MANAJEMEN PERKARA I PENDAHULUAN
3 HAKI 72 8.44% 4 Parpol 27 3.17%
5 KPPU 22 2.58% 6 BPSK 16 1.88% 7 Arbitrase 8 0.94% 8 PKPU 1 0.12% Jumlah 853
Hingga akhir Desember 2011, perkara kasasi perdata khusus yang berhasil diputus berjumlah 970 perkara. Dengan demikian sisa perkara kasasi perdata pada akhir tahun 2011 berjumlah 292 atau 4,99 % dari keseluruhan sisa perkara kasasi.
c) Perkara Pidana
Perkara kasasi pidana yang diterima oleh Mahkamah Agung RI tahun 2011 berjumlah 2.310 perkara. Jumlah ini naik 3,73 % dari tahun 2010 yang berjumlah 2.227 perkara. Dari keseluruhan perkara tersebut tidak ada tindak pidana yang mendominasi, namun demikian klasiikasi tindak pidana kekerasan menempati urutan teratas, 374 perkara (16,19%). Klasiikasi perkara pidana selengkapnya seperti tabel berikut ini:
Tabel 9.
Klasiikasi perkara kasasi pidana umum yang diterima Mahkamah Agung RI tahun 2011
No Klasiikasi Jumlah (%)
1 Kekerasan 374 16.19%
2 Penipuan 359 15.54%
3 Penggelapan 281 12.16%
4 Pencurian 192 8.31%
5 Nyawa dan Tubuh Orang 139 6.02%
6 Kealpaan 114 4.94%
7 Pengrusakan 113 4.89%
8 Pemalsuan 98 4.24%
10 Perbuatan Tidak Menyenangkan 87 3.77% 11 Pra Peradilan 6 0.26% 12 Perampasan 55 2.38% 13 Perzinahan 49 2.12% 14 Penyerobotan 42 1.82% 15 Keterangan Palsu 41 1.77% 16 Perjudian 37 1.60% 17 Penghinaan 35 1.52% 18 Ketertiban Umum 27 1.17% 19 Penadahan 25 1.08% 20 Pemerkosaan 24 1.04%
21 Pencemaran Nama Baik 24 1.04%
22 Fitnah 15 0.65%
23 Lain-lain 78 3.38%
Total 2,310 100.00%
Hingga akhir Desember 2011, perkara kasasi pidana yang berhasil diputus berjumlah 2.336 perkara. Dengan demikian sisa perkara kasasi pidana pada akhir tahun 2011 berjumlah 1.374 atau 23,50 % dari keseluruhan sisa perkara kasasi.
d) Perkara Pidana Khusus
Perkara kasasi pidana khusus yang diterima Mahkamah Agung RI tahun 2011 berjumlah 2.658 perkara. Jumlah ini turun 6,90 % dari tahun 2010 yang berjumlah 2.855 perkara. Dari keseluruhan perkara yang diterima sepanjang tahun 2011 tersebut, 963 perkara (36,23 %) adalah perkara tindak pidana korupsi. Urutan terbesar berikutnya secara berturut-turut adalah sebagai berikut: narkotika/ psikotropika 701 perkara (26,37 %) perkara perlindungan anak 451 perkara (16,97%), kehutanan, 111 perkara (4,18%) dan KDRT, 87 perkara (3,27%). Klasiikasi perkara pidana khusus selengkapnya adalah sebagaimana tabel berikut ini:
Tabel 10.
