BAB IV. KATEKESE SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN DIALOG
B. Hakikat dan Tujuan Katekese yang Dialogis
1. Hakikat Katekese yang Dialogis
Dalam Kitab Suci terdapat sejumlah kata katekese. Arti asli katekese adalah membuat bergema, menyebabkan sesuatu bergaung. Kata katekese ditemukan dalam Luk 1:4 (diajarkan), Kis 18:25 (pengajaran dalam Jalan Tuhan), Kis 21:21 (mengajar), Rm 2:18 (diajar), 1 Kor 14:19 (mengajar), dan Gal 6:6 (pengajaran). Dalam konteks ini katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman (Telaumbanua, 1997: 2).
Dalam CT, art. 18, Paus Yohanes Paulus II mendefenisikan katekese sebagai: … pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara sistematik dan organis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen.
Dengan kata lain: katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati, dan mewujud-nyatakan imannya dalam hidup sehari-hari. Dalam rumusan ini ada tiga kata kunci yang ditekankan yaitu:
pembinaan iman, penyampaian ajaran Kristen secara organis dan sistematis, serta pemenuhan hidup Kristen.
PKKI II (Lalu, 2005: 5) mendefenisikan katekese sebagai suatu komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antar anggota jemaat atau kelompok. Dengan komunikasi iman para peserta katekese saling meneguhkan dan menguatkan menuju perkembangan hidup. Katekese umat berpusat pada hidup umat: dari, oleh, dan untuk umat. Karena itu, katekese bersifat komprehensif dalam arti mencakup semua unsur hidup dan kegiatan umat. Di lain pihak, katekese juga diartikan sebagai salah satu tugas pastoral Gereja dalam bidang pewartaan. DCG, art. 21 menyatakan bahwa katekese menjadi bentuk pelayanan Sabda yang dilakukan Gereja untuk membantu manusia menghidupkan dan memperkembangkan imannya akan Yesus Kristus sehingga menjadi iman yang matang, sadar secara aktif dalam hidup menggereja dan memasyarakat melalui komunikasi iman antar pribadi dalam persekutuan. Adisusanto (2000: 1) mengatakan bahwa katekese sebagai pendidikan iman merupakan salah satu bentuk pewartaan Gereja yang bertujuan membantu orang beriman agar makin mendalam dan makin terlibat dalam dinamika hidup menggereja dan memasyarakat baik secara pribadi maupun kelompok.
Pada pekan studi kateketik internasional di Medellin tahun 1968 ditegaskan bahwa kecuali menghadapi tantangan sekularisasi, perubahan pola hidup, dan keadaan masyarakat yang semakin majemuk, katekese juga dituntut supaya memperhatikan dimensi sosial politik hidup manusia sekarang. Solidaritas dan keberpihakan pada kaum miskin dan menderita merupakan pilihan yang harus ditawarkan kepada mereka semua yang terlibat aktif dalam katekese. Katekese yang sungguh-sungguh berfungsi sebagai pewartaan dan pendidikan iman juga akan
mampu melaksanakan peranannya dalam menumbuhkan kepekaan sosial. Dengan kata lain, katekese yang dilaksanakan perlu membina orang beriman, terutama kaum awam agar mereka aktif melibatkan diri dalam persoalan-persoalan sosial, politis, ekonomi, demi perkembangan dan kemajuan masyarakat terutama mereka yang sangat membutuhkan bantuan.
Pada pertemuan yang pertama pada tahun 1970 di Manila (Michel, 2004: 5), para uskup Katolik di Asia mencatat tiga unsur dari kenyataan di Asia sebagai konteks kemasyarakatan tempat di mana iman Kristiani harus dihayati. Pertama, umat Katolik di Asia hidup di tengah-tengah jutaan penganut keyakinan dari agama-agama lain. Kedua, umat Katolik merupakan bagian dari kebudayaan-kebudayaan Asia yang kuno dan kaya yang mereka warisi dan perlu mereka pelihara. Ketiga, umat Katolik hidup dalam aneka ragam masyarakat, tempat di mana kemiskinan yang menghancurkan dan menindas masih merupakan nasib sehari-hari dari kebanyakan rakyat. Dengan demikian, perutusan dari gereja-gereja Asia menurut para uskup adalah harus merupakan tugas berdialog antara Injil – umat dari Injil itu – dengan tiga kenyataan tersebut. Atau dapat dikatakan bahwa Gereja Asia melaksanakan tugas perutusannya dalam tiga matra dialog yakni, dialog antar-agama, dialog antar-budaya, dan dialog dengan kaum miskin dan mereka yang tersingkirkan.
Yesus Kristus dalam pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah selalu berdialog dengan konteks masyarakat dan para pendengar-Nya. Yesus mempergunakan perumpamaan, cerita, ajaran, serta berbagai hal yang muncul dan berkembang dalam masyarakat saat itu. Yesus peka terhadap situasi sosial, politik, ketidakadilan, dan penindasan di zaman-Nya. Kritik-Nya yang tajam terhadap para ahli-ahli taurat dan
orang-orang yang suka menelan rumah janda dan menodai Bait Allah dalam Luk 20:45-47 merupakan contoh-contoh yang jelas.
Pewartaan Yesus ini merupakan pewartaan yang dialogis dan transformatif, mengubah dan membebaskan hidup. Zakheus kepala pemungut cukai bertobat setelah disapa oleh Yesus (Luk 19:1-10). Pewartaan dialogis yang diwartakan Yesus membawa suatu tranformasi seperti yang diungkapkan dalam Mat 11:5 “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”.
Seperti yang telah diungkapkan oleh penulis pada bab-bab sebelumnya bahwa dialog antar umat beriman adalah aksi bersama untuk mewujudkan cinta kasih Kerajaan Allah di dunia. Dialog antar umat beriman merupakan suatu komunikasi umat beriman di mana tanpa melihat perbedaan-perbedaan yang ada, seluruh umat beriman berjuang bersama mewujudkan suatu transformasi ke arah yang lebih baik. Dengan demikian hakikat katekese yang dialogis adalah suatu komunikasi antar umat beriman yang bersifat dialogis transformatif, memperjuangkan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dunia.
Katekese yang dialogis dan transformatif berarti bahwa dalam pelaksanaannya harus melalui dialog, bukan dengan jalan indoktrinasi serta berorientasi pada terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dunia. Dialog yang terjadi dalam katekese hendaknya bersifat multi arah, antara peserta dengan pendamping dan yang lebih penting lagi adalah dialog antar sesama peserta. Kesediaan untuk berdialog nampak dalam keterbukaan untuk mendengar, kerendahan hati untuk belajar dan menerima masukan orang lain, dan bersedia untuk mengemukakan pendapat dan pengalaman imannya. Katekese yang dialogis akan
sungguh mempunyai arti bagi perkembangan hidup bersama bila mengarah pada gerakan bersama yang bersifat transformatif, suatu gerakan atau aksi bersama untuk mengubah situasi yang ada menjadi lebih baik. Situasi menjadi lebih baik kalau ketidakadilan sosial, kemiskinan, penderitaan, dapat dihapuskan atau dikurangi; kalau perdamaian diperjuangkan, lingkungan hidup dilindungi dari ancaman kehancuran dan dipelihara menjadi lingkungan bagi kehidupan bersama yang lebih manusiawi.