• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 1) Siklus I

3) Siklus III

Berdasarkan hasil belajar pada siklus III diperoleh data bahwa jumlah siswa yang mengikuti tes yaitu 34 siswa atau hadir semua, dengan rata-rata nilai hasil belajar yaitu 82,82 dengan ketuntasan klasikal 88,24%. Adapun kategorisasi hasil belajar tersebut yaitu 26,47% atau sebanyak 9 siswa yang berada pada kategori baik, 61,76% atau sebanyak 21 siswa pada kategori baik, dan 11,76% atau sebanyak 4 siswa pada kategori cukup baik.Deskripsi secara kuantitatif ketuntasan hasil belajar ekonomi siswa sebelum tindakan, diperlihatkan pada tabel 20 berikut ini.

Tabel 4.Hasil Analisis Ketuntasan Belajar Siswakelas X.2 Siklus III

Skor Kategori Frekuensi Persentase(%)

75 – 100 Tuntas 30 88,24 0 – 74 Tidak Tuntas 4 11,76 Jumlah 34 100,00

Berdasarkan tabel diatas, dapat diperoleh gambaran persentase yang menunjukkan bahwa persentase skor ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi setelah diberikan tindakan pada siklus III yakni sebesar 88,24% atau terdapat 30 siswa yang berada dalam kategori tuntas. Sedangkan selebihnya berada pada kategori tidak tuntas yaitu sebanyak 4 siswa atau dengan persentase 1,76%.

Perkembangan kemajuan dan peningkatan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran melalui model pembelajaran Think

Pair Share (TPS)dapat dilihat pada tabel

rekapitulasi hasil belajar berikut ini.

Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa

Kategori Tes Awal Siklus I Siklus II Siklus III

F % F % F % F % Tuntas 9 26,47 18 52,94 25 73,53 30 88,24 Tidak Tuntas 25 73,53 16 47,06 9 26,47 4 11,76 Jumlah 34 100,00 34 100,00 34 100,00 34 100,00 Nilai rata-rata 50,03 69,88 78,74 82,82

Berdasarkan tabel 5, dapat dijelaskan bahwa hasil belajar siswa dari tes awal sebelum tindakan ke siklus I sampai pada siklus III mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini terlihat dari perolehan penilaian hasil belajar yakni pada siklus I ketuntasan belajar siswa sebesar 52,94%, pada siklus II sebesar 73,53%, dan pada siklus III sebesar 88,24%. Hasil ini juga menunjukkan bahwa pada akhir siklus II angka ketuntasan klasikal belum tercapai sehingga penelitian dilanjutkan ke siklus III.Nilai rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan di setiap siklusnya. Hasil Pengamatan Perkembangan Aktivitas Siswadan Pendidik

Siklus I

Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas siswa selama siklus I berlangsung, dapat dilihatperkembangan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran ekonomi melalui model pembelajaran tipe Think Pair Share (TPS) yaitu; (1) indikator kehadiran.Persentase kehadiran siswa selama siklus I yaitu 97,06% atau sekitar 33 siswa. Siswa yang hadir pada pertemuan pertama sebanyak 34 dan pada pertemuan kedua siswa yang hadir sebanyak 32 siswa, sementara 1 siswa tidak hadir karena sakit dan 1 siswa yang tanpa keterangan; (2) Indikator rata-rata siswa yang berani mengajukan pertanyaan terhadap materi yang belum dipahamu sebanyak 4 orang (13,23%); (3)Indikator rata-rata siswa yang mampu memberikan pendapat ataupun jawaban dari pertanyaan atau permasalahan yang ada sebanyak 5 orang (14,71%); (4) Indikator rata-rata siswa yang aktif dalam

mengerjakan tugas secara individu sebanyak 26 orang (75%);(5) Indikator rata-rata siswa yang memeriksa pekerjaan teman kelompoknya sebelum bertukar pikiran sebanyak 20 orang (58,82%); (6) Indikator rata-rata siswa yang aktif dalam berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai tugas yang diberikan sebanyak 11 orang (32,35%); dan(7) indikator rata-rata siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, dan lain-lain) sebanyak 8 orang (22,05%).

