• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Materi Pembelajaran Sastra di SMK a. Pengertian Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah segala bentuk pengetahuan yang disampaikan oleh guru atau pendidik guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran siswa dituntut bukan hanya memahami isi materi, namun diharapkan siswa juga memiliki kompetensi yang diinginkan sesuai dengan kurikulum. Untuk mencapai kompetensi yang diinginkan dapat dibantu dengan adanya materi. Menurut Suryani & Agung, (2012:41) materi atau bahan pelajaran adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan kepada peserta didik atau dibahas dalam proses belajar mengajar agar sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Nugrahani (2009:392), “Materi ajar merupakan komponen pembelajaran yang berperan penting dalam membantu siswa mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi yang ditargetkan”. Materi ajar adalah informasi, alat yang digunakan oleh guru khususnya, dalam proses belajar mengajar. Sanjaya (2011) berpendapat bahwa materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran, sebab proses pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian materi, jika tujuan utamanya adalah penguasaan materi pelajaran. Materi pelajaran tersebut biasanya tergambarkan dalam buku teks, sehingga sering terjadi proses pembelajaran yang menyampaikan materi yang ada dalam buku.

Dampak positif dari penggunaan materi ajar adalah guru akan lebih runtut dan sistematis dalam menerangkan materi pembelajaran kepada siswa, sumber belajar siswa bukan hanya guru, guru akan lebih banyak memiliki waktu untuk membimbing dan mendampingi siswa, sehingga siswa dapat belajar secara mandiri dan terarah serta tercapainya kompetensi-kompetensi dasar. Prastowo (2013) menyimpulkan bahwa:

“Bahan ajar dibentuk dalam bentuk teks yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Contohnya, buku pelajaran, modul, handout, LKS, model atau maket”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik simpulan bahwa materi pembelajaran merupakan pengetahuan, ilmu yang berupa teks yang digunakan guru atau pendidik dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

b. Dasar Kriteria Pemilihan Materi Pembelajaran

Pembelajaran adalah rangkaian kegiatan dimana guru mengajar dan siswa menerima pelajaran yang disampaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Suprihatiningrum (2013:75), pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu siswa agar dapat menerima pengetahuan yang diberikan dan membantu memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam pemilihannya, yaitu materi pembelajaran.

Dalam pemilihan materi pembelajaran yang akan digunakana, seorang guru harus pandai menyeleksi materi ajar mana yang akan digunakan. Menurut Sudjana (dalam Suryani& Agung, 2012) ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bahan pelajaran, yakni: (1) harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan; (2) ditulis dalam perencanaan pembelajaran hanya garis besarnya saja; (3) harus sesuai dengan urutan tujuan; (4) urutan hendaknya memperhatikan kesinambungan. Hal tersebut senada dengan Suprihatiningrum (2013) bahwa penentuan materi pelajaran harus mempertimbangkan keserasian dengan urutan tujuan pembelajaran, dan kesinambungan antara materi yang satu dengan materi berikutnya. Materi yang ditentukan dalam kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator. Lebih lanjut Sudjana (dalam Suryani & Agung, 2012) menambahkan bahwa dalam menetapkan pemilihan bahan pembelajaran, hendaknya diperhatikan: (1) tujuan pembelajaran, hanya bahan yang sesuai dan menunjang yang perlu diberikan oleh guru; (2) urgensi, artinya bahan

itu penting untuk di ketahui siswa; (3) tuntutan kurikulum, artinya secara minimal bahan itu wajib diberikan sesuai dengan tuntutan kurikulum; dan (4) nilai kegunaan, artinya materi itu mempunyai manfaat bagi siswa.

Dalam menentukan materi pembelajaran Suprihatiningrum (2013) menjelaskan ada beberapa prinsip-prinsip dasar pertimbangan yaitu kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecakupan (adequacy).

1) Relevansi, artinya kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian kompetensi.

