BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra
a. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra
Menurut Smart (2010: 33) anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan krakteristik khusus yang berbeda dari pada umumnya. Banyak sekali jenis ABK, namun di sini penulis hanya akan membahas tentang tunarungu, tunanetra, tunagrahita, autis, down sydrome, tunalaras, dan tunadaksa.
Pengertian tunanetra adalah merupakan sebutan untuk individu yang mengalami gangguan pada indera penglihatan.
Pada dasarnya, tunanetra dibagi menjadi dua kelompok, yaitu buta total dan kurang penglihatan (low vision). Buta total bila tidak melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang lumayan dapat dipergunakan untuk orientasi
35
mobilitas. Mereka tidak bisa menggunakan huruf lain selain huruf braille.
Sedangkan yang disebut low vision adalah mereka yang bila melihat sesuatu, mata harus didekatkan, atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya, atau mereka yang memiliki pandangan kabur ketika melihat objek. Untuk mengatasi permasalahan penglihatannya, para penderita low vision ini mengunakan kaca mata atau kontak lensa.
Menurut Aziz (2015: 60-61) pengertian tunanetra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak dapat melihat, sedangkan menurut literatur berbahasa Inggris visually handicapped atau visual impaired. Pada umumnya orang mengira bahwa tunanetra identik dengan buta, padahal tidak demikian karena tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori.
Seseorang yang mengalami gangguan penglihatan secara umum adalah mereka yang rusak penglihatannya walaupun sudah dibantu dengan perbaikan, namun masih mempunyai pengaruh yang merugikan bagi diri mereka sendiri. Pengertian ini mencakup sesorang yang masih memiliki sisa penglihatan dan yang buta. Dengan demikian, pengertian penyandang tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya
(kedua-36
duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas.
Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) mendefinisikan ketunanetraan adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan yang sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata (kurang awas).
Menurut Somantri (2012: 65) pengertian tunanetra tidak saja mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tapi terbatas sekali dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama dalam belajar. Jadi, anak-anak dengan kondisi penglihatan yang termasuk “setengah melihat”, “low vision”, atau rabun adalah bagian dari kelompok anak tunanetra.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anak berkerbutuhan khusus tunanetra adalah anak yang karakteristik khusus atau berbeda dengan anak pada umunya, anak berkebutuhan khusus tunanetra memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille. Anak tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu, buta total (Blind) dan setengah melihat (low vision).
37
b. Faktor-faktor Penyebab Ketunanetraan
Menurut Somantri (2012: 66-67) Secara ilmiah ketunanetraan anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, apakah itu faktor dalam diri anak (internal) ataupun faktor dari luar anak (eksternal). Hal-hal yang termasuk faktor internal yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan. Kemungkinannya karena faktor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat, dan sebagainya. Sedangkan hal-hal yang termasuk faktor eksternal diantaranya faktor-faktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan.
Menurut Kosasih (2012: 182-183) secara ilmiah, ketunanetraan anak dapat disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
1) Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan kondisi bayi selama dalam kandungan.
Kemungkinan ketunanetraan seorang anak bisa disebabkan oleh faktor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracuanan obat, virus dan sebagainya.
2) Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terjadi saat atau sesudah bayi dilahirkan. Misalnya, beruapa kecelakaan, pengaruh alat bantu medis saat melahirkan sehingga sistem
38
persyarafannya rusak, panas badan yang terlalu tinggi, kekurangan vitamin, bakteri, dan virus trachoma.
Sedangkan Wikasanti (2014: 9) mengemukakan bahwa faktor penyebab timbulnya tunanetra kebutuhan khusus pada seorang anak dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu internal, faktor eksternal, dan kombinasi dari faktor internal serta eksternal.
