Untuk memahami hakikat hak asasi manusia, terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian dasar tentang hak. Secara definitive “ hak” merupakan unsure normative yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku, melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Hak mempunyai unsur – unsur sebagai berikut : a) Pemilik hak, b) Ruang lingkup penerapan hak, dan c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak 149. Ketiga unsure tersebut menyatu dalam pengertian dasar hak. Dengan demikian hak merupakan unsure normative yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.
Hak merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Dalam kaitan dengan pemerolehan hak paling tidak ada 2 teori yaitu teori McCloskey dan teori Joel Feinberg . Dalam teori
McCloskey dinyatakan bahwa pemberian hak adalah untuk dilakukan, dimiliki, dinikmati
atau sudah dilakukan. Sedangkan dalam teori Joel Feinberg dinyatakan bahwa pemberian hak penuh merupakan kesatuan dari klaim yang abash ( keuntungan yang didapat dari pelaksanaan hak yang disertai pelaksanaan kewajiban )150. Dengan demikian keuntungan dapat diperoleh dari pelaksanaan hak bila disertai dengan pelaksanaan kewajiban. Hal ini berarti antara hak dan kewajiban merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam perwujudannya. Karena itu ketika seseorang menuntut hak juga harus melaksanakan kewajiban.
149 Tim ICCE UIN Jakarta, Demokrasi, Hak ASasi Manusia , penerbit ICCE UIN edisi revisi, 2003 , hal 121
Istilah yang dikenal di Barat mengenai Hak – Hak Asasi Manusia ialah “right of
man”, yang menggantikan istilah “ natural right “ . istilah “right of man” ternyata tidak
secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup “right of women”. Karena itu istilah “ right of women” diganti dengan istilah “ Human Raight “ oleh Eleanor Roosevelt karena di pandang lebih netral dan universal. Sementara itu HAM didalam Islam dikenal dengan istilah huquq al insane ad-dhoririyah dan huquq Allah. Dalam Islam antara huquq al
insane ad-dhoririyah dan huquq Allah tidak dapat dipisahkan atau berjalan sendiri-sendiri
tanpa adanya keterkaitan satu dengan yang lainnya. Inilah yang membedakan konsep Barat tentang HAM dengan konsep Islam.
Menurut pendapat Jan Materson ( dari Komisi HAM PBB), dalam Teaching Human Raights, United Nations sebagai mana dikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa “
Human Raights could be generally defined as those raight which are inherent in our nature and without which can not live as human being” ( hak asasi manusia adalah hak – hak yang
melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia ). Selanjutnya John Locke menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak – hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati151 . Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun didunia yang dapat mencabutnya. Hak ini sifatnya sangat mendasar ( fundamental ) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hak kodrati yang tidak bisa terlepas dari dan dalam kehidupan manusia.
Dalam Undang – Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 1 disebutkan bahwa “ Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah –Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh
151 Effendi masyhur, dimensi dan dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional, penerbit ghalia Indonesia, 1994 , hal 12
negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.” 152
Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas, diperoleh suatu kesimpulan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati, dijaga dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat atau negara.
Dengan demikian hakikat penghormatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak adan kewajiban, serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Upaya menghormati, melindungi dan menjunjung HAM, menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara individu, pemerintah (aparatur pemerintahan baik sipil maupun meliter) bahkan negara. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan yang harus dilaksanakan. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan orang banyak (kepentingan umum). Karena itu, pemenuhan, perlindungan dan penghormatan terhadap HAM harus diikuti dengan pemenuhan terhadap KAM ( Kewajiban Asasi Manusia) dan TAM (Tanggung Jawab Asasi Manusia) dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara153.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hakikat dari HAM adalah keterpaduan antara Hak Asasi Manusia, Kewajiban Asasi Manusia dan Tanggung jawab Asasi Manusia yang berlangsung secara sinergis dan seimbang. Bila ketiga unsure asasi (HAM, KAM, dan TAM) yang melekat pada setiap individu manusia, baik dalam tatanan kehidupan pribadi, kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan dan pergaulan global tidak berjalan secara
152 Undang-Undang no 39 tahun 1999 , Departemen Hukum dan perundang-undangan , HAM
seimbang, dapat dipastikan akan menimbulkan kekacauan, anarkisme dan kesewenang – wenangan dalam tata kehidupan umat manusia.
Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tetang beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi, HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal – usul social dan bangsa.
c. HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM 154.
Untuk itu walaupun HAM dengan segala keberadaan manusia menjadi tidak terbatas namun dalam hal ini juga harus dikaitkan dengan kebijakan, hukum, aturan, tata nilai, moral dan sebagainya 155.
Perkembangan Pemikiran HAM
Perkembangan Pemikiran HAM Secara Umum. Pembicaraan tentang keberadaan HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya hukum alam (natural law) yang menjadi cikal bakal bagi kelahiran HAM. Hukum alam menurut Marcus G. Singer merupakan satu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan system keadilan dan erlaku untuk seluruh umat manusia. Stoa menegaskan bahwa hukum alam diatur berdasarkan logika manusia, karena manusia akan mentaati hukum alam tersebut. Seperti diakui Aristoteles bahwa hukum alam
154
Mansour faqih dkk, menegakkan keadilan dan kemanusiaan , pembangunan untuk membangun gerakan HAM, Yogyakarta ,Insist Press,2003 hal 25
merupakan produk asli rasio manusia demi terciptanya keadilan abadi. Salah satu muatan hukum alam adalah hak – hak pemberian dari alam (natural rights ), karena dalam hukum alam ada system keadilan yang berlaku universal156.
Dengan demikian, masalah keadilan yang merupakan inti dari hukum alam akan menjadi pendorong bagi upaya penghormatan dan perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan universal.
Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dimulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara lain memuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolute (raja yang menciptakan hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya), menjadi di batasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggung jawabannya di muka hukum (Masyhur Effendi,1994)Magna Charta telah menghilangkan hak absolutism raja. Sejak itu mulai diperaktikkkan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan mempertanggung jawabkan kebijakan pemerintahannya kepada parlemen.
Pasal 21 Magna Charta menggariskan “Earls and barons shall be fined by their
equal and only in proportion to the measure of the offence” (Para Pangeran dan Baron akan
dihukum (didenda) berdasarkan atas kesamaan dan sesuai denganpelanggaran yang dilakukannya). Selanjutnya pada pasal 40 ditegaskan “ …no one will we deny or delay, right
or justice” (…tidak seorangpun menghendaki kita mengingkari atau menunda tagaknya hak
atau keadilan). Lahirnya Magna Charta ini kemudian diikuti oleh lahirnya Bill of Raigts di Inggris pada tahun 1689. Pada masa itu mulai timbul pandangan (adagium) yang intinya bahwa manusia sama dimuka hukum (equality before the law). Adagium ini memeperkuat timbulnya negara hukum dan negara demokrasi. Bill of Rights melahirkan asas persamaan harus diwujudkan, betapapun berat resiko yang harus dihadapi, karena hak kebebasan baru dapat diwujudkan kalau ada hak persamaan. Untuk mewujudkan semua itu, maka lahirlah
teori kontrak social J.J Rosseau (social contract teori), teori trias politika Mountesquieu, John Locke di Inggris dengan teori hukum kodrati dan Thomas Jefferson di AS dengan hak-hak dasar kebebasan dan persamaannya yang dicanangkannya157.
Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of
Independence yang lahir dari paham Rousseau dan Montesquieu. Mulalilah dipertegas bahwa
manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir, ia harus dibelenggu. Selanjutnya, pada tanggal 1789 lahirlah The French Dedaration (Deklarasi Perancis), dimana ketentuan tentang hak lebih dirinci lagi sebagaimana dimuat dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidak boleh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena, termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. Dalam kaitan ini berlaku prinsip
presumption of innocent, artinta orang-orang yang ditangkap, kenudian di tahan dan di tuduh,
berhak dinyatakan tidak bersalah, sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. Kemudian prinsip itu dipertegas oleh prinsip freedom of
expression (kebebasan mengeluarkan pendapat), freedom of religion (bebas menganut
keyakinan/agama yang dikehendaki), The right of property (perlindungan hak milik), dan hak-hak dasar lainnya. Jadi, dalam French Dedaration sudah tercakup hak-hak – hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hukum158.
