BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Konseptual
2.1.3 Hakikat Orang Tua
2.1.3.3 Faktor yang Mempengaruhi Orang Tua dalam Membimbing
Menurut Valeza (2017: 32-39) ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang tua dalam melakukan bimbingan belajar pada anak di rumah, diantaranya yaitu:
1) Latar Belakang Pendidikan Orang Tua
Pada umumnya, orang tua yang berpendidikan tinggi berbeda dengan orang tua yang berpendidikan rendah atau dengan yang tidak berpendidikan sama sekali dalam melaksanakan kewajibannya terhadap anak. Sebab orang tua yang tinggi pendidikannya tentu luas pengetahuan, pengalaman, dan pandangannya sehingga dalam menghadapi persoalan lebih bijaksana.
28
Orang tua yang demikian beranggapan bahwa pendidikan itu sangat penting arti dan pengaruhnya bagi anak-anaknya dan sebaliknya. Bagi orang tua yang berpendidikan rendah, kebanyakan mereka beranggapan bahwa pendidikan kurang penting artinya bagi ank-anaknya, sehingga mengakibatkan kurang perhatian mereka terhadap pendidikan anak-anak mereka. Meskipun, tidak menutup kemungkinan bagi orang tua yang berpendidikan rendah. Hal ini tergantung pada sampai di mana kesadaran masing-masing orang tua terhadap pentingnya arti pendidikan bagi kelangsungan hidup seseorang.
2) Tingkat Ekonomi Orang Tua
Keadaan ekonomi orang tua sangat mempengaruhi keberadaan bimbingan terhadap anak-anaknya. Hal tersebut tidak dapat diberlakukan kepada semua orang tua.
Tetapi, pada umumnya orang tua yang mempunyai ekonomi mapan akan lebih banyak memperhatikan dan membimbing anaknya dalam belajar. Hal tersebut memungkinkan orang tua yang bersangkutan memenuhi fasilitas belajar yang dibutuhkan oleh anak-anaknya dalam belajar. Di samping itu, ekonomi yang mapan memungkinkan orang tua untuk berkonsentrasi dalam memberikan bimbingan terhadap anak-anaknya dalam belajar, karena tidak perlu merasa terganggu oleh adanya desakan untuk mencari nafkah/pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meskipun demikian, tidak sedikit orang tua yang walaupun termasuk pada kategori pas-pasan, namun pada kenyataannya lebih banyak punya kesempatan dalam membimbing belajar anak-anak di rumah. Orang tua yang demikian, tidak perlu menunggu kondisi atau keadaan
29
ekonomi harus mapan, namun mereka yang terpenting adalah bagaimana memenuhi kebutuhan anak akan bimbingan dalam belajarnya di rumah, walaupun dari segi pemenuhan fasilitas belajar anak belum tepenuhi, sebab terkadang anak memerlukan sarana belajar yang cukup mahal dan tidak terjangkau.
3) Jenis Pekerjaan Orang Tua
Waktu dan kesempatan orang tua untuk mendidik anak-anaknya, biasanya mempunyai keterkaitan dengan pekerjaan orang tua. Orang tua mempunyai pekerjaan yang berbeda-beda, sehigga ada orang tua yang dapat membagi waktu dengan baik dan ada pula yang selalu merasa dikejar-kejar oleh waktu.
4) Waktu yang Tersedia
Sesibuk apapun orang tua dengan berbagai kegiatan, semestinya tetap meluangkan waktu untuk dapat berkomunikasi dan memberikan bimbingan dalam berbagai hal, terutama dalam bimbingan belajar di rumah.
Pada waktu yang demikian kepada mereka diberikan bimbingan, pengarahan, dan nasehat yang bertujuan supaya mereka meningkatkan kegairahan dan cara belajarnya di sekolah, karena baik buruknya prestasi yang dicapai oleh anak di sekolah akan memberikan pengaruh kepadanya dalam perkembangan pendidikan dan kehidupannya buat selanjutnya.
5) Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga juga mempengaruhi orang tua dalam meberikan bimbingan kepada anak dalam belajar di rumah. jumlah anggota keluarga yang terlalu banyak dalam sebuah rumah menjadi gaduh, sehingga sulit
30
bagi anak untuk belajar dan berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang dipelajarinya.
