• Tidak ada hasil yang ditemukan

III AKSES TERHADAP KEADILAN

Dalam dokumen Laptah MARI Tahun 2011 (Halaman 34-38)

1. Akses terhadap Putusan Pengadilan

Ketika pertama kali beroperasi pada 2007, situs putusan Mahkamah Agung RI hanya memuat 23.000 putusan Kasasi/PK. Jumlah putusan yang diunggah terus bertambah. Pada akhir tahun 2011, total putusan yang sudah tersedia dan dapat diunduh oleh publik telah naik lebih dari 6 kali lipat dibanding tahun pertama. Kini jumlahnya telah melampaui 150.000-an putusan. Koleksi putusan tidak lagi terbatas pada putusan Kasasi/PK Mahkamah Agung RI saja, namun seluruh putusan pengadilan tingkat pertama dan banding pada empat lingkungan peradilan.

Hal ini tidak lepas dari diperkenalkannya SEMA Nomor: 14 Tahun 2010 tentang Dokumen Elektronik Sebagai Kelengkapan Permohonan Kasasi dan Peninjauan Kembali yang kemudian ditindaklanjuti oleh Surat Panitera Mahkamah Agung RI Nomor: 085/PAN/II/2011tentang Petunjuk Pelaksanaan SEMA Nomor: 14 Tahun 2010. Selain mewajibkan pengiriman naskah elektronik dari putusan pengadilan tingkat pertama dan banding, maka sistem ini pada prinsipnya memungkinkan situs database putusan yang telah tersedia pada URLhttp:// putusan.mahkamahagung.go.id untuk juga dapat menerima pengiriman data

komunikasi putusan ke server putusan, dalam hal suatu perkara dimintakan upaya hukum kasasi dengan pilihan untuk dapat menyimpan berkas dalam server yang terpusat sebagai backup dan dapat dipublikasikan.

Sehingga proses ini tidak hanya membantu kelancaran minutasi perkara di Mahkamah Agung RI, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme akses publik, sekaligus repository elektronik (pusat data) pertama yang dimiliki oleh badan peradilan.

Sepanjang tahun 2011, Kepaniteraan Mahkamah Agung RI telah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mendorong kepatuhan penggunaan prosedur pada SEMA Nomor: 14 Tahun 2010 seluas mungkin bagi peradilan tingkat pertama dan banding. Berbagai upaya terstruktur telah diupayakan untuk memastikan pengenalan prosedur dan mendorong kepatuhan pengadilan tingkat pertama dan banding, sehingga apa yang pada Cetak Biru Pembaruan Tahun 2010- 2035 diproyeksikan untuk terjadi pada lima tahun ketiga implementasi cetak biru pembaruan, telah dapat dilihat hasilnya pada tahun pertama.

Masih banyak langkah yang harus dilakukan. Setiap tahun badan peradilan memutus sekitar 300.000 perkara dan lebih dari 3 juta putusan perkara ringan. Terlepas dari capaian tahun 2011 yang memberikan harapan, data di lapangan menyiratkan bahwa tantangan ke depan khususnya terkait akses publik terhadap putusan dan penciptaan centralized repository (pusat data) masih akan melalui jalan panjang nan terjal.

2. Keterbukaan Informasi

Mahkamah Agung RI terus melanjutkan upaya untuk mendorong dan memantapkan komitmen terhadap peradilan yang lebih transparan dan akuntabel sebagai bagian dari upaya menciptakan akses terhadap keadilan. Sebagai konsekuensi berlaku efektifnya Undang-undang Nomor: 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik pada 30 April 2010, Mahkamah Agung RI mengambil dua langkah strategis. Pertama, melakukan penyempurnaan terhadap SK KMA Nomor: 144/KMA/VII/2007 tentang Keterbukaan Informasi di Pengadilan melalui SK KMA Nomor: 1-144/KMA/SK/I/2011 tentang Pedoman Layanan Informasi di Pengadilan. Kedua, menyusun Peraturan Mahkamah Agung RI (PERMA) Nomor: 02 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Informasi Publik di Pengadilan.

Kedua kebijakan itu diperlukan untuk memastikan bahwa rezim hukum yang dimiliki oleh Mahkamah Agung RI bisa sepenuhnya sesuai dengan Undang- undang Nomor: 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, mengingat Undang-undang ini memang diundangkan belakangan setelah pengesahan SK KMA Nomor:144/KMA/VII/2007. Sehingga, sangat wajar apabila kemudian diperlukan penyesuaian untuk memastikan konsistensi dan sinkronisasinya.

