.
2) Sosiologis/Antropologis: menyoroti lembaga-lembaga sosial, sbg faktor yg menentukan materi hukum positif, seperti pandangan ekonomi, agamis, dan psikologis.
3) Filosofs, ada 2 faktor:
a) tujuan hukum adl keadilan sbg sumber hukum materiil;
b)faktor yg mendorong dipatuhinya hukum hrs memperhatikan pembuatan aturan hukum positif, seperti faktor kekuasaan penguasa dan kesadaran hukum masyarakat.
Adalah sumber hukum materiil yg sudah dibentuk melalui proses-proses tertentu, sehingga sumber hukum tadi menjadi berlaku umum dan ditaati berlakunya oleh umum, yakni:
a) UU;
b) Kebiasaan/praktek administrasi negara; c) Yurisprudensi;
d)Doktrin/pendapat para ahli HAN; e) Traktat (perjanjian antar negara).
a) Undang-undang
UU yg dimaksud adl UU dlm arti materiil atau UU dlm arti yg luas, yakni setiap keputusan pemerintah yang berdasarkan materinya mengikat langsung etiap penduduk yg berdasarkan materinya mengikat penduduk pada suatu daerah, sebagaimana yg dikenal dlm tata urutan peraturan per-UU-an, yakni: UUD Negara RI Tahun 1945, Ketetapan MPR, UU/Perpu, PP, Perda Prov, Perda Kab/Kot.
b) Kebiasaan/Praktek Administrasi Negara
Alat Administrasi Negara mempunyai tugas utk melaksanakan tujuan UU dan menyelenggarakan kepentingan umum, dengan mengeluarkan keputusan-keputusan/ketetapan-ketetapan (Beschikking) atau Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN). Dalam memutuskan KTUN sering terjadi praktek administrasi negara yg berdiri sendiri disamping UU sbg sumber hk formil.
Hal ini bisa terjadi karena dlm keadaan tertentu Alat Administrasi Negara diberi kebebasan bertindak (freis ermessen/pouvoir discretionnaire), yakni kebebasan untuk bertindak dg tidak berdasarkan pada Peraturan Per-UU-an.
c) Yurisprudensi
Yakni suatu keputusan hakim atau keputusan suatu badan peradilan yg sdh mempunyai kekuatan hukum tetap. Hal ini berkaitan dg prinsip bahwa hakim tdk boleh menolak mengadili perkara yg diajukan dg alasan blm ada peraturan per-UU-an, sehingga hakim harus melihat keputusan hakim terdahulu.
d). Doktrin/Pendapat para ahli HAN
Seperti ajaran functionare de fait, yaitu suatu ajaran yg dianggap sah keputusan-keputusan yg dihasilkan atau dikeluarkan oleh seorang alat administrai negara yg sebetulnya secara yuridis formil kewenangannnya tidak sah.
e). Traktat
Perjanjian yg dilakukan oleh dua negara atau lebih. Akibat perjanjian ini ialah bahwa pihak-pihak yg bersangkutan terikan pd perjanjian yg mereka adakan itu. Hal ini disebut Pacta Sun Servanda, yg berarti bahwa perjanjian mengikat pihak-pihak yg mengadakan atau setiap perjanjian hrs ditaati dan ditepati oleh kedua belah pihak.
Sebagai sumber hukum formal dari sumber HAN ini berasal dari perjanjian internasional, perjanjian internasional yg telah diratifkasi tentunya oleh pemerintah untuk dilaksanakan di negara yg telah meratifkasi perjanjian tersebut.
Bab 4 Subjek HAN
Adalah segala sesuatu yang dapat memperoleh hak dan kewajiban dari hukum, yakni orang dan dan badan hukum.
Subjek hukum dlm lapangan HAN: 1) Pegawai Negeri;
2) Jabatan-jabatan;
3) Jawatan Publik, dinas-dinas publik, badan usaha milik negara/daerah; 4) Daerah kabupaten/kota dan propinsi; 5) Negara.
Mereka yg telah memenuhi syarat-syarat yg ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yg berlaku diangkat oleh pejabat yg berwenang dan diserahi tugas negara lainnya yg ditetapkan berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan dan digaji menurut peraturan perundang-undangan yg berlaku.
Pengangkatan seorang WNI menjadi pegawai negeris sdh ditentukan dg tegas. Ia tdk dibenarkan menerima keuntunga-keuntungan lain dr haknya selain yg diperkenankan menurut peraturan perundang-undangan. PNS disini terlihat sbg pendukung hak dan kewajiban.
