• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENGERTIAN HUKUM TATA NEGARA. Pengertian Negara terdapat perbedaan dalam definisi dan istilah negara juga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENGERTIAN HUKUM TATA NEGARA. Pengertian Negara terdapat perbedaan dalam definisi dan istilah negara juga"

Copied!
283
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

BAB I

PENGERTIAN HUKUM TATA NEGARA a. Pengertian Negara

Pengertian Negara terdapat perbedaan dalam definisi dan istilah “negara” juga

mengandung pelbagai arti, yang menurut Prof. Mr. L.J. van Apeldoorn dalam bukunya yang berjudul “ Inleiding tot de studie van het Nederlandse Recht” (Pengantar Ilmu Hukum Belanda) bahwa :

1. Istilah negara dipakai dalam arti “penguasa”, untuk menyatakan orang atau orang-orang yang melakukan kekuasaan tertinggi atas persekutuan rakyat yang bertempat tinggal dalam sesuatu daerah.

2. Istilah negara kita dapati juga dalam arti “persekutuan rakyat”, yakni untuk menyatakan sesuatu bangsa yang hidup dalam suatu daerah, di bawah kekuasaan yang tertinggi, menurut kaidah-kaidah hukum yang sama.

3. Negara mengandung arti “sesuatu wilayah tertentu”, dalam hal ini istilah negara dipakai untuk menyatakan sesuatu daerah didalamnya diam sesuatu bangsa di bawah kekuasaan tertinggi.

4. Negara terdapat juga dalam arti “kas negara atau fiscus”, jadi untuk menyatakan harta yang dipegang oleh penguasa guna kepentingan umum, misalnya dalam istilah “domein negara”, pendapatan negara dan lain-lain1

.

Secara terminologi, negara diartikan dengan organisasi tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup di dalam daerah

(3)

tertentu dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat2. Pengertian ini mengandung nilai konstitutif dari sebuah negara yang meniscayakan adanya unsur dalam sebuah negara, yakni adanya masyarakat (rakyat), adanya wilayah (daerah) dan adanya pemerintah yang berdaulat.

Negara juga dapat didefinisikan dengan alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat. berkaitan dengan hal tersebut negara merupakan suatu masyarakat yang diintergrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu. Masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang hidup disuatu wilayah dan bekerja sama untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama.

Dari beberapa pendapat tentang Negara secara sederhana dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan Negara merupakan suatu wilayah territorial yang didiami oleh rakyat nya diperintah oleh sejumlah orang-orang yang memiliki kewenangan menuntut hak dan kewajiban dari rakyatnya untuk patuh dan taat pada norma-norma yang ditetapkan melalui perundang-undangan dari suatu kekuasaan hukum yang syah.

Unsur Negara

Telah menjadi kelaziman orang hanya mau mengakui satu pengertian dari istilah negara, dan biasanya orang membayangkan “negara” sebagai suatu badan hukum (rechtspersoon) yang meliputi tiga unsur : wilayah, rakyat, dan pemerintahan, akan tetapi bersifat satu dan tak dapat dibagi-bagi.

2 Tim ICCE UIN Jakarta, Demokrasi, Hak asasi manusia , dan masyarakat Madani , penerbit ICCE UIN syarif

(4)

Seperti juga halnya dengan badan-badan hukum lainnya : perseroan terbatas dan koperasi, maka negara juga memerlukan lembaga-lembaga untuk melaksanakan kehendaknya, dan yang dianggap sebagai lembaga-lembaga pelaksana kehendak negara itu ialah para

penjabat negara : presiden, menteri, sekretaris jenderal, direktur jenderal dan lain-lain.

5. Rakyat ( Masyarakat/Warga Negara)

Setiap negara tidak mungkin bisa ada tanpa adanya warga atau rakyatnya. Unsur rakyat ini sangat penting dalam sebuah negara, karena secara kongkret rakyatlah yang memiliki kepentingan agar negara itu dapat berjalan dengan baik. Selain itu, bagaimanapun juga manusialah yang akan mengatur dan menentukan sebuah organisasi (negara)

Rakyat dalam konteks ini diartikan sebagai sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu rasa persamaan dan yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu. Mungkin tidak dapat dibayangkan adanya suatu negara tanpa rakyat, (warga negara). Rakyat

tas-batas teritorial yang jelas. Sebagai contoh, pada tahun 1860, Kursi Suci (Holy See,

Papacy) adalah sebuah negara, karena menguasai sebagian wilayah Italia dari pantai barat

sampai ke bagaian timur jazirah Italia. Ketika pada tahun 1800-1861 Italia menjadi kerajaan yang disatukan, maka Kursi Suci diinkorpotir ke dalam wilayah kerajaan baru itu, kecuali wilayah di sekitar kota Roma yang tetap dikuasainya. Akan tetapi pada tahun 1870, wilayah sekitar kota Roma itu pun dilepaskan dari kekuasaan Kursi Suci. Secara otomatis kemudian Kursi Suci lenyap sebagai negara. Baru dalam tahun 1929 dengan Traktat Lateran dicapai persetujuan antara Mussolini dan Paus tentang hubungan gereja dan negara. Dengan Traktat

Lateran itu diciptakan kembali Negara Vatikan yang meliputi luas wilayah 109 Ha di

(5)

Secara mendasar, wilayah dalam sebuah negara biasanya mencakup daratan (wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara)

a. Daratan (wilayah Darat)

Wilayah darat suatu negara dibatasi oleh wilayah darat dan atau laut (perairan) negara lain. Perbatasan wilayah sebuah negara biasanya ditentukan berdasarkan perjanjian. Perjanjian internasional yang dibuat antara dua negara disebut perjanjian bilateral (bi = dua), perjanjian yang dibuat anatara banyak negara disebut perjanjian multilateral (multi = banyak). Perbatasan antara dua negara dapat berupa :

1. Perbatasan alam, seperti sungai, danau, pegunungan atau lembah. 2. Perbatasan buatan, seperti pagar tembok, pagar kawat tiang tembok.

3. Perbatasan menurut Ilmu Pasti, yakni dengan menggunakan ukuran Garis Lintang atau Bujur pada peta bumi.

b. Perairan (wilayah Laut/Perairan)

Perairan atau laut yang menjadi bagian atau termasuk wilayah suatu negara disebut perairan atau laut teritorial dari negara yang bersangkutan. Adapun batas dari perairan teritorial itu pada umumnya 3 mil laut (5,555 km) yang dihitung dari pantai ketika air surut. Laut yang berada di luar perairan teritorial disebut Lautan Bebas (Mare Liberum). Disebut dengan Lautan Bebas, karena wilayah perairan tersebut tidak termasuk wilayah kekuasaan suatu negara sehingga siapapun bebas memanfaatkannya.

(6)

c. Udara (wilayah Udara)

Udara yang berada di atas wilayah darat (daratan) dan wilayah laut (perairan) teritorial suatu negara merupakan bagian dari wilayah udara sebuah negara . Mengenai batas ketinggian sebuah wilayah negara tidak memiliki batas yang pasti, asalkan negara yang bersangkutan dapat mempertahankannya.

6. Pemerintah

Pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin organisasi negara untuk mencapai tujuan negara. Oleh karenanya, pemerintah seringkali menjadi personifikasi sebuah negara.

Pemerintah menegakkan hukum dan memberantas kekacauan, mengadakan perdamaian dan menyelaraskan kepentingan-kepentingan yang bertentangan. Pemerintah yang menetapkan, menyatakan dan menjalankan kemauan individu-individu yang tergabung dalam organisasi politik yang disebut negara. Pemerintah adalah badan yang mengatur urusan sehari-hari, yang menjalankan kepentingan-kepentingan bersama. Pemerintah melaksanakan tujuan-tujuan negara, menjalankan fungsi-fungsi kesejahteraan bersama.

Asal Usul Negara dan Teori Terbentuknya Negara

Asal usul berdirinya Negara pada prinsipnya sejak jaman yunanai kuno sejalan dengan tujuan bernegara, sehingga sesuai dengan perkembangan peradaban manusia yang sangat berkaitan dengan siapa yang memerintah. Sebagaimana Pendapat R.M. Mac Iver Dalam bukunya yang berjudul The Web of Government, Mac Iver menguraikan sebagai berikut :

7. Mengapakan seorang manusia memerintah jutaan orang lain ? 8. Bagaimana dan mengapa manusia itu patuh ?

(7)

Mengenai pertanyaan “Mengapakah seseorang manusia memerintah jutaan orang lain,” Mac Iver menulis sebagai berikut : “Pemerintahan memberikan kepada seseorang manusia kekuasaan atas manusia-manusia lainnya, suatu kekuasaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun juga, baik karena haknya maupun karena kekuatannya sendiri.3”

Beberapa Teori Tentang Terbentuknya Negara : 1. Teori Kontrak Sosial (Social Contract).

Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan bahwa negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjanjian masyarakat4. Teori ini adalah salah satu teori yang terpenting mengenai asal-usul negara. Di samping tertua, teori ini juga relatif bersifat universal, karena teori perjanjian masyarakat adalah teori yang termudah dicapai, dan negara tidak merupakan negara tirani.

Penganut teori kontrak sosial ini mencakup para pakar dari paham kenegaraan yang absolutis sampai ke penganut paham kenegaraan yang terbatas. Untuk menjelaskan teori asal – mula negara yang didasarkan atas kontrak sosial ini, dapat dilihat dari beberapa pakar yang memiliki pengaruh dalam pemikiran politik tentang negara, yaitu Thomas Hobbes, John Locke dan JJ. Rousseau.

