BAB III PROSEDUR PENDAFTARAN HAK ATAS TANAH
E. Syarat-Syarat Dalam Permohonan Hak Atas Tanah
Persyaratan yang berlaku sesuai dengan ketentuan pertanahan yang umum.
2. Syarat Khusus
Persyaratan yang berlaku karena kekhususan sifat dari objek hak atas tanah tersebut.
a) Adanya Bangunan Fisik, dilengkapi dengan Izin Mendirikan Bangunan.
b) Peruntukan Sesuai Dengan Tata Ruang.
c) Tidak mengganggu fungsi lindung dari suatu kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung.
d) Tidak mengganggu fungsi perairan disekitarnya yang telah ditetapkan oleh Lembaga Terkait.
e) Tidak mengganggu keberadaan alur-pelayaran umum dan perlintasan, alur-pelayaran masuk pelabuhan, serta zona keamanan dan keselamaatan sarana bantu pelayaran yang terdapat pada wilayah perairan tersebut.87
86Ibid
1. Bagan Alur Permohonan Izin Lokasi88
87 https://www.scribd.com/doc/207849184/Status-Kepemilikan-Tanah-hasil-Reklamasi-di-Wilayah-Psisir-dan-Pulau-Pulau-Kecil di akses tanggl 28 Oktober 2016
88BPTPM Kab. Pandeglang 1. Surat Permohonan Izin dari pemohon 2. Berkas Permohonan
3. Berita Acara Peninjauan Kembali
4. Risalah Pertimbangan Teknis Pertanahan dari kantor Pertanahan Kab.PandeGlang.
5. Rekomendasi Hasil Studi Analisis Dampak Lalu lintas, 6. Lampiran Peta Lokasi
7. Naskah Keputusan Bupati tentang Pemberian Izin Lokasi/Penetapan Lokasi
8. Penyampaian Naskah Keputusan Bupati Tentang Pemberian Izin Lokasi Kebagian Hukum Setda Kab. P andeglang.
BPTPM 1 .BERKAS
PERMOHONAN 2. BERITA ACARA
2. Persyaratan Pembuatan Izin Lokasi : a. Surat Permohonan sesuai format b. Surat Pernyataan
c. Biodata Perusahaan/Ketetapan Instansi d. Proposal kegiatan sesuai format e. Foto copy Permohonan
f. Foto copy NPWP Pemohon
g. Peta Orientasi Lokasi dan /atau gambar/Bentuk tanah yang di mohon
h. Pertimbangan rencana pemanfaatan tata ruang dari Dinas tata ruang, bangunan dan perumahan
i. Risalah pertimbanag teknis pertanahan dari kantor pertanahan kab.Pandeglang j. Hasil studi analisis dampak lalu lintas dari konsultan dan/atau rekomendasi hasil studi analisis dampak lalu lintas dari dinas perhubungan, komunikasi dan informatika
k. Surat pengesahan menteri hukum dan HAM (untuk PT) l. Kartu anggota REI provinsi Banten (untuk perumaham)
m. Foto copy surat persetujuan penanaman modal (ijin prinsi) dari presiden/menteri negara pengerak dana investasi/gubernur Banten/Kepala BKPMD
n. Foto copy surat persetujuan penanaman modal (ijin prinsip) dari depertemen/instansi teknis
o. Site plan/Master plan berbentuk soft copy dan hard copy
Permohonan persyaratan administrasi dan teknis dalam mengajukan pembuatan ijin lokasi dan peruntukan di kabupaten pandeglang.89
89BPTPM Kab. Pandeglang
BAB IV
LEGALITAS SERTIFIKAT HAK ATAS TANAH YANG DIMILIKI OLEH PT.MUTIARA HITAM PERTIWI
A. Tinjauan Umum
1. Legalitas Sertifikat Hak Atas Tanah secara Umum
Sertipikat memiliki banyak fungsi bagi pemiliknya. Dari sekian fungsi yang ada, dapat dikatakan bahwa fungsi utama dan terutama dari sertipikat adalah sebagai alat bukti yang kuat, demikian dinyatakan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA, karena itu, siapapun dapat dengan mudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak atas tanah bila telah jelas namanya tercantum dalam sertipikat itu. Selanjutnya dapat membuktikan mengenai keadaan-keadaan dari tanahnya itu misalnya luasnya, batas-batasnya, ataupun segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tanah dimaksud. Apabila dikemudian hari terjadi tuntutan hukum di pengadilan tentang hak kepemilikan/penguasaan atas tanah, maka semua keterangan yang dimuat dalam sertipikat hak atas tanah itu mempunyai kekuatan pembuktian yangkuat dan karenanya hakim harus menerima sebagai keteranganketerangan yang benar, sepanjang tidak ada bukti lain yang mengingkarinya atau membuktikan sebaliknya.