Contoh:
1. Hak menerima gaji dan tunjangan lain yg sah, memperoleh cuti; 2. Hak utk memangku suatu jabatan;
3. Kewajiban utk membayar pajak;
4. Kewajiban utk melaksanakan tugas sesuai aturan perundang-undangan yg bersumber dr lapangan hukum publik.
2. Jabatan.
Jabatan adl kedudukan yg menunjukkan tugas, tanggung-jawab, wewenang, dan hak seseorang dlm rangka susunan suatu satuan organisasi. Kalau kedudukan itu berada dlm lingkungan pemerintah, maka jabatan adl jabatan negeri yg mewakili pemerintah.
Maksud badan negara misalnya karena keanggotaan seseorang di dalam lembaga negara di bidang eksekutif, disebut departemen, atau lembaga pemerintah non departemen pada tingkat tertinggi dan jabatan-jabaan di bawahnya. Di bidang lainnya hrs dilihat dlm fungsi politik dan yudikatif, seperti keanggotaan pada kelembagaan negara. Jabatan-jabatan yg demikian adl jabatan negara yaitu jabatan yg mewakili negara.
Jabatan dapat dipandang dr segi struktural dan fungsional. 3. Jawatan, Dinas, BUMN/BUMD
Jawatan adalah kesatuan organisasi aparatur pemerintah yang mencakup tugas pemerintahan yg bulat dan merupakan kesatuan
anggaran negara tersendiri. Sebagai subjek hukum, maka hak yg dimiliki jawatan adl memiliki dan menguasai kekayaan negara/daerah. Oleh karena itu jawatan berkewajiban memelihara dan menyimpan kekayaan negara /daerah.
Setiap barang yang dibeli, dipergunakan dan disimpan oleh jawatan selalu dicantumkan pada barang itu label yg bertuliskan “Milik Negara”, dan pembelian barang itu atas nama negara.
Dinas
Dinas dirumuskan sebagai sekelompok bagian organisasi yg secara khusus mengerjakan suatu tugas fungsional tertentu yang bersifat homogen. Di bidang administrasi negara, organisasi demikian ini dinamakan dinas publik, yg bertugas menyelenggarakan kepentingan umum, sehingga berhak bertindak atas nama negara dan berkewajiban menyelenggarakan tugas-tugas kenegaraan scr fungsional.
BUMN/BUMD
BUMN/BUMD adl sama kedudukannya dg jawatan dan dinas, hanya saja BUMN/BUMD ini lebih diarahkan pd tugas-tugas fungsional yg bukan saja menyelenggarakan kepentingan umum, akan tetapi disertai dg upaya perolehan keuntungan..
Dalam praktek ternyata ada juga yayasan-yayasan pemerintah, perusahaan negara, partisipasi negara dalam perusahaan-perusahaan swasta dan yayasan-yayasan partikelir dg suatu macam pengendalian oleh pihak pemerintah yg cukup besar.
Daerah Kabupaten/Kota dan Provinsi
Daerah ini adalah suatu kesatuan wilayah dalam organisasi negara yg karena kelahirannya disebabkan atas hak swapraja yg diakui atau krn hak otonom yg diperolehnya.
Sebagai suatu wilayah di dalam perkembangannya ia berhak mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri dlm wilayah kekuasaan negara. Dengan haknya demikian ia berkewajiban menyelenggarakan kepentingan umum.
Negara
Negara adalah organisasi dari sekumpulan rakyat yg mendiami wilayah ttt dan diselenggarakan oleh pemerintah berdasarkan kedaulatan yg
diperolehnya dan dimilikinya. Dalam kedudukannya sbg subjek hukum maka negara berhak melindungi, mengurus dan mengatur dirinya sbg organisasi sehingga pada gilirannya ia berkewajiban mencapai tujuan yg ditetapkan.
Sebagai subjek hukum maka sumber hak dan kewajibannya bersumber dari lapangan hukum publik, sehingga cakupannya luas dan menyeluruh dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umum.
Bab 5
Negara dan Warga Negara
A. Pengertian Negara
Negara adl persekutuan bangsa dg wilayah yg ttt batas-batasnya serta berpemerintahan yg sah (Kamus Besar B. Indonesia).
Negara adalah organisasi kekuasaan atau organisasi kewibawaan yg memenuhi persyaratan ttt yaitu ada: Pemerintahan yg berdaulat, wilaya ttt dan rakyat yg hidup teratur shg merupakan suatu nation (bangsa) (G. Priggodigdo).
Pemikiran atau konsepsi manusia tentang Negara hukum lahir dan berkembang dalam situasi kesejarahan. Oleh karena itu, meskipun konsep Negara hukum dianggap sebagai konsep universal, tetapi pada dataran implementasi ternyata memiliki karakteristik beragam.