1) Faktor Internal
Faktor internal penyebab timbulnya kebutuhan khusus seorang anak adalah kondisi yang ada pada diri anak tersebut. Misalnya, seorang anak memiliki kebutuhan khusus dalam belajar karena ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau mengalami kesulitan untuk bergerak.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal penyebab timbulnya kebutuhan khusus seorang anak adalah sesuatu yang berasal dari luar diri anak, yang mengakibatkan anak memiliki hambantan perkembangan dan hambatan belajar sehingga membuatnya mempunyai kebutuhan layanan khusus dalam pendidikan.
Misalnya, seorang anak mengalami kekerasan di rumah tangga.
39
3) Kombinasi faktor eksternal dan internal
Kebutuhan khusus yang disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal (eksternal dan internal sekaligus) diperkirakan akan membuat anak memiliki kebutuhan khusus yang lebih kompleks. Misalnya, secara internal seorang anak mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas, dan secara eksternal anak berada pada lingkungan keluarga yang kedua orang tuannya tidak menerima kehadiran anak.
Pendapat di atas sejalan dengan yang dikatakan Smart (2010: 41) faktor penyebab tunanetra antara lain:
1) Pre-natal (dalam kandungan)
Faktor penyebeb tunanetra pada masa pre-natal sangat erat kaitannya dengan adanya riwayat dari orang tuanya atau adanya kelainan pada masa kehamilan.
a) Keturunan ketunanetraan akibat faktor keturunan antara lain Retinitis Pigmentosa, yaitu penyakit pada retina yang umumnya merupakan keturunan. Selain itu, katarak juga disebabkan oleh faktor keturunan.
b) Pertumbuhan anak di dalam kandungan ketunanetraan anak yang disebabkan pertumbuhan anak dalam kandungan.
40 2) Post-natal
Post-natal merupakan masa setelah bayi dilahirkan.
Tunanetra bisa saja terjadi pada masa ini.
a) Kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras;
b) Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi yang pada akhirnya setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilanganya daya penglihatan;
c) Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, misalnya:
(1) Xeropthalmia, penyakit mata yang kurang vitamin A;
(2) Trachoma, yaitu penyakit mata karena virus chilimidezoon trachomanis;
(3) Catarac, yaitu penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa mata menjadi keruh, akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih;
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor terjadinya ketunanetraan, Kemungkinan ketunanetraan seorang anak bisa disebabkan oleh faktor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat, virus dan sebagainya. Hal ini sudah pasti akan berdampak kecacatan pada anak, karena janin yang ada dalam
41
kandungan masih lemah sehingga terjadi kecacatan pada anak tersebut ketika sudah dilahirkan oleh ibunya. Dari faktor-faktor yang bisa menyebabkan ketunanetraan tersebut ada faktor internal dan faktor eksternal.
c. Kemampuan Akademik Siswa Tunanetra
Menurut Kuffan dan Hallahan dalam Mangunsong (2014:
55) berdasarkan sudut pandang pendidikan ada dua kelompok gangguan penglihatan:
1) Siswa yang tergolong buta akademis (educationally blind), mencakup siswa yang tidak dapat lagi menggunakan penglihatannya untuk tujuan belajar huruf awas atau cetak.
Pendidikan yang diberikan pada siswa meliputi program pengajaran yang memberikan kesempatan anak untuk belajar melalui nonvisual senses (sensori lain diluar pengelihatan).
2) Siswa yang melihat sebagian atau kurang awas (the partially sighted/low vision), meliputu siswa dengan penglihatan yang masih berfungsi secara cukup, diantara 20/70-20/200, atau mereka yang mempunyai ketajaman penglihatan normal tapi medan pandangan kurang dari 20 derajat. Dengan demikian cara belajar utamanya dapat semaksimal mungkin menggunakan sisa penglihatan (visualnya).
42
Dampak ketunanetraan tidak hanya terdapat perkembangan kongnitif, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan keterampilan akademis, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. sebagai contoh, Ketika anda membaca atau menulis anda tidak perlu memperhatikan secara rinci bentuk huruf atau kata, tetapi bagi tunanetra hal tersebut tidak bisa dilakukan karena ada kegangguan pada ketajaman penglihatan.