Tetapi jika ternyata ada kesalahan didalamnya, maka diadakanlah perubahan /pembetulan seperlunya.
Dalam hal ini yang berhak melakukan pembetulan bukanlah pengadilan melainkan instansi yang menerbitkannya yakni Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan jalan pihak yang dirugikan mengajukan permohonan perubahan sertipikat
dengan melampirkan surat keputusan pengadilan yang menyatakan tentang adanya kesalahan dimaksud. Selain fungsi utama tersebut diatas, sertipikat memiliki banyak fungsi lainnya yang sifatnya subjektif tergantung daripada pemiliknya. Sebut saja, misalnya jika pemiliknya adalah pengusaha, maka sertipikat tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika ia memerlukan sumber pembiayaan dari bank karena sertipikat dapat dijadikan sebagai jaminan untuk pemberian fasilitas pinjaman untuk menunjang usahanya. Demikian juga contoh-contoh lainnya masih banyak yang kita bisa sebutkan sebagai kegunaan dari adanya sertipikat tersebut.
Yang jelas bahwa sertipikat hak atas tanah itu akan memberikan rasa aman dan tenteram bagi pemiliknya karena segala sesuatunya mudah diketahui dansifatnya pasti serta dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.
2. Pengertian Sertipikat
Berdasarkan pengertian pada Pasal 1 angka 20 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 sertipikat adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c Undang-Undang Pokok Agraria untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hakmilik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan. Adapun yang dimaksud Pasal 19 ayat (2) huruf c pada Undang-Undang Pokok Agraria dalam pengertian sertipikat, yaitu pemberian surattanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat, mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya, sepanjang data fisik dan yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan, dikatakan demikian karena
selama tidak ada bukti lain yang membuktikan ketidakbenaranya, maka keterangan yang ada dalam sertipikat harus dianggap benar dengan tidak perlu bukti tambahan, sedangkan alat bukti lain tersebut hanya dianggap sebagai alat bukti permulaan dan harus dikuatkan oleh alat bukti yang lainnya. Jadi sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai macam hak, subyek hak maupun tanahnya. Penerbitan sertipikat dan diberikan kepada yang berhak dimaksudkan
Agar pemegang hak dapat dengan mudah membuktikan haknya. Sedangkan fungsi sertipikat adalah sebagai alat pembuktiankepemilikan hak atas tanah.
3. Sertipikat Sebagai Alat Bukti yang Kuat
Menurut Undang-Undang Pokok Agraria sebagai landasan hukum bidang pertanahan di Indonesia, Pasal 19 ayat (2) sub. C sertipikat sebagai alat pembuktian yang kuat. Pengertian dari sertipikat sebagai alat pembuktian yang kuat adalah bahwa data fisik dan data yuridis yang sesuai dengan data yang tertera dalam Buku Tanah dan Surat Ukur yang bersangkutan harus dianggap sebagai data yang benar kecuali dibuktikan sebaliknya oleh Pengadilan. Sehingga selama tidak bisa dibuktikan sebaliknya, data fisik dan data yuridis yang tercantum didalamnya harus diterima sebagai data yang benar, baik dalam melakukan perbuatan hukum sehari-hari, maupun dalam berperkara dipengadilan, sehingga data yang tercantum benar-benar harus sesuai dengan surat ukur yang bersangkutan, karena data yang diambil berasal dari surat ukur dan buku tanah tersebut.