Berdasarkan rumusan di atas, ada empat hal yaitu hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya, hak kebebasan dari kemiskinan dalam pengertian setiap bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya, hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha, pengurangan persenjataan, sehingga tidak satu
157 Opcit mansyur effendi , hal 15
bangsapun(negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap negara lain .
Selanjutnya pada tahun 1944 diadakan Konferensi Buruh Internasional di Philadelphia yang kemudian menghasilkan Deklarasi PhiladelPhia. Isi dari konferensi tersebut tentang kebutuhan penting untuk menciptakan perdamaian dunia berdasarkan keadilan social dan perlindungan seluruh manusia apapun ras, kepercayaan dan jenis kelaminnya, memiliki hak untuk mengejar perkembangan material dan spiritual dengan bebas dan bermartabat, keamanan ekonomi dan kesempatan yang sama 159. Semua hak-hak diatas sesudah perang dunia ke-II (sesudah Hitler memusnahkan berjuta-juta manusia) dijadikan dasar pemikiran untuk menjadi embrio rumusan HAM yang bersifat universal sebagaimana dalam Universal Declaration of Human Rights PBB tahun 1948 ).
Pemikiran HAM terus berlangsung dalam rangka mencari rumusan HAM yang sesuai dengan konteks ruang dan zamannya. Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM dibagi 4 generasi.160 Generasi pertama berpendapat bahwa pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. Focus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dari situasi perang dunia II, totaliterisme dan adanya keingina negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru.
Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja hanya menuntut hak yuridid melainkan
juga hak-hak social, ekonomi, politik dan budaya. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukkan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. Pada generasi kedua ini lahir dua covenant yaitu International Covenant on Economic, Social and Cultural
Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. Kedua covenant tersebut
disepakati dalam sidang umum PBB 1966. Pada masa generasi kedua, hak yuridis kurang
159 Op.cit , faqih mansour, hal 23
dapat penekanan sehingga terjadi ketidak seimbangan dengan hak sosial – budaya, hak ekonami dan hak politik.
Selanjutnya lahir generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum alam suatu keranjang yang disebut hak-hak melaksanakan pembangunan( The Rights
of Development )sebagai istialh yang diberikan oleh International Comission of Justice.
Dalam pelaksanaanyya hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidak seimbangan dimana terjadi penekanan terhadap hak ekonomi dalam arti pembengunan ekonomi menjadi proritas utama, sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban, karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar. Kalau kata “pembengunan” tetap dipertahankan,maka pembangunan tersebut haruslah berpihak kepada rakyat dan diarahkan kepada redistribusi kekayaan nasional serta redistribusi sumber-sumber daya sosial, ekonomi, hukum, politik dan budaya secara merata. Keadilan dan pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak mulainya pembangunan itu sendiri, bukan setelah pembangunan itu selesai. Agaknya pepatah kuno “justice delayed, justice deny” tetap berlaku untuk kita semua.
Setelah banyaknya dampak negative yang ditimbulkan dari pemikiran HAM generasi ketiga, lahirlah generasi keempat yang mengkritik peranan negara yang sangat dominan dalm proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak negatif seperti diabaikannya aspek kesejaheraan rakyat. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan sekelompok elit. Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara – negara dikawasan Asia yang pada tahun 1983 mendeklarasikan hak asasi manusia yang disebut Declaration of The Basic Duties of Asia People ad Government. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga, karena tidak saja mencakup tuntutan structural tetapi juga berpihak kepada terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan. Selain itu deklarasi HAM Asia
telah berbicara mengenai masalah „kewajiban asasi‟ bukan hanya „hak asasi‟. Deklarasi tersebut juga secara positif mengukuhkan keharusan imperative dari negara untuk memenuhi hak asasi rakyatnya. Beberapa masalah dalam deklarasi ini ynag terkait dalam HAM dalam kaitan dengan pembangunan sebagai berikut :
a. Pembangunan Berdikari ( self development).
