• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh. M. DODDY NURHADI /M.Kn (Halaman 33-0)

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan baik secara teoritis maupun praktis yaitu :

1. Secara Teoritis

a. Diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang sedang diteliti.

b. Diharapkan dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dan pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan hukum agraria pada khususnya dan penelitian ini dapat menambah bahan terutama mengenai sertipikat ganda.

c. Diharapkan dapat menambah referensi/literature sebagai bahan acuan bagi penelitian yang akan datang apabila melakukan penelitian dibidang yang sama dengan bahan yang telah diteliti.

2. Secara Praktis

a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini.

b. Diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum dan menambah pengetahuan penelitian yang berkaitan dengan keabsahan kepemilikan dan peralihan hak atas tanah.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran sementara dan pemeriksaan yang telah penulis lakukan baik di kepustakaan penulisan karya ilmiah Magister Hukum, maupun di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan sejauh yang diketahui, penelitian tentang “ANALISIS YURIDIS KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI DI DAERAH PANTAI CARITA PANDEGLANG BANTEN OLEH PT. MUTIARA HITAM PERTIWI”, belum pernah dilakukan.

Artinya secara akademik penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan kemurniannya, karena belum ada yang melakukan penelitian yang sama dengan judul penelitian ini, dan berdasarkan penelusuran kepustakaan tersebut menunjukkan bahwa penelitian dengan beberapa Judul tesis yang berhubungan dengan Judul topik dalam tesis ini antara lain :

1. Penelitian dengan judul Tinjauan Hukum Terhaadap Pengaturan Dan Penggunaan Tanah Pada Kawasan Pantai (Studi Di Kecamatan Medan Belawan), oleh Edi Syahputra, Nim 057011023.

2. Analisis Yuridis Pemberian Hak Guna Usaha Terhadap Perusahaan Asingdalam Bentuk Joint Usaha (Venture) Setelah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, oleh Ruben Sianipar, Nim 117011003.

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.11 Dalam penelitian suatu permasalahan hukum, maka relevan apabila pembahasan di kaji menggunakan teori-teori hukum, konsep-konsep hukum dan asas asas hukum. Teori hukum dapat digunakan untuk menganalisis dan menerangkan pengertian hukum dan konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam penelitian hukum.12

Teori adalah menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.13 Teori merupakan generalisasi yang dicapai setelah mengedepankan pengujian dan hasilnya mencakup ruang lingkup dan fakta yang

11M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, hal. 80.

12Salim H. S, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Rajawali Pers : Jakarta, 2010 ), hal. 54.

13JJ. Wuisman, Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu Sosial, Jilid 1, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1996), hal. 203.

luas.14 Sedangkan fungsi teori dalam penelitian adalah untuk mensistematiskan penemuan-penemuan penelitian, membuat ramalan atau prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan. Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskan dan harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.15 Peter Mahmud Marzuki mengatakan bahwa penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori, atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.16

Adapun teori yang digunakan dengan permasalahan dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum. Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.17 Kepastian hukum bermuara pada ketertiban secara sosial. Dalam kehidupan sosial, kepastian adalah mensamaratakan kedudukan subjek hukum dalam suatu perbuatan dan peristiwa hukum. Dalam paham positivisme, kepastian di berikan oleh negara sebagai pencipta hukum dalam bentuk undang undang. pelaksanaan kepastian di konkritkan dalam

14 Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986), hal. 126.

15M. Solly Lubis (I), Op Cit, hal. 17.

16Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2005, hal. 35.

17Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti,Bandung, 1999, hal. 23.

bentuk lembaga yudikatif yang berwenang mengadili atau menjadi wasit yang yang memberikan kepastian bagi setiap subjek hukum.

