Untuk mengerti kedudukan janda dalam mewaris menurut hokum adapt Bali haruslah mengetahui terlebih dahulu status perkawinannya . Janda dalam status perkawinan biasa (perkawinan keluar) akan mempunyai kedudukan yang berbeda dengan janda dalam perkawinan keceburin. karena janda dalam perkawinan keceburin ia berkedudukan sebagai sentana rajeg dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama
dengan anak laki-laki. Yang banyak menimbulkan persoalan dan hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya kasus-kasus warisan yang menyngkut janda masuk ke pengadilan adalah janda dalam status kawin keluar.karena adanya pertanyaan apakah janda berhak mewarisi harta peninggalan suaminya, berapa bagian yang dapat diterimanya dan jenis harta yang bagaimana yang boleh ia terima dan apa kewajiban yang harus ia lakukan ?
Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut diatas berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan oleh Tim Peneliti Fak.Hukum Unud tahun 1980/1981 bahwa : Janda bukan sebagai ahli waris dari almarhum suaminya, akan tetapi janda bersama-sama dengan anak-anaknya berhak menikmati seluruh harta warisan suaminya baik harta yang bergerak maupun yang tidak bergerak..Dan dalam hal-hal tertentu janda dapat menjual harta warisan tersebut dengan persetujuan anak-anak dan saudara-saudara suami untuk keperluan melunasi hutang-hutang suami atau untuk upacara pengabenan suami atau untuk biaya-biaya sekolah anak-anaknya., karena pewarisan menurut hukum adat Bali akan selalu berkaitan dengan hak dan kewajiban..
Dari hasil diskusi tentang Hukum dat Bali juga disebutkan bahwa : janda adalah bukan ahli waris, akan tetapi berhak atas bagian harta warisan suami saja, selama ia melaksanakan dharmanya sebagai janda .Seorang janda tidak berhak menikmati harta warisan suaminya apabila : bergendak, kawin. Janda berhak atas bagian guna kaya dalam hal ia memutuskan hubungan dengan keluarga suami. Besarnya bagian janda tergantung pada kebiasaan setempat.( Beni I Wayan dan Sagung Ngurah:, 1985,62).
Hukum adat waris yang diterapkan dalam memecahkan kasus-kasus warisan baik oleh masyarakat hukum adat Bali, Raad Kertha maupun setelah terbentuknya pengadilan baik putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap maupun yang tidak dimohonkan banding ataupun kasasi maupun Mahkamah Agung dalam yurisprudensinya yang mendalilkan bahwa :Janda sebagai ahli waris almarhum suaminya , hanyalah dimaksudkan bukan mewaris secara mutlak , tetapi masih secara terbatas dan bersyarat.l
Untuk mengetahui secara lebih konkrit kedudukan janda dalam mewaris dapat diketahui dalam beberapa putusan pengadilan berikut ini :sebagai contoh :
1. Putusan PN Denpasar No.9 /Pdt/G/1981/PN Dps.tertanggal 21 Maret 1981 menyatakan bahwa : Janda berhak menikmati harta peninggalan leluhur suaminya bersama-sama ahli waris lainnya, selama ia masih menjalankan dharmanya sebagai janda. Putusan tersebut dikuatkan oleh Putusan PT No.182/Pdt/1981/PT Dps tanggal 29 Juli 1981 dan Putusan MA No.3803/K/Sip/1981, tanggal 31 Mei 1982.
2. Putusan Pengadilan Negeri Bangli No.1/Pdt.G/1984/PN Bli tertanggal 21 Mei 1984 yang dikuatkan oleh Putusan PT No.128/Pdt/1984/PT.Dps. tertanggal 30 Oktober 1984 dan selanjutnya dikuatkan lagi oleh Putusan MA No.746/K/Pdt/1985 tertanggal 27 Februari 1986 dapat ditarik dalil hokum bahwa : Janda berhak atas harta guna kaya dengan perbandingan serambat sesuun (2:1), yaitu dua bagian untuk ahli waris dan satu bagian untuk janda .
3. Putusan PN Amlapura No.24/Pdt/1988/PNAP menyatakan bahwa :Janda berhak menjual tanah warisan almarhum suaminya dengan persetujuan ahli waris lainnya.
