Mulih dehe yang artinya kembali pulang seperti masih gadis. Secara literlijk, mulih berarti pulang, pergi kembali kerumah, dehe, daa berarti gadis
(Kersten,1984,414 dan 222). Sedangkan dalam hasil-hasil Diskusi Hukum adat Waris di Bali yang didokumentasikan oleh I Gde Wayan Pangkat, disebutkan bahwa kedudukan wanita mulih dehe adalah : sama dengan anak wanita yang belum kawin:, ia berhak atas bagian harta warisan selama harta warisan belum dibagi. (Korn: 1971 :46).
Aeorang anak perempuan yang sudah pernah kawin keluar , kemudian cerai dan kembali kerumah asal (orang tuanya) dan diterima secara baik-baik oleh keluarga asalnya dan berkedudukan sebagai gadis lagi, maka di rumah asalnya ia berhak ikut menikmati hasil dari harta peninggalan orang tuanya. Wanita yang mulih dehe mempunyai kedudukan yang sama dengan dehe dan dehe tua.,
Untuk mengetahui lebih konkrit lagi mengenai kedudukan wanita yang mulih dehe, dapat diketahui dari beberapa putusan pengadilan antara lain sebagai berikut ini:
1. Putusan PN Bangli No.1/Pdt/1991/PN BLI tertanggal 21 Agustus 1991 menyatakan bahwa anak perempuan yang mulih dehe barhak sebagai ahli waris almarhum ayahnya.(dalam hal ini tidak ada ahli wris lainnya). Putusan ini kemudian diperkuat oleh Putusan PT No.128/Pdt/1994/PT Dps.tanggal 30 Oktober 1994 dan Putusan MA No.746/K/Pdt/1995 tertanggal 27 Februari 1996.
2. Putusan PN Singaraja No.10/Pdt/1993/PN Sgr tertanggal 17 Mei 1993 menyatakan bahwa jika seorang perempuan kawin keluar kemudian cerai dan mulih dehe dan diterima baik oleh keluarganya , maka ia memperoleh kembali hak warisnya seperti semula sebelum ia kawin.
3. Putusan PN Negara No.26/Pdt/1987/PN Ngr tanggal 4 Februari 1988, memutuskan bahwa : anak perempuan yang telah kawin keluar tidak berhak mewarisi harta peninggalan orang tuanya.
4. Putusan PN Klungkung No.17/Pdt./1991/PN Klk. tanggal 21 Januari 1992 , dan Putusan PT De4npasar No.53/Pdt/1992/PT Dps.tanggal 20 Mei 1992.Dan Putusan MA tertanggal 18 Mei 1995 dapat didalilkan bahwa anak perempuan yantg tidak kawin (dehe tua) dan anak perempuan yang mulih dehe adalah ahli waris dari harta peninggalan orang tuanya.
Disimak dari beberapa putusan pengadilan seperti tersebut diatas dapat dinilai bahwa lembaga peradilan yang memeriksa sengketa warisan yang menyangkut wanita ,baik wanita tersebut sebagai “ dehe, dehe tua maupun mulih dehe” ternyata terlihat ketidak konsekwenan hakim dalam memberikan putusannya. Karena disatu putusannya dinyatakan bahwa anak wanita yang sudah kawin keluar tidak berhak mewarisi harta peninggalan orang tuanya dan pada putusannya yang lain menyatakan berhak atas harta peninggalan orang tuanya. Sehubungan dengan hal ini, perlu kiranya diperhatikan pendapat dari Gde Panetja, yang menyatakan bahwa perlu diperhatikan dan dibuktikan sah tidaknya wanita yang kembali kerumah orang tuanya setelah peerkawinannya putus, apakah benar-benar diterima kembali keruma asalnya. Dan jika anak wanita itu pada waktu kawin dibuang atau dilepaskan atau diputuskan secara nyata hubungannya maka sulit untuk diterima kembali kerumah asalnya sehingga wanita yang demikian sulit untuk dikatakn mulih dehe.(Panetja : 1986 , 181).
Berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum adat khususnya hukum adat waris Bali yang masih hidup. dalam masyarakat sampai saat ini,diakui dan dilaksanakan dan hokum adapt waris yang diterapkan dalam kasus –kasus konkrit yang menyangkut wanita seperti dalam beberapa putusan pengadilan yang telah diuraikan diatas maka dapat dinyatakan bahwa : pada prinsipnya wanita Bali Hindu baik ia sebagai “ anak ( sebagai dehe,dehe tua,atau mulih dehe,kecuali sentana rajeg) maupun sebagai janda , tidak berhak mewaris. Karena sebagai anak di rumah orang tuanya wanita tidak berhak mewaris karena ia akan kawin keluar dan akan masuk ke keluarga suaminya. Di rumah suami, sebagai istri mupun sebagai janda tidak mempunyai hubungan darah karena syarat sebagai ahli waris adalah adanya hubungan darah.Jadi wanita hanya berhak menikmati hasil dari harta warisan orang tua/suami dan itupun sifatnya terbatas dan bersyarat. Karena walaupun dalam beberapa putusan pengadilan didalilkan anak perempuan (dehe, dehe tua dan anak perempuan satu-satunya ) adalah sebagai ahli waris, akan tetapi yang dimaksud disitu bukanlah sebagai ahli waris mutlak seperti hak yang dimiliki anak laki-laki. Demikian pula dalam putusan pengadilan yang menyatakan bahwa anak perempuan yang telah kawin keluar akan kehilangan hak warisnya , dan yang dimaksudkan disini hanyalah kehilangan hak untuk menikmati hasil bukan kehilangan hak mewaris secara mutlak . Jadi kecendrungan ini menunjukkan bahwaq sampai saat ini sebenarnya masih ada
perbedaan makna kata “ meweris “pada laki-laki berarti mutlak dan pada wanita berarti terbatas dan bersyarat.
Jika ditinjau dari hasil penelitian yang dilakukan melalui yurisprudensi terhadap hak waris wanita Bali Hindu dalam mewaris dapat dikatakan bahwa hak waris wanita baik sebagai “dehe,dehe tua, mulih dehe maupun janda “ hampir tidak mengalami perkembangan apabila hal itu dianalisis berdasarkan hukum adat waris Bali yang sampai saat ini masih diakui dan dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat..maupun yang dipakai sebagai dasar pertimbangan oleh hakim dalam memutus sengketa warisan yang menyangkut anak wanita Bali Hindu. Dalam arti mempunyai hak waris yang terbatas dan bersyarat., walaupun kelihatannya hokum waris anak wanita dan janda dalam mewaris kelihatannya sulit berkembang tetapi dengan telah adanya gagasan-gagasan kearah untuk meningkatkan kedudukan wanita terhadap harta peninggalan orang tuanya. , baik yang dating dari masyarakat, pemuka masyarakat maupun para hakim sebagai penegak hokum, semua itu merupakan factor-gaktor penting yang akan memberi kemungkinan teerjadinya perkembangan atau perubahan hukum waris janda dan anak perempuan kea rah hak dan kewajiban yang seimbang.
BAB IV
PENUTUP