Anak-anak seperti itu sebagai gantinya mempergunakan berbagai alternatif media atau alat untuk membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Mereka mungkin mempergunakan braille atau huruf cetak dengan berbagai alternatif ukuran. Dengan asesmen dan pembelajaran yang sesuai dengan anak tunanetra tanpa kecacatan tambahan dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulisnya seperti teman-teman lainnya yang dapat melihat (Widjaya, 2012: 25).
Menurut Tilman dan Osborn dalam Aziz (2015: 66) menemukan beberapa perbedaan antara tunanetra dan orang awas yaitu:
1) Tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus seperti halnya anak awas, namun pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan.
43
2) Tunanetra mendapatkan angka yang hampir sama dengan anak awas, dalam hal berhitung, informasi, dan kosa kata, tetapi kurang baik dalam hal pemahaman (comprehetion) dan persaman.
3) Kosa kata penyandang tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang definitif.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan akademik siswa tunanetra dapat mempergunakan berbagai alternatif media atau alat untuk membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, salah satunya dengan mempergunakan braille atau huruf cetak dengan berbagai alternatif ukuran. Sehinga anak bisa mengembangkan kemampuannya untuk belajar seperti anak normal, meskipun dalam segi sisi penglihatan yang kurang tetapi dengan adanya perkembangan media semakin maju, siswa berkebutuhan khusus dapat belajar dengan kebutuhan mereka.
B. Kerangka Berpikir
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD kelas V Tunanetra Pembina Tingkat Nasional Jakarta, belum menggunakan media dalam pembelajaran puisi. Puisi adalah ungkapan, ide atau perasaan pengarang yang lebih mengutamakan cara mengekspresikannya.
Sehingga siswa membutuhkan media sebagai alat pembelajaran dalam pembacaan puisi. Alat yang digunakan sebagai media
44
pembelajaran adalah DVD. Media DVD berisikan pembacaan puisi yang diiringi oleh musik yang akan digunakan untuk siswa tunanetra sebagai pembelajaran pembacaan puisi.
Siswa tunanetra merupakan anak dengan karakter khusus yang berbeda pada umumnya, sehingga peneliti harus menggunakan media yang sesuai pada saat pembelajaran, hingga akhirnya peneliti mengambil media DVD untuk dikembangkan sebagai media yang akan digunakan untuk siswa tunanetra kelas V SLB-A Tingkat Nasional Jakarta.
Dalam proses pembuatan media DVD puisi tersebut peneliti melewati beberapa tahap, dari awal rekaman pembacaan puisi, editing video, gambar dan suara. Sampai melakukan revisi beberapa kali dan akhirnya tervalidasi serta siap untuk diuji cobakan kepada siswa tunanetra kelas V SLB-A Tingkat Nasional Jakarta.
Setelah pembuatan media DVD tersebut, peneliti menguji menggunakan uji skala terbatas dan uji skala luas dengan cara mendengarkan pembacaan puisi dari media DVD, sebagai contoh pembacaan puisi kepada siswa tunanetra SLB-A. Kemudian mereka membaca puisi yang berbeda judul, tetapi menggunakan intonasi, lafal, dan ekspresi yang sama seperti media DVD puisi tersebut.
45
Bagan 2.2 Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah media DVD yang berisi pembacaan puisi yang berjudul “IBU” Karya Chairil Anwar dapat menjadi alternatif media pembelajaran bagi siswa tunanetra tingkat Sekolah Dasar kelas V di SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta.
Puisi
Media Pembelajaran Berbentuk DVD
Siswa Tunanetra
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SLB-A Tunanetra Pembina Tingkat Nasional Jakarta
Pembacaan Puisi
Pengembangan Media Pembelajaran Puisi Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus Tunanetra Kelas V di SLB-A Pembina
Tingkat Nasional Jakarta
46 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode R&D (Research and Development) yang merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut dalam pelaksanaanya. Produk yang dibuat oleh peneliti berupa media DVD pembacaan puisi yang berisi tentang pembacaan puisi yang berjudul Ibu karya Chairil Anwar yang akan diuji keefektifannya dengan tahap pelaksanaan penelitian.