Menurut Soerjono Soekanto bagi kepastian hukum yang penting adalah peraturan dan di laksanakan peraturan itu sebagaimana yang di tentukan. Apakah peraturan itu harus adil dan mempunyai kegunaan bagi masyarakat adalah di luar pengutamaan kepastian hukum. dengan tersedianya perangkat hukum yang tertulis, siapa pun yang berkepentingan akan mudah mengetahui kemungkinan apa yang tersedia baginya untuk menguasai dan menggunakan tanah yang di perlukannya, bagaimana cara memperolehnya, hak-hak dan kewajiban serta larangan-larangan apa yang ada di dalam.18

Ajaran kepastian hukum ini berasal dari ajaran Yuridis-Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivistis di dunia hukum, yang cenderung melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom, yang mandiri, karena bagi penganut pemikiran ini, hukum tak lain hanya kumpulan aturan. Bagi penganut aliran ini, tujuan hukum tidak lain dari sekedar menjamin terwujudnya Kepastian hukum.

Kepastian hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum. Sifat umum dari aturan-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata-mata untuk kepastian.19

18Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, (Bandung, Alumni, 1982), hal. 21.

19Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), Penerbit Toko Gunung Agung, Jakarta, 2002, hal. 82-83.

Teori lain yang di gunakan dalam penelitian ini adalah teori keadilan, hukum harus mengandung nilai keadilan bagi semua orang. Mengartikan keadilan memang tidak mudah. Keadilan diartikan begitu beragam, Ulpianus mengatakan keadilan adalah kemauan yang bersifat terus menerus untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya dimiliki. Aristoteles mengartikan keadilan dengan memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya (due) atau sesuatu yang menjadi miliknya. Menurut Hart keadilan dan moralitas adalah sebagai berdampingan (koeksistensif), meskipun fakta berbicara bahwa keadilan adalah bagian tersendiri dari moralitas. Sedangkan David Hume menyatakan bahwa keadilan adalah aturan aturan di mana barang barang materil (kepemilikan/kemakmuran) ditujukan kepada individu individu, dan moralitas keadilan terlihat dengan menghormati kepemilikan itu tanpa melakukan tindakan tindakan memperoleh barang orang yang diperoleh secara tidak sah dan dikembalikan kepada pemiliknya.20

2. Konsepsi

Dalam bahasa Latin, kata conceptio (didalam bahasa Belanda : begrip) atau pengertian merupakan hal yang dimengerti. Pengertian bukanlah merupakan

”definisi” yang didalam bahasa Latin adalah definitio. Defenisi tersebut berarti perumusan (didalam bahasa Belanda : “omschrijving”) yang pada hakikatnya merupakan suatu bentuk ungkapan pengertian disamping aneka bentuk lain yang

20Hari Chand, Modern Jurisprudence, International Law Book Service, Kuala Lumpur, 1994, hal. 225

dikenal didalam epistemologi atau teori ilmu pengetahuan.21 Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Karena konsep adalah sebagai penghubung yang menerangkan sesuatu yang sebelumnya hanya baru ada dalam pikiran. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi, antara abstraksi dan realitas.22

Dengan demikian konsepsi dapat diartikan pula sebagai saran untuk mengetahui gambaran umum pokok penelitian yang akan dibahas sebelum memulai penelitian masalah yang akan diteliti. Konsep diartikan pula sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal khusus yang disebut definisi operasional.23

Suatu konsep atau suatu kerangka konsepsionil pada hakikatnya merupakan suatu pengarah, atau pedoman yagn lebih konkrit dari pada kerangka teoritis yang seringkali masih bersifat abstrak. Namun demikian, suatu kerangka konsepsionil, kadang-kadang dirasakan masih juga abstrak, sehingga diperlukan definisi-definisi operasional yang akan dapat pegangan konkrit didalam proses penelitian.24

Konsepsi merupakan definisi operasional dari intisari objek penelitian yang akan dilaksanakan. Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian dan penafsiran dari suatu istilah yang dipakai. Selain itu dipergunakan juga untuk memberikan pegangan pada proses penelitian ini.

21Soerjono Soekanto, Op. Cit, hal. 6.

