• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Keterampilan Berbicara a. Pengertian Berbicara

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA JERMAN BAGI SISWA SMA NEGERI 8 MAKASSAR

3. Hakikat Keterampilan Berbicara a. Pengertian Berbicara

Berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Dengan berbicara seseorang berusaha untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya kepada orang lain secara lisan. Tanpa usaha untuk mengungkapkan pikirannya, orang lain tidak akan mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Tanpa berbicara, seseorang akan mengucilkan diri sendiri, dan akan terkucilkan dari orang disekitarnya.

Berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang aktif dari seorang pemakai bahasa, yang menuntut prakarsa nyata dalam penggunaan bahasa untuk mengungkapkan diri secara lisan.

Dalam hal pengajaran bahasa asing di SMA keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan bahasa yang perlu dikuasai oleh siswa dengan baik, karena keterampilan ini merupakan suatu indikator terpenting bagi keberhasilan siswa dalam belajar bahasa. Dengan penguasaan keterampilan berbicara yang baik, siswa dapat mengutarakan maksud serta ide-ide mereka, baik di dalam kelas maupun di luar kelas yang berkaitan dengan bahasa Jerman.

Tarigan (2008:16) berpendapat bahwa

‟berbicara adalah kemampuan mengucapkan

bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sedangkan sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sang

pendengar atau penyimak”.

Pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran, ide dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi secara lisan. Dengan mengungkapkan apa yang dipikirkan, seseorang dapat membuat orang lain yang diajak bicara mengerti apa yang ada dalam pikirannya.

b. Proses Berbicara

Dalam proses belajar berbahasa di sekolah, anak-anak mengembangkan kemampuannya secara vertikal. Artinya mereka sudah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap meskipun belum sempurna. Kemampuan tersebut menjadi sempurna yaitu strukturnya menjadi semakin benar, pilihan katanya semakin tepat, kalimatnya semakin bervariasi. Dengan kata lain perkembangan tersebut tidak secara horizontal mulai dari fonem, kata, fase, kalimat dan wacana.

Ellis, dalam Rofi’uddin dan Zuchdi

(2001:7) mengemukakan bahwa:

“Ada tiga cara untuk mengembangkan

secara vertikal dalam meningkatkan keterampilan berbicara: menirukan pembicaraan orang lain (khususnya guru), mengembangkan bentuk-bentuk ujaran yang telah dikuasai, dan mendekatkan atau menyejajarkan dua bentuk ujaran, yaitu bentuk ujaran sendiri yang belum benar dan ujaran

orang dewasa (terutama guru) yang

sudah benar”.

Tompkins dan Hoskisson dalam Rofi’uddin dan Zuchdi (2001:8) menyatakan

bahwa “proses pembelajaran berbicara dengan

berbagai jenis kegiatan, yaitu percakapan, berbicara estetik (mendongeng), berbicara untuk menyampaikan informasi atau untuk

mempengaruhi dan kegiatan dramatik”.

Proses berbicara dapat dikembangkan melalui kegiatan meniru ujaran, membandingkan perbedaan-perbedaan ujaran dan dilaksanakan dengan berbagai kegiatan seperti percakapan, berbicara estetik, dan lain sebagainya.

Berdasarkan penjelasan di atas, pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa, keterampilan (skill) berarti kemampuan untuk mengoperasikan suatu pekerjaan secara mudah dan cermat yang membutuhkan kemampuan dasar (basic ability). Kemudian dijelaskan bahwa proses berbicara dapat dikembangkan melalui kegiatan meniru ujaran, membandingkan perbedaan-perbedaan ujaran dan dilaksanakan dengan berbagai kegiatan seperti percakapan, berbicara estetik. 4. Pembelajaran Keterampilan Berbicara a. Pengertian Keterampilan Berbicara

Keterampilan berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orang yang kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki keterampilan berbicara yang baik, akan memiliki kemudahan di dalam pergaulan, baik di rumah, di kantor, maupun di tempat lain.