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di sekolah Tunanetra SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta yanng beralamat di Jl.
Pertanian Raya Lebak Bulus, Kecamatan Cilandak, Kota Jakarta Selatan Provinsi D.K.I. Jakarta.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018, selama kurang lebih 8 (delapan) bulan. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap dari bulan Agustus 2017 sampai bulan Juli 2018. Untuk lebih jelasnya, tahapan penelitian dijelaskan pada tabel berikut.
47
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
3. Metode Penelitan
Metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiono, 2010: 407).
Menurut Sugiono (2016: 2) mengungkapkan bahwa metode penelitian dan pengembangan secara umum dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Menurut Brog and Gall dalam Sugiono (2016: 28), menyatakan bahwa penelitian dan pengembangan merupakan proses/metode yang digunakan untuk memvalidasi dan No Kegiatan
3. Pelaksanaan
Penelitian
48
mengembangkan produk, selajutnya dinyatakan By “product”, yang dimaksud produk disini tidak hanya satu yang berupa benda seperti buku tek, film untuk pembelaran, dan sofware (perangkat lunak) komputer, tetapi juga metode seperti metode mengajar, dan program seperti program pendidikan.
Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian dan pengembangan menurut Sugiyono (2010: 409) yaitu:
Bagan 3.1 Langkah-langkah Penggunaan Metode Reaserch and Development (R&D) (Sugiyono, 2010: 409)
Namun, menurut Sugiyono (2016: 48) langkah-langkah penelitian dan pengembangan level empat (menciptakan produk baru yang teruji) adalah sebagai berikut:
Potensi dan Masalah
Desain Produk Pengumpulan
Data
Validatasi desain
Ujicoba
Pemakaian Revisi Produk Ujicoba
Produk
Revisi Desain
Revisi Produk Produksi Masal
49
Bagan 3.2 Langkah-langkah penelitian dan pengembangan level empat (menciptakan produk baru yang teruji)
Berdasarkan pendapat di atas peneliti merumuskan tahapan penelitian yang sesuai dengan kebutuhan peneliti. Tahapan yang dirumuskan oleh peneliti sampai pada uji coba terbatas media pembelajaran puisi berbentuk DVD untuk siswa SD tunanetra kelas V dikarenakan keterbatasan waktu peneliti dalam melakukan penelitian. Perancangan dan pengembangan media melalui tujuh tahapan sebagai berikut:
Potensi dan
50
Bagan 3.3 Tahapan Pengembangan Produk Potensi dan Masalah
4. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian menurut Arikunto (2013: 173) adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian populasi yang dipergunakan dalam penelitian atau sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi.
Menurut Arikunto (2013: 173) sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.
Tidak Revisi Desain Potensi dan Masalah
Desain Produk
Validasi Desain
Uji Coba Terbatas Produk
Studi Literatur Pengumpulan
Informasi
Revisi Desain
Ya
51
Peneliti sendiri menggunakan populasi dan sampel yang disesuaikan dengan fokus penelitian yang telah dirumuskan.
Pengembangan media pembelajaran pembacaan puisi yang berbasis media DVD yang ditujukan untuk siswa SD SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta Kelas V dengan uji coba terbatas berjumlah 3 siswa dan uji luas seluruh siswa yang berjumlah 7 orang.
B. Prosedur Penelitian
Prosedur Penelitian Pengembangan ini menggunakan dua tahap metode, yaitu:
1. Penelitian Tahap I a. Pemilihan Puisi
Puisi yang di pilih untuk peneliti untuk dibacakan adalah puisi “IBU” Karya Chairi Anwar. Teks puisi tersebut dapat dilihat di bawah ini
IBU
Karya: Chairil Anwar Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan Pernah aku dimarah
Katanya memperbaiki kelemahan Pernah aku diminta membantu Katanya supaya aku pandai Ibu
Pernah aku merajuk Katanya aku manja Pernah aku melawan
52
Alasan dipilihnya puisi Ibu, karya Chairil Anwar ini karena puisi tersebut mengandung arti makna yang dalam tentang kasih sayang seorang ibu, puisi tersebut erat kaitannya dengan anak, puisi-puisi anak biasanya bertemakan masalah keluarga, liburan, dan persahabatan.
