KAJIAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
1. Hakikat literasi dan pembelajaran literasi
Literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis. Dalam pengertian luas, literasi meliputi juga kemampuan berbicara, menyimak, dan berpikir sebagai elemen di dalamnya (Cooper, 1993). Seseorang disebut literat apa-bila memiliki pengtahuandan kemampuan yang baik untuk digunakan dalam setiap kegiatan yang menuntut fungsi literasi secara efektif dan koesien dalam masyarakat, dan keliteratan yang diperoleh peserta didik melalui membaca, dan aritmetika itu memungkinkan untuk dimanfaatkan bagi peserta didik dan perkembangan masyarakat ( Baynham :1999).
Menurut Taelel dan zubzby (dalam gipayana,2010), konsep-konsep pembelajaran litreasi dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Seseorang disebut literate apabila ia memiliki pengetahuan yang hakiki untuk digunakan dalam aktifitas yang menuntut fungsi literasi secara efektif dalam masyyrakat dan pengetahuan yang akan dicapainya dengan cara membaca dan menulis, yang dapat memungkinkan dapat dimanfaatkan diri mereka sendiri dan masyarakat (Gipayana,2010).
Ada beberapa hal yang menjadi landasan penting dalam konsep pengajaran literasi ialah pembelajaran yang besifat praktik dan pengajaran literasi yang bersifat proses social. Berbagai teori muncul dari beberapa ahli mengenai
perubahan teori Rosenbalt. Menurut clay, (1985, Teale dan Sulzby, 1986), para peneliti mulai menekankan kepada semua guru-guru agar dapat menyajikan pembelajaran membaca pemahaman peserta didik dalam perspektif yang lebih luas, yaitunpembelajaran lterasi dalam (Gipayana: 2010). Perspektif itu sendiri berpijak pada teori perkembangan literasi “ emergent literasi”, pemerolehan bahasa ‘ language acquiasition’ dan sekamata ‘schema’.
Teori perkembangan literasi ialah suatu gagasan yang menjelaskan bahwa kemampuan membaca dan menulis, perkembangan secara bersamaan dan bersifat interaktif (Stickland:1990, Taele dan Sulzbyy, 1998 dalam Gipayana 2010).
Berdasarkan teori tersebut,konseppembelajaran literasi elemen-elemen proses komunikasi tidak lagi diajarkan secara diskrit.
Adapun salah satu tori yang menyebutkan bahwa proses pemilihan bahasa berlangsung secara terus menerus dengan melalui interaksi dan pengalaman social (Cook Gumpres,1986, wells 1990 dan Gipayana:2010). Teori-teori pemerolehan bahasa memberikan pemahaman tentang bagaimana peserta didik memperoleh bahasa sendiri. Menurut cooper,1993 dalam Gipayana,2010) dengan cara mendasar dapat disimpulkan bahwa anak-anak memperoleh bahasa:
1. Pada waktu mereka memiliki keperluan yang berarti dan nyata 2. Melalui interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa 3. Dengan menggunakan perkiraan bahasa secara nyata
4. Dengan kecepatan yang berbeda-beda meskipun mereka berangkat dari tahap dan perkembangan yang sama
Dengan pemahaman-pemahaman tersebut dapat menjadi pijakan yang kokoh untuk pengembangan program pengajaran berbasis literasi. Teori skemata memberikan sumbangan yang sangat berarti terhadap konsep pembelajran literasi.
Teori ini menjelaskan bagaimana struktur-struktur yang lainnya (Gipayana,2010).
Skemata merupakan struktur-struktur yang mewakili konsep-konsep umum pengetahuan dengan menghubungkan skemata yang ada dengan informasi-informasi baru dalam teks. Walaupun slemata yang sudah ada tidak siap untuk suatu topic atau konsep skemata baru akan dapat terbentuk apabila informasi yang diperoleh mencukupi.
Pengembangan literasi pada hakikatnya dapat menolong peserta didik untuk membangun makna “helping children construct meaning”, Cooper (1993) mengemukakan bahwa ada empat prinsip bimbingan dalam mengembangkan literasi dalam Gipayana, 2010, yaitu sebagai berikut:
1. Hasil-hasil penelitian mengenai pembelajaran literasi, perkembangan literasi dan pemerolehan bahasa yang menunjukan bahwa seluruh aspek keterampilan berbasa dapat berkembang bersamaan sejalan dengan perkembangan peserta didik menjadi literate.
2. Tidak adanya kata yang mendukung gagasan yang mejnelaskan bahwa keterampilan bahasa, menulis, berpikir dan membaca berkembang secara diskrit.
3. Teori-teori dan hasil penelitian tentang priorknowlodge, schemata, dan background knowlodge mendukung prinsip bahwa penetahuan dan latar belakang dapat mempengaruhi keterampilan membangun makna.
4. Upaya menolong peserta dalam membangun makna yang meliputi pertolongan untuk memilih feature teks yang relevan, yang berhubungan dengan pengalaman sebelumnya.
Kata literasi itu sendiri memiliki berbagai makna baru pada abad ke-21.