22Masri Singarimbun dkk, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: LP3ES, 1999, hal. 34

23Sumadi Surya Brata, Metodologi Penelitian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998, hal. 28

24Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta,1986, hal. 133

Kerangka konsepsional dalam merumuskan atau membentuk pengertian pengertian hukum, kegunaannya tidak hanya terbatas pada penyusunan kerangka konsepsional saja, akan tetapi bahkan pada usaha merumuskan definisi-definisi operasional di luar peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, konsep merupakan unsur pokok dari suatu penelitian.25 Pentingnya defenisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus dibuat beberapa defenisi konsep dasar sebagai acuan agar penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, yaitu :

a. Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagian dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

b. Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.

25Koentjaraningrat, 1997, Metode Penelitian Masyarahat (Gramedia Pustaka Utama,Jakarta), hal. 24.

c. Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah tersebut. Hak atas tanah berbeda dengan hak penggunaan atas tanah.26

d. Tanah sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proforsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal sepanjang 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah darat.27

G. Metode Penelitian

Metode adalah cara yang berfungsi untuk mencapai tujuan. Metode merupakan suatu cara tertentu yang di dalamnya mengandung suatu teknik yang\

berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan tertentu.28

Penelitian (research) sesuai dengan tujuannya dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.29 Usaha mana dilakukan dengan metode-metode ilmiah yang disebut dengan metodologi penelitian.30

Suatu penelitian ilmiah, harus melalui rangkaian kegiatan penelitian yang dimulai dari pengumpulan data sampai pada analisis data dilakukan dengan memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah sebagai berikut :

26https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_atas_tanah, diakses tanggal 12 Agustus 2016, Jam. 1742

27Menurut Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

28Arief Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, (Surabaya : Usaha Nasional, 1997), hal. 11.

29 Muslam Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, UMM Press, Malang, 2009, hal. 91

30Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1973, hal. 5

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Penelitian merupakan suatu pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi, hal ini disebabkan karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis, dan konsisten melalui proses penelitian tersebut diadakan analisa dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.31

Jenis penelitian ini adalah yuridis empiris , yaitu suatu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara melihat kepada aspek penerapan hukum itu sendiri ditengah masyarakat,32ataupun suatu kajian mengenai perilaku masyarakat yang timbul akibat berinteraksi dengan sistem norma yang ada.33

Penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, bersifat deskriptif maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.34

Dari uraian diatas, maka penilitian ini berusaha mengkaji norma-norma hukum yang hidup dalam kehidupan masyarakat, dan selanjutnya dihubungkan dengan ketentuan hukum formal (hukum tertulis) yang ada kaitannya dengan tanah.

31 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 1

32Bambang Sungono, 2002,Metode Penelian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm.89.

33Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad,Op.cit, hlm.51.

34 Sunaryati Hartono, 1994,Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, hlm.101.

2. Sumber Data

Untuk memperoleh data yang akurat dan objektif, maka dalam penelitian ini dilakukan dua cara pengumpulan data, yaitu data primer dan data sekunder. Data tersebut dapat diperoleh melalui:

a. Data Primer

Data primer ini diperoleh dengan cara mengadakan penelitian lapangan yaitu dengan mengadakan wawancara dengan bertanya secara langsung kepada Informan, responden, dan para narasumber yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan tidak dibatasi oleh waktu dan daftar urutan pertanyaan, tetapi tetap berpegang pada pokok penting permasalahan yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Data yang diperoleh melalui pedoman wawancara dari para narasumber sebagai berikut :

1) Agus, SE sebagai Dirut PT. Mutiara Hitam Pertiwi 2) Syariffudin, SE sebagai Manager HRD

3) Bapak Aryo Nodya P. sebagai Resident Manager 4) Bapak Atma sebagai pengawas proyek

5) Camat Labuan.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui studi dokumen terhadap bahan kepustakaan dan data yang dikumpulkan melalui dokumen dan wawancara.

Dalam penelitian ini bahan dasar penelitian hukum normatif dari sudut kekuatan mengikatnya dibedakan atas 3 (tiga) bagian, yaitu:

1. Bahan hukum primer, yang terdiri dari :

a. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan ketentuan Keabsahan Kepemilikan dan Peralihan Hak Atas Tanah

b. Teori hukum Keabsahan Kepemilikan dan Peralihan Tanah.