Hal ini lebih diperkuat lagi dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dalam ketentuan Pasal 32 yang menyebutkan bahwa :
a. Ayat (1) :
sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam Surat Ukur dan Buku Tanah hak yang bersangkutan;
b. Ayat (2) :
dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertipikat tersebut.
Ketentuan Pasal 32 tersebut adalah dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan menjadi tampak dan dirasakan arti praktisnya sungguhpun sistem publikasi yang digunakan adalah sistem negatif.90
Sedangkan surat ukur adalah salinan memuat gambar tanah yang melukiskan batas tanah, tanda-tanda batas maka yang terpenting surat ukur harus memuat :
a. Nomor pendaftaran;
b. Nomor dan tahun surat ukur atau buku tanah;
c. Nomor pajak jika mungkin;
d. Uraian tentang letak tanah;
e. Uraian tentang keadaan tanah;
f. Luas tanah.
90Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia,2003 Penerbit Djambatan hal 482
Hal-hal yang dapat dibuktikan dalam sertipikat hak atas tanah tersebut adalah:
a. Jenis hak atas tanah;
b. Pemegang hak;
c. Keterangan fisik tentang tanah;
d. Beban di atas tanah;
e. Peristiwa hukum yang terjadi dengan tanah.
Jelaslah apabila seseorang memiliki sertipikat hak atas tanah akan merasa terjamin akan kepastian hak atas tanah yang dimiliknya, sebab apabila terjadi pelanggaran atas tanah hak miliknya maka pemilik tanah dapat menuntut haknya kembali.
B. Status Objek Tanah Yang Abrasi
Banyaknya tanah hilang akibat abrasi di sepanjang pesisir Tuban tidak menjadi perhatian Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Tuban. Institusi yang berwenang menetapkan hak atas tanah tersebut bahkan tidak memiliki data sama sekali tentang tanah-tanah hilang tersebut. Padahal, para pemegang hak atas tanah yang telah tidak diketahui wujud fisiknya tersebut sampai sekarang masih diwajibkan membayar pajak.
Sampai tidak tahu berapa luasan tanah yang hilang karena abrasi. Tidak pernah mendata. Yang tahu Kelurahan labuhan atau Kepala Desa Cerita Kabupaten Pandeglang.
Menurut BPN mengurus tanah-tanah yang musnah karena proses alam tersebut. pemegang hak atas tanah yang mestinya menyadari bahwa tanahnya rawan dan tidak menelantarkannya sehingga musnah terkena abrasi. juga menyayangkan mengapa pemegang hak atas tanah tidak melapor atau memohon penghapusan hak
atas tanahnya yang musnah tersebut agar tidak lagi terbebani pajak, tanpa bisa memperoleh manfaat dari obyek pajak tersebut.91
Masyarakat tidak tahu regulasi ini. Kalau kemudian upaya pengembalian keadaan tanah mereka dihentikan Pemerintah, pasti konflik yang terjadi, mereka merasa merehabilitasi tanahnya sendiri untuk kembali menjadi semula sesuai dengan kepemilikan atas tanah sempadan pantai tersebut.
Dan juga meminta BPN agar secepatnya melakukan pendataan atas tanah yang hilang karena abrasi, kemudian menghapus hak atas tanah tersebut. Sebab dalam Undang-undang Pokok Agraria Nomor 5 tahun 1960 yang menjadi rujukan semua regulasi pertanahan, disebutkan tanah yang hilang secara alami karena abrasi atau bencana alam, sehingga batas-batasnya tidak diketahui dan keadaan fisiknya berubah, maka tanah tersebut dikuasai negara.