2) Konsistensi, artinya keajegan. Materi yang diajarkan siswa harus ajeg sesuai dengan kompetensi dasarnya.

3) Adequacy, artinya kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup dalam hal kedalaman dan keluasannya sesuai dengan capaian kompetensi dasar yang diharapkan.

Menurut Ismawati (2013:35), beberapa hal terkait dengan pemilihan materi ajar, diantaranya: (1) materi harus spesifik, jelas, akurat, mutakhir; (2) materi harus bermakna, otentik, terpadu, berfungsi, kontekstual, komunikatif; (3) materi harus mencerminkan kebhinekaan dan kebersamaan, pengembangan budaya, ipteks, dan pengembangan kecerdasan berpikir, kehalusan perasaan, kesantunan sosial. Suprihatiningrum (2013) menambahkan penentuan materi pembelajaran perlu memperhatikan kompleksitas materi atau tingkat kesukaran, yaitu disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstrak. Untuk mengembangkan materi pembelajaran, Suprihatiningrum (2013:302) menjelaskan bahwa guru harus memerhatikan hal-hal, seperti potensi siswa, relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual siswa, kebermanfaatan bagi siswa, struktur keilmuan, aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran, relevansi dengan kebutuhan siswa dan tuntutan lingkungan, dan alokasi waktu. Dapat dinyatakan bahwa materi pelajaran merupakan sesuatu yang perlu diajarkan oleh guru sehingga siswa memahaminya agar kemampuan dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Gulo (2004) membedakan materi pelajaran menjadi dua yaitu materi formal dan materi informal. Materi formal adalah isi pelajaran yang terdapat dalam buku teks resmi (buku paket di sekolah), sedangkan materi informal ialah materi pelajaran yang bersumber dari lingkungan sekolah yang bersangkutan. Materi yang bersifat informal ini dibutuhkan agar lebih aktual dan relevan dalam pembelajaran. Menurut Prastowo (2013), bahan pembelajaran yang akan digunakan dapat berbentuk buku sumber utama atau buku penunjang lainnya. Ada juga bacaan penunjang seperti jurnal, hasil penelitian, majalah, koran, brosur, serta alat pembelajaran yang terkait dengan indikator dan kompetensi dasar yang ditetapkan. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa dasar-dasar atau kriteria dalam pemilihan materi pembelajaran di antaranya, yaitu: (1) harus sesuai dengan kurikulum sekolah, sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, serta indikator; (2) materi yang diajarkan siswa harus ajeg sesuai dengan kompetensi dasarnya; (3) materi pembelajaran harus mengandung keluasan dan kedalaman materi.

c. Syarat Materi Pembelajaran yang Baik

Materi pembelajaran yang baik harus memenuhi syarat-syarat seperti sesuaian dengan tujuan pembelajaran, bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh siswa sehingga membantu memudahkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, kebermanfaatan bagi siswa dan lain sebagainya. Winkel (2005) menyampaikan bahwa materi pelajaran digunakan untuk belajar serta membantu mencapai tujuan instruksional. Selanjutnya, Winkel (2005:331-332) menjelaskan ada beberapa kriteria dalam materi pembelajaran di antaranya:

1) materi harus relevan terhadap tujuan instruksional yang harus dicapai

2) materi harus sesuai dalam taraf kesulitannya dengan kemampuan siswa untuk menerima dan mengolah bahan itu

3) materi harus dapat menunjang motivasi siswa, antara lain karena relevan dengan pengalaman hidup sehari-hari siswa

4) materi harus membantu untuk melibatkan diri secara aktif, baik dengan berpikir sendiri maupun dengan melakukan berbagai kegiatan

5) materi harus sesuai dengan prosedur didaktis yang diikuti. Misalnya, materi pelajaran akan lain bila guru menggunakan bentuk ceramah, dibandingkan dengan pelajaran bentuk diskusi kelompok

