• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

A. Hasil Penelitian

Deskripsi tingkat perilaku agresif pada siswa kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2006/2007 dihitung dengan menggunakan PAP tipe II. Setelah peneliti melakukan penghitungan dengan menggunakan metode tersebut, hasilnya dapat dilihat pada tabel 9 berikut:

Tabel 9.

Hasil Penelitian Perilaku Agresif pada Siswa kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2006/2007 Rumus PAP

tipe II Rentang skor Frekuensi Persentase (%) Kualifikasi 81% - 100% 207,36 – 256 0 0 Sangat Tinggi

66% - 80% 168,96 - 207,35 3 2,88 Tinggi 56% - 65% 143,36 - 168,95 32 30,77 Cukup 46% - 55% 117,76 - 143,35 43 41,35 Rendah

Tabel 9 menunjukkan bahwa tidak terdapat kualifikasi ”sangat tinggi” untuk perilaku agresif yang dilakukan siswa kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2006/2007. 3 siswa (2,88%) melakukan perilaku agresif yang berkualifikasi ”tinggi”, 32 siswa (30,77%) berperilaku agresif dalam kualifikasi ”cukup”, 43 siswa (41,35%) berperilaku agresif dalam kualifikasi ”rendah”, dan 26 siswa (25%) berperilaku agresif ”sangat rendah”. Untuk lebih jelasnya, kualifikasi perilaku agresif setiap siswa (responden) kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2006/2007 dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 135.Hasil penelitian tersebut telah menjawab rumusan masalah yang pertama.

Selain itu, peneliti juga melakukan perhitungan terhadap setiap bentuk perilaku agresif sehingga diketahui bentuk perilaku agresif yang paling banyak dilakukan oleh responden. Hasil perhitungan inilah yang menjadi dasar dalam menentukan usulan topik-topik bimbingan klasikal dalam usaha mengurangi perilaku agresif yang termasuk dalam kualifikasi ”sangat tinggi” – ”cukup” sehingga menjadi ”rendah” atau ”sangat rendah”. Tabulasi skor setiap bentuk perilaku agresif dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 139 dan perhitungan persentase bentuk-bentuk perilaku agresif dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 156. Kualifikasi bentuk-bentuk perilaku agresif yang dilakukan oleh siswa (responden) kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2006/2007 dapat dilihat di bawah ini.

Tabel 10. Persentase dan kualifikasi bentuk-bentuk perilaku agresif No. Dimensi Bentuk Perilaku Skor Persentase Kategori Kualifi

Agresif PAP II 1 Dimensi

verbal Agresi pasif-langsung verbal- 1889 57% 56%-65% Cukup 2 Dimensi

verbal Agresi verbal-aktif-langsung 1846 55% 46%-55% Rendah 3 Dimensi

verbal Agresi verbal-pasif-tidak langsung

1844 55% 46%-55% Rendah

4 Dimensi

fisik Agresi fisik-aktif-langsung 1763 53% 46%-55% Rendah 5 Dimensi

fisik Agresi fisik-aktif-tidak langsung 1691 51% 46%-55% Rendah 6 Dimensi

fisik Agresi fisik-pasif-tidak langsung 1658 50% 46%-55% Rendah 7 Dimensi

verbal Agresi verbal-aktif-tidak langsung

1622 49% 46%-55% Rendah

8 Dimensi

fisik Agresi fisik-pasif-langsung 1476 44% < 46% Sangat rendah Tabel di atas menunjukkan bahwa bentuk-bentuk dari perilaku agresif tidak ada yang termasuk dalam kualifikasi ”sangat tinggi” dan ”tinggi”, sedangkan terdapat 7 bentuk perilaku agresif yang termasuk pada kualifikasi ”rendah” dan ”sangat rendah” (berkisar antara 44-55%). Kualifikasi ”rendah” dan ”sangat rendah” untuk perilaku agresif dianggap baik/tidak masalah. Yang masih harus dikurangi adalah bentuk perilaku agresif yang termasuk kualifikasi ”cukup” (57%), yaitu perilaku agresi verbal-pasif-langsung. Bentuk perilaku agresif inilah yang akan menjadi acuan untuk peneliti menyusun usulan topik-topik bimbingan klasikal. Persentase dan kualifikasi bentuk-bentuk perilaku agresif tersebut juga dapat dilihat pada lampiran 10 halaman 159.