Secara embrionik, gagasan Negara hukum telah dikemukakan oleh Plato, ketika ia mengintrodusir konsep Nomoi, sebagai karya tulis ketiga yang dibuat di usia tuanya, sementara dalam dua tulisan pertama, Politeia dan
Politicos, belum muncul istilah negara hukum. Dalam Nomoi, Plato
mengemukakan bahwa penyelenggaraan negara yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan (hukum) yang baik.1 Gagasan Plato tentang
Negara hukum ini semakin tegas ketika didukung oleh muridnya,
Aristoteles, yang menuliskannya dalam buku politica. Manurut Aristoteles,
suatu Negara yang baik ialah Negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Ada tiga unsur dari pemerintahan yang berkonstitusi yaitu: pertama, pemerintahan dilaksanakan untuk kepentingan umum;
kedua, pemerintahan dilaksanakan menurut hukum yang berdasarkan pada
ketentuan-ketentuan umum, bukan hukum yang dibuat secara sewenang-wenang yang menyampingkan konvensi dan konstitusi; ketiga, pemerintahan berkonstitusi berarti pemerintahan yang dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan-tekanan yang dilaksanakan pemerintahan despotik. Dalam kaitannya dengan konstitusi, Aristoteles mengatakan, konstitusi merupakan penyusunan jabatan dalam suatu Negara dan menentukan apa yang dimaksudkan dengan badan pemerintahan dan apa akhir dari setiap masyarakat, konstitusi merupakan aturan-aturan dan penguasa harus mengatur Negara menurut aturan-aturan tersebut.2
Gagasan Negara hukum ini masih bersifat samar-samar dan tenggelam dalam waktu yang sangat panjang, kemudian muncul kembali secara lebih eksplisit pada abad ke-19, yaitu dengan munculnya konsep rechtsstaat dari
Freidrich Julius Stahl. Menurut Stahl, unsur-unsur Negara hukum (rechsstaat) konsep Eropa Kontinental adalah sebagai berikut:
a. Perlindungan hak-hak asasi manusia;
b. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu; c. Pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan;
d. Peradilan administrasi dalam perselisihan.
Pada saat yang hampir bersamaan muncul pula konsep Negara hukum (rule
of law) sebagai berikut:
1 Tahir Azhary, Negara Hukum, Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hlm 66.
a. Supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of the law); tidak adanya kekuasaan sewenang-wenang (absence of arbitrary power), dalam arti bahwa seseorang hanya boleh dihukum kalau melanggar hukum;
b. Kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (equality before the
law). Dalil ini berlaku baik untuk orang biasa maupun untuk pejabat;
c. Terjaminnya hak-hak manusia oleh undang-undang (di Negara lain oleh undang-undang dasar) serta keputusan –keputusan pengadilan.3
Munculnya “unsur peradilan administrasi dalam perselisihan” pada konsep
rechtsstaat menunjukkan adanya hubungan histories antara Negara hukum
Eropa Kontinental dengan hukum Romawi. Menurut Philipus M. Hadjon:
“Konsep rechtsstaat bertumpu pada sistem hukum continental yang disebut
civil law atau Modern Roman Law, sedangkan konsep rule of law bertumpu
atas sistem hukum yang disebut “common law”. Karakteristik civil law adalah administrative sedangkan karakteristik common law adalah judicial. Perbedaan karakteristik yang demikian disebabkan karena latar belakang daripada kekuasaan raja. Pada zaman Romawi, kekuasaan yang menonjol dari raja ialah membuat peraturan melalui dekrit. Kekuasaan itu kemudian didelegasikan kepada pejabat-pejabat administrative yang membuat pengarahan-pengarahan tertulis bagi hakim tentang bagaimana memutus suatu sengketa. Begitu besarnya peranan administrasi sehingga tidaklah mengherankan kalau dalam sistem kontinentallah mula pertama muncul cabang hukum baru yang disebut droit administrative dan inti dari droit administrative adalah hubungan antara administrasi dengan rakyat…di Kontinen dipikirkan langkah-langkah untuk membatasi kekuasaan administrasi Negara (hukum administrasi dan peradilan administrasi)”.4
Dalam perkembangan Negara hukum, unsur-unsur yang dikemukakan oleh Stahl tersebut kemudian mengalami penyempurnaan, yang secara umum dapat dilihat sebagaimana tersebut di bawah ini:5
3 Dikutip dari Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1982, hlm 57-58,
Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya. 1987, hlm. 58-82.