Klasiikasi perkara kasasi pidana khusus yang diterima Mahkamah Agung RI tahun 2011
NO KLASIFIKASI JML (%)
1 Korupsi 963 36.23%
2 Narkotika & Psikotropika 701 26.37% 3 Perlindungan Anak 451 16.97% 4 Kehutanan 111 4.18% 5 KDRT 87 3.27% 6 Migas 52 1.96% 7 Perikanan 51 1.92% 8 Kepabeanan 33 1.24% 9 HAKI 24 0.90% 10 Perbankan 23 0.87% 11 Perdagangan Orang 20 0.75% 12 Pencucian Uang 19 0.71% 13 Ketenagakerjaan 16 0.60% 14 Kesehatan 15 0.56% 15 Perumahan 9 0.34% 16 Lingkungan Hidup 9 0.34% 17 Terorisme 8 0.30% 18 Lain-lain 66 2.48% TOTAL 2,658 100.00%
Hingga akhir Desember 2011, perkara kasasi pidana khusus yang berhasil diputus berjumlah 3.007 perkara. Dengan demikian sisa perkara kasasi pidana khusus pada akhir tahun 2011 berjumlah 1.340 atau 21,79 % dari keseluruhan sisa perkara kasasi.
e) Perkara Perdata Agama
Jumlah perkara kasasi perdata agama yang diterima Mahkamah Agung RI sepanjang tahun 2011 berjumlah 670 perkara. Jumlah ini turun 2,62 % dari tahun 2010 yang berjumlah 688 perkara. Jumlah terbesar adalah perkara sengketa perkawinan meliputi cerai talak, cerai gugat, harta bersama, dll yang mencapai 504 perkara (75,22 %). Jumlah terbesar berikutnya adalah kewarisan berjumlah 134 perkara (20 %). Klasiikasi selengkapnya adalah sebagaimana tabel berikut ini.
Tabel 11.
Klasiikasi perkara perdata agama yang diterima Mahkamah Agung RI tahun 2011
NO KLASIFIKASI JML (%) 1 Sengketa Perkawinan 504 75.22% 2 Kewarisan 134 20.00% 3 Hibah 12 1.79% 4 Jinayat 8 1.19% 5 Bantahan/perlawanan 7 1.04% 6 Wakaf 2 0.30% 7 Itsbat Nikah 2 0.30% 8 Ekonomi Syariah 1 0.15% TOTAL 670 100.00%
Hingga akhir Desember 2011, perkara kasasi perdata agama yang berhasil diputus berjumlah 534 perkara. Dengan demikian sisa perkara kasasi perdata agama pada akhir tahun 2011 berjumlah 147 atau 2,51 % dari keseluruhan sisa perkara kasasi.
f) Perkara Militer
Jumlah perkara kasasi pidana militer yang diterima Mahkamah Agung RI sepanjang tahun 2011 berjumlah 258 perkara. Jumlah ini naik 14,67 % dari tahun 2010 yang berjumlah 225 perkara. Diantara jumlah perkara tersebut 15, 50 % adalah perkara pidana militer, yakni desersi, 29 perkara (11,24%), dan insubordinasi, 11 perkara (4,26%)
Tabel 12.
Klasiikasi perkara kasasi pidana militer yang diterima Mahkamah Agung RI tahun 2011
NO KLASIFIKASI JML (%) 2011
1 Harta Kekayaan 60 23.26%
2 Kesusilaan 56 21.71%
3 Narkotika & Psikotropika 51 19.77%
4 Tubuh & Nyawa 33 12.79%
5 Desersi 29 11.24% 6 Insubordinansi 11 4.26% 7 KDRT 8 3.10% 8 Korupsi 6 2.33% 9 Senjata Api 4 1.55% TOTAL 258 100.00%
Hingga akhir Desember 2011, perkara kasasi pidana militer yang berhasil diputus berjumlah 248 perkara. Dengan demikian sisa perkara kasasi pidana militer pada akhir tahun 2011 berjumlah 83 atau 1,42 % dari keseluruhan sisa perkara kasasi.
g) Perkara Tata Usaha Negara
Perkara kasasi Tata Usaha Negara yang diterima tahun 2011 berjumlah 442. Jumlah ini turun 5,22 % dari tahun 2010 yang berjumlah 495 perkara. Dari keseluruhan perkara tersebut, 225 perkara (53, 32%) adalah perkara yang terkait dengan pertanahan. Perkara terbesar lainnya adalah klasiikasi kepegawaian, 55 perkara (13,03%), perizinan 49 perkara (11,61%). Klasiikasi selengkapnya sebagaimana tabel berikut ini.
Tabel 13.