2. Teori Ketuhanan

Teori ketuhanan ini dikenal juga dengan doktrin teokratis dalam teori asal mula negara. Teori ini pun bersifat universal dan ditemukan baik di dunia Timur maupun di dunia Barat, baik di dalam teori maupun dalam praktik. Doktrin ketuhanan ini memperoleh

3 CST Kansil, opcit hal 5

(8)

bentuknya yang sempurna dalam tulisan-tulisan para sarjana Eropa pada Abad Pertengahan yang menggunakan teori itu untuk membenarkan kekuasaan raja-raja yang mutlak. Doktrin ini mengemukakan hak-hak raja yang berasal dari Tuhan untuk memerintah dan bertahta sebagai raja (Devine Rights of Kings). Doktrin ketuhanan lahir sebagai resultante kontroversial dari kekuasaan politik dalam Abad Pertengahan. Kaum “monarchmach” (penentang raja) berpendapat bahwa raja yang berkuasa secara tiranik dapat diturunkan dari mahkotanya, bahkan dapat dibunuh. Mereka beranggapan bahwa sumber kekuasaan adalah rakyat, sedangkan raja-raja pada waktu itu beranggapan kekuasaan mereka diperoleh dari Tuhan5.

Negara dibentuk oleh tuhan dan pmimpin-pemimpin negara ditunjuk oleh Tuhan. Raja dan pemimpin-pemimpin negara hanya bertanggung jawab pada Tuhan dan tidak pada siapapun. Teori teokratis seperti ini memang sudah amat tua dan didasrkan atas sabda Paulus yang terdapat dalam Rum XIII ayat 1 dan 2. Penganut teori ini adalah Agustinus, Yulius stahi, Kranenburg, dan Thomas Aquinas.

3. Teori Kekuatan

Teori kekuatan secara sederhana dapat diartikan bahwa negara yang pertama adalah hasil dominasi dari kelompok yang kuat terhadap kelompok yang lemah. Negara terbentuk dengan penaklukan dan pendudukan. Dengan penaklukan dan pendudukan dari suatu kelompok etnis yang lebih kuat atas kelompok etnis yang lebih lemah, dimulailah proses pembentukan negara. Negara merupakan resultante positif dari sengketa dan penaklukan. Dalam teori kekuatan, faktor kekuatanlah yang dianggap sebagai faktor tunggal yang menimbulkan negara. Negara dilahirkan karena pertarungan kekautan dan yang keluar sebagai pemenang adalah pembentuk negara itu. Dalam teori ini pula kekuatan membuat hukum

(9)

(might makes right). Kekuatan adalah pembenarannya dan raison d’etre-nya negara. Penganut teori ini adalah H.J. Laski, L.Duguit, Karl Marx, Oppenheimer dan kolikles

4. Teori Organis

Dalam memahami konsepsi organis merujuk kepada hakikat dan asal mula negara adalah konsep biologis yang melukiskan negara dengan istilah hukum alam. Menurut Dede Rosyada bahwanegara dianggap dan disamakan dengan makhluk hidup, manusia atau binatang individu yang merupakan komponen-komponen negara dianggap sebagai sel-sel dari makhluk hidup itu. Kehidupan kegiatan kenegaraan dari suatu negara dapat disamakan dengan tulang belulang manusia , undang-undang sebagai urat syaraf, raja (kaisar) sebagai kepala dan para warga negara (individu) sebagai daging makhluk itu..

5. Teori Historis

Teori ini menyatakan bahwa lembaga-lembaga social tidak dibuat, tetapi tumbuh secara evolusioner sesuai dengan kebutuhan manusia. Sebagai lembaga social yang diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan manusia, maka lembaga tersebut juga tidak luput dari tempat, waktu dan tuntutan zaman pelopor teori ini adalah ..

6. Teori Hukum Alam

Menurut teori ini berdirinya negara terjadi karena kehendak alam yang merupakan lembaga alamiah yang diperlukan manusia untuk menyelenggarakan kepentingan umum. Penganut teori ini adlah Plato, Aristoteles, Agustinus, dan Thomas Aquino.

7. Teori Kedaulatan Hukum.

Negara Hukum yang berintikan Rule of Law

Berkenaan dengan “rule of law”, A.V. Dicey dalam bukunya The Law of the

(10)

1. Supremacy of law. 2. Equality before the law,

3. Konstitusi yang bersandarkan hak-hak asasi.

Menurut A.V Dicey, sistem rule of law adalah typisch Inggris, dan ia menganggap hukum Inggrislah yang terbaik oleh karena bersendikan “rule of law”.

Supremacy of law, mengandung arti kekuasaan tertinggi dari hukum. Baik rakyat (yang

diperintah) maupun raja (yang memerintah), kedua-duanya tunduk kepada hukum, adapun yang berkuasa (berdaulat, supreme) ialah hukum.

Equality before the law, mengandung arti gelijkheid voor het recht (bersamaan kedudukan terhadap hukum). Tak ada hukum istimewa untuk seseorang. Namun di Perancis dan

negara-negara kontinental lainnya ada. Jika negara-negara atau alat-alat kekuasaannya tersangkut dalam suatu perkara, maka yang berlaku ialah hukum administrasi negara dan diadili oleh pengadilan administrasi.

Konstitusi yang bersandarkan hak-hak asasi mengandung arti bahwa bagi negara-negara

continental Undang-Undang Dasar yang merupakan utama sedangkan hak-hak dasarkan diturunkan dari Undang-Undang Dasar, tetapi bagi Inggris Hak-Hak dasar yang primer.6

Negara Hukum Berdasarkan Rechtsouvereinteit.

Dalam tipe negara hukum ini, hukumlah yang berdaulat. Negara dipandang sebagai subjek hukum, dan apabila negara salah, maka ia dapat dituntut di muka pengadilan sebagaimana halnya dengan subjek hukum yang lain (manusia). Oleh karena negara Republik Indonesia pernah dijajah oleh Belanda dahulu, maka negara kita untuk sebagian besar

(11)

mengikuti tipe kontinental dengan disana sini mengambil unsur-unsur yang baik dari tipe Negara Hukum Anglo Saxon. Kedua bentuk negara hukum ini adalah tipe pokok, yang diberbagai negara lain kemudian timbul variasi-variasi lain dari pengertian negara hukum. Dengan demikian, walaupun sama-sama menganut negara hukum, tetapi ternyata isi mengenai pengertian negara hukum itu tidak sma pada setiap negara di dunia7.

Perlulah diketahui bahwa rule of law itu tidak sama dengan paham negara hukum

(rechtstaatgedachte)8.

Rechtstaatgedachte memuat dua unsur (di Perancis) atau empat unsur (di Jerman),

yaitu :

1. Di Perancis : unsur grodrechten (hak-hak asasi) dan scheiding van machten

(pemisahan kekuasaan).

2. Di Jerman : unsur grondrechten, scheiding van machten, wetmatigheid van het bestuur

(pemerintahan berdasarkan hukum) dan administrative rechtspraak (peradilan tata

usaha negara).

Namun pada akhirnya juga rechtstaatgedachte di Perancis terdapat empat unsur, yang ditimbulkan tidak dari teori melainkan dari praktek hukum (sejak Napoleon berkuasa).

Proses terbentuknya Negara

Proses terbentuknya negara yakni sebagai berikut :

1. terjadinya negara secara primer

7 Ibid, hal 16 8 ibid , hal 15

(12)

Yang dimaksud dengan terjadinya negara secara primer adalah teori yang membahas tentang terjadinya negara yang tidak dihubungkan dengan negara sebelumnya. Negara yang terjadi secara primer melalui 4 fase : fase genootschap, fase rijk, fase staat, fase

democratische natie9 .

Fase genootschap merupakan fase dimana gabungan dari orang-orang yang memiliki kepentingan bersama dan disandarkan pada persamaan. Mereka menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan kepentingan disini dipilih secara primus interpares atau yang utama diantara yang sama yaitu unsure bangsa.

Fase rijk merupakan fase dimana kelompok orang-orang yang menggabungkan diri tadi telah sadar akan hak milik atas tanah hingga muncullah tuan yang berkuasa atas tanah dan orang-orang yang menyewa tanah, sehingga muncul system feodal, dan yang utama pada fase ini adalah unsure wilayah.

Fase staat merupakan fase lanjutan bahwa masyarakat sadar bahwa dari tidak bernegara menjadi bernegara dan mereka sadar bahwa mereka berada pada satu kelompok. Jadi pada fase ini ketiga unsure dari negara yaitu bangsa , wilayah dan pemerintah yang berdaulat telah terpenuhi.

Fase democratische natie (negara demokrasi) merupakan perkembangan dari fase staat, dimana democratie natie ini terbentuk atas dasar kesadaran demokrasi nasional, kesadaran akan adanya kedaulatan di tangan rakyat.

2. terjadinya negara secara skunder

Yang dimaksud dengan terjadinya negara secara skunder adalah teori yang membahas terjadinya negara yang dihubungkan dengan negara yang telah ada sebelumnya. Ada beberapa fase terjadinya negara yakni occupatie(pendudukan), fusi (peleburan), cessie

(13)

(penyerahan),accessie (penarikan), anexatie (pencaplokan/penguasaan), Proklamasi,

innovation (pembentukan yang baru), sparatis (pemisahan), pendudukan atas wilayah yang

belum ada pemerintahan sebelumnya .