‟Pada hakikatnya keterampilan berbicara adalah keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan” (Tarigan, 2008:16). Keterampilan berbicara sangat penting dimiliki seseorang agar tidak terjadi kesalahpahaman antara penutur dan mitra tutur dalam berkomunikasi.

Menurut Brown (2007:5) “speaking is

an interactive process of constructing meaning that involves producing and receiving and processing information”. Maksudnya, berbicara

adalah proses interaktif untuk membangun makna yang melibatkan produksi, penerimaan dan pengolahan informasi. Selanjutnya Thau-Knudsen (2013: 16) menyatakan

bahwa”Sprechfertigkeit ist die Fähigkeit sich mündlich zu ausdrücken auf einer solchen Art und Weise, dass der Enthalt der Aussagen des Sprechers vom Zuhöher ausreichend verstanden wird”. Maksudnya, keterampilan berbicara

adalah kemampuan secara lisan yang menyatakan bahwa isi pernyataan pembicara ke pendengar agar dapat dimengerti.

Selanjutnya menurut Chababy

(2009:152): “Die Sprechfertigkeit, als Kern der verbalen Kommunikation, wird durch Dialogue

über Alltagsthemen gefördert”. Artinya, keterampilan berbicara sebagai inti dari komunikasi verbal yang disampaikan melalui dialog tentang topik sehari-hari.

Keterampilan berbicara merupakan keterampilan produktif karena dalam perwujudannya keterampilan berbicara menghasilkan berbagai gagasan yang dapat digunakan untuk kegiatan berbahasa (berkomunikasi), yakni dalam bentuk lisan dan keterampilan menulis sebagai keterampilan produktif dalam bentuk tulis. Disadari bahwa keterampilan berbicara seseorang, sangat dipengaruhi oleh dua faktor penunjang utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun non fisik (psykhis), faktor fisik adalah menyangkut kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicara misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor non fisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter, temperamen, bakat (talenta), cara berpikir dan tingkat intelegensia. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan. Namun demikian, kemampuan atau keterampilan berbicara tidaklah secara otomatis dapat diperoleh atau dimiliki oleh seseorang, walaupun ia sudah memiliki faktor penunjang utama baik internal maupun eksternal yang baik. Keterampilan berbicara yang baik dapat dimiliki dengan jalan mengasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara adalah keterampilan produktif dan merupakan salah satu keterampilan dalam aspek berbahasa yang sangat penting sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan lawan bicara. b. Tujuan Berbicara

Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan maksud dan tujuan secara efektif. Agar tujuan

itu dapat tersampaikan dengan baik dan efektif, maka pembicara harus memahami hal yang akan disampaikan dan menguasai keterampilan dalam berbicara, sehingga pendengar akan memaknai informasi atau pesan yang telah disampaikan oleh pembicara.

Keraf (2001:320) mengenai tujuan yang

akan dicapai dalam berbicara, yaitu “(1)

memberikan dorongan; (2) menanamkan keyakinan; (3) bertindak atau berbuat; (4) menginformasikan atau memberitahukan, dan

(5) memberi kesenangan”.

Sedangkan Janíková (2011:84) menyatakan bahwa ada beberapa tujuan berbicara yang intisarinya sebagai berikut :

a) Informationen zu vermitteln oder von anderen zu erhalten; b) eigene Gefühle, Eindrücke und Meinungen zu äußern; c) eine gemeinsame Tätigkeit zu steuern; d) ein bestimmtes Verhalten und Handeln bei anderen Personen herbeizuführen oder eine sprachliche Reaktion hervorzurufen; e) bei anderen bestimmte Emotionen auszulösen; f)

zwischenmenschliche Kontakte

herzustellen oder aufrechtzuerhalten.

Artinya, a) untuk menyampaikan informasi atau menerima dari orang lain; b) untuk mengungkapkan perasaan mereka, tayangan dan opini; c) untuk mengontrol kegiatan bersama; d) menginduksi atau menimbulkan reaksi lisan perilaku dan tindakan dengan orang-orang tertentu; e) mengontrol emosi; f) mempertahankan kontak secara interpersonal.

