• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis

3. Hakikat Belajar a. Pengertian Belajar a.Pengertian Belajar

Belajar merupakan key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada

pendidikan. Dalam konteks psikologi pembelajaran, pengertian tentang belajar sangat beragam karena dipeengaruhi oleh teori yang melandasi rumusan belajar itu sendiri. Dalam perspektif psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Belajar adalah “suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antar seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan dan atau sikapnya”. 19

Skinner yang dikutip Barlow dalam Syah berpendapat “bahwa belajar merupakan sebuah proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku dari seseorang , dan sifatnya progresif”.20

Pupuh Fathurrahman “mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif”.21

Menurut Morgan “belajar adalah suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.”22

Berdasarkan paparan tersebut, belajar merupakan kegiatan yang kompleks dan dapat menghasilkan suatu kapabilitas berupa keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Kapabilitas dapat terbentuk karena adanya stimulus dari lingkungan dan adanya proses kognitif.

Pada teori belajar psikologi Behavioris, menurut teori Conditioning, “belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (respons)” . untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu, yang terpenting pada teori ini adalah adanya latihan-latihan yang terus menerus. Sedangkan menurut Hull pada Teori Systematic Behavior mengemukakan

19

Azhar Arsyad, media pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2007), hal. 1 20

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan: dengan pendekatan baru, cet.15 (Bandung:Remaja Rosdakarya,2010), hal. 88

21

Pupuh Fathurrahman dan Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: PT. RefikaAditama, 2007), hal. 5

22Ibid , hal.14

pendapatnya bahwa “efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon-respon yang dibuat individu itu”.23

Menurut teori ilmu jiwa Gestalt “belajar itu bukan proses asosiasi antara stimulus dan respon yang diperkuat dengan koneksi-koneksi atau conditioning

melalui latihan-latihan atau ulangan-ulangan, tetapi belajar menurut teori ini belajar itu terjadi jika ada pemahaman (isight)”.24

Transfer belajar berkenaan dengan adanya konsep yang telah diorganiasikan dalam struktur kogntif siswa. Transfer belajar dapat tercapai bila peserta didik berhasil menguasai pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan dan keterampilan tresebut diperoleh dari pengalaman belajar. Adapun teori-teori tentang transfer belajar adalah sebagai berikut:

1) Teori Disiplin Formal(The Formal Discipline Theory)

Teori ini menyatakan, bahwa ingatan, sikap, pertimbangan, imajinasi, dan sebagainya dapat diperkuat melalui latihan-latihan akademis. Mata pelajaran-mata pelajaran seperti geometri dan bahasa latin sangat penting dalam melatih daya pikir seseorang. Demikian pula halnya dengan daya pikir kritis, ingatan, pengamatan, dan sebagainya dapat dikembangkan melalui latihan-latihan studi

2) Teori Unsur-Unsur yang Identik (The Identical Elements Theory)

Transfer terjadi apabila diantara dua situasi atau dua kegiatan terdapat unsu-unsur yang bersamaan (identik). Latihan didalam satu situasi mempengaruhi perbuatan tingkah laku dalam situasi yang lainnya. Teori ini banyak digunakan dalam khusus latihan jabatan, dimana kepada siswa diberikan respon-respon yang diharapkan diterapkan dalam situasi yang sebenarnya. Para ahli psikologi, banyak menekankan pada persepsi para siswa terhadap unsur-unsur yang identik ini

23

Ngalim Purwanto, psikologi Pendidikan.(Bandung: Remaja Rosdakarya,2003) hal 84 24

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan berdasarkan Kurikulum Nasional Ilmu Fakultas Tarbiyah. (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,2007), hal.72

3) Teori Generalisasi (The Generalization Theory)

Teori ini merupakan revisi terhadap teori unsur-unsur yang identik. Tetapi generalisasi menekankan pada kompleksitas dari apa yang dipelajari. Internalisasi daripada pengertian-pengertian, keterampilan, sikap-sikap, dan apresiasi dapat mempengaruhi kelakuan seseorang. Teori ini menekankan pada pembentukan pengertian (consept formation) yang dihubungkan dengan pengalaman lain. Tranfer terjadi apabila siswa menguasai pengertian-pengertian umum atau kesimpulan-kesimpulan umum, lebih daripada unsur-unsur yang identik.”25

Dalam belajar yang penting adalah proses bukan hasil yang diperolehnya. Artinya, belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri, adapun peran orang lain hanya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar agar belajar itu dapat berhasil dengan baik. Ketika seorang anak mendapatkan hasil tes yang bagus tidak dapat dikatakan sebagai belajar apabila hasil tesnya itu didapatkan dengan cara yang tidak benar, misalnya hasil nyontek. Dengan demikian perlu melihat prinsip-prinsip belajar yang meliputi: 26