6) materi harus sesuai dengan media pengajaran yang tersedia.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Semi (1993) bahwa kriteria materi ajar adalah sebagai berikut: (1) materi tersebut valid untuk mencapai tujuan pembelajaran; (2) materi harus bermakna dan bermanfaat jika ditinjau dari kebutuhan peserta didik (kebutuhan pengembangan insting etis dan estetis, imajinasi, dan daya kritis); (3) materi tersebut harus menarik supaya dapat merangsang minat peserta didik; (4) materi berada dalam batas keterbacaan dan intelektual peserta didik. Artinya dapat dipahami, ditanggapi, dan diproses peserta didik sehingga mereka merasa bahwa pembelajaran sastra adalah pembelajaran yang menarik bukan pembelajaran yang berat; (5) materi berupa bacaan karya sastra yang utuh, bukan sinopsis saja, karena karya sinopsis itu hanya berupa problem kehidupan tanpa diboboti nilai-nilai estetis yang menjadi pokok atau inti karya sastra.

Menurut Moody (dalam Nugrahani, 2009:393) menambahkan bahwa materi pembelajaran yang baik harus memperhatikan kesesuaian bahasa dengan materi, dapat dilihat dari kemudahan, kepantasan, dan kesesuaiannya dengan perkembangan psikologis dan latar belakang sosial budaya siswa, serta latar belakang politik dan situasi setempat. Menurut Sastrawinata (2011) sesuai panduan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), terdapat kriteria mutu (standar) buku nonteks pelajaran meliputi: (a) kelayakan isi atau materi; (b) kelayakan penyajian; (c) kelayakan bahasa; dan (d) kelayakan kegrafikaan. Kriteria tersebut yang pertama, kriteria materi dalam buku nonteks adalah: (a) materi yang mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional; (b) materi yang tidak bertentangan dengan ideologi dan kebijakan politik negara; (c) materi yang menghindari masalah SARA, bias jender, serta pelanggaran HAM. Kedua, kriteria penyajian materi buku nonteks dilakukan secara runtun, bersistem, lugas, dan mudah dipahami. Dalam menyajikan materi, penulis harus dapat mengemas materi secara runtun dan sistematis atau berurutan. Misalnya, keruntunan itu menggunakan

urutan dari materi yang mudah dahulu, kemudian yang sulit atau dari yang sederhana kemudian yang kompleks. Sistematika lain dapat dilakukan dengan cara mengurutkan dari hal-hal yang bersifat umum kemudian menyajikan hal-hal yang bersifat khusus atau sebaliknya. Ketiga, kriteria bahasa yang digunakan, meliputi ejaan, kata, kalimat, dan paragraf harus tepat, lugas, dan jelas. Hal lain yang harus diperhatikan oleh penulis buku nonteks pelajaran adalah keterbacaan (readability) buku tersebut. Buku nonteks pelajaran yang memiliki keterbacaan rendah maka akan sulit dipahami pembaca dan pesan dalam materi yang ditulis akan menjadi sia-sia dipahami peserta didik atau pendidik. Keempat, kriteria kegrafikaan seperti desain kulit buku yang berkenaan dengan tata letak, tipografi, atau ilustrasi yang menarik, sederhana, dan mencerminkan isi buku. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat ditarik simpulan bahwa syarat materi pembelajaran yang baik harus memperhatikan kelayakan isi atau materi, kelayakan penyajian, kelayakan bahasa, dan kelayakan kegrafikaan serta dua pokok masalah, yaitu memperhatikan tujuan instruksional yang ingin dicapai dan memperhatikan keadaan siswa. Memperhatikan keadaan siswa maksudnya adalah harus sesuai kemampuan dan kebutuhan siswa, selain itu harus memotivasi dan memiliki manfaat bagi kehidupan siswa.