Pendapat tersebut di atas diperjelas lagi oleh Burns (2012:177) tujuan utama dari tugas berbicara adalah :

“to help students develop the fluency

of expert speakers where meaning is communicated with few hesitations and in a manner that is appropriate for the social purpose of the message. This is achieved through : a) the use of accurate language and discourse routines; b) appropriate speech enabling skills, and c) effective communication strategies”.

Maksud kalimat tersebut adalah untuk membantu siswa mengembangkan kelancaran dalam berbicara dimana pembicara dapat menyampaikan makna pesan dengan cara serta tujuan yang jelas. Hal ini dicapai melalui : a)

penggunaan bahasa yang akurat dan rutinitas wacana, b) keterampilan berbicara yang tepat, dan c) strategi komunikasi yang efektif.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum tujuan berbicara adalah untuk berkomunikasi kepada orang lain dengan baik dan efektif yang ada disekitarnya untuk memberitahukan sesuatu, menghibur, dan mempengaruhi pendengar. c.Karakteristik Pembelajaran Berbicara

Kegiatan berbicara dapat berlangsung jika setidak-tidaknya ada dua orang yang berinteraksi, atau seorang pembicara menghadapi seorang lawan bicara. Dengan kemajuan teknologi, kegiatan berbicara dapat berlangsung tanpa harus terjadi kegiatan tatap muka, misalnya pembicaraan melalui telepon. Bahkan melalui layar telepon seluler 3 G, tanpa bertemu langsung dua orang yang sedang berbicara dapat saling melihat. Kegiatan berbicara yang bermakna juga dapat terjadi jika salah satu pembicara memerlukan informasi baru atau ingin menyampaikan informasi penting kepada orang lain.

“Berikut disajikan sejumlah

karakteristik yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran berbicara antara lain: (a) harus ada lawan bicara; (b) penguasaan lafal, struktur, dan kosa kata; (c) ada tema/topik yang dibicarakan; (d) ada informasi yang ingin disampaikan atau sebaliknya ditanyakan; dan (e) memperhatikan

situasi dan konteks” (Nasuprawoto:2009).

Jadi, karakteristik yang disajikan dalam pembelajaran berbicara antara lain harus ada lawan berbicara, penguasaan lafal, struktur, dan kosa kata, ada tema yang dibicarakan, ada informasi yang disampaikan, dan memperhatikan situasi. Tujuan umum dari pembelajaran keterampilan berbicara yaitu untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif dan pembicara mampu memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Adapun karakteristik yang disajikan dalam pembelajaran berbicara antara lain harus ada lawan berbicara, penguasaan lafal, struktur, dan kosa kata, ada tema yang dibicarakan, ada informasi yang disampaikan, dan memperhatikan situasi.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara adalah keterampilan seseorang untuk menyampaikan kata-kata untuk mengekspresikan suatu maksud, ide, gagasan atau pikiran pada orang lain dengan tujuan dapat dipahami pendengarnya.

METODE

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu Keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman dengan menggunakan gambar siswa SMA Negeri 8 Makassar dan penelitian ini bersifat deskriptif.

Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah keterampilan berbicara dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman. Keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman dengan menggunakan gambar yang dimaksudkan yaitu berbicara berdasarkan gambar yang sudah ditentukan. Gambar tersebut adalah gambar aktivitas sehari-hari yang dilakukan siswa mulai pagi hingga malam hari.

