TINJAUAN PUSTAKA/KAJIAN TEORI
A. Hakekat Perilaku Agresif 1. Pengertian Perilaku Agresif
Dalam bahasa Indonesia, kata agresif merupakan peleburan dari kata agresi dan akhiran -if. Akhiran –if berasal dari bahasa Belanda, -ief, yang menyatakan memiliki sifat, misalnya dalam kata sportif, komunikatif, otomotif (Pateda dan Palubuhu, 1987: 22). Kata agresi itu sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu “aggredi” yang berarti “menyerang” (Pearce, 1990: 45). Agresi dalam bahasa Inggris, “aggression” memiliki makna penyerangan. Sedangkan dalam bahasa Belanda, “agressief” berarti bersifat penyerang, atau bernafsu menyerang.
Pengertian tersebut memperkuat pendapat Pearce (1990: 45) yang menyebutkan bahwa kata agresif menyiratkan arti bahwa orang siap untuk memaksakan kehendaknya sendiri atas orang lain atau benda walaupun ini menimbulkan kerusakan fisik atau psikologis sebagai akibatnya. Twiford (1988: 82) juga mengatakan hal yang hampir serupa tentang perilaku agresif, yaitu bahwa perilaku agresif merupakan sebuah cap atau kategori yang menunjukkan sekumpulan perilaku yang biasanya menimbulkan rasa sakit, keresahan, luka atau kerusakan harta benda.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu dan Zain dalam Nugraheni, 2004: 26), perilaku agresif merupakan perilaku yang suka
menyerang karena didorong oleh rasa kecewa, marah terhadap pihak lain yang dianggap menghambat atau menghalangi keinginannya. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Pearce (1990: 45) yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara perilaku agresif dan kemarahan; kemarahan ini akan timbul apabila orang tidak dapat memperoleh apa yang mereka kehendaki ketika mereka menginginkannya. Jika ungkapan kemarahan tersebut terhalang maka akan muncul ungkapan-ungkapan yang lebih agresif (Twiford, 1988: 83).
Singer (1987: 148) mengartikan agresi sebagai sikap yang bermusuhan yang ada dalam diri manusia. Dan menurutnya, agresi dapat dilihat dalam bentuk menyerang dan menghancurkan atau merusak, tetapi juga dalam bentuk sikap bermusuhan terhadap sesama manusia. Sementara itu, Sears beserta Dittman dan Godrich (www.depdiknas.co.id: Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Agresivitas Remaja oleh Tarsis Tarmudji) menyebutkan bahwa tingkah laku agresi pada dasarnya merupakan tingkah laku yang bermaksud untuk melukai, menyakiti atau merugikan orang lain. Menurut sumber yang sama, Herbert berpendapat bahwa tingkah laku agresi merupakan suatu tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial, yang menyebabkan luka fisik, psikis pada orang lain, atau yang bersifat merusak benda. Baron (dalam sumber yang sama) memperkuat pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa agresif merupakan tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain.
Tim Pustaka Familia (2006: 8) juga mempunyai pendapat tentang perilaku agresif dengan menyatakan perilaku agresif sebagai suatu perilaku yang bertujuan untuk melukai orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal, secara fisik maupun psikis, langsung atau pun tak langsung. Dalam definisi tersebut, dapat dilihat juga bentuk-bentuk yang ada dalam pengungkapan perilaku agresif.
Dari beberapa pengertian perilaku agresif di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku agresif memiliki beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut antara lain perilaku menyerang, perasaan marah/kecewa dan mempertahankan diri.
