BAB I PENDAHULUAN
2.1 Kajian Pustaka
2.2.2 Hakikat Menulis Pantun
Hakikat menulis dalam penelitian ini mencakup pengertian menulis dan menulis pantun.
2.2.2.1 Pengertian Menulis
Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi) secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya dengan tujuan memberitahu, meyakinkan, atau menghibur (Dalman 2014:3). Menurut Marwoto (dalam Dalman 2014:4) bahwa menulis merupakan mengungkapkan ide atau gagasannya dalam bentuk karangan secara leluasa. Menurut Wardoyo (2013:1-2) menulis merupakan sebuah kegiatan menemukan ide, mengorganisasikan juga mengkomunikasikan ide tersebut sehingga bisa dinikmati oleh orang lain. Komunikasi ide itu bukan secara lisan, tetapi dengan rangkaian kata-kata sehingga membentuk sebuah tulisan.
Menurut Wiyanto (2004:1-2), kata menulis mempunyai dua arti. Pertama, menulis berarti mengubah bunyi yang dapat didengar menjadi tanda-tanda yang dapat dilihat. Bunyi-bunyi yang diubah itu, bunyi bahasa yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, kata menulis mempunyai arti kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis. Orang yang melakukan kegiatan ini dinamakan penulis dan hasil kegiatannya berupa tulisan.
Wagiran (2005:2) mengemukakan menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang dipergunakan dalam komunikasi secara tidak langsung. Keterampilan menulis tidak didapatkan secara alamiah, tetapi harus melalui
proses belajar dan berlatih. Menurut Dalman (2014:5) menulis merupakan proses penyampaian informasi secara tertulis berupa hasil kreativitas penulisnya dengan menggunakan cara berpikir yang kreatif, tidak monoton dan tidak terpusat pada satu pemecahan masalah saja.
Menulis adalah sebuah kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan seseorang yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Menulis merupakan kegiatan untuk menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca dan berfungsi sebagai alat komunikasi secara tidak langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menulis merupakan kegiatan seseorang untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca dalam bahasa tulis agar bisa dipahami oleh pembaca dan seorang penulis harus memperhatikan kemampuan dan kebutuhan pembacanya (Rosidi 2009: 2-3).
Kartono (2009:17) mengemukakan bahwa menulis yang lebih luas yaitu sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekadar mengguratkan kalimat- kalimat, tetapi lebih dari itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Lain kata, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup”.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian menulis dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kegiatan berkomunikasi secara
tidak langsung yang mengandung segala imajinasi, gagasan, pikiran, pandangan hidup, pengalaman untuk mencapai maksud tertentu dengan menggunakan bahasa tulis sehingga dapat dipahami sepenuhnya oleh pembaca.
2.2.2.2 Menulis Pantun
Menulis pantun adalah serangkaian kegiatan untuk menyampaikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki dalam bentuk tulisan ditandai oleh adanya sampiran dan bagian isi. Menulis pantun merupakan kegiatan yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung melalui proses latihan untuk menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, atau informasi secara tertulis dengan menggunakan bahasa sebagai medianya yang terdiri atas sampiran dan isi dengan menggunakan pedoman syarat-syarat pantun yang telah ditentukan.
Menulis pantun sebagai sarana komunikasi yaitu suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan yang pasti terjadi sewaktu-waktu bila seseorang ingin berkenlana, menyampaikan nasihat, dan berhubungan satu sama lain dengan bahasa yang lebih singkat tanpa kalimat yang terlalu panjang. Menulis pantun menjadi sarana yang efektif dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, dapat digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyelipkan nasihat atau bahkan untuk melakukan kritik sosial, tanpa mencederai perasaan siapa pun. Menulis pantun tidak terikat oleh batas usia, status sosial, agama dan suku bangsa maka menulis pantun dapat dinikmati semua orang dalam situasi apapun dan untuk berbagai keperluan. Menulis pantun sebagai alat pemelihara bahasa, sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan sebagai alur berpikir serta dapat menolong kita berpikir
secara kritis dan memperdalam daya tanggap kita, mengasah kepedulian siswa terhadap masalah sosial dalam kehidupan.
Kemahiran menulis pantun sangatlah ditentukan dalam memilih pilihan kata-kata yang berkesinambungan antara sampiran dan isi pantun. Sampiran dan isi terdapat hubungan yang saling berkaitan, oleh karena itu tidak boleh membuat sampiran asal jadi hanya untuk menyamakan bunyi baris pertama dan baris ketiga dan baris kedua dengan baris keempat. Selain itu untuk menulis sebait pantun juga harus sesuai dengan jenis pantun yang akan dibuat, apabila dalam menulis pantun tidak sesuai antara jenis pantun dengan isinya maka pantun tersebut tidak benar. Kemahiran siswa dalam menulis pantun perlu dilatih serta dapat ditingkatkan melalui praktik menulis dan membaca.
Untuk menulis pantun secara baik sekaligus menghasilkan pantun yang indah harus mengetahui langkah-langkah yang baik dan benar dalam menulis pantun. Menulis pantun bagi orang yang belum terbiasa akan mengalami berbagai kesulitan. Hal ini karena untuk dapat menulis pantun membutuhkan banyak ketentuan yang harus diperhatikan sehingga perlu adanya cara atau teknik agar pembelajaran menulis pantun dapat dilakukan dengan mudah.
Menurut Wiyanto (2005:12-14), cara menulis pantun supaya mudah yaitu dengan langkah atau cara membuat isi terlebih dahulu baru membuat sampiran. Isi pantun dirakit menjadi dua kalimat yang akan diletakkan dalam baris ketiga dan keempat, setelah isi dirumuskan barulah mencari sampiran yang cocok. Dengan cara seperti itu dapat membuat pantun dengan mudah dan cepat. Sedangkan menurut Wahyuni (2014:145-150), langkah-langkah menulis pantun adalah
sebagai berikut a) menentukan tema; b) memilih jenis pantun; c) menulis kalimat isi; d) menulis kalimat sampiran; e) menggabungkan kalimat sampiran dan kalimat isi.