Dari hasil observasi Pendidik pada siklus 1 di atas, dapat diketahui kelebihan dan kekurangan Pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas.Pada awal-awal pertemuan terdapat beberapa kekurangan-kekurangan yang terletak pada kemampuan pendidik dalam memulai kegiatan awal pelajaran sebelum memasuki kegiatan inti, kemampuan pendidik dalam mengelolah kegiatan inti dan menutup pelajaran. Kemampuan pendidik dalam memberikan motivasi dan penguatan kepada peserta didi sebelum memasuki pelajaran masih kurang.Pada bagian kegaiatan inti, pendidik terlihat maksimal dalam hal mengarahkan dan mengorganisasikan siswa dalam mengerjakan tugas serta kemampuan pendidik dalam memberikan penghargaan terhadap siswa masih dinilai cukup. Berdasarkan hasil pengamatan dapat dikemukakan bahwa aktivitas pendidik berada pada kategori baik dengan skor 50 atau dinyatakan dalam persentase 59,37%, dengan rata-rata skor 2,94 yang berada pada kategori baik.

Siklus II

Hasil analisis perkembangan aktivitas siswa selama siklus II yaitu 94,11%, dimana siswa yang hadir pada pertemuan keempat sebanyak 33, satu siswa dengan keterangan izin dan pada pertemuan kelima siswa yang hadir sebanyak 31 siswa, dengan rincian 3 siswa tanpa keterangan. Indikator (2) rata-rata siswa yang berani mengajukan pertanyaan terhadap materi yang belum dipahamu sebanyak 8 orang (23,52%). Indikator (3) rata-rata siswa yang mampu memberikan pendapat ataupun jawaban dari pertanyaan atau permasalahan yang ada sebanyak 7 orang (22,05%). Indikator (4) rata-rata siswa yang aktif dalam mengerjakan tugas secara individu sebanyak 30 orang (86,76%). Indikator (5) rata-rata siswa yang memeriksa pekerjaan teman kelompoknya sebelum bertukar pikiran sebanyak 23 orang (67,64%). Indikator (6) rata-rata siswa yang aktif dalam berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai tugas yang diberikan sebanyak 10 orang (30,88%). Dan pada indikator (7) rata-rata siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, dan lain-lain) sebanyak 5 orang (13,23%).

Berdasarkan data hasil observasi pada siklus II, pendidik sudah melakukan beberapa perbaikan pada beberapa item pelaksanaan pembelajaran yang dianggap masih kurang. Hal ini terlihat dari kegiatan beberapa kegaitan pendidik yang telah dinilai sangat baik oleh pengamat.Dari hasil pengamatan diketahui bahwa aktivitas pendidik berada pada kategori sangat baik, yaitu dengan skor yang diperoleh 59 atau sekitar 86,76% dengan rata-rata skor yaitu 3,47. Peningkatan ini hendaknya dipertahankan terus kedepannya dan ditingkatkan lagi sehingga seluruh aspek kegiatan pembelajaran dapat lebih baik secara menyeluruh.

Siklus III

Berdasarkan hasil analisis perkembangan aktivitas siswa selama siklus III yaitu: (1) indikator persentase kehadiran siswa selama siklus III yaitu 100%, dimana seluruh siswa yang hadir pada setiap pertemuan selama siklus ini;(2)Indikator rata-rata siswa yang berani mengajukan pertanyaan terhadap materi yang belum dipahami berjumlah 19 orang (55,88%); (3)Indikator rata-rata siswa yang mampu memberikan pendapat ataupun jawaban dari pertanyaan atau permasalahan yang ada sebanyak 16 orang (47,05%); (4) Indikator

rata-rata siswa yang aktif dalam mengerjakan tugas secara individu sebanyak 33 orang (95,58%); (5)Indikatorrata-rata siswa yang memeriksa pekerjaan teman kelompoknya sebelum bertukar pikiran sebanyak 27 orang (80,88%);(6) Indikator rata-rata siswa yang aktif dalam berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai tugas yang diberikan sebanyak 18 orang (54,41%);dan (7)indikator rata-rata siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, dll) sebanyak 4 orang (13,23%).

Dari data hasil observasi pendidik yang dilakukan pada siklus III, aktivitas pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran semakin mengalami peningkatan dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh pengamat, tiap aspek/indikator sudah mengalami perbaikan secara konsisten dan menyeluruh. Hal ini juga dilihat dari hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa aktivitas pendidik dalam siklus III ini memiliki rata-rata skor 3,71 atau telah berada dalam kategori sangat baik, dengan skor keseluruhan yang diperoleh yaitu 63 atau atau dengan persentase 92,64% dan berada pada kategori amat baik.