Pembangunan yang dilakukan adalah pembangunan yang membebaskan rakyat dan bangsa dari ketergantungan dan sekaligus memberikan kepada rakyat sumber-sumber daya sosial-ekonemi. Relokasi dan redistribusi kekayaan dan modal nasional haruslah dilakukan dan sudah waktunya sasaran pembangunan itu ditujukan kepada rakyat banyak dipedesaan.
b. Perdamaian.
Masalah perdamaian tidaklah semata-mata berarti anti perang, nti nuklir dan anti perang bintang. Tetapi justru lebih dari itu suatu upaya untuk melepaskan diri dari budaya kekerasan (culture of violence) dengan segala bentuk tindakan. Hal ini berarti penciptaan budaya damai (culture of peach) menjadi tugas semua pihak baik rakyat, negara, regional maupu internasional.
c. Partisipasi Rakyat.
Soal partisipasi rakyat ini adalah suatu persoalan hak asasi yang sangat mendesak untuk terus diperjuangkan baik dalam dunia politik maupun dalam persoalan public lainnya.
d. Hak-hak Budaya.
Di beberapa masyarakat menunjukkan tidak dihormatinya hak-hak budaya terasa. Begitu jiga adanya upaya dan kebijakan penyeragaman budaya oleh negara merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak asasi berbudaya, karena mengarah kepenghapusan kemajemukan budaya (multiculturalism) yang menjadi identitas kekayaan suatu komunitas warga dan bangsa.
e. Hak Keadilan Sosial.
Masalah keadilan sosial ini seharusnya tidak perlu dituliskan lagi, akan tetapi karena dalam suatu negara tetap masih jauh dari pencerminan keadilan sosial, maka harus diingatkan terus sebagai suatu tuntutan warga bangsa. Keadilan sosial tidak saja berhenti pada saat tatanan sosial yang tidak adil dijungkir balikkan dan diganti dengan tatanan sosial yang berkeadilan.161
b. Bentuk – Bentuk Hak Asasi Manusia
Prof. Bagir Manan membagi HAM pada beberapa kategori yaitu : hak sipil, hak
politik, hak ekonomi, hak sosial dan budaya. Hak sipil terdiri dari hak diperlakukan sama
dimuka hukum, hak bebas dari kekerasan, hak khusus bagi kelompok masyarakat tertentu, dan hak hidup dan kehidupan. Hak politik terdiri dari hak kebebasan berserikat dan berkumpul, hak kemerdekaan mengeluarkan pikiran lisan dan tulisan, dan hak menyampaikan pendapat dimuka umum. Hak ekonomi terdiri dari hak jaminan sosial, hak perlindungan kerja, hak perdagangan dan hak pembangunan berkelanjutan. Hak sosial budaya terdiri dari hak memperoleh pendidikan, hak kekayaan intelektual, hak kesehatan, dan hak memperoleh perumahan dan pemukiman 162.
Dalam Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) atau yang dikenal dengan istilah DUHAM, Hak Asasi Manusia terbagi kedalam beberapa jenis, yaitu hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi), hak legal (hak jaminan perlindungan hukum), hak sipil dan politik, hak subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonomi, sosial dan budaya163.