2.1.3.3.4 Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Daring
Terdapat empat peran orang tua selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran daring menurut (Cahyati, 2020: 155) yaitu:
1) Orang tua memiliki peran sebagai guru di rumah, yang di mana orang tua dapat membimbing anaknya dalam belajar jarak jauh dari rumah.
2) Orang tua sebagai fasilitator, yaitu orang tua sebagai sarana dan prasarana bagi anaknya dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh.
3) Orang tua sebagai motivator, yaitu orang tua dapat memberikan semangat serta dukungan kepada anaknya dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga anak memiliki semangat untuk belajar serta memperoleh prestasi yang baik.
4) Orang tua sebagai pengaruh, yaitu orang tua mempunyai peran untuk selalu membimbing anaknya agar dapat mencapai keberhasilan di masa yang akan datang.
Orang tua juga berperan untuk mengarahkan anak sesuai bakat dan minat yang dimiliki oleh masing-masing anak. Hal ini dikarenakan anak mempunyai bakat yang beda-beda. Anak memiliki hak untuk mewujudkan cita-citanya. Anak harus selalu diingatkan agar tidak larut dalam situasi libur sekolah yang tidak menentu seperti saat ini.
31 2.2 Kajian Penelitian Relevan
Penelitian relevan berisi tentang uraian mengenai hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji. Sebagai penunjang dalam penelitian ini berikut adalah beberapa penelitian relevan yang pernah dilakukan oleh peneliti lain, penelitian pertama dilakukan oleh Suid, dkk (2017) melakukan penelitian tentang analisis kemandirian siswa. Subjek dalam penelitian ini adalah 1 orang guru Lesson Study dan siswa kelas III SD Negeri 1 Banda Aceh yang berjumlah 28 orang yang terdiri dari 14 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Banda Aceh pada semester ganjil tahun ajaran 2016/2017. Pengumpulan data dengan teknik observasi. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsung aktivitas siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan aktivitas siswa dan lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Teknik analisis data melalui reduksi data, menyajikan data, dan mengambil kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa indikator percaya diri memiliki skor 3,75 dengan kategori baik, mampu bekerja sendiri dan menghargai waktu memiliki skor 3 dengan kategori baik, serta bertanggung jawab memiliki skor 2,5 dengan kategori cukup. Jadi dapat di deskripsikan bahwa dalam mengembangkan sikap kemandirian siswa hendaknya guru dapat meningkatkan semua aspek sikap kemandirian, khususnya pada sikap bertanggung jawab dan mengambil keputusan. Pengembangan kemandirian pada siswa dapat dilakukan dengan mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan di dalam kegiatan sekolah, memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan, mendorong siswa untuk rasa ingin tahu, tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lainnya, menjalin hubungan yang baik dan akrab dengan anak.
32
Penelitian kedua dilakukan oleh Penelitian lain juga dilakukan oleh Hidayat, dkk (2020). Dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang pengukurannya menunjukkan bahwa responden memiliki kemandirian yang cenderung rendah (rerata = 2.78/St.Dev. 0.289 dalam skala 5) dan komponen yang terendah adalah tanggung jawab dan inisiatif belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa para pemelajar (siswa/mahasiswa) belum cukup siap untuk belajar secara daring, penyebabnya adalah karena kebiasaan belajar, dan teknologi yang kurang mendukung.
Penelitian ketiga dilakukan oleh Tresnaningsih, dkk (2019). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti untuk mengetahui kemandirian belajar siswa dengan observasi (pengamatan) dan angket. Observasi dilakukan kepada siswa untuk melihat kemandirian belajar siswa dari indikator kemandirian belajar di SDN Karang Jalak 1. Angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup, dengan jumlah pernyataan sebanyak 27. Langkah menyusun kisi-kisi dengan mendefinisikan secara operasional variabel-variabel yang akan diteliti, kemudian masing-masing variabel dijabarkan dalam indikator-indikator yang ditunjukan dengan 27 pernyataan dari semua indikator. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat melalui observasi dan angket dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar siswa kelas III di SDN Karang Jalak 1 berkembang dengan baik dengan rentang nilai 68,3. Kemandirian belajar yang diukur meliputi percaya diri, bertanggung jawab, mampu bekerja sendiri, mampu mengambil keputusan, memiliki hasrat bersaing maju, disiplin dan aktif dalam belajar.