Occupatie (pendudukan) merupakan suatu fase terjadi bila suatu wilayah yang tidak bertuan dan belum dikuasai, kemudian diduduki dan dikuasai oleh suku atau kelompok tertentu, contohnya negara Liberia.

Fusi (peleburan) merupakan suatu fase terjadinya negara ketika negara-negara kecil mendiami suatu wilayah, mengadakan perjanjian untuk saling melebur menjadi negara baru atau dapat dikatakan suatu penggabungan dua atau lebih negara menjadi negara baru . misalnya Jerman Barat dan Jerman timur menjadi negara Jerman.

Cessie (penyerahan) merupakan suatu fase ketika suatu wilayah diserahkan kepada negara lain berdasarkan perjanjian tertentu. Penyerahan ini juga dapat dikatakan pemberian kemerdekaan kepada suatu koloni oleh negara lain yang umumnya adalah bekas jajahannya. Contohnya negara Kongo dimerdekakan oleh negara Francis.

Accesie (penarikan) merupakan suatu fase dimana wilayah pada awalnya merupakan suatu lumpur/laut yang kemudian timbul delta atau dari daratan yang berasal dari dasar laut. Wilayah tersebut kemudian dihuni oleh sekelompok orang sehingga akhirnya membentuk negara. Misalnya naegara Mesir yang terbentuk dari delta sungai Nil.

Anexatie (pencaplokan/penguasaan) merupakan suatu proses dimana suatu negara dikuasai oleh negara lain atau suatu negara berdiri disuatu wilayah yang dikuasai oleh bangsa lain tanpa reaksi yang berarti, misalnya negara Israel mencaplok negara Palestina .

Proklamasi merupakan suatu fase yang terjadi ketika pendudukpribumi dari suatu wilayah yang diduki oleh bangsa lain mengadakan perjuangan (perlawanan) sehingga berhasil

(14)

merebut kembali wilayahnya dan menyatakan kemerdekaan. Misalnya Negara Indonesia merdeka dari Jepang dan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1945.

Innovation (pembentukan baru) merupakan suatu negara baru muncul di atas suatu negara yang pecah karena suatu hal dan kemudian lenyap, contohnya Columbia lenyap, kemudian menjadi Venezuela dan Colombia baru

Separatis (pemisahan) merupakan suatu wilayah negara yang memisahkan diri dari negara yang semula menguasaninya kemudian menyatakan kemerdekaan. Misalnya timur-timur yang memisahkan diarai dari NKRI menjadi negara Timor leste.

Pendudukan atas wilayah yang belum ada pemerintahan sebelumnya merupakan suatu fase dimana pendudukan terjadi terhadap wilayah yang ada penduduknya tetapi tidak berpemerintahan. Misalnya Australia merupakan daerah baru yang ditemukan inggris meskipun di sana terdapat suku aborigin. Daerah Australia selanjutnya dibuat koloni-koloni dimana penduduknya didatangkan dari daratan eropa. Australia dimerdekakan tahun 1901.

Bentuk – Bentuk Negara

Bentuk negara dalam konsep dan teori modern saat ini terbagi ke dalam dua (2) bentuk negara, yakni Negara Kesatuan (Unitarisme) dan Negara Serikat (Federasi).10

1. Negara Kesatuan

Negara Kesatuan merupakan bentuk suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dengan satu Pemerintah Pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah. Dalam pelaksanaannya, negara kesatuan ini terbagi ke dalam 2 (dua) macam, yaitu :

10 Zakaria bangun, Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen, bina media perintis medan, 2007, hal

(15)

a. Negara Kesatuan dengan sistem sentralisasi, yakni sistem pemerintahan yang seluruh persoalan yang berkaitan dengan negara langsung diatur dan diurus oleh Pemerintah Pusat, sementara daerah-daerah tinggal melaksanakannya.

b. Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi, yakni kepala daerah (sebagai pemerintah daerah) diberikan kesempatan dan kekuasaan untuk mengurus rumah tangganya sendiri atau dikenal dengan otonomi daerah atau swatantra.

2. Negara Serikat (Federasi)

Negara Serikat (Federasi) merupakan bentuk negara gabungan dari beberapa negara bagian dari Negara Serikat. Negara – negra Bagian tersebut, pada awalnya merupakan negara yang merdeka, berdaulat dan berdiri sendiri. Setelah menggabungkan diri dengan Negara Serikat, ma kekuasaannya dan menyerahkannya kepada Negara Serikat. Penyerahan kekuasaan dari Negara Bagian kepada Negara Serikat tersebut, disebut limitatif (sebuah demi sebuah), serta hanya kekuasaan yang disebut oleh Negara Bagian saja (delegated powers) yang menjadi kekuasaan Negara Serikat.

Kekuasaan asli dalam Negara Federasi merupakan tugas Negara Bagian, karena ia berhubungan langsung dengan rakyatnya. Sementara Negara Federasi bertugas untuk menjalankan hubungan Luar Negeri, Pertahanan Negara, Keuangan dan Urusan Pos.

Selain kedua bentuk negara tersebut (kesatuan dan federasi), dilihat dari sisi jumlah orang yang memerintah dalam sebuah negara, maka ada 6 (enam) bentuk negara yakni Monarki( monarchie), republic, aristokrasi ,autokrasi, Oligarki, dan Demokrasi11.

Negara Monarki (monarchie)adalah suatu negara yang dikepalai oleh seorang raja atau ratu,bersifat turun temurun, dan menjabat seumur hidup. Kemauan negara terbentuk atas jiwa

(16)

atau kemauan satu orang saja dalam arti kebijakan politik pemerintahan tergantung pada satu orang.

Negara republic adalah sebuah negara dengan pemerintahan oleh rakyat yang dikepalai oleh seorang Presiden sebagai Kepala Negara yang dipilih oleh rakyat atau badan pemilih untuk masa jabatan tertentu seperti Indonesia .

Negara Aristokrasi adalah suatu negara yang pemerintah dan kekuasaan tertinggi dalam negara dipegang oleh beberapa orang pintar (ahli filsafat) dan bijaksana (aristocrat). Pemimpin yang pintar yang dapat menjadi orang arif dan dapat melaksanakan tugasnya sesuai apa yang dibutuhkan oleh negara.

Negara Autokrasi adalah negara yang kekuasaan pemerintahan hanya dipegang dan dijalankan oleh satu orang saja. Auto berarti sendiri, sedangkan kratos atau kratein berarti kekuasaan. Negara autokrasi berarti negara yang diperintah satu orang. Negara autokrasi dikenal dua macam yaitu autokrasi kuno dan utokrasi modern. Negara autokrasi modern diperintah oleh satu partai atau system partai tunggal. Badan perwakilan dan lembaga-lembaga negara lainnya hanya sebagai symbol atau topeng. Segala kebijakan pemerintah ditentukan oleh partai seperti terjadi di negara-negara komunis atau negara-negara yang menganut system partai tunggal.

Negara oligarki adalah suatu negara yang pemerintahannya bersifat absolute. Kekuasaan tertinggi dalam negara dipegang oleh beberapa orang saja. Penguasa menomorsatukan kemashuran atau gila hormat dan dipengaruhi oleh kemewahan (harta). Penguasa dan pengusaha bergabung dalam memimpin negara yang dalam praktik pemerintahannya melakukan penyedotan milik negara dan milik rakyat, sehingga dalam negara terjadi proses pemiskinan rakyat.

(17)

Negara demokrasi adalah suatu negara dengan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi berasal dari kata Yunani yaitu demos yang artinya rakyat dan cratein yang artinya kekuasaan dan bisa juga diartikan pemerintahan. Bentuk negara demokrasi dikenal ada dua macam , yaitu demokrasi langsung (direct democratie) dan demokrasi tidak langsung (indirect democratie) . Demokrasi langsung (direct democratie) yaitu suatu negara yang pemerintahannya langsung dilakukan oleh semua warga negara. Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan pemerintahan negara dilakukan secara langsung semua warga negara, contohnya negara Yunani Kuno. Sedangkan demokrasi tidak langsung (indirect demokratie)yaitu suatu negara yang pemerintahannya dilakukan oleh rakyat yang dilaksanakan melalui badan perwakilan yang dipilih oleh rakyat. Dalam demokrasi tidak langsung warga negara diberi hak untuk turut serta menentukan kebijakan pemerintahan melalui badan perwakilan .

Tujuan Negara

Untuk mencapai tujuan bersama, maka setiap manusia perlu bernegara, oleh karena negara itu adalah suatu organisasi kekuasaan daripada manusia-manusia (masyarakat) dan merupakan alat yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan bersama itu. Tiap-tiap negara mempunyai tujuannya.

Tujuan suatu negara bermacam-macam, antara lain : 1. untuk memperluas kekuasaan semata-mata,

2. untuk menyelenggarakan ketertiban hukum, 3. untuk mencapai kesejahteraan umum.

Ajaran Tentang Tujuan Negara

(18)

a. Ajaran Plato, negara bertujuan untuk memajukan kesusilaan manusia, sebagai perseorangan (individu) dan sebagai makhluk sosial. Oleh karena diajarkan pertama oleh Plato, maka disebut ajaran Plato.

b. Ajaran Negara Kekuasaan, penganjur ajaran in antara lain Machiavelli dan Shang Yang. Negara bertujuan untuk memperluas kekuasaan semata-mata dan karena itu disebut negara kekuasaan. Menurut ajaran ini orang mendirikan negara itu maksudnya untuk menjadikan negara itu besar dan jaya.