4 Philipus M. Hadjon, op. cit., hlm. 73
5 Unsur-unsur diambil dan dipadukan dari buku Sri Sumantri, Bunga Rampai Hukum Tata
Negara Indonesi, Alumni, Bandung, 1992, hlm. 29-30, dan buku Abdul Hakim G. Nusantara, Politik Hukum Indonesia,YLBHI, Jakarta, 1988, hlm. 12-14, serta Frans Magnis Suseno, Mencari Sosok Demokrasi, Sebuah Telaah Filosif, Gramedia, Jakarta, 1997, hlm. 58-59
a. Sistem pemerintahan Negara yang didasarkan atas kedaulatan rakyat; b. Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya
harus berdasar atas hukum atau peraturan perundang-undangan. c. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga Negara); d. Adanya pembagian kekuasaan dalam Negara;
e. Adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechterlijke controle) yang bebas dan mandiri, dalam arti lembaga peradilan tersebut benar-benar tidak memihak dan tidak berada di bawah pengaruh eksekutif. f. Adanya peran yang nyata dari anggota-anggota masyarakat atau
warga Negara untuk turut serta mengawasi perbuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah;
g. Adanya system perekonomian yang dapat menjamin pembagian yang merata sumberdaya yang diperlukan bagi kemakmuran warga Negara.
Perumusan unsur-unsur Negara hukum ini tidak terlepas dari falsafah dan sosio politik yang melatarbelakanginya, terutama pengaruh falsafah individualisme, yang menempatkan individu atau warga Negara sebagai
primus interpares dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, unsure
pembatasan kekuasaan Negara untuk melindungi hak-hak individu menempati posisi yang signifkan. Semangat membatasi kekuasaan Negara ini semakin kental segera setelah lahirnya adagium yang begitu popular dari
Lord Acton: “Power tends to corrupt, but absolute power corrupt absolutely” (manusia yang memiliki kekuasaan cenderung untuk
menyalahgunakannya, tetapi kekuasaan yang tak terbatas pasti disalahgunakan). Model Negara hukum seperti ini berdasarkan catatan sejarah dikenal dengan sebutan demokrasi konstitusional, dengan ciri bahwa pemerintah yang demokratis adalah pemerintah yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya. Pembatasan-pembatasan atas kekuasaan pemerintah tercantum dalam konstitusi, maka dari itu sering disebut “pemerintah berdasarkan konstitusi” (constitutional government).6 Meskipun tidak semua
Negara yang memiliki konstitusi diilhami oleh semangat individualisme, namun semangat untuk melindungi kepentingan individu melalui konstitusi dianggap paling memungkinkan, terlepas dari falsafah Negara yang bersangkutan. Dengan kata lain, esensi dari Negara berkonstitusi adalah perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Atas dasar itu, keberadaan konstitusi dalam suatu Negara conditio sine quanon. Menurut Sri
Soemantri, tidak ada suatu Negara pun di dunia ini yang tidak mempunyai
konstitusi atau undang-undang dasar. Negara dan konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.7 Bila Negara
hukum diidentikkan dengan keberadaan konstitusi dalam suatu Negara, maka benar apa yang dikemukakan oleh A. Hamid S. Attamimi, yang mengatakan bahwa dalam abad ke-20 ini hampir tidak suatu Negara pun yang menganggap sebagai Negara modern tanpa menyebutkan dirinya “Negara berdasar atas hukum”.8 Dengan demikian, dalam batas-batas
minimal, Negara hukum identik dengan Negara yang berkonstitusi, yang di dalam konstitusinya memuat unsur-unsur Negara hukum sebagaimana tersebut diatas.9
Telah disebutkan bahwa pada dataran implementasi Negara hukum itu memiliki karakteristik dan model yang beragam. Terlepas dari berbagai model Negara hukum tersebut, Budiono mencatat bahwa sejarah pemikiran manusia mengenai politik dan hukum secara bertahap menuju kearah kesimpulan bahwa, Negara merupakan Negara yang akan mewujudkan harapan para warga Negara akan kehidupan yang tertib, adil,dan sejahtera jika Negara itu diselenggarakan berdasarkan hukum sebagai aturan main.10
Lebih lanjut Budiono mengatakan sebagai berikut:
“Pada babak sejarah sekarang adalah sukar untuk membayangkan Negara tidak sebagai Negara hukum. Setiap Negara yang tidak mau dikucilkan dari pergaulan masyarakat internasionalmenjelang abad XXI paling sedikit secara formal akan memaklumkan dirinya sebagai Negara hukum. Dalam Negara hukum, hukum menjadi aturan permainan untuk mencapai cita-cita bersama sebagai kesepakatan politik. Hukum juga menjadi aturan permainan untuk menyelesaikan segala macam perselisihan, termasuk juga perselisihan politik dalam rangka mencapai kesepakatan politik tadi. Hukum dengan demikian tidak mengabdi kepada kepentingan politik sektarian dan primordial, melainkan kepada cita-cita politik dalam kerangka kenegaraan”.11
7 Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, Alumni, Bandung, 1987, hlm. 2-3 8 A. Hamid S. Attamimi, Der Rechtsstaat Republik Indonesia dan Prespektifnya Menurut
Pancasila dan UUD 1945, Makalah pada Seminar Sehari dalam Rangka Dies Natalis
Universitas 17 Agustus Jakarta ke-42, diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Jakarta, 9 Juli 1994, hlm. 6
9 Mensejajarkan Negara hukum dengan Negara berkonstitusi adalah sekadar untuk
menyederhanakan persoalan. Pada kenyataannya tidak setiap Negara berkonstitusi adalah Negara hukum, sedangkan Negara hukum dengan sendirinya sebagai Negara berkonstitusi. Hal ini tetutama karena berkenaan dengan term “rechts” dam “constitutie”. Term “Rechts” mencakup hukum tertulis (geschrevenrech) dan hukum tidak tertulis (ongescrevenrecht), sedangkan term “constitutie” hanya mencakup hukum dasar tertulis.