PEMBAHASAN

Hasil belajar siswa

Hasil belajar ekonomi yang diperoleh siswamelalui penggunaan model pembelajaran TPS telah menunjukkan peningkatan dari siklus I hingga siklus III. Peningkatan tersebut dilihat dari indikator yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu apabila terdapat minimal 75%siswa yang tuntas atau memperoleh nilai minimal 75 sesuai dengan KKM maka kelas dianggap tuntas secara klasikal. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif TPS dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ardani M.S.,Gede Margunayasa dan Ni Wayan Rati (2014). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa setelah menerapkan model pembelajaran tipe

Think Pair Share (TPS) hasil belajar siswa

meningkat secara signifikan dan diikuti oleh peningkatan daya serap siswa terhadap materi disetiap siklusnya.Begitu pula hasil penelitian Jasdilla, Kuswendi dan Ramdhani (2017), dari penelitian yang dilaksanakan pada siswa sekolah dasar ini diperoleh hasil bahwa model pembelajaran tipeThink Pair Share (TPS)

mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran ini mampu meningkatkan hasil belajar karena model pembelajaran yang dilakukan dengan carasharing pendapat antar siswa sebagai umpan balik materi yang diajarkan guru dan dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk memiliki kemampuan kerjasama atau diskusi dan mempresentasikan ide kepada teman.

Aktivitas Pendidik

Aktivitas pendidik dalam proses pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipeThink Pair Share (TPS)pada siklus I pendidik mengalami kesulitan karena peneliti belum terjalin komunikasi yang akrab dengan siswa. Pendidik juga masih sedikit kesulitan dalam mengelolah kelas, seperti pada saat pendidik menjelaskan materi pembelajaran masih banyak siswa yang melakukan kegiatan lain seperti ribut dalam kelas, bercerita dengan teman sebangkunya dan bahkan ada siswa selalu meminta izin keluar kelas dengan berbagai alasan. Akan tetapi pendidik mampu mengurangi aktivitas-aktivitas tersebut melalui teguran-teguran serta memperbanyak sesi Tanya Jawab pada saat proses pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas pendidik yang telah dilaksanakan skor yang diperoleh dari siklus I, II, dan III mengalami peningkatan.Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan di setiap indikator yang diamati dalam obsevasi pendidik dan dinilai sudah memenuhi indikator kinerja yang ingin dicapai. Hasil ini juga diperkuat oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Pargugunan (2015) yang menuhjukkan bahwa model pembelajaran tipe

Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan

hasil belajar siswa yang diikuti dengan peningkatkan keaktifan dan pemahaman materi siswayang diukur melalui aktivitas membaca, menulis, mengerjakan, dan bertanya.

Aktivitas Siswa

Selama berlangsungnya siklus I, peneliti melakukan observasi terhadap siswa dengan mengisi lembar observasi pada setiap kegiatan pembelajaran, dalam hal ini terlihat aktivitas siswa belum sepenuhnya tercapai.Hal ini disebabkan sebagian siswa belum memahami betul dengan kondisi belajar kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS)yang diterapkan Pendidik dan sebagian siswa masih belum berani dan kurang percaya diri dalam

mengeluarkan pendapat. Permasalahan yang lain adalah masih banyaknya siswa yang melakukan aktivitas lain dan tidak fokus pada pelajaran dikelas. Komunikasi sudah terlihat intens selama siklus ini berlangsung.Umpan balik antara pendidik dengan siswa sudah mulai terjalin yang menandakan keaktifan siswa dalam pembelajaran sudah terbentuk. Aktivitas siswa pada siklus II secara umum meningkat hal ini terjadi karena ada beberapa refleksi yang pendidik lakukan yaitu dengan memberi perhatian lebih terhadap siswa yang dianggap sering melakukan kegiatan lain dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Disamping itu pendidik juga melakukan pertukaran beberapa anggota kelompok yang dianggap kurang efektif dan memberikan motivasi dan penghargaan kepada siswa agar lebih aktifdalam proses pembelajaran.

Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus III, aktivitas siswa dari Siklus I ke siklus II dan siklus III secara umum meningkat, dilihat berdasarkan beberapa aspek yang diamati, yaitu 1) aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengarah ke pembelajaran kooperatif. 2) siswa mampu membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan oleh pendidik. 3) siswa sudah mulai percaya diri untuk bertanya dan menjawab pertanyaan baik dari pendidik maupun dari teman-temannya serta mampu mempresentasikan dan menyimpulkan materi pembelajaran yang diberikan pendidik.

