BAB IV TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN ANTARA
B. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian antara PD. PAL
Dalam KUH Perdata terdapat Pasal-Pasal yang mengatur mengenai hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian pemborongan tetapi hanya sedikit.
KUH Perdata menjelaskan bahwa kewajiban dari si pemberi tugas adalah membayar jumlah harga borongan sebagaimana yang tercantum dalam kontrak, sedangkan kewajiban si pemborong adalah melaksanakan pekerjaan pemborongan sesuai dengan kontrak, rencana kerja dan syarat-syarat yang telah ditetapkan.
59 Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962.
Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi dijelaskan bahwa salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan jasa konstruksi nasional adalah pemenuhan kontrak kerja konstruksi yang dilandasi prinsip kesetaraan kedudukan antara pihak dalam hak dan kewajiban. Dengan kesetaraan di antara para pihak di dalam kontrak diharapkan dapat terwujudnya daya saing yang handal dan kemampuan untuk menyelenggarakan pekerjaan secara lebih efisien dan efektif.
Mengenai pengaturan hak dan kewajiban para pihak dalam pelaksanakan perjanjian pekerjaan pemasangan jaringan pipa air limbah gedung Panin Bank dimuat dalam Syarat-Syarat Umum Kontrak pada poin ke 5. Adapun hak dan kewajiban tersebut sebagai berikut:60
1. Hak dan kewajiban Pejabat Pembuat Komitmen Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah Provinsi DKI Jakarta (PD PAL Jaya):
a. Hak:
1) Mengawasi dan memeriksa pekerjaan yang dilaksanakan oleh Penyedia.
2) Meminta laporan-laporan secara periodik mengenai pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia.
b. Kewajiban:
1) Memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh Penyedia untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan Kontrak.
60 Pasal 5 Surat Perjanjian.
2) Membayar pekerjaan sesuai dengan harga yang tercantum dalam Kontrak yang telah ditetapkan kepada Penyedia.
2. Hak dan kewajiban penyedia jasa/si pemborong:
a. Hak:
1) Menerima pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan harga yang telah ditentukan dalam Kontrak.
2) Meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk sarana dan prasarana dari PPK untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan Kontrak.
a. Kewajiban:
1) Melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara periodik kepada PPK.
2) Melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Kontrak.
3) Melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan secara cermat, akurat dan penuh tanggung jawab dengan menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, angkutan kea tau dari lapangan, dan segala pekerjaan permanen maupun sementara yang diperlukan untuk pelaksanaan, penyelesaian dan perbaikan pekerjaan yang dirinci dalam Kontrak.
4) Memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan untuk pemeriksaan pelaksanakan yang dilakukan PPK.
5) Menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal penyerahan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Kontrak.
6) Mengambil langkah-langkah yang cukup memadai untuk melindungi lingkungan tempat kerja dan membatasi perusahaan dan gangguan kepada masyarakat maupun miliknya akibat kegiatan Penyedia.
Berdasarkan Syarat-Syarat Khusus Kontrak dalam surat perjanjian, pembayaran prestasi pekerjaan dilakukan dengan cara Termin. Termin adalah cara pembayaran pada dokumen perjanjian yang dikaitkan dengan prestasi kemajuan pekerjaan atau sering disebut dengan bobot prestasi.61 Jadi pihak pertama wajib membayarkannya setelah diberikan dahulu uang muka sebesar 20% dari nilai kontrak dan pihak ketiga wajib menerima bayaran sesuai dengan bobot prestasi pekerjaan yang dia lakukan. Pembayaran berdasarkan cara termin tersebut dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: 62
1. Termin I
Sebesar 25% dikurangi 5% angsuran uang muka (bila ada) dikurangi 1,25% retensi dari nilai kontrak, yang akan dibayarkan setelah prestasi pekerjaan mencapai bobot 25%.
2. Termin II
Sebesar 25% dikurangi 5% angsurang uang muka (bila ada) dikurangi 1,25% retensi dari nilai kontrak, yang akan dibayarkan setelah prestasi pekerjaan mencapai bobot 50%.
3. Termin III
61 “Pengertian termin”, https://id.answers.yahoo.com/ question/index?qid =2011100920 0855AAD0x9i, diakses pada tanggal 12 Agustus 2016.