10 Budiono Kusumohamidjojo, Ketertiban yang Adil, Problematika Filsafat Hukum, Grasindo,
Jakarta, 1999, hlm. 147
Secara historik tipe-tipe Negara Hukum dapat dilacak perkembangannya menurut kausalitas dari bentuk-bentuk Negara tertentu. Sondang P. Siagian mengemukakan adanya tida bentuk Negara yang memberikan peranan dan fungsi yang berbeda bagi pemerintah,12 yaitu bentuk Political State (semua
kekuasaan dipegang oleh Raja sebagai pemerintah), bentuk Legal State (pemerintah hanya sebagai pelaksana peraturan) dan bentuk Welfare State (tugas pemerintah diperluas untuk menjamin kesejahteraan umum) dengan discretionary power dan Freies Ermessen.
1). Political State.
Pada zaman pertengahan (abad IV sampai abad XV) di Eropa Barat, seluruh pemerintahan dalam artinya yang luas terpusat di tangan raja (monarch), kemudian dalam tangan birokrasi (alat pemerintah) kerajaan yang waktu itu belum mengenal adanya pembagian fungsi dan kekuasaan (legislatif, eksekutif dan yudikatif) seperti yang ada sekarang ini. Jadi pada zaman pertengahan ini kekuasaan raja amat luas sebab ia sekaligus menjadi pemegang kekuasaan legislative, eksekutif dan yudikatif.13Tetapi lama
kelamaan pemusatan kekuasaan dalam bentuk Political State ini dipersoalkan dan pada akhir abad pertengahan kekuasaan kehakiman diambil dari tangan raja sehingga raja tinggal memegang kekuasaan eksekutif dan legislative. Keadaan inipun pada abad 17 dan 18 dipersoalkan lagi dengan timbulnya pemikiran bahwa kekuasaan legislatif-pun harus diambil dari tangan raja. Ada kecenderungan bahwa raja dengan kekuasaan absolutnya suka berbuat sewenang-wenang dan tidak mengindahkan hak azasi manusia. Pada waktu itu konsep tentang “Kontrak Sosial” (perjanjian masyarakat) yang pernah dirumuskan oleh Thomas Hobbes, John Locke dan J.J. Rousseau sedang tumbuh dan berkembang kembali, sehingga pemikiran tentang pengurangan kekuasaan dari tangan raja sangat berpengaruh.
2) Legal State (Negara Hukum yang Statis)
Pemikiran tentang pemisahan kekuasaan dipengaruhi oleh teori John Locke (1632-1704) seorang flosof Inggris yang pada tahun 1690 menerbitkan buku “Two Treaties on Civil Government”. Dalam bukunya itu John Locke mengemukakan adanya tiga macam kekuasaan di dalam Negara yang harus
12 Sondang P. Siagian, Administrasi Pembangunan, PT. Gunung Agung, Jakarta, hlm. 101-104.
13 E. Utrecht, Pengantar Hukum Tata Usaha Negara Indonesia, NV. Penerbitan dan Balai Buku
diserahkan kepada badan yang masing-masing berdiri sendiri yaitu kekuasaan legislative (membuat Undang-undang), kekuasaan Eksekutif (pelaksanaan Undang-undang atau pemerintahan) dan kekuasaan federative (keamanan dan hubungan luar negeri.