Untuk mencapai kejayaan negara, maka rakyat harus rela berkorban, ini berarti bahwa kepentingan orang-perseorangan diletakkan di bawah kepentingan bangsa dan negara. Rakyat di sini menjadi alat belaka, dikorbankan untuk perluasan kekuasaan itu. Negara demikian ini merupakan negara diktator-militer.

Shang Yang malahan pernah berkata : “A weak people means a strong state and a

strong state means a weak people”. Jika orang menghendaki suatu negara yang kuat

dan berkuasa, maka rakyat harus dilemahkan dan dimiskinkan, namun sebaliknya jika orang menghendaki rakyat menjadi kuat dan kaya, maka negara itu akan menjadi lemah.

c. Ajara Teokratis (Kedaulatan Tuhan), tujuan negara itu untuk mencapai penghidupan dan kehidupan aman dan tentram dengan taat kepada dan dibawah pimpinan Tuhan. Pemimpin negara menjalankan kekuasaan hanyalah berdasarkan kekuasaan Tuhan yang diberikan kepadanya (Thomas Aquinas, Augustinus dan sebagainya).

d. Ajaran Negara Polisi : Negara bertujuan mengatur semata-mata ketertiban hukum, dengan berdasarkan dan berpedoma pada hukum (Krabbe). Dalam negara hukum segala kekuasaan dari alat-alat pemerintahannya didasarkan atas hukum. Semua orang

(19)

tanpa kecuali harus tunduk dan taat pada hukum, hanya hukumlah yang berkuasa dalam negara itu (goverment not by man, but by law = the rule of law)

Apapun akan terjadi keadilan hukum harus ditegakkan. Rakyat tidak boleh bertindak sendiri menurut semau-maunya yang bertentangan dengan hukum (dilarang menjadi hakim sendiri). Di dalam negara hukum hak-hak rakyat dijamin sepenuhnya oleh negara, sebaliknya rakyat berkewajiban pula mematuhi seluruh peraturanyang dikeluarkan oleh pemerintah dari negara itu.

e. Negara Kesejahteraan (welfare state = social service state), tujuan negara ini ialah mewujudkan kesejahteraan umum. Dalam hal ini negara dipandang sebagai alat belaka yang dibentuk manusia untuk mencapai tujuan bersama, kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat negara itu.

b. Pengertian Hukum Tata Negara

Hukum Tata Negara dalam kepustakaan Indonesia adalah hukum Negara .keduanya adalah terjemahan dari istilah bahasa Belanda “staatrecht” . menurut kepustakaan Belanda mempunyai arti dua arti yaitu “staatsrecht in ruimere zin ( dalam arti luas yaitu hukum Negara) dan staatsrecht in engere zin (dalam arti sempit yaitu hukum administrasi Negara atau hukum tata pemerintahan )12

Seorang sarjana hukum terkenal, Prof. Mr. J. Oppenheim, mengadakan pembagian ilmu hukum sebagai berikut :

9. Hukum Publik (Publiekrecht) 10. Hukum Sipil (Privaatrecht)

12 Moh.Kusnardi,sh dkk. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, penerbit Pusat studi HTN Fak.Hukum UI dan

(20)

Hukum publik (Hukum Negara) meliputi :

1. Hukum tata Negara ( staatsrecht) dalam arti luas yang terdiri dari : a. Hukum tata Negara dalam arti sempit (staat in rust)

b. Hukum administrasi Negara (staat in beweging) atau disebut juga Hukum Tata Pemerintahan

2. Hukum pidana (Stafrecht) 3. Hukum internasional

Sedangkan hukum sipil dapat dibagi menjadi : 1. Hukum perdata (burgerlijkrecht)

2. Hukum Dagang (handelsrecht) 13

Prof. Dr. J.H.A. Logemann dalam bukunya Over de Theorie van een stelligStaatsrecht

mengatakan, bahwa Hukum Tata Negara ialah serangkaian kaidah hukum mengenai jabatan atau kumpulan jabatan di dalam negara dan mengenai lingkungan berlakunya hukum dari suatu negara. Hukum Administrasi Negara menurut beliau ialah serangkaian kaidah hukum yang menyelidiki hubungan-hubungan hukum khusus yang ditimbulkan untuk memungkinkan para pejabat negara menjalankan tugas kemasyarakatannya yang khusus.

Prof. Mr. Dr. L.J. van Appeldoom dalam bukunya Inleiding tot de studie van het

Nederlandse Recht menerangkan bahwa Hukum Tata Negara dalam arti luas adalah juga

mengenai Hukum Administrasi Negara. Sedangkan Hukum Tata Negara dalam arti sempit menunjukkan orang yang memegang kekuasaan pemerintahan dan batas-batas kekuasaannya. Untuk membedakannya dari Hukum Administrasi Negara, maka Hukum Tata Negara sering

(21)

juga disebut Hukum Konstitusional (Hukum Konstitusi Negara) atau Droit Constitutionnnel (Perancis) ataupun Verfassungsrecht (Jerman), karena hukum itu menyinggung konstitusi atau undang-undang dasar negara.

Prof. Kusumadi Pudjosewojo, SH, dalam buku beliau yang berjudul “ Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia”, dengan berdasarkan pada definisi yang diberikan Prof. Mr. C. Van Vollenhoven memberikan definisi Hukum Tata Negara ialah hukum yang mengatur bentuk negara dalam hubungan kesatuan atau federal dan bentuk pemerintah dalam hubungan kerajaan atau republik yang menunjuk masyarakat-masyarakat hukum yang atasan dan masyarakat hukum yang bawahan beserta tingkatan imbangannya (hierarchie) yang selanjutnya menegaskan wilayah dan lingkungan dari masyarakat hukum itu, dan akhirnya menunjukkan alat-alat perlengkapan negara yang memegang kekuasaan penguasa dari masyarakat-masyarakat hukum itu beserta susunan (terdiri dari seoarang atau sejumlah orang), wewenang tingkatan imbangan dari dan antara alat-alat perlengakapan itu.”

Menurut Van Praag, baik hukum tata negara maupun hukum tata usaha negara adalah suatu system delegasi dari peraturan-peraturan tentang kekuasaan yang bertingkat . Pendelegasian dalam system hukum Tata negara ini adalah tingkatan tertinggi, sedangkan dalam Tata Usaha Negara terdapat kaidah-kaidah yang mendelegasikan kekuasaan dari pembuat Undang-Undang pada organ-organ yang lebih rendah untuk mengatur hal-hal yang khusus atau membuat aturan konkret tentang kejadian-kejadian konkret14.

c. Hubungan Hukum Tata Negara dengan Cabang Ilmu Pengetahuan Lainnya

11. Hubungan Hukum Tata Negara dengan Ilmu Negara

14 Abu daud busroh dan abu bakar busroh, asas-asas Hukum Tata Negara , Ghalia Indonesia, Jakarta, 1991, hal

(22)

Hubungan antara ilmu negara dan Hukum tata Negara ditinjau dari kedudukannya , Ilmu Negara sebagai Ilmu pengetahuan pengantar bagi Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara tidak mempunyai nilai yang praktis seperti halnya dengan Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara sendiri. Jika orang mempelajari Ilmu Negara, ia tidak memperoleh hasilnya untuk dipergunakan secara langsung di dalam praktek. Berbeda hanya dengan mempelajari hukum Tata Negara dari hasil pelajaran yang diperolehnya orang dapat langsung mempergunakannya, karena sifatnya yang praktis. Perbedaan ini dapat dilihat dari penggunaan istilah ilmu yang dikaitkan pada Ilmu Negara, sedangkan pada hukum Tata Negara dan hukum Administrasi Negara tidak lazim orang menambahkannya dengan istilah tersebut menjadi Ilmu Hukum Tata Negara atau Ilmu Hukum Administrasi Negara.

Perbedaan Ilmu Negara dengan Hukum Tata Negara juga dapat dilihat dari

objek yang diselidikinya. Jika objek penyelidikan Ilmu Negara adalah asas- asas pokok dan pengertian-pengertian pokok tentang negara dan Hukum Tata Negara pada umumnya, mak objek Hukum Tata Negara adalah hukum positif yang berlaku pada suatu waktu di suatu tempat. Karena itu lazim disebut Hukum Tata Negara Positif sebagai Hukum Tata Negara Indonesia atau Hukum Tata Negara Inggris, Amerika, Jepang, Belanda dan sebagainya.

Oleh karena bagi Ilmu Negara yang penting adalah nilai teoretisnya, maka

ilmu pengetahuan ini merupakan suatu “Seinswissenschaft”, sedangkan Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara merupakan suatu “Normativen Wissenschaft”. Bagi mereka yang mempelajari Hukum Tata Negara atau Hukum Administrasi Negara sudah tidak perlu diterangkan lagi cara mendapat akan arti dan asas dari negara, karena pengertian-pengertian itu sudah dianggap telah diketahui waktu mempelajari Ilmu Negara. Karena itu Ilmu Negara

(23)

merupakan ilmu pengetahuan pengantar bagi mereka yang hendak mempelajari Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara .

Untuk itu hubungan Ilmu negara dengan Hukum Tata Negara dapat dijelaskan bahwa ilmu negara merupakan dasar dalam penyelenggaraan praktek ketatanegaraan yang diatur dalam Hukum Tata Negara .

