III. TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH
3.2. HAK-HAK MENDASAR
Hak-hak mendasar merupakan hak asasi yang tidak dapat dicabut dan bersifat melekat yang dimiliki oleh setiap manusia dari lahir tanpa melihat ras, kesukuan, gender, agama, kelas dan latar belakang masyarakat adat dan identitas. Masyarakat adat berhak untuk menikmati seluruh hak asasinya dan kebebasan mendasar seperti masyarakat lainnya. Hak-hak mendasar ini mencakup hak atas kebebasan dan persamaan dan hak-hak atas kewarganegaraan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Hak-hak mendasar ini berlaku secara sama, baik bagi pria maupun wanita.
Deklarasi ILO tentang Prinsip-prinsip dan Hak- hak Mendasar di Tempat Kerja dan mencakup empat kategori tentang prinsip dasar dan hak atas pekerjaan, yaitu:
(a) Kebebasan untuk berkumpul dan
pengakuan atas hak untuk tawar-menawar secara kolektif.
baik melalui sistem PBB. Ini sesuai dengan Pasal 42 Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat yang menetapkan bahwa: PBB, badan-badan PBB, termasuk Forum Permanen untuk Masalah-masalah
Masyarakat Adat dan badan-badan khusus, termasuk pada tingkat negara akan
memajukan penghormatan dan pelaksanaan secara penuh ketentuan-ketentuan deklarasi dan menindaklanjuti keefektifan pelaksanaan Deklarasi ini.
Lihat juga di: www.un.org/esa/socdev/ unpii.
Konvensi ILO 169
Pasal 3
1. Masyarakat adat harus sepenuhnya menikmati hak asasi manusia dan kebebasan mendasar tanpa halangan atau diskriminasi, ketentuan Konvensi harus diterapkan tanpa diskriminasi kepada laki-laki dan perempuan anggota masyarakat ini.
2. Paksaan atau tekanan dalam bentuk apa pun tidak boleh digunakan dengan cara yang bertentangan dengan hak asasi manusia dan kebebasan mendasar dari masyarakat yang bersangkutan, termasuk hak masyarakat adat yang tertera dalam Konvensi ini.
Pasal 4 ayat (3)
Kepuasan atas hak-hak umum warga negara, tanpa diskriminasi, tidak boleh dikurangi dengan cara apa pun melalui langkah-langkah khusus.
(b) Pengurangan segala bentuk kerja paksa atau yang diwajibkan.
(c) Penghapusan pekerja anak.
(d) Penghapusan atas diskriminasi pekerjaan dan jabatan.
Deklarasi ILO di atas juga mendeklarasikan seluruh anggota bahkan apabila anggota- anggota tersebut tidak meratifi kasi Konvensi terkait, memunyai kewajiban yang sama akibat dari keanggotaan di ILO untuk menghormati, mempromosikan dan mewujudkan, dengan niat yang tulus dan sesuai dengan konstitusi,
prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hak- hak mendasar yang merupakan pokok bahasan Konvensi ini. Konvensi ILO Nomor 169, Pasal 20 ayat (2) menegaskan bahwa hak-hak mendasar (juga lihat bagian 12):
Pasal 20 ayat (2) Pemerintah harus sedapat mungkin mencegah diskriminasi antara pekerja dari masyarakat ini dan pekerja lainnya [...]
Pasal 20 ayat (3) Langkah-langkah yang ditempuh meliputi upaya untuk memastikan:[...] (d) bahwa pekerja dari masyarakat ini memperoleh kesempatan yang sama juga perlakuan yang sama dalam pekerjaan untuk pria dan wanita, serta perlindungan dari pelecehan seksual.
Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat juga memunyai fokus yang kuat atas hak masyarakat adat untuk menikmati hak-hak asasi manusia dan kebebasan mendasar termasuk dalam pasal-pasal berikut ini:
Pasal 1
Masyarakat adat memunyai hak terhadap pemenuhan, baik secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, semua hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar yang diakui dalam Piagam PBB, Deklarasi Universal Hak- hak Asasi Manusia dan hukum internasional tentang hak asasi manusia.
Pasal 2
Masyarakat adat dan warganya bebas dan sederajat dengan semua kelompok- kelompok masyarakat dan warga-warga lainnya, dan memunyai hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam menjalankan hak-haknya, khususnya yang didasarkan atas asal-usul atau identitas mereka.
Pasal 6
Setiap warga masyarakat adat memunyai hak atas suatu kebangsaan.
Pasal 7
1. Warga masyarakat adat memiliki hak atas kehidupan, keutuhan fi sik dan mental, kemerdekaan dan keamanan. 2. Masyarakat adat memiliki hak kolektif
untuk hidup bebas, damai dan aman sebagai kelompok masyarakat yang berbeda dan tidak boleh menjadi target dari tindakan genosida apapun atau tindakan-tindakan pelanggaran lainnya, termasuk pemindahan anak-anak secara paksa dari sebuah kelompok ke kelompok lainnya.
III. TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH 41
Mekanisme spesifi k tentang masyarakat adat di dalam Dewan Hak Asasi Manusia PBB Di dalam PBB, Dewan Hak Asasi Manusia (HRC) membahas hak asasi dan kebebasan mendasar bagi warga negara. Tugas Dewan ini adalah mempromosikan penghormatan universal atas perlindungan hak asasi manusia dan membahas situasi kekerasan hak asasi manusia termasuk kekerasan yang mencolok dan sistematis, dan membuat rekomendasi atas hal-hal tersebut. Dewan ini didirikan pada 2006 dan terdiri dari 47 Negara Anggota PBB. Sejumlah proses PBB yang membahas secara khusus tentang masyarakat adat masuk dalam HRC. Di antaranya adalah Special Rapporteur tentang situasi HAM dan kebebasan mendasar tentang masyarakat adat.
Mekanisme hak-hak masyarakat adat (EMRIP)
EMRIP didirikan pada Desember 2007 untuk memberikan HRC berbagai kajian dan saran berbasis penelitian tentang cara terbaik untuk mengembangkan standar internasional utama yang mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia masyarakat adat. Sementara para pakar akan menunjukkan langkah-langkah untuk memastikan pelaksanaan hak-hak masyarakat adat, di antaranya mengkaji ulang dan mengevalusi praktik terbaik termasuk hambatan untuk mempromosikan perlindungnn hak-hak masyarakat adat. EMRIP memberikan laporan tahunan kepada HRC tentang kerjanya.
Special Rapporteur PBB memunyai mandat, di antaranya:
Menganalisis cara dan jalan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada untuk perlindungan secara penuh dan berhasil guna atas HAM dan kebebasan mendasar dari masyarakat adat.
Mengumpulkan, meminta, menerima, mempertukarkan informasi dan komunikasi dari seluruh sumber terkait tentang tuduhan kekerasan atas hak-hak asasi manusia masyarakat adat dan kebebasan dasar.
Merumuskan rekomendasi dan usulan tentang langkah-langkah dan kegiatan-kegiatan yang tepat untuk mencegah dan memperbaiki kekerasan atas HAM dan kebebasan mendasar masyarakat adat.
Dalam memenuhi mandatnya, Special Rapporteur:
Menyampaikan laporan tahunan atas topik atau situasi khusus tentang kedudukan khusus yang berkaitan promosi dan perlindungan hak-hak masyarakat adat.
Melakukan kunjungan negara (country visit).
Mempertukarkan informasi dengan pemerintah mengenai tuduhan kekerasan atas hak-hak masyarakat adat.
Melakukan berbagai kegiatan untuk menindaklanjuti tentang rekomendasi yang dimasukkan di dalam laporan Special Rapporteur tersebut.