Pengaruh teori Locke tentang pemisahan kekuasaan dalam Negara itu memang tidak sebesar pengaruh teori Montesguieu (1689-1755), seorang ahli hokum berkbangsaan Perancis yang pada tahun 1748 menerbitkan buku yang sangat terkenal dengan “L’Esprit des Lois” (jiwa dari Undang-undang). Montesguieu seperti halnya John Locke mengemukakan satu pembagian kekuasaan-kekuasaan (fungsi) di dalam Negara itu dibagi ke dalam kekuasaan legislative (membuat Undang-undang), eksekutif (melaksanakan Undang-undang) dan yudikatif (mengadili atas pelanggaran terhadap Undang-undang). Teori Montesquieu ini oleh Emmanuel Kant disebut “Trias Politika”.
Perbedaan pembagian kekuasaan menurut John Locke dan Montesquieu ialah, bahwa menurut John Locke kekuasaan yudikatif itu menjadi bagian dari kekuasaan eksekutif sedangkan kekuasaan federatif berdiri sendiri; sebaliknya menurut Montesquieu kekuasaan federative itulah yang menjadi bagian kekuasaan eksekutif sedangkan yudikatif berdiri sendiri.
Tipe Negara “Legal State” ini pemerintah mendapat porsi kekuasaan yang sempit dan tugas pemerintahan yang bersifat pasif artinya Negara hanya menjadi wasit dan melaksanakan berbagai keinginan masyarakat yang disepakati bersama secara demokratis-liberal, pemertah hanya sebagai penjaga malam atau penjamin keamanan. Ada juga yang menyebut dengan “Negara Pluralis”,14 yakni Negara yang pemerintahannya netral dan hanya
hanya menjadi alat dan pelaksana dari keinginan masyarakat. Ada juga yang menyebut dengan istilah “Negara Hukum Formal”.
Dalam konsep Negara hokum yang lama ini dikemukakan cirri-ciri Negara hokum oleh Fredrich Julius Stahl, yakni:
1. Adanya perlindungan hak-hak azasi manusia;
14 Arief Budiman, Bentuk Negara dan Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan, Prisma No. 7,
2. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak azasi manusia itu (Trias Politika);
3. Pemerintah berdasarkan peraturan-peraturan; 4. Peradilan administrasi Negara dalam perselisihan.15
3) Welfare State (Negara Hukum yang Baru/Dinamis)
Konsepsi dan praktek Legal State atau negara hokum yang lamma ternyata telah menimbulkan kepincangan social. Liberalisme dan individualism yang dijadikan dasarnya ternyata hanya menguntungkan kaum borjuis atau mereka yang kuat secara ekonomis, sedangkan mereka yang secara ekonomi lemah (golongan miskin) selalu menjadi golongan yang dirugikan karena dalam memperjuangkan keinginan-keinginannya mereka tidak mempunyai fasilitas, sehingga selalu kalah dalam persaingan bebas itu. Dengan kekayaannya golongan
b. Negara Hukum Demokratis
Terdapat korelasi yang jelas antara Negara hukum, yang bertumpu pada konstitusi, dengan kedaulatan rakyat, yang dijalankan melalui system demokrasi. Korelasi ini tampak dari kemunculan istilah demokrasi konstitusional, sebagaimana disebutkan di atas. Dalam system demokrasi, partisipasi rakyat merupakan esensi dari system ini. Dengan kata lain, Negara hukum harus ditopang dengan system demokrasi. Hubungan diantara keduanya tidak dapat dipisahkan. Demokrasi tanpa pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah, sedangkan hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Menurut Magnis Suseno, “Demokrasi yang bukan Negara hukum, bukan demokrasi dalam arti yang sesungguhnya. Demokrasi merupakan cara paling aman untuk mempertahankan control atas Negara Hukum”. Dengan demikian, Negara hukum yang bertopang pada system demokrasi dapat disebut sebagai Negara hukum demokratis (demokratische rechtsstaat), sebagai perkembangan lebih lanjut dari demokrasi konstitusional. Disebut Negara hukum demokratis, karena di dalamnya mengakomodir prinsip-prinsip
Negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi. J.B.J.M. ten Berge menyebutkan prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut:16
a. Prinsip-prinsip Negara hukum;
5. Asas legalitas. Pembatasan kebebasan warga Negara (oleh pemerintah) harus ditemukan dasarnya dalam undang-undang yang merupakan peraturan umum. Undang-undang secara umum harus memberikan jaminan (terhadap warga Negara) dari tindakan (pemerintah) yang sewenang-wenang, kolusi, dan berbagai jenis tindakan yang tidak benar. Pelaksanaan wewenang oleh organ pemerintahan harus dikembalikan dasarnya pada undang-undang tertulis, yakni undang-undang formal;
6. Perlindungan hak-hak asasi; 7. pemerintah terikat pada hukum;
8. Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum. Hukum harus dapat ditegakkan, ketika hukum tersebut dilanggar. Pemerintah harus menjamin bahwa di tengah masyarakat terdapat instrument yuridis penegakan hukm. Pemerintah dapat memaksa seseorang yang melanggar hukum melalui system peradilan Negara. Memaksakan hukum public secara prinsip merupakan tugas pemerintah;
9. Pengawasan oleh hakim yang merdeka. Superioritas hukum tidak dapat ditampilkan, jika aturan-aturan hukum hanya dilaksanakan organ pemerintahan. Oleh karena itu dalam setiap Negara hukum diperlukan pengawasan oleh hakim yang merdeka.