12. Hubungan hukum tata Negara dan hukum administrasi Negara/Hukum Tata Usaha Negara

Seperti apa yang telah di uraikan di atas, bahwa istilah Hukum tata Negara merupakan hasil terjemahan dari bahasa Belanda staatsrecht15 . Hukum Tata Negara dapat dibedakan antara Hukum Tata Negara dalam arti luas (staatsrecht in ruime zin) dan hukum tata negara dalam arti sempit (staatsrecht in enge zin) dan untuk membagi hukum tata negara dalam arti luas itu dibagi atas dua golongan hukum, yaitu16 :

1. hukum Tata negara (staatsrecht)

2. Hukum Tata Usaha Negara ( administratief recht)

Menurut Prof. Mr. R. Kranenburg , perbedaan antara hukum tata negara dan hukum tata usaha negara tidak bersifat prinsipil, melainkan hanya merupakan soal untuk kperluan pembagian tugas. Untuk pembagian tugas itu, Kranenburg menghendaki pembagian sebagai berikut 17:

1. hukum tata negara meliputi hukum mengenai susunan (struktur) umum dan negara, yaitu yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar dan undang-undang organic

15

Dalam bahasa Inggris Hukum Tata Negara dipergunakan istilah “constitutional law” , bahasa Prancis “droit constitutionnel”

16 Usep ranawijaya, Hukum Tata Negara Indonesia Dasar-dasarnya , Jakarta , Ghalia 1993, hal 11 17 Op.cit , Ni‟matul huda, hal 10

(24)

2. Hukum Tata Usaha Negara meliputi hukum yang mengatur susunan dan wewenang khusus dari alat-alat perlengkapan badan-badan kenegaraan, seperti hukum kepegawaian (termasuk mengenai pensiun), peraturan wajib militer, peraturan mengenai pendidikan/pengajaran,peraturan mengenai jaminan social, peraturan perumahan, peraturan perburuhan, peraturan jaminan orang miskin, dan sebagainya.

R.Bonard menjelaskan bahwa hukum tata negara itu meliputi ketentuan-ketentuan mengenai alat-alat perlengkapan tertinggi dari negara, sedangkan hukum tata Usaha Negara meliputi ketentuan-ketentuan mengenai tata usaha (administrasi) negara dan alat-alat perlengkapan administrasi dari negara18

Hukum tata Negara dan hukum administrasi Negara (Hukum Tata Usaha Negara) merupakan satu kesatuan dan keterkaitan, sebagaimana yang dikemukakan Prof van vollenhoven berikut ini : “Badan pemerintah tanpa aturan hukum Negara akan lumpuh,karena badan ini tidak mempunyai wewenang apapun atau wewenangnya tidak ketentuan, dan badan pemerintah tanpa hukum administrasi Negara akan bebas sepenuhnya karena badan ini dapat menjalankan wewenangnya menurut kehendaknya sendiri”19

.

Senada dengan itu J.B.J.M ten berge juga berpendapat bahwa hukum administrasi Negara merupakan perpanjangan dari hukum tata Negara atau hukum skunder dari hukum tata Negara 20. Pada abad ke 19 hukum tata Negara dan hukum administrasi Negara merupakan satu kesatuan , hukum administrasi Negara dianggap sebagai tambahan dari hukum tata Negara (aanhangsel van het staatsrecht) atau sebagai bagian dari hukum tata Negara ( al seen

deelgebeied van het staatsrecht)

18

Op.cit Usep Ranawijaya, hal 16

19 WF.Prins dan R.Kosim Adipooetra,Pengantar ilmu hukum administrasi Negara, penerbit Pradnya

Paramitha,1983, hal 7

(25)

Hukum Administrasi Negara merupakan bagian dari Hukum Tata Negara dalam arti luas, sedangkan Hukum Administrasi Negara adalah sisanya setelah dikurangi oleh Hukum Tata Negara. Hukum tata negara adalah hukum yang meliputi hak dan kewajiban manusia, personifikasi, tanggung jawab, dan hilangnya hak dan kewajiban tersebut, hak-hak organisasi batasan-batasan dan wewenang. Hukum administrasi negara adalah ilmu hukum yang memepejari jenis,bentuk serta akibat hukum yang dilakukan pejabat dalam melakukan tugasnya.

Atas dasar pembedaan jenis tugas kenegaraan yang mengakibatkan keharusan jenis alat perlengkapan sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, untuk itu hukum tata negara dapat dibagi atas dua golongan sebagai berikut :

1.Hukum tata usaha (administrasi) negara ialah hukum mengenai susunan,tugas dan wewenang dan hubungan kekuasaan satu sama lain, hubungan dengan pribadi-pribadi hukum lainnya dari alat-alat perlengkapan (jabatan) tata usaha negara sebagai pelaksana segala usaha negara (perundang-undangan, pemerintahan dan peradilan) menurut prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh legeslatif, eksekutif dan yudikatif.

2. hukum tata negara ialah hukum mengenai organisasi negara pada umumnya (hubungan penduduk dengan negara ,pemilihan umum , kepartaian , cara menyalurkan pendapat dari rakyat, wilayah negara, dasar negara , hak asasi manusia, lagu, bahasa, lambing, pembagian negara atas kesatuan-kesatuan kenegaraan, mengenai system kenegaraan, mengenai kehidupan politik rakyat dalam hubungannya dengan susunan wewenang, hubungan kekuasaan ssatu sama lain, serta hubungannya dengan rakyat dari alat-alat perlengkapan ketatanegaraan sebagai jabatan tertinggi yang menetapkan prinsip umum bagi pelaksanaan berbagai usaha naegara. Singkatnya segala sesuatu mengenai organisasi negara

(26)

yang tidak termasuk hukum tata usaha negara merupakan pembahasan dalam hukum tata negara.21

Secara garis besar pendapat para ahli hukum dijelaskan bahwa hukum administrasi negara/ tata usaha negara membahas negara dalam keadan bergerak sedangkan hukum Tata Negara membahas negara dalam keadaan diam.

13. Hubungan Hukum Tata Negara dan Ilmu Politik

Hukum Tata Negara mempelajari peraturan-peraturan hukum yang mengatur organisasi kekuasaan negara, sedangkan ilmu politik mempelajari kekuasaan dilihat dari aspek perilaku kekuasaan tersebut. Setiap roduk peraturan merupakan hasil proses politik atau keputusan politik karena setiap peraturan pada hakekatnya disusun dan dibentuk oleh Lembaga-lembaga politik , sedangkan Hukum Tata Negara melihat Undang-Undang adalah produk hukum yang dibentuk oleh alat-alat perlengkapan negara yang diberi wewenang melalui prosedur dan tata cara yang sudah ditetapkan oleh Hukum Tata Negara.22

Hoetink mengatakan bahwa ilmu politik adalah semacam sosiologi dari negara23. Hukum tata negara merupakan kerangka yuridis dari negara, sedangkan ilmu politik menyelidiki bagian yang ada disekitar kerangka tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kedua ilmu tersebut sama-sama mempunyai objek yang sama yaitu negara, dan perbedaannya hanya pada metodenya saja. Hukum tata negara menggunakan metode yuridis sedangkan ilmu politik menggunakan metode sosiologis.

Selanjutnya menurut Barents ,Hubungan Ilmu Politik dan Hukum Tata Negara dengan perumpamaan Hukum Tata Negara sebagai kerangka manusia, sedangkan Ilmu Politik

21 Op. cit ,Ni‟matul huda, hal 16

22 Op cit, Moh.Kusnardi, SH dkk , hal 33

(27)

merupakan daging yang ada disekitarnya24. Dalam hal untuk mengetahui latar belakang dari suatu peraturan undang-undang sebaiknya perlu dibantu mempelajari ilmu politik, guna diketahui maksud serta bagaimana terbentuknya peraturan tersebut dapat difahami.

Pertanyaan :

1. jelaskan beberapa pengertian Negara menurut prof .Van. Valen Hoven! 2. jelaskan Unsur –unsur bernegara !

3. jelaskan proses terbentuknya Negara ,secara primer dan skunder! 4. jelaskan teori berdirinya negara hukum !

5. jelaskan perbedaan teori bernegara berdasarkan teori hukum alam dengan teori evolusi! 6. jelaskan beberapa pengertian hukum tata negara , yang saudara ketahui!

7. jelaskan hubungan hukum tata negara dengan ilmu negara ! 8. jelaskan ajaran tentang tujuan bernegara!

9. jelaskan bentuk-bentuk negara dari sisi siapa yang memerintah!

10. jelaskan hubungan Hukum Tata Negara dengan Hukum Administrasi Negara!

(28)

BAB II

SUMBER-SUMBER HUKUM TATA NEGARA

a. Pengertian Sumber Hukum

Sumber Hukum dalam kamus bahasa Inggris disebut “source of law”. Istilah sumber hukum pada dasarnya berbeda dengan istilah landasan hukum atau dasar hukum atau payung hukum. Dalam bahasa Indonesia , kata sumber berarti asal, asal usul, asal mula25 Oleh karena itu, yang dimaksud dengan sumber hukum lebih menunjukkan pada pengertian tempat dari mana suatu nilai atau norma tertentu berasal.26 . Apabila direnungkan lebih mendalam kata atau istilah asal, asal-usul dan asal mula tersebut mengandung pengertian yang luas dan umum.