2. Bentuk-bentuk Perilaku Agresif
Buss (Nugraheni, 2004: 30) menggolongkan perilaku agresif ke dalam dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan verbal:
1. Dimensi Fisik
a. Agresi fisik-aktif-langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan jasmani di mana individu secara aktif dan secara langsung melakukannya terhadap orang lain, seperti memukul atau menyerang orang lain.
b. Agresi fisik-aktif-tidak langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan jasmani di mana individu secara aktif dan secara tidak langsung melakukannya terhadap
orang lain, seperti membuat jebakkan untuk mencelakakan orang lain.
c. Agresi fisik-pasif-langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan jasmani di mana individu secara pasif dan secara langsung melakukannya terhadap orang lain, seperti menghalangi orang yang mau lewat.
d. Agresi fisik-pasif-tidak langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan jasmani di mana individu secara pasif dan secara tidak langsung melakukannya terhadap orang lain, seperti menolak mengerjakan sesuatu yang diminta orang lain.
2. Dimensi Verbal
1) Agresi verbal-aktif-langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan kata-kata di mana individu secara aktif dan secara langsung melakukannya terhadap orang lain, seperti memaki orang lain.
2) Agresi verbal-aktif-tidak langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan kata-kata di mana individu secara aktif dan secara tidak langsung melakukannya terhadap orang lain, seperti menyebarkan gossip.
3) Agresi verbal-pasif-langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan kata-kata di mana individu secara pasif dan secara langsung melakukannya terhadap orang lain,
seperti menolak berbicara atau tidak mau menjawab pertanyaan orang lain.
4) Agresi verbal-pasif-tidak langsung, adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti dengan menggunakan kata-kata di mana individu secara pasif dan secara tidak langsung melakukannya terhadap orang lain, seperti menggerutu.
3. Akibat Perilaku Agresif a. Bagi pelaku
Jika seseorang menjadi pelaku tindakan agresif, maka akibat yang didapatkan adalah dijauhi/diabaikan oleh orang lain dan dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya. Bahkan, jika perilaku agresif yang dilakukan oleh pelaku tersebut sudah mengarah pada tindakan kriminal, maka dapat dipastikan bahwa pelaku tindakan agresif ini mendapatkan hukuman dengan cara ditahan/masuk penjara. Apabila korban dari pelaku tindakan agresif membalas, pelaku juga dapat terluka, baik secara fisik maupun secara psikis (Majalah Femina edisi 5 Maret 2004 dalam Nugraheni, 2004: 44)
b. Bagi korban
Menurut Tim Pustaka Familia (2006: 67), dampak perilaku agresif bagi korban adalah:
1) Perasaan tidak berdaya.
3) Perasaan bahwa diri sendiri memiliki kerusakan permanen. 4) Ketidakmampuan mempercayai orang lain dan
ketidakmampuan menjalin relasi dekat dengan orang lain. 5) Keterpakuan pada pikiran tentang tindakan agresif atau
kriminal.
6) Hilangnya keyakinan bahwa dunia bisa berada dalam tatanan yang adil.
4. Faktor-faktor Pembentuk Perilaku Agresif
Terdapat beberapa faktor yang berpotensi memicu terbentuknya perilaku agresif. Menurut beberapa sumber yang ditemukan, peneliti menggolongkan enam (6) faktor penyebab perilaku agresif, yaitu: a. Faktor psikologis
1) Amarah
Saat seseorang marah, seseorang sangat mudah untuk melakukan perilaku agresif, seperti menyerang, meninju atau menendang. Perilaku ini mereka maksudkan untuk menyalurkan amarahnya ([email protected], 18 Januari 2004).
2) Stres dan frustrasi
Menurut Zainun Mu’tadin ([email protected], 18 Januari 2004), frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan atau
pengharapan. Perilaku agresi merupakan cara untuk merespon frustrasi; Ketika seseorang mengalami frustrasi, perlaku agresif dapat muncul sebagai pengungkapan rasa frustrasi (Tim Pustaka Familia, 2006: 64). Frustrasi kerap kali disertai dengan stres yang sangat mudah melahirkan perilaku agresif dari si pelaku. Terlebih lagi, dengan populasi manusia yang semakin banyak, masalah yang dijumpai juga semakin kompleks (www.hamline.edu). Hal ini mempermudah seseorang mengalami stres dan frustrasi yang berujung pada perilaku agresif.