Ketidak pedulian BPN tersebut memang patut disesalkan. Pendamping Masyarakat Nelayan dan Pesisir, seharusnya BPN pro-aktif mensosialisasikan regulasi terkait hak atas tanah itu kepada masyarakat, sehingga masyarakat tahu dan tidak merasa dirugikan lantaran terus membayar pajak sementara tanahnya berkurang.
Kepedulian BPN, bisa mencegah munculnya akibat hukum yang bisa memunculkan konflik. “ Pemilik hak tanah banyak yang kemudian mereklamasi tanahnya yang hilang. Ini bisa menimbulkan konsekwensi hukum karena aturan sekarang, reklamasi tidak boleh dilakukan tanpa ijin Pemerintah,. Dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/PERMEN-KP/2013 tentang Perizinan Reklamasi di Wilayah
91Wawancara dengan Lurah Carita, Tanggal 13 September 2016
Pesisir92, jelas disebut upaya reklamasi bisa dilakukan hanya atas seizin Pemerintah Pusat apabila kawasan pesisir itu dalam kawasan strategis nasional. Di luar kawasan strategis nasional itu, izin harus didapat dari Pemerintah Daerah. Berdasarkan ketentuan peraturan kementerian kelautan ada batas-batas kewenangan kepemilikan atas tanah sempadan pantai untuk dilakukan reklamasi atau penimbuna terhadap tanah yang abrasi di karenakan faktor alam yang begitu exstrim. Berarti status objek tanah yang berkurang karena abrasi harus dilakukan pengukuran ulang kembali dengan, membuat permohonan ke badan pertanahan setempat untuk melakukan pengukuran ulang objek tanah tersebut.
Hal ini menjadi penghalang untuk pembanngunan dan pelestarian pembangunan tanah sempadan pantai waktu jangka panjang, jika tidak ada penangan yang tegas, jika ketidak pedulian BPN terhadap tanah sempadan pantai maka pembanguna dan pelestarian periwisata terganggu, dan masyarakat atau perusahaan asing maupun investor asing enggan membuat pembangunan di tanah sempadan tanah pantai, disebabkan sulitnya memperoleh tanah yang hilang akibat abrasi untuk dikembalikan.
C. Legalitas Kepemilikan Tanah yang Abrasi
Hak milik sebagai salah satu lembaga hukum dalam hukum tanah telah diatur baik dalam hukum tanah sebelum UUPA maupun dalam UUPA. Sebelum berlakunya UUPA, ada dua golongan besar hak milik atas tanah, yaitu hak milik menurut hukum
92Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/PERMEN-KP/2013 tentang Perizinan Reklamasi di Wilayah Pesisir
adat dan hak milik menurut hukum Perdata Barat yang dinamakan hak Eigedom.
Peralihan hak atas tanah dapat melalui jual beli, tukar-menukar, hibah atau karena pewarisan. Dalam Pasal 26 ayat (1) ditentukan bahwa : “Jual beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat, dan perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk memindahkan hak milik serta pengawasannya diatur dengan Peraturan Pemerintah”.40 Jual beli tanah menurut PP No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah, harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh seorang Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), dan setelah akta tersebut ditandatangani oleh para pihak maka harus didaftarkan..93
Legalitas kepemilikan tanah yang abrasi secara hukumnya adalah sah secara hukum akan tetapi nilai objek tanah tersebut berkurang dari luasnya dan nilai jualnya.
Analisis tentang objek tanah yang nilai objek tanah telah berubah dalam hal ini diperlukannya pengukuran ulang objek tanah tersebut, setelah melakukan pengukuran ulang maka dilakukan pencoretan luas tanah yang tertera didalam buku sertifikat tanah dari luas tanah sebelumnya dan mengganti dengan hasil pengukuran ulang yang sebenarnya dengan adanya catatan keterangan dibuku sertifikat tanah tersebut bahwa objek tanah tersebut telah berkurang akibat abrasi.