Pengertian pertama dapat sebagai materi atau bahan yang akan dijadikan sebagai hukum. Dari bahan materi inilah hukum dibentuk atau dibuat. Pengertian kedua, dapat pula diartikan sebagai suatu prosaeas yang berkesinambungan berupa rangkaian peristiwa ataupun fakta. Dalam pandangan ini bahwa sumber mengandung arti sebagai hubungan sebab akibat yang berproses antara dua atau lebih peristiwa atau fakta . selanjutnya pengertian ketiga sumber dapat pula berarti sebagai bentuk atau wujud yang tampak. Jadi berupa bentuk dan wujud yang berupa fakta atau peristiwa itu sendiri . dalam hal ini bentuk atau wujud itu sendiri dapat dipandang sebagai sumber, tanpa memperhatikan asal-usul , asal mulanya ataupun tanpa memperhatikan proses atau sebab terjadinya.27

25

Kamus besar Bahasa Indonesia, tim penyusun Kamus PPPB, dep. Pendidikan kebudayaan RI, Jakarta 1998, hal 867

26 Pipin syarifin dan Dedah Jubaedah, Hukum Dagang di Indonesia , pustaka setia, Bandung, 2012, hal 39 27 I wayan Parthiana, paengantar hukum Internasional, mandar madjuBandung,2003, hal 193

(29)

Apabila istilah sumber itu dipasangkan dengan kata atau istilah hukum, maka akan menjadi istilah sumber hukum. Dengan berpedoman pada ketiga pengertian tadi maka sumber hukum dapat diartikan yaitu 28:

a). dari bahan-bahan atau materi-materi apa saja isi atau substansi hukum itu atau substansi hukum itu dibuat atau dibentuk?

b). Bagaimana proses atau dengan cara bagaimana terjadinya atau terbentuknya hukum itu?

c). dalam bentuk atau wujud apa saja hukum itu menampakkan diri sehingga dapat dilihat,dirasakan,atau diketahui?

Sumber hukum menurut butir a), yakni dari bahan-bahan atau materi-materi apa saja isi atau substansi dari hukum itu, sebenarnya yang menjadi permasalahan adalah bahan-bahan, materi, ataupun hal-hal yang menjadikannya sebagai hukum. Bahan-bahan atau materi-materi tersebut berupa bidang kehidupan di luar hukum seperti ekonomi, social budaya, politik dan lain-lain. Bahan tersebut masing-masing merupakan bahan baku dari hukum tersebut. Misalnya hukum yang berkenaan dengan masalah ekonomi adalah kehidupan ekonomi itu sendiri . dalam ilmu pengetahuan hukum , sumber hukum seperti ini disebut dengan sumber hukum dalam arti materiil.

Berkenaan dengan sumber hukum dalam pengertian butir b), sumber hukum lebih dititik beratkanpada factor-faktor penyebab yang merupakan suatu proses sebab akibat sehingga bahan-bahan atau materi-materi itu pada akhirnya menjadi hukum. Dalam ilmu pengetahuan hukum, sumber hukum dalam pengertian ini disebut sumber hukum dalam arti causa.

(30)

Pada butir c) dititik beratkan pada bentuk dan wujud nyata dari hukum itu sendiri atu dengan kata lain dalam bentuk atau wujud apa sajakah hukum itu tampak dan berlaku , yang boleh jadi berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Dalam wujud dan baentuknya inilah dapat ditemukan hukum yang mengatur masalah tertentu. Dalam pengertian ini, iilmu pengetahuan hukum menyebut dengan sumber hukum dalam arti formil/formal.

Adapun yang dimaksud dengan dasar hukum (legal ground) atau landasan hukum (legal basis) adalah norma hukum yang mendasari suatu tindakan atau perbuatan tertentu sehingga dapat dianggap sah dan benar secara hukum.

Sumber hukum dapat diketahui dari Pasal 1 Ketetapan MPR-RI No. III/MPR/2000 yang menyebutkan bahwa (1) Sumber hukum adalah sumber yang dijadikan bahan untuk menyusun peraturan perundang-undangan;(2) sumber hukum terdiri dari sumber hukum tertulis dan sumber hukum tidak tertulis;(3) sumber hukum nasional adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Dalam ilmu pengetahuan hukum (law science) utamanya bagian-bagian yang erat hubungannya dengan pembuatan hukum (law making) dan pelaksanaannya (law enforcement) , masalah sumber hukum merupakan suatu hal yang perlu difahami, dianalisis, serta ditimbulkan problema-problema dan pemecahannya sehingga dapat diharapkan memiliki keserasian dengan perkembangan hukum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Istilah sumber hukum mempunyai banyak arti yang sering menimbulkan kesalahan-kesalahan, kecuali kalau diteliti dengan seksama mengenai arti tertentu yang diberikan kepadanya dalam pokok pembicaraan tertentu. Jadi untuk mengetahui sumber hukum itu

(31)

terlebih dahulu harus ditentukan dari sudut mana sumber hukum itu dilihat apakah dari sudut ilmu hukum, ilmu ekonomi, filsafat atau ilmu kemasyarakatan.29.

Begitu juga menurut Bagir Manan, menelaah dan mempelajari sumber hukum memerlukan kehati-hatian karena istilah sumber hukum mengandung banyak pengertian. Tanpa kehati-hatian dan kecermatan yang mendalam mengenai apa yang dimaksud dengan sumber hukum, dapat menimbulkan kekeliruan yang menyesatkan.30

Sumber hukum menurut tinjauan sejarah berbeda dengan pengertian sumber hukum menurut tinjauan filsafat. Sumber hukum menurut tinjauan agama berbeda dengan pengertian sumber hukum menurut tinjauan sosiologi dan ilmu hukum.sumber hukum menurut tinjauan sejarah adalah sebagai berikut.

1.Stelssel hukum apakan yang memainkan peranan pada waktu hukum yang sedang berlaku sekarang (hukum positif), ditetapkan?

2.Kitab-kitab hukum, dokumen-dokumen ,surat-surat manakah, dan sebagainya yang telah diperhatikan oleh pembuat undang-undang pada saat menetapkan hukum yang berlaku sekarang?

Dengan sumber-sumber tersebut, ahli sejarah dapat mengetahui perkembangan sejarah suatu kaidah hukum. Dari sudut filsafat, sumber hukum dipergunakan dalam arti sebagai berikut.

1.Sumber untuk atau yang menentukan isi hukum

Sumber hukum adalah ukuran yang dipergunakan untuk menentukan bahwa isi hukum itu sudah tepat atau baik dan benar-benar adil atau sebaliknya.

2.Sumber untuk menentukan kekuatan mengikat suatu kaidah hukum

29 Van Apeldroon, Pengantar ilmu hukum, terjemahan ,pradnya paramita, Jakarta,hal 240 30 Bagir Manan, Konvensi Ketatanegaraan, armico,Bandung, 1987 hal. 9

(32)

Mengapa hukum itu ditaati?31

Pengertian sumber hukum menurut sudikno metrokusumo dapat diartikan dalam beberapa arti, yaitu:32

1.sebagai asas hukum, sebagai sesuatu yang merupakan permulaan hukum, misalnya kehendak Tuhan, akal manusia, jiwa bangsa, dan sebagainya;

2.menunjukan hukum terdahulu yang member bahan-bahan pada hukum yang sekarang berlaku, seperti hukum Prancis, hukum Romawi, dan lain-lainnya;

3.sebagai sumber berlakunya, yang memberi kekuatan berlaku secara formal kepada peraturan hukum (penguasa atau masyarakat);

4.sebagai sumber dari mana kita dapat mengenal hukum, misalnya dokumen, undang-undang, lontar, batu tertulis, dan sebagainya;

5.sebagai terjadinya hukum atau sumber yang menimbulnya hukum.

Menurut van Apeldoorn, istilah hukum dipakai dalam arti sejarah, filsafat, dan arti formal.33

1. Sumber hukum dalam arti sejarah

Ahli sejarah memakai isitilah sumber hukum dalam dua arti berikut ini. a.Dalam arti sumber pengenalan hukum, yakni semua tulisan, dokumen, inskripsi, dan sebagainya, dari mana kita dapat belajar mengenal hukum sesuatu bangsa pada suatu waktu, undang-undang, keputusan- keputusan hakim, piagam-piagam yang memuat perbuatan hukum, tulisan-tulisan ahli hukum, demikian juga tulisan-tulisan yang tidak yudiris sepanjang

31

Ibid.,hlm. 10.

32 Soedikno, Metrokusomo, Mengenal hukum suatu pengantar (Yogyakarta: Liberty, 1996), hlm.69.

33 L.J. van Apeldoorn, pengantar ilmu hukum(Jakarta: Cetakan kedua puluh Sembilan, Pradnya Paramita, 2001),

(33)

memuat pembritahuan mengenai lembaga-lembaga hukum.

b. Dalam arti sumber-sumber dari mana pembentuk undang-undang memperoleh bahan dalam membentuk undang-undang, juga dalam arti sistem-sistem hukum, serta dari mana tumbuhnya hukum positif dari sesuatu negara.

2. Sumber hukum dalam arti sosiologis

Menurut ahli sosiologi, sumber hukum ialah factor-faktor yang menentukan isi hukum positif, misalnya keadaan – keadaan ekonomi, padangan agama,

saat-saat psikologis. Penyelidikan tentang faktor-faktor tersebut meminta kerja sama dari pelbagai ilmu pengatuhuan , lebih-lebih kerja sama antara (sejarah hukum, agam dan ekonomi), psikologi dan ilmu filsafat.

3. Sumber hukum dalam arti filsafat

Dalam filsafat hukum, istilah sumber hukum dipakai dalam dua arti yaitu sebagai sumber untuk isi hukum dan sebagai sumber untuk kekuatan mengikat dari hukum .Untuk mengingat apakah sebagai sumber untuk isi hukum maka dapat diketahui apakah yang dipakai untuk menguji kebenaran agar mengetahui apakah ia “hukum yang baik?. Sedangkan untuk mengetahui sumber untuk untuk kekuatan mengikat dari hukum maka dapat diketahui dengan mempertanyakan mengapa kita harus mengikuti hukum?