Ketujuh indikator tersebut berada dalam kriteria baik terkecuali indikator mampu mengambil keputusan masuk dalam kriteria cukup baik. Dengan demikian, mengacu pada hasil penelitian ini guru dapat merancang pola pembelajaran yang dapat meningkatkan sikap kemandirian.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti menjadi tertarik melakukan penelitian untuk mengetahi kemandirian belajar daring siswa SD di Desa
33
Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara di masa pandemi Covid-19.
Untuk lebih jelasnya berikut peneiti sajikan dalam bentuk tabel persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti lakukan.
Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Relevan
No. Peneliti Judul Persamaan Perbedaan 1. Suid, Alfiati
2. Dede Rahmat Kemandirian Penelitan yang Penelitian
34
35
siswa kelas III
2.3 Kerangka Teori
Penggunaan teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori Asrori (2016:114), kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui sebuah proses realisasi kedirian dan menuju kesempurnaan. Kemandirian adalah suatu proses yang akan terus berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Sedangkan Menurut Risnawati (2016:168), kemandirian belajar mulai dikenal karena adanya penekanan otonomi dan tanggung jawab siswa utuk bertanggung jawab pada kegiatan belajarnya sendiri. Kemandirian belajar peserta didik ditunjukkan dengan adanya sikap mampu menyelesaikan masalah dan tugasnya secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Dalam kehidupan dewasa ini baik secara langsung maupun tidak langsung, pentingnya kemandirian bagi peserta didik akan mempengaruhi kehidupan peserta didik.
Kemandirian banyak memberikan dampak positif bagi perkembangan individu, maka sebaiknya sikap kemandirian dalam belajar diajarkan kepada siswa sedini mungkin sesuai kemampuannya. Kemandirian yang sehat adalah yang sesuai dengan hakikat manusia paling dasar. Perilaku mandiri adalah perilaku memelihara hakikat eksitensi diri. Oleh sebab itu, kemandirian bukanlah hasil dari proses internalisasi aturan otoritas, melainkan suatu proses perkembangan diri sesuai dengan hakikakt eksistensi. Berikut adalah kerangka teori yang peneliti sajikan dalam bentuk bagan.
36
Gambar 2.1 Kerangka Teori
2.4 Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan konsep yang akan peneliti gunakan untuk memepermudah penelitian sehingga memiliki alur penelitian yang jelas.
Peneliti akan mengkaji tentang kemandirian belajar daring siswa di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara di Masa Pandemi Covid-19.
Selama pandemi Covid-19 proses pembelajaran yang semula mengharuskan untuk bertatap muka sekarang berubah menjadi online atau yang dikenal dengan istilah pembelajaran daring (dalam jaringan). Pada pembelajaran daring tersebut proses belajar dilakukan di rumah
masing-Pandemi Covid-19
Pembelajaran Daring Melalui Aplikasi
Kemandirian Belajar Peserta Didik
1. Percaya diri dengan apa yang dilakukannya.
2. Mampu belajar dan bekerja sendiri tanpa meminta bantuan orang lain .
3. Bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
37
masing melalui bantuan teknologi, materi dan tugas diberikan secara online sehingga anak akan lebih sering berada di rumah untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Pada saat seperti inilah kemandirian belajar sangat penting. Sebenarnya bukan pada masa seperti ini saja, namun dalam pembelajaran sehari-hari ketika sekolah juga sangat perlu. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang analisis analisis kemandirian belajar daring siswa sekolah dasar di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara. Berikut adalah kerangka berpikir yang peneliti sajikan dalam bentuk bagan.
38
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Pandemi Covid-19
Sistem Pembelajaran Sekolah Dasar
Pembelajaran Daring Melalui Aplikasi
Belajar di Rumah
Rendahnya Kemandirian Belajar Anak di Desa Sidigede
Kualitatif 1. Wawancara 2. Observasi 3. Dokumentasi 4. Pencatatan
Mengetahui kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa SD di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19
39 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara tepatnya di Jalan Wungu Putih. Pada penelitian ini hanya akan lebih difokuskan untuk mengetahui kemandirian belajar online selama pandemi Covid-19, dengan subjek penelitiannya adalah siswa sekolah dasar di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Waktu yang digunakan untuk merencanakan penelitian ini pada bulan Agustus 2020, kemudian pelaksanaan penelitian pada bulan Oktober dan laporan penelitian dimungkinkan pada bulan Januari 2021 yang bertempat di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara.