Secara tradisional, literasi di pandang sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Orang yang dapat dikatakan literat dalam pandangan ini merupakan orang yang mampu membaca dan menulis atau bebas buta huruf, dan berkembang menjadi kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Dalam implementasinya guru dan peserta didik harus memiliki kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, terampil berkomunikasi, dan memiiki semangat dan motivasi bekerja baik secara individu maupun secara kooperatif.
Adapun salah satu bentuk upaya yang harus dilakukan olehseorang guru yaitu mengajar fisika dengan metode yang dapat membuat peserta didik lebih berminat sehingga peserta didik dapat memahami konsep dengan baik, yaitu dengan metode pembelajaran literasi. Namun sumber belajar yang digunakan untuk memperbaiki pemahaman dan kemampuan berliterasi peserta didik yaitu dengan pembuatan media pembelajaran berupa lembar kerja peserta didik(LKPD) berbasis literasi yang mampu memfasilitasi keterampilan literasi peserta didik.
Hal ini dikarenakan LKPD yang digunakan disekolah/madrasah masi kurang memfasilitasi peserta didik.
Salah satu bentuk bahan ajar cetak yang di manfaatkan dalam proses pembelajaran ialah lembar kerja peserta didik (LKPD). LKPD merupakan materi
ajar yang sudah dikemas sedemikian rupa sehingga peserta didik diharapkan dapat mempelajari materi ajar tersebut secara mandiri.
Selama penerapan model pembelajaran ini, guru harus mencatat berbagai aktifitas dan hasil kerja untuk mengatur dan membentuk pola pikir, pola sikap, pola perilaku belajar serta mencoba mempengaruhi secara psikologi agar mereka terbiasa beraktifitas dengan baik, melalui kegiatan pembimbingan, pemotivasian, pemfasilitatoran belajar, dan pelatihan akademis.
Sains adalah hasil yang diperoleh atas dasar penelitian dengan menggunakan metode ilmiah, landasan dalam penerapan disiplin ilmu, sehingga dapat membuahkan hasil yang relevan dan seimbang dengan keadaan alam serta kesejahteraan umat, sains adalah pengetahuan teoretis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyusunan teori dan penyimpulan teori (Abdullah dan Enny,2001).
Sains juga dapat dipandangdari berbagai segi, Abruscato mengemukakan ada tiga pandangan dalam sains yaitu: (1) sain adalah sejumlah proses kegiatan mengumpulkan informasi secara sistematik tentang dunia sekitar, (2) sains merupakan pengetahuan yang diperoleh dari proses kegiatan tertentu, (3) sains dicirikan oleh nilai-nilai dan sikap para ilmuwan dengan menggunakan proses ilmiah dalam memperoleh pengetahuan. Sains merupakan proses kegiatan yang dilakukan para saintis dalam memperoleh suatu pengetahuan dan sikap terhadap proses kegiatan tersebut. Sains juga dapat dippahami dengan tiga aspek yaitu proses, produk, sikap dan teknologi (Evans. DKK,2005:97). Dalam proses dains
mengandung arti cara atau aktifitas ilmiah untuk mendeskripsikan fenomena alam sehingga diperoleh prosuk sains berupa prinsip, hukum, fakta dan teori.
Dengan merujuk dengan pengertian sains diatas, maka hakikat sains meliputi empat unsur yaitu sebagai berikut; (1) produk berupa fakta, prinsip, teori dan hukum, (2) Proses, yaitu prosedur dalam pemecahan masalah yang melalui metode ilmiah, adapun metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, penujian hipotesis melalui eksperimentasi evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan, (3) Aplikasi, aplikasi merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari, (4) Sikap, sikap terwujud melalui proses ingin tahu tentang objek, fenomena, makhluk hidup serta hubungan sebab akibat yang menimulkan masalah baru dapat dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar.
Ada tiga karakteristik yang dikemukakan oleh Harlen (1997:76) yaitu: (1) setiap orang mempunyai kewenangan untuk menguji validitas prinsip dan teori ilmiah, meskipun kelihatan logis dan dapat dijelaskan secara hipotesis, teori dan prinsip hanya dapat digunakan jika sesuai dengan kenyataan yang ada, (2) memberi pengertian adanya hubungan antara fakta-fakta yang diobservasi yang memungkinkan penyusunan prediksi sebelum sampai pada kesimpulan, (3) dapat memberi makna bahwa teori sains bukanlah kebenaran yang akhir akan tetapi berubah atas dasar perangkat pendukung teori tersebut. Hal ini juga dapat memberikan penekanan pada gagasan dan keraktifitas tentang perubahan yang telah lalu dang memungkinkan perubahan dimasa depan, serta pengertian tentang perubahan itu sendiri.
Pembelajaran sins juga merupakan integrasi antara proses literasi dan pengetahuan yaitu sains sebagai proses menjleaskan bahwa temuan sains diperoleh dari proses atau kerja ilmiah yang merupakan proses kontruksi pengetahuan melalui aktifitas berpikir, memngembangkan keterampilan menjelajahi lingkungan dan memecahkan masalah, mencadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajrai sendiri dan alam sekitar, melakukan ekperimen untuk menyelesaikan maslah yang dihadapi serta proses pengmbangan lebih lanjut dalam menerapkan dakam kehidupan sehari-hari (Susilo,2009:90).