4. sumber hukum dalam arti formal

Sumber hukum formal, yaitu berbagai bentuk aturan hukum yang ada. Bagi ahli hukum praktis dan bagi tiap-tiap orang yang aktif dalam pergaulan hukum, sumber hukum adalah peristiwa timbulnya hukum yang berlaku ( yang mengikat hakim dan penduduk).

(34)

Meskipun pengertian sumber hukum dipahami beragam, namun sejalan dengan pendekatan yang digunakan dan sesuai dengan latar belakang , secara umum dapat dikatakan bahwa sumber hukum diartikan dalam dua pengertian. Yang pertama untuk menjawab pertanyaan”mengapa hukum itu mengikat”,atau mengapa hukum itu harus dipatuhi” untuk pengertian sumber dalam hal ini disebut dengan sumber hukum dalam arti materiil. Selanjutnya untuk pengertian yang kedua yaitu untuk menjawab pertanyaan “dimanakah kita dapatkan atau temukan aturan-aturan hukum yang mengatur kehidupan kita” sumber hukum dalam arti ini disebut dengan sumber hukum formal34.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sumber hukum adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan aturan hukum dan memiliki kekuatan mengikat serta mearupakan tempat ditemukannya aturan-aturan hukum tersebut.

b. Macam-macam sumber hukum

1). Sumber hukum materiil

Sumber hukum materiil merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum35 . sumber hukum materiil adalah faktor-faktor masyarakat yang mempengaruhi pembentukan hukum (pengaruh terhadap pembuat undang-undang, pengaruh terhadap putusan hakim, dan sebagainya)36 atau faktor-faktor yang ikut mempengaruhi materi isi dari aturan-aturan hukum, atau tempat dari mana materi hukum itu diambil.

Sumber hukum materiil terdiri dari tiga jenis , yaitu sebagai berikut : 1. sumber hukum historis ( rechtsbron in historische zin)

34 Mochtar kusumaatmadja dan arief sidharta,Pengantar ilmu hukum, alumni, Bandung, 2000, hal 54 35 Sudikno mertokusumo, Mengenal hukum suatu pengantar, Yogyakarta , liberty, 1996, hal 70

(35)

Dalam arti historis , pengertian sumber hukum memiliki dua arti ,yaitu 37 pertama sebagai sumber pengenalan tempat menemukan) hukum pada saat tertentu meliputi undang-undang,putusan-putusan hakim,tulisan-tulisan ahli hukum (geschriften van juristen) , juga tulisan-tulisan yang tidak bersifat yuridis sepanjang memuat pemberitahuan mengenai lembaga-lembaga hukum; kedua sebagai sumber dimana pembuat undang-undang mengambil bahan dalam membentuk peraturan perundang-undangan , meliputi sistem-sistem hukum masa lalu yang pernah pada tempat tertentu seperti sistem hukum Romawi, sistem hukum Prancis dan sebagainya. Disamping itu juga dokumen-dokumen dan surat-surat keterangan yang berkenaan dengan hukum pada saat dan tempat tertentu, sebagaimana ungkapan hal ini sama sekali tidak dimaksudkan bahwa sejarah membuat kita memahami semua hal.tetapi setidaknya membuat kita memahami lebih baik terhadap hukum tertentu dan juga dapat memahami konteks berlakunya hukum tersebut.

2. Sumber hukum Sosiologis ( rechtbron in sociologische zin)

Sumber hukum dalam pengertian ini meliputi faktor-faktor social yang mempengaruhi isi hukum positif, artinya peraturan hukum tertentu mencerminkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Dalam suatu masyarakat industry atau masyarakat agraris, misalnya hukumnya harus sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat industry atau masyarakat agraris tersebut. Kenyataan yang hidup dalam masyarakat sebagai dasar sosiologis harus termasuk pula pada kecenderungan dan harapan masyarakat. Tanpa memperhatikan faktor kecenderungan dan harapan masyarakat , peraturan perundang-undangan hanya sekedar merekam keadaan seketika. Keadaan ini dapat menyebabkan

37 P.jp. tak dan van Apeldoorn,inleiding toot de studie, dikutip oleh ridwan HR, Hukum administrasi negara

(36)

kelumpuhan peranan hukum38. Dalam pengertian sumber hukum ini pembuatan peraturan perundang-unang harus pula memperhatikan situasi social ekonomi, hubungan social, situasi dan perkembangan politik, serta perkembangan internasional. Karena faktor-faktor yang mempengaruhi isi peraturan itu begitu kompleks, maka dalam pembuatan peraturan diperlukan masukan dari berbagai disiplin ilmu, dengan cara itu diharapkan peraturan hukum yang dihasilkan itu akan sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat.

3. Sumber hukum filosofis (rechtsbron infilosofische zin)

Sumber hukum dalam arti filosofis memiliki dua arti, yaitu sebagai sumber untuk isi hukum yang adil dan sebagai sumber untukmenaati kewajiban terhadap hukum atau sebagai sumber untuk kekuatan mengikat dari hukum, untuk menjawab pertanyaan;mengapa kita harus mematuhi hukum.

Menurut sudikno mertokusumo, mengenai isi sumber hukum, disini ditanyakan asal isi hukum itu39. Ada tiga pandangan untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu :

a). pandangan teokrasi, yang menyatakan isi hukum berasal dari Tuhan, b). pandangan hukum kodrat yang isinya berasal dari akal manusia;

c). pandangan mazhab historis yang menyatakan isi hukum berasal dari kesadaran hukum. Sementara itu sumber kekuatan mengikat dari hukum, bukan semata-mata hanya berdasarkan pada kekuatan memaksa namun juga didorong oleh alasan kesusilaan atau kepercayaan. Selain Kesusilaan dan kepercayaan juga diharapkan nilai-nilai lain seperti nilai kebenaran, keadilan, ketertiban, kesejahteraan serta nilai-nilai positif lainnya yang menjadi harapan dan cita-cita masyarakat. Dengan kata lain sumber hukum filosofis mengandung makna agar hukum sebagai kaidah perilaku memuat nilai-nilai positif.

38 Bagir manan, Dasar-dasar perundang-undangan Indonesia, Jakarta, Ind.Hill.Co, 1993, hal 16 39 Op.cit sudikno mertokusumo, hal 71

(37)

2). Sumber hukum formal

Sumber hukum formal diartikan sebagai tempat atau sumber darai mana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum. Hal ini berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan perundang-undangan tersebut berlaku formal.40. Dengan demikian sumber hukum formal ini merupakan bentuk pernyataan bahwa sumber hukum materiil dinyatakan berlaku. Ini berarti bahwa sumber hukum materiil bisa berlaku jika sudah diberi bentuk atau dinyatakan berlaku secara formal.41.

Sumber hukum memiliki sifat formal, apabila memenuhi syarat : 1. dirumuskan dalam suatu bentuk tertentu

Perumusan norma hukum penting untuk membedakan dari norma-norma lainnya sebab sebelum dirumuskan, norma tersebut tidak berbeda dengan nilai-nilai etika yang hidup dalam masyarakat. Wujud dari perumusan norma hukum tampak dalam bentuk keputusan yang berwenang. Maka, bila ditinjau dari segi bentuknya yang menyebabkan norma hukum positif dapat dikenali berarti keputusan yang berwenang tersebut merupakan tempat ditemukannya hukum positif. Misalnya dalam bentuk Undang-Undang , Peraturan Pemerintah dan lain-lain

2. dirumuskan berdasarkan prosedur dan tata cara tertentu

Perumusan norma hukum juga ditentukan berdasarkan prosedur (tahap-tahap) tertentu dan oleh pejabat tertentu . Misalnya : Undang-undang dibuat melalui tahap-tahap pembahasan rapat di DPR dan dibentuk oleh DPR bersama-sama dengan Presiden. 3. berlaku umum, mengikat dan di taati

40 Sudikno mertokusumo, mengenal hukum, op.cit hal 70

(38)

Perumusan norma akan menimbulkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi patokan, ukuran dan pedoman yang berlaku umum. Untuk itu ditinjau dari segi wewenangnya yang menyebabkan timbulnya norma hukum positif yang berlaku umum dan di taati, keputusan yang berwenang merupakan asalnya hukum positif.

c. Sumber-sumber Hukum Tata Negara

Sumber hukum tata negara pada prinsipnya sama dengan pengertian sumber hukum. Secara umum ahli hukum tata negara sependapat bahwa sumber hukum tata negara mencakup sumber hukum tata negara dalam arti materiil dan sumber hukum tata negara dalam arti formil.

Sumber hukum tata negara dalam arti materiil adalah sumber yang menentukan isi kaidah hukum tata negara, yang termasuk sumber hukum tata negara dalam arti materiil 42

diantaranya :

1. dasar dan pandangan hidup bernegara;

2. kekuatan-kekuatan politik yang berpengaruh pada saat merumuskan kaidah-kaidah hukum tata negara.

Sumber-sumber hukum materiil, dapat ditinjau lagi dari pelbagai sudut, misalnya dari sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat dan sebagainya43.

Contoh :

1. Seorang ahli ekonomi akan menyatakan, bahwa kebutuhan-kebutuhan ekonomi dalam masyarakat itulah yang menyebabkan timbulnya hukum,

42 Bagir Manan, Konvensi , opcit hal,14

(39)

2. Seorang ahli kemasyarakatan (sosiloog) akan mengatakan bahwa yang menjadi sumber hukum ialah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.