4. Putusan PN Negara N0.4/Pdt/1993/PN Ngr tertanggal 23 Oktober 1993 menyatakan bahwa :Janda tidak sebagai ahli waris , akan tetapi janda berhak menguasai, memakai dan menghasili harta peninggalan suami dengan syarat janda tetap setia melaksanakan dharmanya sebagai janda dan harus tetap tinggal di rumah mendiang suaminya.
Demikian pula tercermin dalam putusan-putusan pengadilan seperti yang telah tertuang dalam hasil penelitian dari beberapa putusan pengadilan di seluruh Bali, maka dapat diketahui bahwa baik Mahkamah Agung sebagai badan peradilan tingkat tertinggi maupun peradilan tingkat bawah dan tingkat tinggi dalam menyelesaikan sengketa warisan nampaknya masih menunjukkan sikap yang tidak konsisten dalam memutuskan perkara yang menyangkut janda dalam pewarisan karena kadang-kadang dalam menyelesaikan sengketa warisan nampaknya konsekuen dengan ketentuan hukum adat yang menyatakan “janda bukan ahli waris dari almarhum suaminya”, ia hanya berhak menikmati saja harta peninggalan suaminya.(Putusan PT Denpasar No.31/PTD/1969/Pdt tanggal 22 Agustus 1969., atau pada putusannya yang lain Mahkamah Agung memutuskan bahwa menurut hukum adat seorang janda adalah juga menjadi ahli waris dari almarhum suaminya (Putusan MA No.110/K/Sip/1960 tertanggal 20 Ap[ril 1960.Dan dipihak lain Mahkamah Agung maupun badan
peradilan yang ada dibawahnya memutuskan bahwa “ janda dapat menguasai harta peninggalan suaminya, contohnya dalam Putusan MA No.307 K/Sip/1960 tertanggal 26 Oktyober 1960”, Dalam Putusan PN Amlapura No.24/Pdt/1988/PNAP, menyatakan bahwa janda berhak menjual tanah warisan almarhum suaminya dengan persetujuan ahli waris lainnya.
Dari beberapa putusan pengadilan maupun yurisprudensi dan hasil diskusi tentang hokum adapt di Bali seperti yang telah diuraikan diatas maka dapat diketahui bahwa kedudukan janda menurut hukum adat Bali bukanlah sebagai ahli waris dari mendiang suaminya tetapi seorang janda mempunyai hak menikmati atas bagian harta warisan suaminya dengan syarat bahwa janda tersebut tidak kawin lagi, tidak bergendak, tetap tinggal di rumah mendiang suaminya dan tetap setia melaksanakan dharmanya sebagai janda. Hal yang demikian terjadi disebabkan karena pada prinsipnya masyarakat hukum adat Bali meletakkan kewajiban lebih utama pada keturunan laki-laki (purusa) , baik sebagai penerus keturunan maupun kewajiban keagamaan dan kemasyarakatan .Sedangkan janda tidak mempunyai kewajiban seperti mendiang suaminya karena sewaktu-waktu janda dapat meninggalkan rumah mendiang suaminya baik karena janda tersebut kawin lagi atau karena pulang kembali keruma asalnya atau yang biasa disebut dengan “ mulih dehe “.
Walaupun seorang janda tidak berkedudukansebagai ahli waris, tetapi menurut hokum adapt Bali janda akan tetap mempunyai kedudukan yang istimewa sepanjang ia tetap setia melaksanakan dharmanya sebagai janda dan tetap pula melaksanakan tugas dan kewajibannya serta tetap tinggal dalam lingkungan keluarga suami , maka janda tersebut tetap dapat menguasai dan menikmati seluruh harta peninggalan suaminya bahkan untuk keperluan hidup dan keperluan yang lainnya atas seizin ahli waris lainnya maupun keluarga suami seorang janda dapat menjual harta yang ada dan yang dikuasainya. Jadi kedudukan janda dalam mewaris seperti tersebut diatas adalah dalam arti penguasaan yang terbatas. Dan bersyarat dan bukan dalam arti mewaris secara mutlak.