d. Pengertian Pembelajaran Sastra di SMK

Pembelajaran sastra adalah kegiatan belajar mengajar tentang sastra seperti teori sastra, kritik sastra, apresiasi dan sebagainya, pembelajaran sastra merupakan pembelajaran yang menarik dan bermanfaat bagi siswa, karena karya sastra merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat yang diungkapkan secara kiasan. Menurut Sutikno (dalam Komsiyah, 2012:4), pembelajaran lebih menekankan pada cara-cara untuk mencapai tujuan dan berkaitan dengan cara mengorganisasikan isi pembelajaran, menyampaikan isi pembelajaran dan mengelola pembelajaran. Menurut Hamalik (2014:57), arti pembelajaran sendiri adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Basleman & Mappa (2011), pembelajaran digunakan untuk menunjukkan: (1) pemerolehan dan penguasaan tentang apa yang telah diketahui mengenai sesuatu; (2) penguluhan dan penjelasan mengenai arti pengalaman

seseorang, atau (3) suatu proses pengujian gagasan yang terorganisasi yang relevan dengan masalah. Dengan kata lain, pembelajaran digunakan untuk menjelaskan suatu hasil, proses, atau fungsi.

Karya sastra memberikan refleksi realitas yang lebih lengkap, lebih banyak, dan lebih dinamik. Menurut Emzir& Rohman (2015:224), “Substansi sastra tidak lain adalah pengalaman kemanusiaan...”. Dengan kata lain, apa pun yang ditemukan pembaca dalam karya sastra yang dibacanya tentang isu-isu kehidupan seperti cinta, maut, keadilan, baik dan buruk; segalanya itu harus berkaitan dengan pengalaman batinnya”. Suminto A. Sayuti (dalam Nugrahani, 2009: 393) menyampaikan bahwa ragam karya sastra yang dapat disajikan sebagai materi bagi siswa pada usia remaja (SMP dan SMA) dapat berupa apa saja.

Pembelajaran sastra berhubungan dengan empat keterampilan berbahasa. Emzir& Rohman (2015) menjelaskan bahwa integrasi materi sastra dalam empat keterampilan berbahasa bertujuan agar siswa memperoleh dan memiliki pengalaman berapresiasi sastra secara langsung sehingga tumbuh pengalaman penghayatan, penikmatan, penghargaan, dan penilaian siswa terhadap karya sastra. Berapresiasi sastra juga menambah pengetahuan; kesadaran dan kepekaan perasaan, sosial dan religi; serta penghargaan dan rasa bangga terhadap sastra sebagai salah satu khazanah budaya dan intelektual akan muncul dalam diri siswa. Menurut Lehman (dalam Slamet, 2014: 131), siswa yang menggunakan karya sastra dalam membaca memperoleh nilai yang lebih

tinggi dalam hal kosakata dan memahami isi bacaan dibandingkan dengan siswa yang tidak menggunakan karya sastra sebagai bahan bacaan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sastra adalah kegiatan belajar mengajar mengenai sastra seperti teori sastra, kritik sastra, apresiasi sastra dan lain-lain yang dapat meningkatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada aspek kognitif siswa mendapat informasi, pengetahuan, dan wawasan mengenai sastra. Pada aspek afektif siswa dapat menghargai, menilai karya sastra, selain itu melalui pembelajaran sastra siswa dapat meningkatkan nilai-nilai kehidupan serta menjadi manusia dewasa yang berbudaya. Pada aspek psikomotorik, dapat melatih dan meningkatkan keterampilan berbahasa.

Terdapat penelitian yang terkait dengan materi pembelajaran sastra, yaitu penelitian yang dilakukan Setyoningsih tahun 2014 dengan judul Novel Kancing yang Terlepas Karya Handy TM (Kajian Antropologi Sastra, Nilai-nilai Pendidikan Karakter, dan Relevansinya dengan Pembelajaran Sastra di SMA) menyimpulkan bahwa novel Kancing yang Terlepas karya Handry TM dapat dijadikan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran sastra di SMA kelas XII karena novel tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan karakter berupa toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, dan peduli sosial.

Dokumen terkait