Karena penelitian ini bersifat deskriptif, maka penelitian ini hanya akan menguraikan keadaan yang terjadi di lapangan. Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas tadi, peneliti menemukan bahwa tingkat perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tidak menunjukkan kualifikasi ”tinggi” dan ”sangat tinggi” dan diimbangi oleh persentase skor yang termasuk pada kualifikasi ”rendah” dan ”sangat rendah”. Tentu saja hal merupakan hal yang baik. Ada kemungkinan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu faktor disiplin sekolah (www.dikdasmen.org), didikan keluarga (Tarmudji, www.depdiknas.co.id), dan kesadaran dari siswa itu sendiri (Ubaydillah, www.e-psikologi.com).

Faktor yang pertama, yaitu disiplin sekolah, merupakan aspek yang harus ada untuk mengembangkan suasana yang kondusif di dalam lingkungan sekolah (www.dikdasmen.org). Untuk menjadikan suasana sekolah kondusif, disiplin sekolah, baik yang termuat di dalam tata tertib sekolah maupun yang tidak (tata tertib tak tertulis), menjadi dasar bagi siswa untuk mengetahui batasan mana perilaku yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Mengetahui batasan mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan adalah sangat penting karena dapat mempengaruhi bagaimana siswa berperilaku. Batasan yang jelas membuat mereka merasa aman (Elias, 2004: 67). Jika batasan-batasan tersebut dilanggar maka siswa akan berhadapan dengan sanksi/ hukuman yang sesuai, yaitu hukuman yang mampu menyadarkan siswa yang bersangkutan sehingga ia tidak mengulangi

lain, sekolah yang bersangkutan memberikan peraturan dengan batasan-batasan yang jelas dan memberikan sanksi/ hukuman yang tepat sasaran sehingga siswanya menghindari berbagai bentuk perilaku agresif yang dapat membuat dirinya menerima hukuman.

Disiplin sekolah juga melibatkan tenaga pendidik yang ada di dalam sekolah tersebut. Tenaga pendidik yang secara langsung berhadapan dengan siswa otomatis menjadi penghubung untuk menyampaikan sikap disiplin itu sendiri. Disiplin dapat muncul dari hubungan antara tenaga pendidik dan siswanya, karena di dalam hubungan tersebut terjadi komunikasi mengenai batasan-batasan (Elias, 2004: 67).

Faktor yang kedua adalah didikan keluarga. Keluarga sebagai organisasi terkecil tempat sang anak berinteraksi pertama kali memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan pribadi dan perilaku anak (Mulyono, 1984: 26). Tarmudji (www.depdiknas.co.id) mengatakan bahwa salah satu faktor dalam keluarga yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian adalah praktik pengasuhan orang tua kepada anaknya. Banyak cara yang dapat dipilih oleh orang tua untuk menanamkan nilai-nilai/ disiplin kepada anaknya. Kunci utama dari penanaman nilai/ disiplin adalah cara berkomunikasi yang dipergunakan orang tua; komunikasi dalam bentuk sindiran, hinaan, atau merendahkan harga diri sang anak akan sangat merugikan karena komunikasi tersebut dapat ditiru dalam berhubungan dengan orang lain (Mu’tadin, www.e-psikologi.com). Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang memberikan kesempatan bagi anak untuk memahami pandangan orang tuanya sehingga si

anak mengetahui latar belakang yang dipakai oleh orang tuanya dalam mendidik mereka, sebaliknya, orang tua juga tidak memaksakan pendapatnya, pendapat yang datang dari si anak dipertimbangkan dahulu sehingga si anak pun merasa dihargai (Setiono, www.e-psikologi.com). Dengan demikian, orang tua siswa (anak) yang bersangkutan tidak hanya menjadikan anak sebagai objek, tetapi menghargai anak sebagai subjek yang mempunyai pendapat tersendiri dan pantas untuk dihargai. Jika anak merasa dihargai, ia pun akan menghargai pendapat orang tuanya; komunikasi yang terjalin diantara mereka dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan relasi yang harmonis.