161
Ibid, hal 207
162 Bagir manan, perkembangan dan pemikiran pengaturan HAM di Indonesia, penerbit alumni bandung, 2005, hal 28
Hak personal, hak legal, hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3 – 21 dalam DUHAM tersebut memuat :
1. Hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi; 2. Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan;
3. Hak bebas daripenyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam, tak berprikemanusiaan ataupun merendahkan derajat kemanusiaan;
4. Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi; 5. Hak untuk pengampunan hukum secara efektif;
6. Hak bebas dari penangkapan, penahanan atau pembuangan yang sewenang – wenang;
7. Hak untu peradialn yang independen dan tidak memihak; 8. Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah;
9. Hak bebas dari campur tangan yang sewenang – wenang terhadap kekuasaan pribadi, keluarga, tempat tinggal maupun surat – surat;
10. Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik; 11. Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu; 12. Hak bergerak;
13. Hak memperoleh suaka; 14. Hak atas satu kebangsaan;
15. Hak untuk menikah dan membentuk keluarga; 16. Hak untuk mempunyai hak milik;
17. Hak bebas berfikir, berkesadaran dan beragama; 18. Hak bebas berfikir dan menyatakan pendapat; 19. Hak untuk berhimpun dan berserikat;
20. Hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat.164
Sedangkan hak ekonami,sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut, yaitu:
1. Hak atas jaminan sosial; 2. Hak untuk bekerja;
3. Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama; 4. Hak untuk bergabung kedalam serikat-serikat buruh; 5. Hak atas istirahat dan waktu senggang;
6. Hak atas standart hidup yang pantas dibidang kesehatan dan kesejahteraan; 7. Hak atas pendidikan;
8. Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat. Sementara itu dalam UUD 1945 (amamdemen I – IV UUD 1945) memuat hak asasi manusia yang terdiri dari hak :
1. Hak kebebasan mengeluarkan pendapat; 2. Hak kedudukan yang sama di dalam hukum; 3. Hak kebebasan berkumpul;
4. Hak kebebasan beragama; 5. Hak penghidupan yang layak; 6. Hak kebebasan berserikat;
7. Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan165.
Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut :
164 Ibid hal 214
1. Hak untuk hidup;
2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan; 3. Hak mengembangkan diri;
4. Hak memperoleh keadilan; 5. Hak atas kebebasan pribadi; 6. Hak atas rasa aman;
7. Hak atas kesejahteraan;
8. Hak turut serta dalam pemerintahan; 9. Hak wanita;
10. Hak anak.
c. HAM Dalam Tinjauan Islam
Islam sebagai sebuah agama dengan ajarannya yang universal dan komprehensif meliputi akidah, ibadah, dan mu‟amalah, yang masing – masing memuat ajaran tentang keimanan; dimensi ibadah memuat ajaran tentang mekanisme pengabdian manusia terhadap Allah; dengan memuat ajaran tentang hubungan manusia dengan sesame manusia maupun dengan alam sekitar. Kesemua dimensi ajaran tersebut dilandasi oleh ketentuan- ketentuan yang disebut dengan istilah syari‟at atau fikih. Dalam konteks syari‟at dan fikih itulah terdapat ajaran tentang hak asasi manusia (HAM). Adanya ajran tentang HAM dalam islam menunjukkan bahwa islam sebagai agama telah menempatkan manusia sebagai makhluk terhormat dan mulia. Karena itu, perlindungan dan penghormatan terhadap manusia merupakan tuntutan dari ajaran islam itu sendiri yang wajib dilaksanakan oleh umatnya terhadap sesama manusia tanpa terkecuali.
Menurut Maududi, HAM adalah hak kodrati yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia dan tidak dapat dicabut atau dikurangi oleh kekuasaan atau badan apapun. Hak-hak yang diberikan Allah itu bersifat permanen, kekal dan abadi, tidak boleh diubah atau
dimodifikasi 166. Dalam islam terdapat dua konsep tentang hak, yakni hak manusia (haq al
insane)dan hak Allah. Setiap hak itu saling melandasi satu sama lain. Hak Allah melandasi
hak manusia dan juga sebaliknya. Dalam aplikasinya, tidak ada satupun hak yang terlepas dari kedua hak tersebut, misalnya, shalat. Manusia tidak perlu campur tangan untuk memaksakan seseorang untuk mau shalat atau tidak, karena shalat merupakan hak Allah, maka tidak ada kekuatan duniawi apakah itu negara, organisasi ataupunteman yang berhak