Luas tanah PT Mutiara Hitam Pertiwi yang berkurang akibat abrasi adalah 2 (Dua) meter dari batas tanah milik PT Mutiara Hitam Pertiwi .
93 Lihat Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Kedudukan hak atas tanah yang dimiliki oleh PT Mutiara Hitam Pertiwi adalah sah berdasarkan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No 72 yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional.
2. Prosedur pendaftaran hak atas tanah sempadan pantai diajukan secara sporadik di mana pengajuannya dilakukan secara individual oleh pihak yang berkepentingan (PT Mutiara Hitam Pertiwi). Prosedur tersebut harus sesuai dengan ketentuan PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah yang meliputi Pembuatan Peta Dasar Pendaftaran, Penetapan Batas Bidang-Bidang Tanah, Pengukuran dan Pemetaan Bidang Tanah dan Pembuatan Peta Pendaftaran, Pembuatan Daftar Tanah, Pembuatan uintuk keperluan pendaftaran haknya, dan Pembuktian Hak Baru. Syarat permohonan dalam kepemilikan tanah sempadan pantai secara umum sesuai dengan pendaftan tanah yang umum, dan ada yang khusus yang berisi pengaturan mengenai adanya bangunan fisik, peruntukan sesuai dengan tata ruang, tidak mengganggu fungsi kawasan lindung, tidak mengganggu fungsi perairan, dan tidak menggangggu keberadaan alur pelayaran umum dan perlintasan. Setelah memenuhi prosedur dan syarat-syarat pendaftaran tanah, kemudian dilanjutkan dengan melakukan Permohonan Izin Lokasi ke BPTPM.
3. Legalitas Sertifikat Hak Guna Bangunan No 72 yang luas tanahnya 76.306 m2 atas nama PT Mutiara Hitam Pertiwi adalah sah secara hukum namun pengaruh abrasi, luas tanah yang disertifikat tidak sama dengan realita yang ada karena sudah berkurang.
B. Saran
1. Perlu dilakukan sosialisasi bagaimana pendaftaran tanah sempadan pantai baik perorangan maupun badan hukum oleh pihak badan pertanahan nasional.
2. Perlu diketahui abrasi menjadi ancaman serius dan pasti akan terus merambah ke wilayah daratan. Namun disisi lain masyarakat disana masih banyak yang ingin tetap bertahan. Abrasi merupakan pengikisan atau pengurangan daratan (pantai) akibat aktivitas gelombang, arus dan pasang surut. Dalam kaitan ini pemadatan daratan mengakibatkan permukaan tanah turun dan tergenang air laut sehingga garis pantai berubah.
3. Perlu dalam kepemilikan tanah sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan peraturan hukum yang mengatur lain, sehingga sah menurut hukum. Dan sertifikat hak atas tanah sepadan pantai sesuai dengan prosedur maka sertifikat legal dan sah dimata hukum.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Arief Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, (Surabaya : Usaha Nasional, 1997)
AP Parlindungan, Komentar Atas Undang Undang Penataan Ruang (Bandung : Mandar Maju, 1993).
Bambang Sungono, 2002,Metode Penelian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta BF. Sihombing, Evolusi Kebijakan Pertanahan Dalam Hukum Tanah Indonesia,
(Jakarta : Toko Gunung Agung, 2005).
BoediHarsono, “Beberapa Analisis Tentang Hukum Agraria”, Penerbit Esa Studi Klub, Jakarta, 1978.
BOEDI HARSONO, Hukum Agraria Indonesia, 2003, Penerbit Djambatan . Wayan Suhendra, Hukum Pertanahan Indonesia, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994.
Boedi Harisono, Hukum Agraria Indonersia, (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1994.
Diraputra, Suparman A. 2001. Sistem Hukum dan Kelembagaan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir secara Terpadu. Prosiding Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu.Bogor: PKSPL IPB
Djunarsjah, Eka. 2001. Urgensi Penetapan Batas Laut berkaitan dengan Pelaksanaan Otonomi Daerah. Bandung: FTSP –ITB.