Pengukuran variabel penelitian dilakukan untuk memperoleh data dari hasil keterampilan berbicara siswa digunakan tes yang di dalamnya meliputi tes berbicara berdasarkan. Setiap poin yang diceritakan diberi skor sesuai dengan bobot dan kriteria yang dinilai. Selanjutnya semua skor yang diperoleh dari setiap kriteria dijumlahkan dan hasilnya merupakan skor akhir yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk mengevaluasi isi kalimat dilihat dari aspek-aspek kemampuan yang akan dievaluasi. Adapun aspek-aspek penilaian keterampilan berbicara menurut Bolton (1995) yaitu: Grammatik, Kosakata, intonasi, dan pemenuhan pengaturan tugas dan perilaku interaktif. Setiap aspek jika siswa dapat berbicara dengan benar mendapat skor 3 dan yang tidak dapat berbicara dengan benar mendapatkan skor 0. Jadi jumlah keseluruhan skor untuk keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman adalah 12.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas XI SMA Negeri 8 Makassar. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8 Makassar, mengingat jumlah populasi yang besar dan waktu penelitian yang terbatas maka hanya dilakukan pada 1 kelas yang mewakili kelas XI yaitu kelas XI IPA I dengan menggunakan random sampling. Sampelnya berjumlah 41 orang siswa.

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah tes keterampilan berbicara berdasarkan gambar yang diberikan. Sedangkan untuk menganalisis data digunakan teknik persentase, dengan kata lain, data dari hasil penelitian yang terkumpul dipersentasekan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam metode penelitian dikemukakan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes. Tes yang diberikan terdiri dari 1 (satu) macam, yaitu tes keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman siswa Kelas II IPA I SMAN 8 Makassar. Adapun bentuk tes keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman adalah siswa diberikan gambar tentang kegiatan sehari-hari yang dilakukan siswa yang dimulai dari pagi hingga malam hari. Tes tersebut diberikan kata kunci dan dari kata kunci tersebut mereka diminta untuk mengembangkannya sehingga menjadi kalimat yang benar. Dari hasil tes tersebut terdapat juga beberapa siswa yang tidak dapat mengembangkan kalimat dengan benar. Hal ini disebabkan karena mereka kurang begitu menguasai kosakata dan struktur kalimat bahasa Jerman, sehingga mereka tidak dapat mengembangkan kata kunci yang diberikan menjadi kalimat yang benar.

Tes Keterampilan Berbicara Dalam Bahasa Jerman Dengan Menggunakan Gambar Siswa SMA Negeri 8 Makassar

Data tentang keteramp ilan menulis surat dalam bahasa Jerman siswa Kelas XI IPA I SMA Negeri 8 Makassar dianalisis dengan menggunakan tabel frekuensi dan persentase. Data tersebut dapat dianalisis dari empat kategori sebagai berikut:

a) Aspek Grammatik

Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Aspek Grammatik

No Skor Frekuensi Persentase

1. 3 6 14.63%

2. 2 29 70.73%

3. 1 6 14.63%

4. 0 0 0%

Jumlah 41 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa keterampilan siswa dalam berbicara bahasa Jerman dengan menggunakan gambar untuk kategori Aspek Grammatik terdapat 6 (14.63%)

siswa yang mendapat skor 3. Selanjutnya terdapat 29 (70.73%) siswa yang mendapat skor 2 dan 6 (14.63%) siswa yang mendapat nilai 1 dan tak seorangpun (0%) siswa yang mendapat skor 0.

Berdasarkan hasil tes keterampilan menulis surat dalam bahasa Jerman untuk aspek komunikatif dianalisis dengan rumus persentase sebagai berikut: ∑ skor X = ∑ sampel X = = 2 ( skor maksimal 3) % = = = 66.67%

Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman siswa XI IPA I SMA Negeri 8 Makassar pada aspek Grammatik adalah 66.67%, atau termasuk kategori Baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa dalam berbicara bahasa Jerman dengan menggunakan gambar sudah sesuai dengan gambar yang diberikan. Hampir siswa dapat menyampaikan semua informasi dan tujuannya dengan baik dan benar. b) Aspek Kosakata

Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Aspek Kosakata

No. Skor Frekuensi Persentase

1. 3 8 19.51%

2. 2 19 46.34%

3. 1 12 29.27%

4. 0 2 4.88%

Jumlah 41 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa keterampilan siswa berbicara dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman untuk kategori Aspek Kosakata terlihat 8 (19.51%) siswa yang mendapat skor 3. Selanjutnya terdapat 19 (46.36%) siswa yang

mendapat skor 2 dan 12 (29.27%) siswa yang mendapat nilai 2 dan 2 (4.88%) siswa yang mendapat skor 0.