Penelitian ini diharapkan dapat selesai tepat waktu sehingga peneliti dalam memperoleh hasil penelitian sesuai dengan apa yang direncanakan.
3.2 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis secara deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Moleong, (2014) mendefinisikan penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Sugiyono (2016: 15) juga berpendapat bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penlitian yang berlandaskan pada filsdfat postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber
40
data dilakukan secara purposive dan snowbal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa metode kualitatif merupakan sebuah penelitian bertujuan untuk memahami atau mengungkapkan sebuah perilaku, kondisi atau keadaan yang ada pada lingkungan sekitar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus yang akan lebih memusatkan penelitian pada sebuah objek yang akan diteliti kemudian mempelajarinya sebagai sebuah kasus. Creswell (dalam Gunawan, 2014:114) menjelaskan studi kasus adalah penelitian yang dilakukan terhadap objek yang disebut sebagai kasus yang dilakukan secara seutuhnya, menyeluruh dan mendalam dengan menggunakan analisis data atau jenis penelitian secara deskriptif yakni penelitian yang menggambarkan atau mendeskripsikan sebuah keadaan yang diteliti.
Penelitian ini akan lebih difokuskan untuk mengetahui kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa sekoah dasar di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19. Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk melakukan proses pendataan, kemudian mengolah data dan menganalisis data yang telah diperoleh untuk lebih jelasnya berikut adalah rancangan penelitian yang akan peneliti lakukan dalam penelitian ini.
1. Melihat kondisi lapangan dengan cara melakukan observasi dan wawancara kepada beberapa anak beserta orang tuanya untuk mengetahui bagaimana kondisi di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara.
2. Mengumpulkan studi literatur dengan melihat kondisi lapangan dan mengaitkan dengan teori-teori yang sesuai.
3. Merencanakan tahapan dalam pemecahan masalah yang ada dengan dikaitkan teori-teori yang berkaitan.
41
4. Pelaksanaan penelitian, dalam tahap ini peneliti akan melakukan penelitian terhadap orang tua siswa dan siswa sebagai sumber daya primer yang didapat dari penelitian.
5. Pengumpulan data, pada tahap ini peneliti mengumpulkan data dengan cara melaksanakan observasi, wawancara, dokumentasi kegiatan, dan pencatatan penelitian sehingga data-data tersebut akan disesuaikan.
6. Melakukan analisis data, analisis data dilakukan dengan cara akan menganalisis data yang sudah didapat dari proses pengumpulan data.
Data yang terkumpul akan direduksi, disajikan dan disimpulkan kemudian diverifikasi.
7. Penyimpulan hasil penelitian, tahap ini akan dilaksanakan penyimpulan terhadap data yang dianalisis sehingga peneliti akan memperoleh hasil penelitian yang baik.
8. Evaluasi dan tindak lanjut penelitian, tahap ini merupakan tahap terakhir pada penelitian ini. Hasil penelitian akan dicoba untuk dievaluasi sehingga akan diberikan tindak lanjut terhadap masalah penelitian.
3.3 Peranan Peneliti
Penelitian ini berkaitan dengan pendidikan anak di sekolah dasar guna mengetahui kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa SD di Desa Sidigede Kecamatan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19.
Peneliti akan berusaha mengumpulkan data sebanyak-banyaknya kemudian mengolah dan menganalisis data yang didapat setelah itu peneliti juga berupaya memberikan solusi berkaitan dengan permasalahan yang diteliti sehingga penelitian ini dapat berguna dan bermanfaat dalam dunia pendidikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peranan peneliti dalam penelitian ini sangatlah penting selain sebagai perencanaan dalam penelitian, peneliti juga sebagai pengumpul data, mengolah data, menganalisis data hingga menyimpulkan hasil penelitian. Pada penelitian ini peneliti juga berperan sebagai pendamping dari objek yang akan diteliti.