3) Perilaku naluriah
Freud menilai bahwa pada diri manusia terdapat dua (2) naluri, yaitu naluri kematian (thanatos) dan naluri kehidupan (eros). Naluri kematian adalah energi yang bertujuan untuk merusak atau mengakhiri hidup. Menurutnya, perilaku agresif merupakan akar dari naluri kematian yang lebih cenderung diarahkan ke luar diri atau orang lain (Tim Pustaka Familia, 2006: 64).
b. Faktor biologis 1) Genetik
Seorang laki-laki yang memiliki kromosom XYY memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan perilaku
agresif, daripada yang hanya memiliki kromosom XY (Tim Pustaka Familia, 2006: 64).
2) Hormon
Kandungan hormon testosteron yang terdapat dalam makhluk hidup berkaitan erat dengan rasa marah yang berakibat timbulnya perilaku agresif. Dengan kata lain, tingkatan hormon testosteron yang dimiliki tubuh seseorang sangat memperngaruhi munculnya perilaku agresif. Dengan demikian, laki-laki yang mempunyai kandungan hormon testosteron lebih banyak daripada perempuan memiliki kecenderungan berperilaku agresif daripada perempuan ([email protected], 18 Januari 2004).
3) Cedera fisik
Cedera fisik yang dialami oleh seseorang kemungkinan besar dapat mempengaruhi seseorang melakukan perilaku agresif (Tim Pustaka Familia, 2006: 64).
c. Faktor keluarga 1) Komunikasi
Komunikasi antara orang tua dan anaknya sangat memperngaruhi terbentuknya perilaku agresif. Kesenjangan di antara mereka, yang dapat terlihat dalam minimalnya komunikasi dan ketidakcocokkan (gagal berkomunikasi),
diyakini sebagai salah satu faktor timbulnya perilaku agresif ([email protected], 18 Januari 2004).
2) Pola asuh keluarga
Zainun Mu’tadin ([email protected], 18 Januari 2004) menyatakan bahwa pendidikan disiplin yang keliru (pola asuh orang tua yang otoriter dan penerapan yang keras beserta hukuman fisik) sering mengakibatkan pemberontakan pada diri si anak. Dan akhirnya, pemberontakan ini sangat sering diwujudkan dalam perilaku agresif. Budiman (www.hamline.edu) juga mengemukakan bahwa keluarga yang menganut pola asuh otoriter dan suka main tampar dalam penyelesaian masalah akan dipahami anak sebagai cara yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Dalam kehidupan selanjutnya, cara tersebut bisa dipakai anak ketika beranjak dewasa. Bandura (www.depdiknas.co.id) mengemukakan hal yang serupa dengan mengatakan bahwa cara berinteraksi dan pola asuh yang diterapkan di dalam keluarga dapat menjadi salah satu sebab munculnya perilaku agresif dalam masyarakat modern.
d. Faktor sosial
Provokasi langsung yang berupa olok-olok dan tindakan melukai dapat menimbulkan perilaku agresif sebagai balasan (Tim Pustaka Familia, 2006: 64).
2) Pers dan media massa
Pemberitaan yang dilakukan oleh pers dan media massa mengenai bagaimana perilaku agresif diungkapkan dapat menjadi penyulut timbulnya perilaku agresif (www.hamline.edu); pers dan media massa yang sering mempertontonkan perilaku agresif memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menirunya. Bahkan, Tim Pustaka Familia (2006: 64) menyatakan bahwa pengaruh tontonan perilaku agresif di televisi memiliki sifat kumulatif, artinya semakin panjang durasi tontonan perilaku agresif dalam kehidupan sehari-hari, semakin meningkat pula perilaku agresif yang dilakukan. Dengan demikian, pers dan media massa sangat berkaitan dengan belajar model kekerasan (modeling).