Melalui puisi “IBU”, kandungan dalam puisi tersebut berkaitan dengan hal-hal yang ada di sekitar anak yaitu ibu
Katanya aku dengil Pernah aku menangis Katanya aku lemah Ibu
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat Setiap kali aku kecewa
Dia bangun dimalam sepi lalu bermunajad
Setiap aku dalam kesakitan Dia obati dengan penawar dan semangat
Dan bila aku mencapai kejayaan Dia kata bersyukurlah pada tuhan Namun
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir dipipimu Begitu kuatnya dirimu Ibu
Aku sayang padamu Tuhanku
aku bermohon padaMu Sejahterakanlah dia Selamanya
53
dan keluarganya, dan secara umum anak sangat dekat dengan orang tuanya terutama ibu.
Ibu merupakan salah satu obsesi dan tumpahan emosional bagi anak, tentang kasih sayangnya, jasa telah merawatnya, kecintaan, kerinduan, dan kekaguman yang menunjukkan betapa dekatnya sosok ibu bagi anak, sosok ibu adalah segalanya bagi anak, karena alasan itulah puisi
“IBU” karya Chairil Anwar dijadikan contoh dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang pembacaan puisi yang akan dijadikan dalam bentuk DVD.
2. Instrumen Penelitian
Media DVD pembacaan puisi yang dibuat oleh peneliti sebelumnya uji validasi terlebih dahulu oleh para ahli, yaitu ahli media, materi dan praktisi pendidikan dengan menggunakan lembar penilaian. Lembar penilaian para ahli memiliki aturan pemberian skor menggunakan Skala Likert (Sugiyono, 2016:
166), pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.2 Aturan Pemberian Skor Lembar Penilaian Ahli
Kategori Skor
SB Sangat Baik 5
B Baik 4
C Cukup 3
K Kurang 2
SK Sangat Kurang 1
54
Kriteria penilaian pengumpulan data dilakukan dengan memberikan istrumen berupa tes pembacaan puisi kepada siswa kelas V SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta, dengan kriteria penilaian lafal, intonasi, dan ekspresi yang disesuaikan dengan kurikulum sekolah, format penilaiannya sebagai berikut:
Tabel 3.3 Format Penilaian Pembacaan Puisi
Deskriptor : Lafal
3 = jika siswa dalam mengekspresikan puisi dengan menggunakan lafal yang tepat.
2 = jika siswa dalam mengekspresikan puisi dengan menggunakan lafal yang kurang tepat.
1 = jika siswa dalam mengekspresikan puisi dengan menggunakan lafal tidak tepat.
No Nama
Siswa
Lafal Intonasi Ekpresi Jumlah
Skor
Nilai Akhir
Ketuntasan T BT Ket
3 2 1 3 2 1 3 2 1
Jumlah Persentase
55 Intonasi
3 = jika siswa dalam mengekspresikan puisi dengan menggunakan intonansi yang tepat.
2 = jika siswa dalam mengekspresikan puisi dengan menggunakan intonasi yang kurang tepat.
1 = jika siswa dalam mengekspresikan puisi dengan menggunakan intonasi tidak tepat.
Ekspresi
3 = jika siswa dalam mengekpresikan puisi dengan penuh penghayatan.
2 = jika siswa dalam mengekpresikan puisi kurang penghayatan.
1 = jika siswa dalam mengekpresikan puisi dengan tidak sama sekali menggunakan penghayatan.
Nilai Akhir = 𝑆𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐼𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑋 100
3. Analisis Data
a. Data Proses Pengembangan Produk
Data proses pengembangan media DVD pembacaan puisi sebagai sumber belajar siswa tunanetra SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta, berupa data deskriptif yang sesuai dengan prosedur pengembangan produk.