b. Prinsip-prinsip demokrasi;
1. Perwakilan politik. Kekuasaan politik tertinggi dalam suatu Negara dan dalam masyarakat diputuskan oleh badan perwakilan, yang dipilih melalui pemilihan umum;
2. Petanggungjawaban politik. Organ-organ pemerintahan dalam menjalankan fungsinya sedikit banyak tergantung secara politik yaitu kepada lembaga perwakilan;
3. Pemencaran kewenangan. Konsentrasi kekuasaan dalam masyarakat pada satu organ pemerintahan adalah kesewenang-wenangan. Oleh
16 Disarikan dari J.B.J.M. ten Berge. Besturen Door De Overheid, W.E.J. Tjeenk Willink,
karena itu kewenangan badan-badan public itu harus dipencarkan pada organ-organ yang berbeda;
4. Pengawasan dan control. (Penyelenggaraan) pemerintahan harus dapat dikontrol;
5. Kejujuran dan keterbukaan pemerintahan untuk umum; 6. Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan.
c. Tugas-tugas Pemerintah dalam Negara Hukum Modern (welvaartstaat) Pemusatan kekuasaan Negara pada satu tangan atau satu lembaga telah membawa bencana bagi kehidupan demokrasi dan kemasyarakatan. Kemudian lahir teori pemencaran kekuasaan atau pemisahan kekuasaan
(spreading van machten of machtensscheiding). Adalah John Locke
dianggap pertama kali mengintrodusir ajaran pemisahan kekuasaan Negara, dengan membaginya menjadi kekuasaan legislative (membuat undang-undang), kekuasaan eksekutif (melaksanakan undang-undang-undang), dan kekuasaan federatif (keamanan dan hubungan luar negeri). Ajaran pemisahan kekuasaan ini menjadi kian popular segera setelah seorang ahli hukum berkebangsaan Prancis, Montesquieu, menerbitkan buku L’Esprit
des Lois (The Spirit of the Law), yang mengemukakan bahwa dalam suatu
Negara ada tiga organ dan fungsi utama pemerintahan, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudisial.
Ajaran Negara hukum yang kini dianut oleh Negara-negara di dunia khususnya setelah perang dunia kedua adalah Negara kesejahteraan
(welfare state). Konsep Negara ini muncul sebagai reaksi atas kegagalan
konsep legal state atau Negara penjaga malam. Dalam konsep legal state terdapat prinsip staatsonthouding atau pembatasan peran Negara dan pemerintah dalam bidang politik yang melahirkan dalil “The least
government is the best government”, dan terdapat “laissez faire, laissez aller” dalam bidang ekonomi yang melarang Negara dan pemerintah
mencampuri ekonomi masyarakat (staatsbemoeienis). Pendeknya, “The
state should intervene as little as possible ini people ini peoples’s lives and businesses”.17 Akibat pembatasan ini pemerintah atau administrasi Negara
menjadi pasif, dan oleh karenanya sering disebut Negara penjaga malam
(nachtwakerstaat). Adanya pembatasan Negara dan pemerintah ini
berakibat menyengsarakan warga Negara, yang kemudian muncul gagasan yang menempatkan pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kesejahteraan rakkyatnya, yaitu welfare state. Ajaran welfare state
17 Lihat AP Le Sueur dan JW Herberg, Constitutional & Adminstrative Law, Cavendish
merupakan bentuk konkret dari peralihan prinsip staatsonthouding, yang membatasi peran Negara dan pemerintah untuk mencampuri kehidupan ekonomi dan social masyarakat, menjadi staatsbemoeienis yang menghendaki Negara dan pemerintah terlibat aktif dalam kehidupan ekonomi dan social masyarakat, sebagai langkah untuk mewujudkan kesejahteraan umum, di samping menjaga ketertiban dan keamanan (rust
en orde). Menurut E. Utrecht, sejak Negara turut serta secara aktif dalam
pergaulan kemasyarakatan, maka lapangan pekerjaan pemerintah makin lama makin luas. Aministrasi Negara diserahi kewajiban untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum (bestuurszorg).18 Agar dapat
menjalankan tugas menyelenggarakan kesejahteraan rakyat, menyelenggarakan pengajaran bagi semua warga Negara, dan sebagainya secara baik, maka administrasi Negara memerlukan kemerdekaan untuk dapat bertindak atas inisiatif sendiri (freies ermessen atau discretionary