Berdasarkan hasil tes keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman untuk aspek Kosakata dianalisis dengan rumus persentase sebagai berikut: ∑ skor X = ∑ sampel X = = 1.85 (skor maksimal 3) % = = = 61.67%

Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat dalam bahasa Jerman siswa XI IPA I SMA Negeri 8 Makassar pada aspek Kosakata adalah 61.67%, atau termasuk kategori Baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kosakata yang diucapkan siswa hampir tidak mengandung kesalahan. Kosakata yang digunakan hampir semuanya benar dan bervariasi.

b) Aspek Intonasi

Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Aspek Intonasi

No. Skor Frekuensi Persentase

1. 3 11 26.83%

2. 2 25 60.98%

3. 1 5 12.19%

4. 0 0 0%

Jumlah 41 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman untuk kategori Aspek Intonasi terlihat 11(26.83%) siswa yang mendapat skor 3. Selanjutnya terdapat 25 (60.98%) siswa yang mendapat skor 2 dan 5 (12.19%) siswa yang mendapat nilai 11 dan 0 (0%) siswa yang mendapat skor 0.

Berdasarkan hasil tes keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman untuk aspek

Intonasi dianalisis dengan rumus persentase sebagai berikut: ∑ skor X = ∑ sampel X = = 2.15 (skor maksimal 3) % = = = 71.67%

Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman siswa XI IPA I SMA Negeri 8 Makassar pada aspek Intonasi adalah 71.67%, atau termasuk kategori Baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut kriteria penilaian Bolton, Intonasi yang diucapkan siswa hampir tidak mengandung kesalahan.

c) Aspek Pemenuhan Pengaturan Tugas Dan Perilaku Interaktif

Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase

Skor Aspek Pemenuhan

Pengaturan Tugas Dan Perilaku Interaktif

No. Skor Frekuensi Persentase

1. 3 7 17.07%

2. 2 24 58.54%

3. 1 10 24.39%

4. 0 0 0%

Jumlah 41 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa keterampilan siswa berbicara dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman untuk kategori Pemenuhan Pengaturan Tugas Dan Perilaku Interaktif terlihat 7 (17.07%) siswa yang mendapat skor 3. Selanjutnya terdapat 24 (58.54%) siswa yang mendapat skor 2 dan 10 (24.39%) siswa yang mendapat nilai 1 dan 0 (0%) siswa yang mendapat skor 0.

Berdasarkan hasil tes keterampilan berbicara dalam bahasa Jerman untuk aspek Pemenuhan Pengaturan Tugas Dan Perilaku

Interaktif dianalisis dengan rumus persentase sebagai berikut: ∑ skor X = ∑ sampel X = = 1.93 (skor maksimal 3) % = = = 64.33%

Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan berbicara dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman siswa XI IPA I SMA Negeri 8 Makassar pada aspek Pemenuhan Pengaturan Tugas Dan Perilaku Interaktif adalah 64.33%, atau termasuk kategori Baik. Pemenuhan Pengaturan Tugas Dan Perilaku Interaktif yang dilakukan siswa hampir tidak mengandung kesalahan. Pemenuhan Pengaturan Tugas Dan Perilaku Interaktif yang digunakan hampir semuanya benar.

Tabel 5. Frekuensi dan Persentase Skor Siswa Pada Tes Berbicara Menggunakan Gambar Dalam Bahasa Jerman yang dianalisis dari 4 Aspek Kriteria Penilaian Bolton.

