BAB II LANDASAN TEORI
A. Hakikat Anak Tunagrahita
1. Pengertian dan Klasifikasi Anak Tunagrahita
Dalam Nunung Apriyanto (2012:21) anak tunagrahita adalah anak yang secara signifikan memiliki kecerdasan di bawah rata-rata anak pada umumnya dengan disertai hambatan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekitarnya. Mereka mengalami keterlambatan dalam segala bidang, dan itu sifatnya permanen, rentang memori mereka pendek terutama yang berhubungan dengan akademik, kurang dapat berpikir abstrak dan pelik. Dalam Tin Suharmini (2007:56) pengertian tentang anak tunagrahita yang dikemukakan para ahli pada prinsipnya sama, yaitu anak tunagrahita adalah anak yang mengalami keterbelakangan mental. Santrock (ahli bahasa Achmad Chusairi dan Juda Damanik, 2002) mengatakan Mental retardation atau tunagrahita adalah keadaan kemampuan yang terbatas, IQ nya rendah, di bawah 70 dan mempunyai kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari.
Klasifikasi anak tunagrahita yang digunakan di Indonesia saat ini sesuai dengan PP 72 Tahun 1991 dalam Wardani dkk (2008:6.8) adalah tunagrahita ringan IQ-nya 50-70, tunagrahita sedang IQ-nya 30-50, tunagrahita berat dan sangat berat IQ-nya kurang dari 30.
Penggolongan anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran dalam Nunung Apriyanto (2012:31) adalah sebagai berikut:
a. Educable (mampu-didik) merupakan, anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar.
b. Trainable (mampu-latih) merupakan, anak yang mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, penyesuaian sosial sangat terbatas, dan kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik kurang.
c. Custodia(mampu-rawat) merupakan, anak yang diberikan latihan terus menerus dan kusus. Dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif.
2. Karakterisik Anak Tunagrahita
Ada dua karakteristik yang menonjol dari anak tunagrahita yaitu : a. Karakteristik Umum
Depdiknas (2003) dalam Nunung Apriyanto (2012) mengemukakan bahwa karakteristik anak tunagrahita yaitu penampilan fisik tak seimbang, tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usianya, perkembangan bicara/bahasanya terlambat, kurang perhatian pada lingkungan, koordinasi geraknya kurang dan sering mengeluarkan ludah tanpa sadar.
Ketunagrahitaan merupakan suatu kondisi yang dalam perkembangan kecerdasannya memiliki banyak hambatan, ada beberapa karakteristik umum yang dapat kita pelajari, adaptasi dari Astati (2001:5) dalam Nunung Apriyanto (2012) sebagai berikut:
1) Kecerdasan
Kapasitas belajar anak terbelakang sangat terbatas. Terlebih lagi kapasitas mengenai hal-hal abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan membeo (rote learning) daripada dengan pengertian. Dari hari ke hari dibuatnya kesalahan-kesalahan yang sama. Perkembangan mentalnya mencapai puncak yang masih muda.
2) Sosial
Dalam pergaulan, mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan memimpin dirinya sendiri. Waktu masih muda selalu dibantu, setelah dewasa kepentingan ekonominya bergantung dengan orang lain, dan mereka mudah terpelosok ke dalam tingkah laku yang tidak baik. 3) Fungsi-fungsi mental lain
Mereka mengalami kesukaran memusatkan perhatian. Minatnya sedikit dan cepat beralih perhatian, pelupa, sukar membuat asosiasi-asosiasi, sukar membuat kreasi baru. Mereka cenderung menghindar dari berpikir.
4) Dorongan dan emosi
Anak yang terbelakang hampir-hampir tidak memperhatikan dorongan untuk mempertahankan dirinya. Kehidupan dan penghayatannya terbatas.
5) Kepribadian
Anak tunagrahita jarang mempunyai kepribadian yang dinamis, menawan, berwibawa, dan berpandangan luas. Kepribadian mereka umumnya mudah goyah.