3) Modelling
Menurut Zainun Mu’tadin, yang adalah seorang konsultan psikologi di Yayasan Bina Potensi Mandiri ([email protected], 18 Januari 2004), bila seseorang menyaksikan tindak kekerasan/perilaku agresif, baik melalui media tertentu maupun secara langsung, maka semakin besar kecenderungan seseorang tersebut untuk menirunya. Bandura
(www.depdiknas.co.id) menguatkankan pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa mass media sangat mempengaruhi timbulnya perilaku agresif karena seseorang yang menyaksikan perilaku agresif dalam mass media dapat dengan mudah meniru perilaku agresif tersebut.
4) Pengaruh subkultural
Yang dimaksud subkultural adalah komunikasi atau kontak langsung yang terjadi berulang kali antarsesama anggota masyarakat di lingkungan seseorang tinggal (www.depdiknas.co.id). Komunikasi atau kontak langsung yang terjadi berulang kali tersebut akhirnya menjadi suatu kebiasaan dan pengalaman-pengalaman yang menetap. Lewat pengalaman-pengalaman tersebut, perilaku agresif dipelajari (Bandura dalam Tim Pustaka Familia, 2006: 64). Dengan kata lain, perilaku agresif dipelajari melalui pengalaman-pengalaman tertentu yang dijumpai di masa lampau.
e. Faktor lingkungan fisik
Padatnya lingkungan, anonimitas dan suhu udara yang semakin panas sangat mempengaruhi tingkat agresivitas pada penduduknya. Hal ini mendukung pernyataan dari Budiman (www.hamline.edu) yang menyebutkan bahwa suatu eksperimen tertentu telah menunjukkan semakin banyak terdapat makhluk hidup dalam suatu ruangan yang sempit, semakin tinggi agresivitas mereka. Hal yang
serupa pun dinyatakan oleh Tim Pustaka Familia (2006: 64); perilaku agresif dapat terjadi sebagai pengaruh dari polusi udara, kebisingan dan kesesakan karena kondisi manusia yang terlalu berjejal.
f. Faktor situasional
Situasi yang membuat manusia merasa sakit atau nyeri mampu mempengaruhi manusia tersebut melakukan perilaku agresif (Tim Pustaka Familia, 2006: 64).
5. Cara Mengurangi Perilaku Agresif
Menurut Collins dan Fontenelle (1992: 205), untuk menghadapi perilaku agresif perlu mempertimbangan beberapa teknik utama, yaitu: cara membantu anak mengungkapkan dan mengatasi kemarahannya; cara mengurangi penimbunan rasa marah; dan cara menghadapi perilaku agresif pada saat perilaku tersebut timbul. Berikut ini cara-cara atau langkah-langkah pedagogis yang ditawarkan oleh Singer (1987: 154) untuk mengurangi dan/atau menghadapi perilaku agresif: a. Menjalin hubungan baik
Saling mengenal secara pribadi akan mengurangi kemungkinan timbulnya tendensi yang agresif. Semakin dekat kita mengenal diri seseorang, semakin berat pula rasanya untuk bersikap agresif kepadanya.
Menekan perilaku agresif akan berakibat buruk bila dibandingkan jika kita menelaahnya. Perilaku agresif perlu ditelaah atau diolah, seperti mencari keterangan yang ada mengapa perilaku agresif tersebut sampai terjadi. Jika perilaku agresif ditekan, sewaktu-waktu dapat meledak dan dapat menimbulkan akibat yang lebih buruk.
c. Menerima individu yang agresif dan mencoba mengintegrasikannya dalam kelompok belajar/bermain
Menerima kehadiran seseorang yang agresif berarti juga menerimanya dengan mempertimbangkan segi-segi positif yang ada pada dirinya. Yang dimaksud dengan segi positif adalah kemampuan, keahlian atau ketrampilan khusus yang dimiliki oleh yang bersangkutan.