2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang berkaitan dengan bahan hukum primer, misalnya buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan, tulisan para ahli, makalah, hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya yang relevan dengan peneltian ini.

3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang bersifat menunjang bahan huku primer dan sekunder untuk memberikan informasi tentang bahan hukum sekunder, misalnya majalah, surat kabar, kamus hukum, kamus bahasa Indonesia.

Selain itu, juga dilakukan penelitian lapangan (field research) dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yang tidak diperoleh dalam penelitian kepustakaan dan data primer untuk mendukung analisis permasalahan yang telah dirumuskan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun untuk memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang diteliti dan dikaitkan dengan jenis penelitian hukum yang bersifat deskriptif analis maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research). Langkah-langkah tersebut berfungsi untuk mempermudah peneliti dalam proses pemerolehan data.

4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Desa Carita, Propinsi Banten.

5. Alat Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, maka data dalam penelitian ini diperoleh melalui alat pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan cara sebagai berikut:

a. Wawancara, dilakukan dengan pedoman wawancara kepada informan dan narasumber yang telah ditetapkan, dengan model wawancara langsung (tatap muka), yang terlebih dahulu dibuat pedoman wawancara yang sistematis, tujuannya agar mendapat data yang mendalam dan lebih lengkap dan punya kebenaran yang konkrit baik secara hukum maupun kenyataan yang ada di lapangan.

Para narasumber yang dipilih dalam penelitian yaitu : 1) Agus, SE sebagai Dirut PT. Mutiara Hitam Pertiwi 2) Syariffudin, SE sebagai Manager HRD

3) Bapak Aryo Nodya P sebagai Resident Manager 4) Bapak Atma sebagai pengawas proyek

5) Camat Labuan.

b. Studi Dokumen, digunakan untuk memperoleh data sekunder dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidenfikasi dan mengalisis data sekunder yang

berkaitan dengan materi penelitian.35Sehinggadata sekunder yang berkaitan dengan penelitian dapat diperoleh dengan menghimpun data yang berasal dari kepustakaan yang berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku atau literatur, karya ilmiah seperti makalah, jurnal maupun artikel-artikel yang terdapat pada majalah-majalah maupun koran yang berhubungan dengan tanah timbul.

6. Analisa Data

Analisis data adalah merupakan kegiatan dalam penelitian untuk melakukan kajian atau telaah terhadap hasil pengolahan data yang dibantu dengan teori yang telah ditetapkan sebelumnya.36 Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini, akan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif yaitu pemaparan kembali dengan kalimat yang sistematis untuk memberikan gambaran jelas jawaban atas permasalahan yang ada. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metode deduktif sehingga dapat diperoleh kesimpulan.

35Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, hlm.52.

36 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 183

BAB II

KEDUDUKAN HAK ATAS TANAH SEMPADAN PANTAI PT. MUTIARA HITAM PERTIWI YANG DIPEROLEH DARI JUAL BELI

DARI MASYARAKAT

A. Tentang Tanah

Ruang lingkup bumi menurut UUPA adalah permukaan bumi, dan tubuh bumi dibawahnya serta yang berada di bawah air. Permukaan bumi sebagai bagian dari bumi juga disebut tanah. Tanah yang dimaksudkan disini bukan mengatur tanah dalam segala aspeknya, melainkan hanya mengatur salah satu aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut hak-hak penguasaan atas tanah.37

PT MUTIARA HITAM PERTIWI adalah badan hukum yang didirikan di jakarta pada tahun1988 yang dibuat oleh notaris KOESBIONO SARMANHADI SH yang berkedudukan di jakarta, pada tahun 1991 PT MUTIARA HITAM PERTIWI melakukan pembebasan lahan tanah milik masyarakat didesa carita kecamatan labuan Kabupaten Pandeglang seluas 76.306 m2 yang jual belinya dilakukan dicamat ppat dan alas hak tanah mlik masyarakat tersebut adalah girik atau sk desa.Dalam melakukan pembebasan tanah milik masyarakat tersebut banyak ditemukan kendala kendala dilapangan antara lain ditemukannya sk desa ganda ternyata masing masing ada hubungannya yaitu ahli waris, karena mereka ingin menguasai objek tanah tersebut. Seiring berjalannya waktu kendala kendala dilapangan dalam pembebasan tanah milik masyarakat dapat diselesaikan. Setelah 3 (tiga) tahun melakukan