No. Skor Frekuensi Persentase

1. 12 3 7.31% 2. 11 4 9.75% 3. 10 3 7.31% 4. 9 2 4.87% 5. 8 15 36.59% 6. 7 3 7.31% 7. 6 5 12.19% 8. 5 1 2.44% 9. 4 4 9.75% 10. 3 1 2.44% 11. 2 0 0% 12. 1 0 0% 13. 0 0 0% Jumlah 41 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa keterampilan siswa berbicara dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman yang dianalisis dari 4 Aspek Kriteria Penilaian Bolton terlihat 3 orang (7.31%) siswa yang mendapat skor 12, Selanjutnya terdapat 4 (9.75%) siswa yang mendapat skor 11, dan 3 (7.317%) siswa yang mendapat skor 10, 2 orang (4.87%) siswa yang mendapat skor 9, dan15 orang (36.59%) siswa yang mendapat skor 8, 3 orang (7.31%) siswa yang mendapat skor 7, 5 orang (12.19%) siswa yang mendapat skor 6, 1 orang (2. 44%) siswa yang mendapat nilai 5, 4 orang ((9.75%) siswa yang mendapat skor 4, 1 0rang (2.44%) siswa yang mendapat skor 3, dan tak seorangpun (0%) siswa yang mendapat skor 2, 1, dan 0.

Berdasarkan hasil tes keterampilan menulis surat dalam bahasa Jerman untuk aspek ketepatan tata bahasa dianalisis dengan rumus persentase sebagai berikut:

∑ skor X = ∑ sampel X = = 7, 87 (skor maksimal 12) % = = = 65.58%

Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat dalam bahasa Jerman siswa XI IPA 2 SMA Negeri 8 Makassar adalah 65.58% atau termasuk kategori Baik. Hal ini menandakan bahwa keterampilan berbicara siswa dengan menggunakan gambar sangat bermafaat bagi mereka. Karena dengan menggunakan gambar siswa dapat menuangkan ide-idenya dengan baik dan dapat berkreasi dengan baik dalam berbicara. Hal ini berarti bahwa media gambar sangat bermanfaat bagi siswa dalam berbicara bahasa Jerman.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilaksanakan diperoleh simpulan bahwa Keterampilan berbicara dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 8 Makassar pada aspek: 1) Grammatik adalah 66.67% atau berada pada kategori Baik, 2) pada aspek Kosakata adalah 61.67% atau berada pada kategori Baik, 3) pada aspek Intonasi adalah 71.67% juga berada pada kategori Baik, dan 4) pada aspek Pemenuhan Pengaturan Tugas Dan Perilaku Interaktif adalah 64.33% yang juga berada pada kategori Baik. Secara keseluruhan keterampilan Berbicara dengan menggunakan gambar dalam bahasa Jerman siswa Kelas XI IPA I SMA Negeri 8 Makassar adalah 65.58% dan termasuk dalam kategori Baik. Saran yang dapat diberikan adalah: 1) untuk meningkatkan keterampilan berbicara maka diperlukan latihan yang banyak baik yang dilakukan di sekolah maupun di rumah, 2) disarankan pada guru untuk memberikan perhatian guna meningkatkan keterampilan berbicara siswa, 3) perlunya menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan gambar sehingga siswa tidak canggung dan terbiasa untuk berbicara dalam bahasa Jerman

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi. 2007. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Aksara.

Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuchdi. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Malang:

Universitas Negeri Malang.

Brown, Douglas H, 2004. Language Assessment

Principles and Classroom Practices,

USA: Longman.

Budiono,Sutikno. 2008. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Prospect.

Burns, A. 2012. A holistic approach to teaching

speaking in the language classroom.

New York: Cambridge University Press. Chababy. A. 2009. Deutschunterricht auf

Madagaskar, Mauritius und den

Komoren. Frankfurt am Main: Peter

Lang.

Hamalik. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Janíková, Věra. 2011. Didaktik des Unterrichts Deutsch als Fremdsprache. Eine Einführung. Brno: Masarykova Univerzita.

Keraf. G. 2001. Komposisi. Ende: Nusa Indah.

Nasuprawoto. 2009.

http://www.slideshare.net/NASuprawot o/pembelajaran- berbicara. Diakses

pada tanggal 23 Januari 2012.

Sudjana. 2001. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.

Tafsir, Ahmad. 2008. Metodologi Pengajaran

Agama Islam. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya.

Tarigan, H.G, 2008. Berbicara Sebagai Suatu

Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa. Bandung : Angkasa

Winataputra, Udin S. 2005. Strategi Belajar

Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

139