1) Perhatian dan motivasi 2) Keaktifan

3) Keterlibatan langsung atau pengalaman 4) Pengulangan

5) Tantangan

6) Balikan dan penguatan 7) Perbedaan individual b. Pengertian Hasil Belajar

Pengertian belajar sangat kompleks, sehingga tidak bisa didefinisikan secara pasti. Definisi dari hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yang memiliki arti yang berbeda, yaitu “hasil” dan “belajar”. Menurut Alisuf Sabri, “hasil belajar adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,

25

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), cet.Ke-1, hal. 34

26

diciptakan, baik secara individu maupun kelompok melalui usaha mendengar, membaca, mengamati, meniru dan mencoba dengan pengalaman atau latihan”27

Menurut Wittig, yang dikutip oleh Muhibbin Syah mendefinisikan “belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.”28

Menurut Djamarah, “hasil belajar adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun kelompok”29

hasil belajar menurut Gagne seperti yang dikutip oleh W.S Winkel, “dapat dikaitkan dengan terjadinya perubahan kepandaian hasil belajar yang bertahap itu diwujudkan dalam lima kategori hasil belajar, yaitu informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan psikomotorik dan sikap”30

Lima kemampuan itu lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:

1. Kemampuan intelektual (Intelectual Skill), kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membedakan, mengabstraksikan suatu objek, menghubung-hubungkan konsep dan dapt menghasilkan suatu pengertian, serta memecahkan suatu permasalahan.

2. Strategi kognitif (Cognitif Strategic), yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengarahkan aktifitas mentalnya sendiri dalam memecahkan persoalan yang dihadapi.

3. Informasi Verbal (Verbal Information), yaitu kemampuan seseorang untuk menuangkan dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tulisan.

4. Kemampuan Motorik, yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang berupa kecenderungan untuk menerima dan menolak suatu objek berdasarkan penelitian atas objekl tersebut.

5. Sikap, 31

27Alisuf Sabri, “Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional” (Jakarta:

Pedoman Ilmu Jaya,2010), cet ke-4, hal.55 28

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,(Jakarta:PT,Grafindo Persada,2004), cet,3,hal.65 29

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar MengaJar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hal 22

30

W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta: Media Abdi, 2007) Cet ke-10, hal 111-117

31

Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, dan Burhanudin Milama, Evaluasi PembelajaranIPA berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006)hal 18-19

Adanya tahap atau fase belajar tersebut mempermudah guru untuk melakukan pembelajaran. Dalam rangka pembelajaran maka guru dapat menyusun acara pembelajaran yang cocok dengan tahap dan fase-fase belajar.

Piaget berpendapat bahwa, “pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan maka, fungsi intelek semakin berkembang.”32

Sudjana menerangkan “bahwa hasil belajar merupakan bertambahnya kemampuan siswa sesudah memperoleh pengalaman dari kegiatan belajar.”33

Sukmadinata menambahkan “bahwa hasil belajar merupakan realisasi pengembangan kemampuan yang dimiliki oleh seorang siswa. Penguasaan hasil belajar dapat ditunjukkan dari perubahan perilakunya, baik dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan motorik, serta sikap siswa”.34

Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses pembelajaran yang optimal cenderung mewujudkan hasil yang berciri sebagai berikut:

1. kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik pada diri siswa

2. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. 3. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya

4. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh (komperehensif) 5. Kemampuan siswa untuk mengontrol/menilai dan mengendalikan

dirinya terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai mengendalikan proses dan usaha belajarnya.35

Adapun hasil belajar yang dimaksud disini adalah sesuatu yang diketahui, diperoleh atau didapat setelah melalui proses belajar, baik karena ada guru yang mengajar ataupun siswa sendiri yang memanfaatkan lingkungannya untuk belajar.

32

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran,(Jakarta: Rineka Cipta,2009), cet, ke empat hal. 13

33

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cet.14, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2009), hal. 22

34

Nana Syaodih Sukmadinata, landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2007),hal. 102

35

Hasil belajar yang dicapai oleh seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Secara garis besar ada tiga macam faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa:

1) Faktor stimuli belajar, yakni segala hal diluar individu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar.

2) Faktor metode belajar, yakni metode mengajar yang dipakai oleh gurusangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai oleh siswa. 3) Faktor individual, yakni faktor yang ada dalam diri siswa itu

sendiri”.36

Sedangkan, Dimyati dan Mudjiono mengatakan, “hasil belajar menekankan kepada diperolehnya informasi tentang seberapakah perolehan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan.”37

Dari berbagai definisi yang telah diuraikan di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkahlaku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian itu perlu diutarakan sekali lagi bahwa perubahan tingkahlaku yang timbul akibat proses kematangan, gangguan kejiwaan, mabuk, dan emosional tidak dapat dikatakan sebagai proses belajar. Perubahan tingkahlaku tersebut dapat berupa memperoleh perilaku yang baru atau memperbaiki/meningkatkan perilaku yang sudah ada dan dapat berupa yang bersifat sementara atau tiba-tiba terjadi kemudian menghilang. Perubahan itu dapat melalui mendengar, membaca, mengikuti petunjuk, mengamati, memikirkan, meniru, melatih, dan mencoba sendiri atau berarti dengan pengalaman. Tingkahlaku yang mengalami perubahan menyangkut semua aspek kepribadian/tingkahlaku seseorang, pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kebiasaan, sikap dan aspek lainnya.