56 1) Data Kualitas Produk
Prosedur analisis data dalam penelitian ini mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a) Mengubah hasil penilaian dari para ahli serta mengubah hasil penilaian ahli dengan menggunakan skor sesuai Skala Likert skala yang dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 3.4 Aturan Pemberian Skor Lembar Penilaian Ahli
Kategori Skor
SB Sangat Baik 5
B Baik 4
C Cukup 3
K Kurang 2
SK Sangat Kurang 1
Sumber Sugiyono (2016: 166)
Jika dari analisis tersebut diperoleh hasil Sangat Baik (SB), Baik (B) maka produk berupa media DVD pembacaan puisi untuk siswa tunanetra sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia materi puisi siswa SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta, siap digunakan sebagai media pembelajaran. Jika penilaian produk masih dalam kualitas standar, Kurang (K) dan Sangat Kurang (SK) maka produk akan direvisi, untuk memenuhi kualitas dan kelayakan sebagai media
57
pembelajaran siswa Anak Berkebutuhan Khusus (Tunanetra).
b) Siswa sebagai implementasi pembelajaran. Untuk menganalisis data penelitian pengujian media pembacaan puisi untuk pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SD SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta, digunakan teknik analisis data kualitatif. Berdasarkan analisis data tersebut dapat dijadikan kumpulan informasi yang akan dijadikan simpulan. Penarikan simpulan dari paparan data pembacaan puisi siswa tunanetra dengan pemberlakuan media. Teknik analisis kuantitatif diperoleh dari data hasil dengan menggunakan rumus:
Nilai Akhir = 𝑆𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐼𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑋 100
4. Perencanaan Desain Produk a. Deskripsi Sistem
Pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia ini merupakan sebuah program yang berbentuk instrument DVD yang berisi tentang pembacaan puisi berjudul “IBU” karya Chairil Anwar. Media ini bertujuan untuk membantu siswa dalam memahami dan melatih kemampuan di bidang mata
58
pelajaran Bahasa Indonesia, pada pokok bahasan puisi.
Media ini dilengkapi dengan musik dan durasi sepanjang pembacaan puisi.
Pada video ini nantinya terdiri dari tiga bagian Scene (potongan gambar). Adapun bagian tersebut adalah Scene opening (potongan gambar pembukaan), Scene pembacaan puisi, dan Scene closing (potogan gambar penutup).
Scene opening :
✓ Scene countdown (hitung mundur dengan efek suara)
✓ Tampilan pembacaan teks yang diringi suara narator.
✓ Terlampir variasi teks berjalan yang bertuliskan perihal sama.
✓ Diiringi latar musik Scene pembacaan puisi :
✓ Terdengar dan terlihat sang pembaca puisi
✓ Terlihat variasi teks puisi sebagai penunjang puisi tersebut.
✓ Terdengar latar musik.
Scene closing :
✓ Terlampir variasi teks yang bergerak vertikal dari bawah ke atas, berupa ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang berperan atau yang mendukung terhadap pembuatan video ini.
59 b. Spesifikasi Desain
Spesifikasi produk adalah deskripsi yang detail bagaimana sesuatu produk dibuat. Sumber lain menyatakan bahwa, spesifikasi produk adalah “pernyataan tentang bahan yang digunakan produk, dimensi (ukuran) produk, dan kualitas kerja yang akan dibangun, instalasi atau dibuat (Sugiyono, 2016: 401).
Maka dalam hal ini, sebuah perancangan produksi DVD pembacaan puisi melalui media audio visual diperlukan beberapa unsur dan komponen pendukung agar dapat menjadi sebuah produk yang efektif serta efisien, untuk dijadikan pembelajaran di sekolah dasar anak berkebutuhan khusus tunanetra. Berikut gambar DVD pembacaan puisi:
Gambar 3.1 Cover atau Desain DVD Pembacaan Puisi
Depan Belakang
60
Desain DVD produksi dapat dispesifikasikan menjadi tiga
Desain DVD produksi dapat dispesifikasikan menjadi tiga