Pengelolaan aktivitas siswa ini didasarka pada teori belajar Operant Conditioning yang dikembangkan oleh Skinnerdan teori konstruktivistik yang dikembangkan oleh Piaget.Menurut teori

Operant Conditioning (Sanjaya,2014), agar terbentuk pada tingkah laku yang diharapakan pada setiap tingkah laku yang spesifik yang telah direspon, perlu diberikan hadiah (reinforcer) agar tingkah laku itu terus-menerus diulang, serta untuk memotivasi agar berlanjut kepada komponen tingkah laku selanjutnya sampai akhirnya pada pembentukan tingkah laku puncak yang diharapkan. Sedangkan menurut teori Konstruktivistik (Sanjaya,2014), siswa bertindak sebagai pemain dan pendidik sebagai fasilititator yang mendorong siswa dalam mengembangkan potensinya secara optimal. Salah satu cara adalah dengan melibatkan dan

membiasakan siswa dalam belajar kelompok guna mengembangkan potensinya.

Respon Siswa

Berdasarkan hasil analisis data angketyang telah diisi oleh 34siswa, diperoleh persentase rata – rata 73,53% atau terdapat 25 siswa yangmemberikan respon senang dan antusias belajar ekonomi dengan model pembelajaran tersebut.Hal ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan

hasil belajar siswa yang diliat dari hasil belajarnya dan keaktifannya dalam mengikuti proses pembelajaran.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan pendidik dalam proses belajar mengajar di setiap siklus pembelajaran.

2. Berdasarkan hasil obeservasi yang telah dilakukan, terdapat perubahan serta peningkatkan kemampuan dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think

Pair Share(TPS).

3. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share(TPS) dapat meningkatkan

hasil belajar ekonomi siswa kelas X.2 SMA Negeri 1 Tellu Limpoe.

4. Secara keseluruhan siswa memberikan respon sangat senang terhadap penerapan model pembelajaran Think Pair Share

(TPS) yang telah dilaksanakan selama tiga

siklus di kelas X.2 SMA Negeri 1 Tellu Limpoe.

Setelah melihat hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka penulis menyarankan: (1) Bagi pendidik, model pembelajaran tipe

Think Pair Share (TPS) diharapkan dapat

menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa, serta membuat proses pembelajaran menjadi bervariatif lagi; (2) Bagi pihak sekolah, diharapkan sedini mungkin untuk menganilisis serta mampu menemukan solusi dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang biasa terjadi,

baik oleh siswa maupun pendidik dalam proses pembelajaran; (3) Bagi peneliti, melalui penelitian ini disarankan agar peneliti dapat terus meningkatkan dan memperkuat hasil peneltiannya dengan melakukan kajian lebih terhadap penggunaan model pembelajaran ini, serta diharapkan pula agar dapat terus mengembangkan diri dalam melakukan penelitian dengan model pembelajaran yang bervariasi lagi.

DAFTAR RUJUKAN

Ardani M.S.,Gede Margunayasa dan Ni Wayan Rati. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think

Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan

Hasil Belajar IPA Siswa Kelas III SD Negeri 4 Banjar Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal Pendidikan

. Vol 2, No.1.

(www.ejournal.undiksha.ac.id/index.php /JJPGSD/article/view/4534, diakses 5 Juli 2017)

Haling, A. (2007). Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM Makassar.

Huda, M.(2014).Cooperative

Learning.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jasdilla,L., Kuswendi, Ramdhani. (2017).Hasil

Belajar Dan Pembelajaran Kooperatif TipeThink Pair Share (TPS). Jurnal

Pendidikan Indonesia.Vol. 6, No.1, hal.96-105.

Komalasari, K.(2013). Pembelajaran

Kontekstual. Bandung:PT Refika

Aditama.

Pargugunan.(2015). Penerapan Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Dalam Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Ips Terpadu Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1

Tambangan. Jurnal Pendidikan. Vol.3,

No.2, hal.105-124.

Rusman.(2014). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Sanjaya,W. (2014).Strategi Pembelajaran

Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada

Sudijono,A. (2013). Pengantar Evaluasi

Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

Susanto, A. (2013). Teori Belajar dan

Pembelajaran.Jakarta: Kencana Predana

Media Group.

Tampubolon, S. (2014).Penelitian Tindakan

Kelas. Jakarta : Penerbit Erlangga

Tim Pengembang MKDP. (2013). Kurikulum

dan pembelajaran. Jakarta: Rajawali

Pers.

Trianto.(2009). Mendesain Model Pembelajaran

Inovatif-Progresif. Jakarta:Kencana

Prenada Media Group.

Wena, M. (2013).Strategi Pembelajaran Inovatif

31

ANALISIS PENERAPAN MODEL MOODY DALAM PEMBELAJARAN