Patlis Jason M. Dkk. 2005. Menuju Harmonisasi Sistem Hukum Sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Jakarta: Bappenas.
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994,
Salim H. S, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Rajawali Pers : Jakarta, 2010).
JJ. Wuisman, Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu Sosial, Jilid 1, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1996).
97
Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986).
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2005.
Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti,Bandung, 1999.
Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, (Bandung, Alumni, 1982).
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta,1986
Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), Penerbit Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002, hal. 82-83.
Hari Chand, Modern Jurisprudence, International Law Book Service, Kuala Lumpur, 1994, hal. 225
. Masri Singarimbun dkk, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: LP3ES, 1999.
Andik Hardiyanto, Pembaruan Agraria di Sektor Perairan dalam Tim Lapera, Prinsip-prinsip Reforma Agraria Jalan Penghidupan dan Kemakmuran Rakyat, (Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2001.
Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-hak atas Tanah, (Surabaya : Prenada Media Group, 2005).
Koentjaraningrat, 1997, Metode Penelitian Masyarahat (Gramedia Pustaka Utama,Jakarta
Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998.
Muslam Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, UMM Press, Malang, 2009.
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1973.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003).
Sunaryati Hartono, 1994,Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung.
Soedikno Mertokusumo, Hukum dan Politik Agraria, (Jakarta : Universitas Terbuka Karunika, 1998).
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta.
Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Jakarta, Djambatan, 2008.
Sunaryo Basuki, “Landasan Hukum Penguasaan dan Penggunaan Tanah”, Makalah, (Jakarta : Fakultas Hukum Trisakti, 2005).
Sunaryo Basuki, Hukum Tanah Nasional Landasan Hukum Penguasaan dan Penggunaan Tanah. Buku Ajar Mata Kuliah Hukum Agraria, Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok.
Soetomo, Pedoman Jual Beli Tanah Peralihan Hak Sertifikat, Universitas Brawijaya, Malang, 1983.
Irene eka Sihombing, Segi-Segi Hukum Tanah Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan, (Jakarta, Trisakti, 2005).
K. Wantjik Saleh, Hak Atas Tanah, cet. 5, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1985).
Urip Santoso, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah, Cet. 2, Kencana, Jakarta, 2010.
M. Yahya Harahap (2), Hukum Acara Perdata, Jakarta : Sinar Grafika, 2005.
Lumban Tobing, G.H.S., Peraturan Jabatan Notaris, Jakarta, Erlangga, 1996.
M.U. Sembiring, Teknik Pembuatan Akta, Sumatra Utara : Program Pendidikan Spesialis Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara, 1997.
Caroline Gunawan, Peranan PPAT dalam Perjanjian Jual Beli Tanah Hak Milik, Tesis Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003
B. Undang-Undang
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 penatagunaan Tanah
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan tanah yang menegaskan bahwa sempadan pantai dikategorikan sebagai kawasan lindung/kawasan perlindungan setempat.
C. Sumber Lain
Arika, Yovita dan Triana, Neli. 2002. Ketika Pantura Jateng Terjamah Abrasi.
http://www.kompas.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_atas_tanah, diakses tanggal 12 Agustus 2016.
Hasil Wawancara dengan Pak Soni ,tanggal 29 september 2016
http://wilysteven.blogspot.co.id/2012/12/tata-cara-pendaftran-tanah-dan.html, diakses tanggal 8 Agustus 2016, Jam. 21:32 WIB
Kurnia Damaywanti, Dampak Abrasi Pantai terhadap Lingkungan Sosial (Studi Kasus di Desa Bedono, Sayung Demak) Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan UNDIP, Semarang,2013.
Wayan Suhendra, Hukum Pertanahan Indonesia, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994).
Ahmad Ihsan Suyuthi, Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Secarasistematik Melalui Program lmpdp (landmanagement and policy developmentproject) di
Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal, Skripsi, Uiversitas Negeri Semarang Fakultas Hukum universitas Negeri Semarang 2011.