62 Poin (R) Syarat-Syarat Khusus Kontrak.
Sebesar 25% dikurangi 5% angsurang uang muka (bila ada) dikurangi 1,25% retensi dari nilai kontrak, yang akan dibayarkan setelah prestasi pekerjaan mencapai bobot 75%.
4. Termin IV
Sebesar 25% dikurangi 5% angsurang uang muka (bila ada) dikurangi 1,25% retensi dari nilai kontrak, yang akan dibayarkan setelah prestasi pekerjaan mencapai bobot 100% dan serah terima pertama pekerjaan (Provisional Hand Over/PHO).
Total Retensi sebesar 5% dari nilai kontrak, dapat dibayarkan setelah prestasi pekerjaan mencapai 100% dan serah terima pertama pekerjaan (Provisional Hand Over/PHO) dengan menyerahkan jaminan pemeliharaan.
5. Termin V
Sebesar 5% dari nilai kontrak, yang akan dibayarkan setelah masa pemeliharaan dan penyerahan akhir pekerjaan (Final Hand Over/FHO).
Jaminan pemeliharaan (apabila retensi dibayar pada saat PHO) dikembalikan setelah masa pemeliharaan dan penyerahan akhir pekerjaan (Final Hand Over/FHO).
Dalam Syarat-Syarat Khusus Kontrak dijelaskan bahwa pihak penyedia berkewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan pemborongan ini selama 120 (seratus dua puluh) hari kalender. Pekerjaan ini dimulai pada tanggal 11 Januari Tahun 2016 sampai dengan 24 November Tahun 2016 dengan masa pemeliharaan berlaku selama 6 (enam) bulan. Jika pihak penyedia tidak tepat waktu dalam meneyelesaikan pekerjaan maka akan dikenakan denda sebesar 1/1000 (satu per
seribu) dari harga kontrak. Sedangkan besaran denda yang dibayarkan oleh penyedia apabila PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) memutuskan kontrak secara sepihak adalah Rp. 163.454.000,00 (seratus enam puluh tiga juta empat ratus lima puluh empat ribu rupiah) dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal pemutusan kontrak.
Untuk menyeimbangkan kontrak tersebut, maka dicantumkan juga tanggung jawab dan kewajiban PPK (Pejabat Pembuat Komitmen). Adapun hal tersebut ialah apabila terjadi hal-hal di luar kekuasaan kedua belah pihak (keadaan kahar) sehingga para pihak tidak dapat melaksanakan kewajibannya maka pihak pemberi tugas wajib membayar pihak pemborong sesuai dengan prestasi atau kemajuan pelaksanaan pekerjaan yang telah dikerjakannya. Keadaan kahar adalah suatu keadaan yang terjadi diluar kehendak para pihak dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya, sehingga kewajiban yang ditentukan dalam Kontrak menjadi tidak dapat dipenuhi, seperti bencana alam, bencana non alam, bencana social, pemogokan, kebakaran dan / atau gangguan industri lainnya. Keadaan kahar ini harus di beritahukan oleh Penyedia kepada PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak terjadinya Keadaan Kahar, dengan menyertakan pernyataan dari pejabat yang berwenang. Adapun keterlambatan pengadaan akibat Keadaan Kahar tidak dikenakan sanksi.63
Dalam pelaksanaan kontrak pengadaan, penyedia barang/jasa tidak hanya diwajibkan melaksanakan kewajiban yang secara tegas di atur dalam kontrak, tetapi juga wajib menanggung adanya cacat dalam kualitas pekerjaan. Kewajiban menanggung ini dapat bersifat tegas dalam kontraknya maupun secara diam-diam.
63 Poin B.4 Syarat-Syarat Umum Kontrak.
Pengguna barang/jasa hanya akan menerima pekerjaan penyedia barang/jasa jika pekerjaan itu sesuai dengan spesifikasi, tidak mengandung cacat dan dalam tenggang waktu sebagaimana ditetapkan dalam kontrak. Jika terdapat ketidaksesuaian dengan spesifikasi atau jika terdapat cacat maka pengguna barang/jasa berhak dalam melakukan penolakan atau bahkan dapat memutuskan kontrak.64
C. Pelaksanaan Perjanjian antara PD. PAL JAYA dan PT. GODHAR