Klasiikasi perkara kasasi tata usaha negara yang diterima Mahkamah Agung RI tahun 2011
NO KLASIFIKASI JML (%)
1 Pertanahan 225 53.32%
3 Perijinan 49 11.61% 4 Pemilu 27 6.40% 5 Lelang 15 3.55% 6 Perburuhan 7 1.66% 7 Keanggotaan Dewan 5 1.18% 8 Pemda 5 1.18% 9 lain-lain 34 8.06% TOTAL 422 100.00%
Hingga akhir Desember 2011, perkara kasasi tata usaha negara yang berhasil diputus berjumlah 523 perkara. Dengan demikian sisa perkara kasasi pidana militer pada akhir tahun 2011 berjumlah 195 atau 3,34 % dari keseluruhan sisa perkara kasasi.
b. Keadaan Perkara Peninjauan Kembali 1) Gambaran Umum
Mahkamah Agung RI menerima permohonan peninjauan kembali sepanjang tahun 2011 sebanyak 2.540 perkara. Jumlah ini naik 11,26 % dari tahun sebelumnya yang berjumlah 2.283 perkara. Perkara peninjauan kembali tahun 2010 yang belum putus berjumlah 1.935 perkara, sehingga beban pemeriksaan perkara peninjauan kembali selama tahun 2011 berjumlah 4.475 perkara (20,90 % dari keseluruhan perkara).
Dari jumlah beban 4.475 perkara, Mahkamah Agung RI berhasil memutus perkara peninjauan kembali sebanyak 2.648 perkara. Jumlah ini naik 13,26 % dari tahun 2010 yang memutus perkara sebanyak 2.336 perkara.
Perkara peninjauan kembali yang belum diputus hingga 31 Desember 2011 berjumlah 1827 perkara. Angka sisa perkara peninjauan kembali ini turun 5,58 % jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 1.935.
Rasio penyelesaian perkara peninjauan kembali tahun 2011, melalui pendekatan perbandingan jumlah perkara putus dengan jumlah perkara kasasi yang ditangani tahun ini adalah sebesar 59,17 %. Nilai rasio ini naik 4,48 % dari tahun 2010 yang hanya berada di level 54,69 %.
Keadaan perkara peninjauan kembali berdasarkan jenis perkara bisa dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 14.
Jumlah perkara peninjauan kembali yang ditangani Mahkamah Agung RI selama tahun 2011
JENIS PERKARA SISA MASUK BEBANJML PUTUS sisa % putus
Perdata 712 824 1,536 971 565 63.22% Perdata Khusus 93 174 267 218 49 81.65% Pidana 97 145 242 154 88 63.64% Pidana Khusus 204 281 485 271 214 55.88% Perdata Agama 9 77 86 69 17 80.23% Pidana Militer 3 19 22 10 12 45.45% TUN 817 1,020 1,837 955 882 51.99% Jumlah 1,935 2,540 4,475 2,648 1,827 59.17%
Dari tabel di atas nampak perkara peninjauan kembali yang menjadi beban pemeriksaan di tahun 2011 secara berturut-turut adalah sebagai berikut: perkara TUN 1.837 perkara (41,05%), perkara rumpun perdata (perdata umum dan perdata khusus), 1.803 perkara (40,29%), perkara rumpun pidana (pidana umum dan pidana khusus), 727 perkara (16,25%), perkara perdata agama, 86 perkara (1,92.%), dan perkara militer 22 perkara (0,49%). Khusus mengenai perkara tata usaha negara, sebanyak 1.667 (90,75%) adalah perkara pajak.
Dari 2540 perkara peninjauan kembali yang diterima tahun 2011, 1.456 (57,32%) adalah permohonan peninjauan kembali terhadap putusan kasasi. 976 (38,43%) adalah permohonan peninjauan
kembali terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dan 108 (4,25%) adalah permohonan peninjauan kembali terhadap putusan banding. Rincian selengkapnya sebagaimana tabel berikut ini:
Tabel 15.
Putusan yang diajukan permohonan Peninjauan Kembali