power). Pemberian kewenangan yang luas untuk bertindak diberikan pula
kewenangan untuk membuat instrument hukumnya. Menurut E. Utrecht,19
kekuasaan administrasi Negara dalam bidang ligislasi ini meliputi; pertama, kewenangan untuk membuat peraturan atas inisiatif sendiri, terutama dalam menghadapi soal-soal genting yang belum ada peraturannya, tanpa bergantung pada pembuat undang-undang pusat; kedua, kekuasaan administrasi Negara untuk membuat peraturan atas dasa delegasi. Karena pembuat undang-undang pusat tidak mampu memperhatikan tiap-tiap soal yang timbul dank arena pembuat undang-undang hanya dapat menyelesaikan soal-soal yang bersangkutan dalam garis besarnya saja dan tidak dapat menyelesaikan tiap detail pergaulan sehari-hari, maka pemerintah diberi tugas menyesuaikan peraturan-peraturan yang diadakan pembuat undang-undang pusat dengan keadaan yang sungguh-sungguh terjadi di masyarakat; ketiga, droit function yaitu kekuasaan administrasi Negara untuk menafsirkan sendiri berbagai peraturan, yang berarti administrasi Negara berwenang mengoreksi (corrigeren) hasil pekerjaan pembuat undang-undang.
c. Negara Hukum dan Hukum Administrasi Negara
Negara hukum menurut F.R. Bothlingk adalah “De staat, waarin de
vilsvrijheid van gazagsdragers is beperkt door grenzen van recht” (Negara,
di mana kebebasan kehendak pemegang kekuasaan dibatasi oleh ketentuan hukum).
18 E. Utrecht., op. cit., hlm. 28-29
Penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan dan kenegaraan dalam suatu Negara hukum terdapat aturan-aturan hukum yang tertulis dalam konstitusi atau peraturan-peraturan yang terhimpun dalam hukum tata Negara. Hukum tata Negara membutuhkan hukum lain yang lebih bersifat teknis. Hukum tersebut adalah Hukum administrasi Negara. Menurut J.B.J.M. ten
Berge,20hukum administrasi Negara adalah “in het verlengde van het staatsrecht” (perpanjangan dari hukum tata Negara) atau “als secundair recht heft meer berekking op de nadere diferentiatie van de publieke rechtsorde onder invloed van de taakuitoefening door de overhead” (sebagai
hukum sekunder yang berkenaan dengan keanikaragaman lebih mendalam dari tatanan hukm public sebagai akibat pelaksanaan tugas oleh penguasa).
2. Pengertian dan Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara
a. Peristilahan :
Di negeri Belanda terdapat dua istilah mengenai hukum ini, yaitu
bestuurrecht dan administratief recht, kata administratie sering
diterjemahkan tata usaha, tata usaha pemerintahan, tata pemerintahan, tata usaha Negara, dan administrasi. Sedang bestuur diterjemahkan dengan pemerintahan. Perbedaan terjemahan ini berakibat pada perbedaan penamaan terhadap cabang hukum ini, yakni seperti Hukum Administrasi Negara, Hukum Tata Pemerintahan, Hukum Tata Usaha Pemerintahan, Hukum Tata Usaha, Hukum Tata Usaha Negara, Hukum Tata Usaha Negara Indonesia, Hukum Administrasi Negara Indonesia, dan Hukum Administrasi. Adanya keragaman istilah ini berkembang kecenderungan menggunakan istilah Hukum Administrasi Negara, karena lebih luas pengetiannnya, sehingga membuka ke arah pengembangan hukum lebih lanjut.
a.1. Adiministrasi Negara
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, administrasi diartikan sebagai berikut; pertama, usaha dan kegiatan yang meliputi penetapan tujuan serta penetapan cara-cara penyelenggaraan pembinaan organisasi; kedua, usaha dan kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kebijaksaan serta mencapai tujuan.; ketiga, kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan; keempat, kegiatan kantor dan tata usaha. Prajudi
Atmosudirdjo mengemukakan bahwa administrasi Negara mempunyai tiga
arti, yaitu; pertama, sebagai salah satu fungsi pemerintah; kedua, sebagai