Sumber hukum tata negara dalam arti formal adalah sumber yang menentukan bentuk dan cara yang menyebabkan peraturan itu berlaku.

Sumber-sumber hukum formal antara lain ialah : 1. perUndang-undang ketatanegaraan (state)

2. hukum adat ketatanegaraan

3. Konvensi ketatanegaraan/kebiasaan (costum) 4. Keputusan-keputusan hakim (jurisprudentie) 5. Traktat (treaty)

6. Pendapat sarjana hukum (doktrin).

(1) Peraturan Perundang-undangan Ketatanegaraan (State)

Hukum perundang-undangan adalah hukum tertulis yang dibentuk dengan cara tertentu oleh pejabat yang berwenang dan dituangkan dalam bentuk tertulis. Disebut hukum perundang-undangan karena dibuat atau dibentuk oleh badan yang melaksanakan fungsi perundang-undangan (legislator). Peraturan perundang-undangan menurut Bagir Manan sebagai hukum positif tertulis yang dibuat, ditetapkan,atau dibentuk oleh pejabat atau lingkungan jabatan yang berwenang atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tertentu dalam bentuk tertulis yang berisi aturan tingkah laku yang berlaku atau mengikat secara umum 44.

(40)

Banyaknya produk hukum tertulis atau ketentuan perundang-undangan menunjukkan adanya hubungan antara ketentuan hukum tertulis satu dengan lainnya. Hal ini diatur alam urutan atau herarchi ketatanegaraan yang menempatkan UUD pada tingkatan yang tertinggi, artinya segala ketentuan hukum tidak boleh bertentangan atau harus sesuai dengan UUD , dalam hal ini UUD 1945.

Sistem hukum Indonesia menganut sistem hukum tertulis dengan susunan yang bertingkat yang disebut dengan hierarki perundang-undangan. Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan berdasarkan dengan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPRGR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia , yaitu dalam lampiran I di cantumkan bahwa Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dan dalam lampiran ke II memuat tentang Tata Urutan Perundangan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 45

, yaitu 1.UUD 1945

2. TAP MPRS/MPR

3. UU/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 4. Peraturan Pemerintah

5. Keputusan Presiden

6. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya seperti : - Peraturan Menteri

- Instruksi /Menteri , dan lain-lainnya.

45 Maria Farida indrati S, Ilmu Perundang-undangan (dasar-dasar dan pembentukannya),

(41)

TAP MPRS No. XX/MPRS/1966 ini membawa dampak yang besar bagi penertiban peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat itu. Dengan keluarnya TAP MPRS ini menjadi jelas peraturan apa saja yang berlaku dalam ketatanegaraan Republik Indonesia pada masa itu. Hal ini disebabkan tata urutan tersebut menunjukkan tingkatan masing-masing bentuk peraturan tersebut, dimana aturan yang lebih tinggi tingkatannya maka kedudukannya lebih tinggi dan konsekwensi hukumnya aturan yang lebih rendah tingkatnnya tidak boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi kedudukan dan bentuknya.

Namun TAP MPRS ini masih belum lengkap disebabkan ditemukan aturan-aturan lain seperti Keputusan Menteri, Keputusan lembaga nondepartemen, Peraturan Daerah, dan keputusan Kepala Daerah. Disamping itu TAP MPRS tersebut juga memuat kata-kata “dan lain-lain” yang dapat membuat salah dalam penafsiran.46. kalau dalam kata “dan lain-lain “ termasuk pula keputusan Menteri, dan kedudukan keputusan menteri menjadi setara dengan instruksi menteri . Selanjutnya menurut Rosjidi Ranggawidjaya “ intruksi menteri” bukanlah termasuk peraturan perundang-undangan47.

Beberapa hal tentang TAP MPRS No. XX/MPRS/1966 yang perlu disempurnakan menurut Maria Farida Indrati S, antara lain sebagai berikut :48

1. Undang-Undang Dasar 1945 tidak tepat kalau dikatakan sebagai peraturan

perundang-undangan oleh karena Undang-Undang Dasar 1945 terdiri dari dua

kelompok norma hukum yakni Pembukaan UUD 1945 merupakan

Staatsfundamentalnorm atau norma Fundamental Negara. Norma fundamental negara

46 Ni‟matul huda, hukum tata negara Indonesia, op.cit hal 39

47 Rosdjidi Ranggawidjaya, Pedoman Teknik Perancangan Peraturan Perundang-undangan , Cita Bakti

Akademika, Bandung,1996 hal 17

(42)

ini merupakan norma hukum tertinggi yang bersifat pre-supposed dan merupakan landasan filosofis yang mengandung kaidah-kaidah dasar bagi pengaturan negara itu lebih lanjut. Sifat norma hukumnya masih secara garis besar dan merupakan norma hukum tunggal, dalam arti belum dilekati oleh norma hukum skunder.

2. Ketetapan MPR merupakan Staatgroundgesetz atau aturan dasar negara/aturan Pokok Negara. Seperti halnya Batang Tubuh UUD 1945, Ketetapan MPR ini juga berisi garis-garis besar atau pokok-pokok kebijaksanaan negara, sifat norma hukumnya masih secara garis besar, merupakan norma hukum tunggal dan tidak dilekati oleh hukum skunder. Oleh karena itu baik UUD 1945 yang terdiri dari atas Pembukaan dan Batang Tubuhnya maupun Ketetapan MPR tidak termasuk dalam Peraturan Perundang-undangan, tetapi termasuk dalam staatsfundamentalnorm dan staatsgrundgesetz. Sehingga menempatkan keduanya kedalam jenis Peraturan Perundang-undangan adalah sama dengan menempatkannya terlalu rendah. Undang-Undang Dasar disebut juga Staatsgrundgesetz, diterjemahkan dengan Aturan Dasar negara atau aturan Pokok Negara. Sifat-sifatnya sebagai norma konstitusi ia mengatur lembaga-lembaga tertinggi negara, tata cara pembentukannya , tata hubungan sesamanya, dan lingkup tugas masing-masing serta secara dasar tata hubungan antara warga negara dengan negara secara timbal balik. Berbeda dengan norma Undang-Undang yang disebut dengan formell gesetz, selain mengatur warga negara dan penduduk secara langsung, juga dapat melekatkan sanksi pidana dan sanksi pemaksa terhadap pelanggar normanya.

3. keputusan Presiden di dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 merupakan peraturan perundang-undangan yang bersifat einmahlig, pada dasarnya keputusan

(43)

Presiden dapat bersifat einmahlig maupun bersifat deurhaftig. Keputusan Presiden yang bersifat einmahlig adalah yang bersifat ketetapan (beschikking) , dimana sifat normanya individual, konkret dan sekali selesai (einmahlig), sedangkan norma dari suatu Peraturan perundang-undangan selalu bersifat umum, abstrak, dan berlaku terus-menerus (deurhaftig) . dengan demikian, sebenarnya yang termasuk peraturan perundang-undangan adalah justru Keputusan Presiden bersifat deurhaftig (berlaku terus menerus).

4. Peraturan Menteri sebaiknya diganti menjadi Keputusan Menteri oleh karena itu penyebutan Keputusan Menteri di sini dapat berarti secara luas, yaitu baik peraturan (regeling) maupun yang berisi penetapan (beschikking). Selain itu Keputusan menteri konsisten dengan Keputusan Presiden

5. penyebutan instruksi menteri sebagai Peraturan Perundang-undangan adalah tidak tepat karena suatu instruksi bersifat individual,konkret, serta harus ada hubungan atasan dan bawahan secara organisatoris,sedangkan sifat dari suatu norma hukum dalam peraturan perundang-undangan adalah umum, abstrak, dan berlaku terus menerus

6. dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 ini tidak sisebutkan tentang Peraturan Daerah sebagai Peraturan Perundang-undangan, padahal Peraturan Daerah juga tearmasuk dalam jenis Peraturan Perundang-undangan dan tidak hanya merupakan peraturan pelaksana saja.

Seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan daerah dengan otonomi daerah dan dalam upaya pembaharuan hukum maka diperlukan penataan kembali susunan herarkis

Referensi

Dokumen terkait

Metode penelitian normatif ini disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku (law

Hukum Tata Negara Darurat itu harus dibedakan dari istilah hukum darurat atau “emergency law” yang mencakup pengertian yang lebih luas, yaitu meliputi segala bidang hukum pada

Pengaturan Hukum yang mengatur nasabah dan bank disebut hukum perbankan (Banking Law) yakni merupakan seperangkat kaedah hukum dalam bentuk peraturan perundang

Hukum yang mengatur masalah perbankan disebut hukum perbankan (Banking Law) yakni merupakan seperangkat kaedah hukum dalam bentuk peraturan perundang undangan, yurisprudensi,

Pasal 108 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (yang selanjutnya disebut dengan KUHAP) menyebutkan setiap orang yang mengetahui pemufakatan kejahatan atau

* Hukum Publik / Hukum Negara adalah : “ Hukum yang mengatur hubungan antara Negara dengan alat-alat perlengkapan atau hubungan antara Negara dengan.. Perseorangan ( Warga Negara

Hukum Tata Negara adalah sekumpulan peraturan hukum yang mengatur organisasi dari pada negara, hubungan antara alat pelengkap negara dalam garis Vertikal dan Horizontal, serta

“ Keseluruhan aturan hukum yang mengatur dengan disertai Sanksi terhadap Perbuatan manusia di dalam usaha mereka untuk menjalankan perdagangan” * Hukum Publik / Hukum