6) Organisme
Baik struktur tubuh maupun fungsi organismenya, anak tunagrahita pada umumnya kurang dari anak normal. Sikap dan geraknya kurang sigap. Mereka juga kurang mampu melihat persamaan dan perbedaan.
b. Karakteristik Khusus
Wardani, dkk (2008:6.21) mengemukakan karakteristik anak tunagrahita menurut ketunagrahitaannya sebagai berikut: 1) Karateristik Tunagrahita Ringan
Meskipun tidak dapat menyamai anak normal yang seusianya, mereka masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Kecerdasannya berkembang dengan kecepatan antara setengah dan tiga perempat kecepatan anak normal dan berhenti pada usia muda. Mereka dapat bergaul dengan mempelajari pekerjaan yang
hanya memerlukan semi-skilled. Pada usia dewasa kecerdasannya mencapai tingkat usia anak normal 9 dan 12 tahun.
2) Karateristik Tunagrahita Sedang
Anak tunagrahita sedang hampir tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Namun mereka masih memiliki potensi untuk mengurus dirinya sendiri dan dilatih untuk mengerjakan sesuatu secara rutin, dapat dilatih berkawan, mengikuti kegiatan, dan menghargai hak milik orang lain. Sampai batas tertentu mereka selalu membutuhkan pengawasan/pemeliharaan dan bantuan orang lain. Setelah dewasa kecerdasan mereka tidak lebih dari anak normal 6 tahun.
3) Karateristik Tunagrahita Berat dan Sangat Berat
Anak tunagrahita berat dan sangat berat sepanjang hidupnya akan selalu bergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat memelihara diri sendiri dan tidak dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya. Mereka juga tidak dapat bicara, kalaupun bicara hanya mampu mengucapkan kata-kata atau memberi tanda sederhana saja. Kecerdasannya walaupun mencapai usia dewasa berkisar seperti anak normal usia paling tinggi 4 tahun.
c. Karateristik atau Ciri-Ciri pada Masa Perkembangan
Dalam Wadani dkk (2008:6.22) beberapa ciri yang dapat dijadikan indikator adanya kecurigaan berbeda dengan anak pada umumnya menurut Triman Prasadio (1982) adalah sebagai berikut:
1) Masa Bayi
Walaupun masa ini sulit untuk segera membedakan tetapi para ahli mengemukakan bahwa ciri-ciri bayi tunagarahita adalah: tampak mengantuk saja, apatis, tidak pernah sadar, jarang menangis, kalau menangis terus menerus, terlambat duduk, bicara, dan berjalan.
2) Masa Kanak-kanak
Pada masa ini anak tunagrahita sedang lebih mudah dkenali dari pada anak tunagrahita ringan. Karena anak tunagrahita sedang mulai memperlihatkan ciri-ciri klinis seperti mongoloid, kepala besar, kepala kecil, dan lain-lain. Sedangkan anak yang tunagrahita ringan memperlihatkan ciri-ciri: sukar memulai dan melanjutkan sesuatu, mengerjakan selalu berulang-ulang tetapi tidak ada variasi, penglihatan tampak kosong, melamun, ekspresi muka tanpa ada pengertian. Selanjutnya tunagrahita ringan (yang cepat) memperlihatkan ciri-ciri: mereaksi cepat tetapi tidak tepat, tampak aktif sehingga memberi kesan anak ini
pintar, pemusatan perhatian sedikit, hiperaktif, bermain dengan tangannya sendiri, cepat bergerak tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
3) Masa Sekolah
Ciri-ciri yang dimunculkan saat masuk masa sekolah adalah:
• Adanya kesulitan belajar hampir pada semua mata
pelajaran (membaca, menulis, dan berhitung). • Prestasi yang kurang.
• Kebiasaan kerja tidak baik. • Perhatian yang mudah beralih. • Kemampuan motorik yang kurang. • Perkembangan bahasa yang jelek. • Kesulitan menyesuaikan diri.
4) Masa Puber
Perubahan yang dimiliki remaja tunagrahita sama halnya dengan remaja biasa. Pertumbuhan fisik berkembang normal, tetapi perkembangan berpikir dan kepribadiannya di bawah usianya. Akibatnya sulit bergaul dan mengendalikan diri.
Dapat kita simpulkan bahwa anak yang lamban dalam mempelajari hal-hal baru, kemampuan bicaranya kurang, perhatian yang tidak fokus, tidak bisa mengurus
dirinya sendiri, cacat fisik dan perkembangan gerak, dan tingkah laku yang kurang wajar merupakan beberapa karakteristik anak tunagrahita.