• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N. Sistematika Penulisan

4. Hakikat Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Oemar (dalam Sam’s, 2010: 31) mengemukakan belajar secara

adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Galloway (dalam

Sam’s, 2010: 32) mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah

laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman. Seseorang belajar pada dasarnya didorong oleh keinginannya untuk mengembangkan perilakunya yang efektif dan efisien dalam mencapai tujuan. Berdasarkan pendapat para ahli diatas belajar merupakan adanya perubahan perkembangan pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku sebagai haasil dari pengalaman dalam proses belajar. Jadi, jika ada perubahan pada diri seseorang setelah mengalami proses pembelajaran maka orang tersebut telah dikatakan belajar.

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan

(Suprijono, 2011: 5). Gagne dan Briggs (dalam Sam’s, 2010: 34)

mendefinisikan hasil belajar sebagai kemampuan yang diperoleh seseorang sesudah mengikuti proses belajar. Supardi (2013: 22) mengemukakan hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Berdasarkan beberapa definisi diatas hasil belajar adalah perubahan kemampuan yang diperoleh dari proses pembelajaran

Bloom (1979) (dalam Suprijono, 2011:7) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension

(pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), apllication

(menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan),

synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan

baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving

(sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai),

organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotorik juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual.

b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Slameto (1991: 56) menyatakan faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. 1) Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang

sedang belajar dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. a) Faktor Jasmani (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun

yang diperoleh. Misal faktor kesehatan dan cacat tubuh; dan b) Faktor Psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang

diperoleh. Misal inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan (Slameto, 1991: 56-61).

2) Faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu.

Slameto (1991: 62-74) menyebutkan faktor eksternal yang memengaruhi hasil belajar meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

a) Faktor Keluarga, misal cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan;

b) Faktor Sekolah, misal metode mengajar yang digunakan guru, kurikulum sekolah, relasi guru dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran yang digunakan, keadaan gedung, dan tugas rumah siswa;

c) Faktor Masyarakat, misal kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media (radio, televisi, surat kabar, majalah, koran, buku, dan komik), teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

Syah (2003) (dalam Baharuddin, 2008: 26) menjelaskan faktor eksternal yang memengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.

a) Faktor lingkungan sosial. Misal lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat; dan

b) Faktor lingkungan non sosial. Misal lingkungan alamiah seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin; faktor instrumental seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar dan lapangan olahraga; dan faktor materi pelajaran yang diajarkan ke siswa.

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor intern maupun faktor ekstern yang diantaranya adalah faktor perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berpikir, bakat, dan lain seagainya. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi proses terjadinya belajar mengajar pada siswa sehingga itu perlu adanya perhatian yang sangat mendalam dari guru untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

c. Penilaian Hasil Belajar

Djamarah (2002: 120-121) mengungkapkan, bahwa untuk mengukur dan mengevaluasi hasil belajar siswa tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkunya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian, yaitu tes formatif, tes subsumatif, dan tes sumatif.

1) Tes Formatif, penilaian ini dapat mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam waktu tertentu;

2) Tes Subsumatif, tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar atau hasil belajar siswa.

Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor; dan

3) Tes Sumatif, tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, satu atau dua bahan pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tarap atau tingkat keberhasilan belajar siswa dalam satu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (rangking) atau sebagai ukuran mutu sekolah.

d. Alat-Alat Penilaian Hasil Belajar

Arikunto (2002) (dalam Sudaryono, 2012: 102) menyatakan bahwa alat-alat yang digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar adalah tes. Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan- pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa. Tes dikategorikan menjadi dua, yaitu tes subjektif dan tes objektif.

1) Tes Subjektif adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendisukusikan, membandingkan, memberi alasan, dan bentuk lain yang sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Kelebihan dari tes subjektif yaitu:

b) Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan;

c) Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat; dan

d) Mengetahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan.

Sudaryono (2012: 102-103) menyatakan kekurangan tes subjektif yaitu:

a) Kadar validitas dan reliabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai;

b) Kurang representatif dalam mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soal terbatas;

c) Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif;

d) Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai; dan

e) Waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakili kepada orang lain.

2) Tes Objektif merupakan tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif memiliki kelebihan yaitu: a) Lebih banyak mengandung segi-segi positif;

b) Lebih mudah dan cepat cara pemeriksaannya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat kemajuan teknologi;

c) Pemeriksaannya dapat diserahkan orang lain; dan

d) Pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi. Kekurangan tes subjektif yaitu:

a) Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit daripada tes essai; b) Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan

proses mental yang tinggi;

c) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan; dan

d) Kerjasama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.

Tes objektif dibagi lagi menjadi beberapa bentuk soal, yaitu: bentuk soal jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan pilihan ganda (Arikunto, 2016: 181-190).

a) Bentuk soal benar-salah;

Bentuk soal benar-salah adalah bentuk tes yang soal- soalnya berupa pernyataan yang benar dan sebagian lagi berupa pernyataan yang salah. Pada umumnya bentuk soal benar-salah dapat dipakai untuk mengukur pengetahuan siswa tentang fakta, definisi dan prinsip. Kekurangan bentuk soal ini adalah kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi karena hanya menuntut daya

ingat dan pengenalan kembali. Selain itu juga banyak permasalahan yang dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar dan salah.

b) Bentuk soal pilihan ganda

Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat. Jika dilihat dari strukturnya, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas: stem merupakan bagian keterangan dan option merupakan sejumlah pilihan atau aternatif jawaban. Alternatif jawaban terbagi menjadi dua, yaitu kunci merupakan jawaban benar yang paling tepat sedangkan pengecoh (distractor) merupakan jawaban lain selain kunci jawaban. Kelebihan penggunaan bentuk soal pilihan ganda adalah materi yang diujikan mencakup sebagian besar bahan pengajaran yang telah diberikan, jawaban siswa dapat mudah dan cepat dinilai dengan menggunakan kunci jawaban. Bentuk soal pilihan ganda ini proses berfikir siswa tidak dapat dilihat dengan nyata.

c) Bentuk soal menjodohkan (Matching Test); dan

Matching test dapat diganti dengan istilah

mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan atau menjodohkan. Bentuk yang paling sederhana, jumlah soal sama dengan jumlah jawaban. Bentuk soal menjodohkan

hanya dapat mengukur hal-hal yang didasarkan atas fakta dan hafalan. Kekurangan lain adalah bentuk soal ini sukar menentukan materi atau pokok bahasan yang mengukur hal- hal yang berhubungan.

d) Bentuk soal jawaban singkat.

Bentuk soal jawaban singkat adalah yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban singkat, berupa kata prase, nama tempat, nama tokoh, lambang, atau kalimat yang sudah pasti.

Kelemahan bentuk soal ini adalah jawaban yang diberikan siswa dapat bersifat ambigu sehingga pemeriksa kesulitan melakukan penilaian. Hal ini dapat mengarahkan pemeriksa memberikan penilaian secara subjektif.

e. Indikator Hasil Belajar Siswa

Djamarah (2002: 120) indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap. Indikator utama hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:

1) Ketercapaian daya serap terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan, baik secara individual maupun kelompok. Pengukuran ketercapaian daya serap ini biasanya dilakukan dengan penetapan KKM; dan

2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.

5. Hakikat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Dokumen terkait