Selain pembuatan pengaturan internal sebagaimana diamanatkan oleh Undang- undang Nomor: 14 Tahun 2008, aspek penting lainnya adalah untuk memastikan bahwa hak-hak masyarakat yang timbul dari sengketa informasi pada Komisi Informasi bisa ditegakkan dengan baik. Undang-undang Nomor: 14 Tahun 2008 memang menyisakan beberapa pertanyaan serius dari sisi penegakan hukum yang bisa mengancam efektivitas penegakan hukum keterbukaan informasi, mengingat banyak aspek hukum acara baru, antara lain keberatan terhadap putusan Komisi Informasi bisa diajukan keberatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara apabila institusi publik adalah instansi pemerintah, dan pengadilan umum apabila institusi publik adalah swasta dan beberapa hal lain terkait eksekusi. Itulah sebabnya Mahkamah Agung RI menerbitkan SEMA No. 2 Tahun 2011. Melalui dua kebijakan itu, koordinasi pelaksanaan keterbukaan informasi dan pelayanan publik bisa lebih dioptimalkan.

3. Pelayanan dan Bantuan Hukum Kepada Masyarakat Miskin dan Marginal Pada tahun 2011 akses masyarakat miskin dan marginal terhadap keadilan terus difasilitasi sebagai salah satu program prioritas Mahkamah Agung RI dan juga prioritas negara. Di bawah payung SEMA Nomor: 10 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan Hukum, Mahkamah Agung RI terus menyalurkan anggaran bantuan hukum ke seluruh peradilan umum dan peradilan agama. Bahkan peradilan agama telah mulai juga menyalurkan komponen dana bantuan hukum ke uji coba pos bantuan hukum ke sekitar 46 pengadilan agama yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam rangka penyelenggaraan pos bantuan hukum di pengadilan agama, saat ini terdapat 61 lembaga dengan 220 petugas yang bertindak sebagai pemberi jasa bantuan hukum. Pada tahun 2011 Mahkamah Agung RI mengalokasikan anggaran untuk Posbakum dan dana pendampingan bagi seluruh perkara jinayat di Mahkamah Syar’iyah di Aceh sebesar Rp4.152.000.000,-dan target penyelesaian 11.553 perkara melalui Posbakum. Ternyata pada Desember

2011 Pos Bantuan Hukum pada peradilan agama berhasil menangani 34.647 pengguna, atau kelebihan target 300%, dengan penyerapan Rp4.053.968.138. Hal ini menunjukkan keberhasilan program Pos Bantuan Hukum, dan tingginya kebutuhan masyarakat miskin dan marginal untuk mengakses pengadilan. Pelaksanaan bantuan hukum pada pengadilan negeri masih berada pada tahap pengembangan. Pada bulan Agustus 2011, Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum telah mengeluarkan Surat Direktur Jenderal Nomor:1/DJU/ OT.01.3/VIII/2011 yang mengatur pedoman pelaksanaan dana bantuan hukum untuk perkara pidana. Sementara, pedoman untuk pelaksanaan bantuan hukum untuk perkara perdata dan pelaksanaan pos bantuan hukum masih dalam tahap pengembangan. Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum merencanakan untuk melakukan uji coba Pos Bantuan Hukum pada 39 pengadilan pada tahun 2012.

Anggaran yang dialokasikan pada Ditjen Badilum pada tahun 2011 untuk Bantuan Hukum mencapai Rp34.519.500.000. Walaupun demikian, kemampuan serapan anggaran hanya sebesar Rp1.212.350.000 untuk membantu penyelesaian 1.455 perkara.

Sepanjang tahun 2011 peradilan agama telah mulai menerapkan prosedur sidang keliling bagi Warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri. Banyaknya jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara-negara tetangga mengakibatkan tingginya masalah sosial yang antara lain diakibatkan ketiadaan pelayanan pengesahan akta nikah, yang berujung kepada masalah hukum antara TKI dengan aparat hukum negara tersebut.

Bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri, Mahkamah Agung RI mulai menjalankan program pelaksanaan sidang itsbat nikah di tempat bagi para TKI yang memerlukan jasa ini. Berdasarkan Surat Keputusan Mahkamah Agung RI Nomor: 084/2011 tentang Izin Sidang Pengesahan Perkawinan (Itsbat Nikah) di Kantor Perwakilan Republik Indonesia, tertanggal tanggal 25 Mei 2011, untuk pertama kalinya Pengadilan Agama Jakarta Pusat melakukan sidang itsbat nikah di Kinabalau, Sabah, Malaysia. Sidang itsbat nikah ini yang merupakan kerjasama antara Pengadilan Agama Jakarta Pusat dan Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu ini telah berhasil menyidangkan 367 perkara pengesahan kawin siri. Dari jumlah itu, 335 permohonan dapat dikabulkan. Sisanya, 27 permohonan yang tidak dapat dikabulkan karena pemohon tidak hadir, 4 permohonan ditolak karena masih dalam proses perceraian di Indonesia dan 1 permohonan ditolak karena beristri dua.

Penting untuk dicatat bahwa berdasarkan pasal 22 Undang-undang Nomor: 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, Mahkamah Agung RI tidak lagi mengelola anggaran bantuan hukum setelah selesai anggaran tahun berjalan. Selanjutnya pengelolaan bantuan hukum dipindahkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

IV AKTUALISASI PERAN MAHKAMAH AGUNG RI PADA

Dalam dokumen Laptah MARI Tahun 2011 (Halaman 34-38)