42 3.4 Data dan Sumber Data
3.4.1 Data
Data merupakan keterangan-keterangan suatu hal yang dapat berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap atau anggapan (Misbahuddin dan iqbal, 2014: 21). Dengan demikian data dapat diartikan sebagai sebuah keterangan yang berupa informasi. Data yang diperlukan dalam penelitian ini berkaitan dengan kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa SD Kelas di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19. Data pada penelitian ini berupa kuaitatif karena data yang diperoleh akan lebih banyak berupa uraian kata yang diperoleh dari lisan dan tulisan. Ada dua jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti secara langsung. Data primer pada penlitian ini diperoleh peneliti melalui observasi dan wawancara.
2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung atau data didapat dari orang lain dan sumber-sumber data yang telah ada. Data sekunder pada penelitian ini berupa dokumentasi identitas informan dan data pendukung lainnya.
Data primer dalam penelitian ini yaitu sebanyak 5 orang tua anak, 5 orang anak sekolah dasar Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, serta guru sekolah dasar. Berikut penjelasan tujuan yang akan diperoleh:
1. 7 orang tua siswa memiliki karakteristik berbeda dari pendidikan, kondisi ekonomi, dan pekerjaan. 1 orang tua siswa yang bekerja sebagai guru, 1 orang tua siswa yang bekerja sebagai penjual Yakult, 2 orang tua siswa bekerja sebagai pedagang, 2 orang tua siswa yang bekerja sebagai petani, dan 1 orang tua siswa bekerja pada bidang konveksi. Dalam subjek penelitian ini data yang akan diperoleh berupa penjelasan deskriptif terkait bagaimana kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp
43
siswa SD di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19.
2. 7 orang anak kelas V sekolah dasar desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara yaitu SD N 01 Sidigede yang terdiri dari 4 orang anak berjenis kelamin perempuan dan 3 orang anak berjenis kelamin laki-laki.
Pada bagian ini peneliti akan menggali bagaimana kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa SD di Desa Sidigede Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19.
3. 1 guru sekolah dasar yang mengajar kelas V di SDN 01 Sidigede. pada bagian ini peneliti akan menyesuaikan informasi yang didapat dari orang tua anak dan anak sekolah dasar sehingga guru dapat memberikan informasi yang sesuai mengenai kemandirian anak.
Kemudian dalam data sekunder akan dijadikan sebagai data pendukung penulisan yang akan didapatkan melalui dokumentasi, catatan penting, dan data pendukung lainnya.
3.4.2 Sumber Data
Sumber data merupakan subjek dimana data akan diperoleh. Sumber pengembilan data dibedakan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sugiyono (2015: 308) menjelaskan sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, sedangkan sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data atau dapat melalui orang lain dan dokumen.
Untuk memperoleh data berkaitan dengan kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa SD di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19 peneliti akan memfokuskan informan berdasarkan kategori tertentu. Dengan adanya kategori tersebut diharapkan mampu memberikan sumber data yang beragam sehingga memperoleh data yang beragam. Berikut adalah kategori yang peneliti gunakan dalam memilih informan. Dalam penelitian ini, terdapat sumber data yang dibagi menjadi dua yaitu, sumber data primer dan sumber
44
data sekunder. Sumber data primer didapat dari informan di lingkungan rumah siswa seperti orang tua dan guru yang mengajar les di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara. Sedangkan sumber data sekunder yang berasal dari dokumentasi peneliti, catatan peneliti, wawancara peneliti, dan data pendukung yang digunakan sebagai acuan peneliti.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data berdasarkan pendapat ahli maka tahap pengumpulan data adalah tahap yang menjadi paling utama dalam penelitian ini, karena pada tahap ini peneliti akan mendapatkan sumber data yang akan dianalisis. (Sugiyono, 2016:308). Berikut merupakan teknik yang akan peneliti untuk mengumpulkan data:
3.5.1 Observasi
Sugiyono (2016) menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya bekerja berdasarkan data, yaitu dunia kenyataan yang diperoleh dari informasi. Jadi, observasi adalah aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan memahami sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.
Observasi yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan. Peneliti akan melakukan observasi tentang beberapa hal yang terkait dengan kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa SD di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19. Melalui pengamatan langsung diharapkan peneliti dapat memperoleh data secara akurat yang dibutuhkan
Observasi yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan. Peneliti akan melakukan observasi tentang beberapa hal yang terkait dengan kemandirian belajar daring melalui aplikasi whatsapp siswa SD di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara pada masa pandemi Covid-19. Melalui pengamatan langsung diharapkan peneliti dapat memperoleh data secara akurat yang dibutuhkan