37Wayan Suhendra, Hukum Pertanahan Indonesia, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994), hal. 20

pembebasan tanah milik masyarakat maka pada tahun 1994 mengajukan permohonan ke badan pertanahan nasional untuk diterbitkanya sertifikat hak guna bangunan.Pada tahun 1995 Badan Pertanahan Nasoinal menerbitkan sertifikat Hak guna bangunan atas nama PT MUTIARA HITAM PERTIWI .Setelah ada ijin lokasi,peruntukan dan SK Bupati. Karena lokasinya didesa carita maka PT MUTIARA HITAM PERTIWI memberikan nama untuk cottagesnya MUTIARA CARITA COTTAGES. Dengan adanya MUTIARA CARITA COTTAGES didaerah tersebut membuka peluang pekerjaan dan peluang usaha bagi masyarakat setempat dan masyarakat Kabupaten Labuan serta menjadikan income pendapatan masyarakat daerah tersebut. MUTIARA CARITA COTTAGES mempekerjakan karyawan kurang lebih sekitar 100 orang.

Seiring berjalannya waktu. tanah PT MUTIARA HITAM PERTIWI yang posisinya berada di sepadan pantai mengalami pengikisan (abrasi) kurang lebih 2 meter dari batas tanah milik PT MUTIARA HITAM PERTIWI karena pengikisan tersebut maka pihak PT MUTIARA HITAM PERTIWI membuat beton pembatas untuk menahan derasnya gelombang air laut agar tanah milik PT MUTIARA HITAM PERTIWI tidak terkikis lagi oleh derasnya gelombang air laut.38

1. Hak Penguasaan Atas Tanah

Pengertian “Penguasaan” dapat dipakai dalam arti fisik, juga dalam arti yuridis; juga beraspek privat dan beraspek publik. Penguasaan dalam arti yuridis adalah penguasaan yang dilandasi hak, yang dilindungi oleh hukum dan pada umumnya memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik

38Hasil Wawancara dengan Aryo Nodya P, Residen Manger, tanggal 13 september 2016

tanah yang dihaki. Ada penguasaan yuridis, yang biarpun memberi kewenangan untuk menguasai tanah yang dihaki secara fisik, pada kenyataannya penguasaan fisiknya dilakukan oleh pihak lain, misalnya yang memiliki tanah tidak mempergunakan tanahnya sendiri akan tetapi disewakan kepada pihak lain.

Hak penguasaan atas tanah berisi serangkaian wewenang, kewajiban, dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki.

Sesuatu yang boleh, wajib, atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriterium atau tolok ukur pembeda diantara hak-hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam Hukum Tanah.39

Pengaturan hak-hak penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah dibagi menjadi 2, yaitu :40

1. Hak Penguasaan atas Tanah sebagai Lembaga Hukum.

Hak penguasaan atas tanah ini belum dihubungkan dengan tanah dan orang atau badan hukum tertentu sebagai pemegang haknya.

Ketentuan-ketentuan dalam Hak Penguasaan atas Tanah, adalah sebagai berikut:

a. Memberi nama pada hak penguasaan yang bersangkutan;

b. Menetapkan isinya, yaitu mengatur apa saja yang boleh, wajib, dan dilarang untuk diperbuat oleh pemegang hak nya serta jangka waktu penguasaannya;

39Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Jakarta, Djambatan, 2008, hal 25

40Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-hak atas Tanah, (Surabaya : Prenada Media Group,

40Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-hak atas Tanah, (Surabaya : Prenada Media Group,

Dalam dokumen TESIS. Oleh. M. DODDY NURHADI /M.Kn (Halaman 33-0)

Dokumen terkait