d. Memberikan peluang bagi kegiatan-kegiatan agresif dan motoris Keagresifan sering timbul karena tidak tersalurkannya
impuls agresif secara sehat. Untuk itu, diperlukan suatu kegiatan yang aktif, agresif dan motoris sebagai penyalurannya, seperti olah raga tinju.
e. Pengalaman untuk mengetahui letak batas
Biasanya, anak-anak yang agresif tidak pernah mengalami di mana letak batas-batas mereka perlukan sebagai patokan orientasi. Maksudnya, mereka seringkali menjadi bingung menentukan luas ruang gerak mereka tanpa merugikan kepentingan
orang lain. Semakin tidak jelas letak batas-batas yang digariskan orang dewasa, semakin sering pula anak tersebut melakukan pelangggaran-pelanggaran.
f. Menanggapi perilaku agresif dengan sungguh-sungguh
Pendidik sebaiknya menanggapi perilaku agresif dengan sungguh-sungguh dan menghindari perbuatan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, atau meremehkan perilaku tersebut. Jika demikian, perilaku agresif tersebut dapat semakin menjadi-jadi. Sebaiknya pendidik selalu menunjukkan siap siaga menghadapi tantangan, tanpa membalas balik tantangan tersebut dengan perilaku agresif juga.
g. Agresi pendidik yang terkendali
Peserta didik cenderung untuk meniru. Sikap pendidik yang agresif lama-kelamaan tanpa sadar akan diserap oleh peserta didik. Oleh karena itulah, agresi yang dilancarkan oleh pendidik sebaiknya terkendali dan dilaksanakan pada saat yang tepat.
h. Memberikan peluang bagi peserta didik untuk mengkritik pendidik Hal ini ditujukan supaya peserta didik dapat
mengungkapkan keberatannya, saran-sarannya, atau ketidaksetujuannya lewat cara yang lebih asertif dan memperlihatkan bahwa kritikan dan pertentangan pendapat memiliki arti yang konstruktif bila dibahas bersama-sama.
Keagresifan timbul karena peserta didik tidak mendapat peluang untuk dapat melakukan sesuatu secara mandiri. Kebosanan karena terlalu lama didikte, dapat membuat peserta didik mengambil suatu lompatan tindakan yang lebih menantang atau agresif. Maka kadang-kadang pendidik juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan dengan daya kreatifitas mereka sendiri.
Menurut Nugraheni (2004: 45), hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi perilaku agresif adalah sebagai berikut:
a. Mengurangi frustrasi
Sears dan Koeswara (Nugraheni, 2004: 45) berpendapat bahwa mengurangi frustrasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah perilaku agresif. Mengurangi frustrasi berarti meminimalisasi kemungkinan frustrasi dengan jalan membatasi atau mengurangi sebab-sebab kemunculan hal-hal yang menyebabkan rasa frustrasi muncul.
b. Hambatan yang dipelajari
Menghambat perilaku agresif untuk tidak muncul perlu dipelajari. Oleh karena itu, individu yang bersangkutan perlu memahami kapan perilaku agresif diperbolehkan dan kapan perilaku agresif tersebut perlu ditekan. Dalam hal ini (untuk
menghambat munculnya perilaku agresif), yang harus diketahui adalah kapan perilaku agresif tersebut perlu ditekan.
c. Katarsis
Perilaku agresif yang timbul akibat rasa marah, kecewa, sedih, dan lain sebagainya perlu diekspresikan secara langsung. Dengan kata lain, diperlukan suatu ungkapan kemarahan yang dilakukan tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain. Tim Pustaka Familia (2006: 101) menyebutkan bahwa anak tetap harus mendapat saluran untuk mengekspresikan emosinya atau kondisi yang tidak menyenangkan bagi dirinya. Hal ini menegaskan bahwa katarsis sangat diperlukan. Hanya saja, kegiatan katarsis sebaiknya diarahkan kepada kegiatan yang dapat diterima oleh masyarakat.
B. Siswa Kelas VIII SMP Stella Duce 2 sebagai Remaja