36

Abu Ahmadi, dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, ( Jakarta: Rineka Cipta,1991), hal 131-137

37

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran,(Jakarta: PT.Asdi Mahasatya,2002) hal, 190

c. Faktor-faktor yang memengaruhi Hasil belajar

Dari beberapa ahli pendidikan atau pengamat pendidikan banyak sekali yang mempunyai pendapat tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Ini terlihat dari beberapa ahli pendidikan yang mempunyai beberapa pendapat yang hampir sama ada juga yang sedikit berbeda, tetapi penulis berpandangan faktor-faktor yang berbeda dari beberapa ahli adalah faktor-faktor yang saling melengkapi karena tiap ahli berpendapat sesuai dengan keadaan pendidikan pada masa yang diamati para ahli pendidikan tersebut.

Aminuddin menggolongkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar terdiri dari ”faktor endogen antara lain seperti minta belajar, kesehatan, perhatian, ketenangan jiwa diwaktu belajar, motivasi, kegairahan diri, cita-cita, kebugaran jasmani, kepekaan alat-alat indra dalam belajar. Dan faktor eksogen, yang mempengaruhi keberhasilan hasil belajar peserta didik antara lain seperti keadaan lingkungan belajar (susana kelas), cuaca, letak sekolah (ditempat ramai atau tidak), faktor interaksi peserta didik dengan pendidikannya”.38

Beberapa faktor yang disebutkan di atas dapat terlihat pada saat ini seperti pada faktor eksogen antara lain seperti keadaan lingkungan sekitar tempat siswa belajar (sekolah) tidak sedikit sekolah yang lokasi bangunannya dekat dengan kegiatan-kegiatan publik atau masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya seperti sekolah yang dekat dengan pasar atau pusat-pusat perbelanjaan (mall), pusat permainan anak, jalan raya, terminal yang ada disekitar sekolah, akibatnya siswa sering tidak konsentrasi dalam proses belajar mengajar dan yang terparah banyak siswa yang membolos pada saat proses kegiatan belajar mengajar sedang berjalan, terlihatnya siswa yang kedapatan ditempat umum seperti pada mall, tempat bermain, mengindikasikan bahwa suasana sekolah yang kurang kondusif bagi siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar- mengajar.

Cuaca pun salah satu dari beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi

38

Aminuddin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran (Jakarta:Uhamka Press)cet. Ke 4. hal. 103

hasil belajar siswa jika pada suatu wilayah cuaca tersebut berpotensi panas. Seperti cuaca yang ada di daerah yang banyak menghasilkan minyak bumi, juga berdiri gedung-gedung sekolah, suasana belajar pun gerah. Adapun sebagai solusi bila keadaan dana memungkinkan sekolah dapat mengatasinya dengan pendingin ruangan atau penyejuk ruangan berupa kipas angin atau AC (Air Conditioning).

Sebaliknya juga apabila disuatu wilayah tertentu cuaca memang berpotensi dingin, sebagai solusi dengan memakai jaket penghangat pada saat belajar.

Faktor eksternal lainnya adalah faktor motivasi. Zikri Neni Iska berpendapat bahwa, ”Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan”.39 Motivasi sangat penting bagi anak dalam menunjang keberhasilan belajarnya.

Siswa yang mengalami Proses belajar, agar berhasil sesuai dengan tujuan yang harus dicapainya, perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar.

Faktor eksternal dapat dijelaskan lebih luas. Hal ini dapat dilihat dari pendapat para tokoh yang saling melengkapi dalam menyebutkan faktor eksternal yang disebutkan diatas, ternyata banyak faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Disamping faktor eksternal yang bersifat fisik tersebut diatas, banyak juga yang lain yang dapat dikelompokan sebagai berikut seperti: yang datang dari sekolah (interaksi guru dan murid, cara penyajian dalam belajar, hubungan antar murid, standar pelajaran diatas ukuran, media pendidikan, kurikulum, keadaan gedung, waktu sekolah, pelaksanaan disiplin, metode belajar, tugas rumah), yang datang dari masyarakat (media massa, teman bergaul, kegiatan lain, cara hidup lingkungan), dan yang datang dari keluarga (cara mendidik, suasana keluarga, pengertian atau pemahaman orang tua, keadaan sosial ekonomi keluarga, dan latar belakang kebudayaan atau kebiasaan dalam keluarga.

Martinis Yamin berpendapat ”Suatu permasalahan yang dihadapi lembaga pendidikan di Indonesia yang juga merupakan faktor eksternal yang lain adalah

39

belum terpecahkan adalah besarnya ukuran kelas”.40 Pada umumnya sekolah-sekolah yang memiliki kelas-kelas berukuran besar yang dapat menampung siswa dalam jumlah yang banyak, tetapi sebenarnya kurang ideal dalam menunjang suasana kegiatan belajar mengajar.

4. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach)

Dokumen terkait