Faktor yang terakhir adalah kesadaran dari siswa itu sendiri. Jika pihak sekolah sudah menawarkan disiplin yang begitu baik dan didikan keluarga pun mendukung, tetapi tanpa kesadaran dari siswa/ anak yang bersangkutan, semuanya akan sia-sia. Kesadaran diri merupakan kunci agar kita dapat memahami orang lain dan dunia ini, seperti apa yang sedang terjadi dengan lingkungan, masyarakat dan kita sendiri (Ubaydillah, www.e-psikologi.com). Hal tersebut menekankan bahwa memiliki kesadaran diri adalah merupakan hal yang penting. Kesadaran diri membawa pengaruh dalam berperilaku dan menjadi kontrol dalam mengendalikan diri sendiri. Siswa yang menyadari dan memahami bahwa kemarahan dapat membawa dirinya melakukan suatu bentuk perilaku agresif yang dapat membuatnya menerima sanksi, tentunya akan mencegah dirinya sendiri melakukan hal tersebut sehingga ia aman dari sanksi. Kesadaran diri siswa di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta untuk

mematuhi peraturan yang berlaku di sekolah cukup besar sehingga perilaku yang dilarang dilakukan oleh peraturan sekolah dapat dihindari kemunculannya. Tentu saja hal ini tidak lepas dari disiplin yang telah diajarkan atau ditanamkan oleh tenaga pendidik dan/ atau orang tua mereka masing-masing.

Selain kualifikasi ”rendah” dan ”sangat rendah”, peneliti telah menemukan suatu bentuk perilaku agresif yang termasuk pada kualifikasi ”cukup” (57%), yaitu bentuk perilaku agresif verbal-pasif-langsung. Bentuk perilaku ini diwujudkan ke dalam sikap menolak untuk berbicara atau mengabaikan perkataan orang lain. Mengapa bentuk perilaku ini masuk ke dalam kualifikasi ”cukup”, di mana kualifikasi ini merupakan yang paling tinggi karena kualifikasi yang lain ada di bawah kualifikasi ”cukup”?

Peneliti menduga bahwa sikap menolak untuk berbicara atau mengabaikan perkataan orang lain merupakan hal yang sering dilakukan para siswa di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta ketika mereka memiliki perasaan negatif (marah misalnya) terhadap teman/ musuhnya. Hanya tindakan inilah yang paling aman dilakukan untuk mengekspresikan suatu bentuk perasaan negatif tanpa tersentuh sanksi. Jika mereka melakukan bentuk perilaku agresif yang lain, seperti memukul misalnya (bentuk perilaku agresif fisik-aktif-langsung), mereka akan langsung menghadapi sanksi dari peraturan/ disiplin yang ada di sekolah itu (misalnya: dilarang berkelahi di lingkungan sekolah).

Sebagai remaja awal yang masih labil (terutama kondisi emosinya), siswa kelas VIII tentu saja tidak dapat berdiam diri atau seolah-olah tidak terjadi

apa-apa ketika ia diserang suatu bentuk perasaan tertentu. Jika perasaan itu positif, seperti senang atau gembira, tidak akan menjadi masalah jika seketika itu juga diekspresikan di lingkungan sekolah. Tetapi, jika perasaan itu merupakan perasaan yang negatif, seperti marah, dan mereka memperlihatkannya dengan membalas teman yang telah membuat mereka marah dengan memukul atau menyerang, mereka akan terkena sanksi sesuai peraturan sekolah yang berlaku. Mereka akan lebih aman jika memperlihatkan rasa marah itu dengan mengabaikan atau berdiam diri jika teman yang telah membuat mereka marah mengajak berkomunikasi secara langsung. Dengan demikian, pihak sekolah tidak akan mengetahui dan peraturan sekolah tidak dapat membuat mereka terkena sanksi karena sangat jarang terdapat peraturan sekolah yang mencantumkan larangan untuk mengabaikan atau mendiamkan teman yang membuat mereka marah.

BAB V

USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL UNTUK MENEKAN