• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Hakikat Metode Jarimatika

Metode berasal dari bahasa Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat diperlukan oleh guru, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru. Metode yang digunakan harus disesuaikan dengan materi pelajaran dan karakteristik siswa. Dalam materi perkalian, salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode jarimatika.

Ali M. H. (2010: 1) “Jarimatika sendiri mempunyai arti menghitung dengan jari-jari yang kita punyai sebagai anugerah dari Tuhan yang Maha Esa. Dengan metode jarimatika jumlah jari kita yang sepuluh buah itu dapat dipahami sebagai 99 jumlahnya. Jadi jari-jari kanan kita bernilai satuan, dan jari-jari sebelah kiri kita bernilai puluhan”. Jarimatika memperkenalkan kepada anak bahwa berhitung itu menyenangkan serta mudah. Dan di dalam proses yang penuh kegembiraan itu anak dibimbing untuk bisa dan terampil berhitung dengan benar.

Menurut penemu jarimatika, Ibu Septi Peni Wulandani (2009: 17), jarimatika adalah salah satu metode berhitung dalam operasi KaBaTaKu (kali-bagi-tambah-kurang) dengan menggunakan jari-jari tangan. Jarimatika juga didesain agar anak tidak merasa sedang „belajar‟ Matematika. Buku Jarimatika banyak diselingi dengan gambar, kegiatannya penuh dengan permainan, gerak, lagu, dan juga kisah-kisah menarik. Target pertamanya adalah: Anak tidak takut Matematika.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode jarimatika adalah suatu cara yang digunakan untuk berhitung dalam operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dengan menggunakan jari-jari tangan.

commit to user

18

b. Latar Belakang Penggunaan Metode Jarimatika

Bruner dalam Nyimas Aisyah (2008: 1.6) mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak-atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu.

Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga tahapan yaitu model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik. Ketiga model penyajian yang dikenal dengan teori Belajar Bruner, dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Model Tahap Enaktif

Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek.

2) Model Tahap Ikonik

Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.

3) Model Tahap Simbolis

Dalam tahap ini bahwa bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang objek tertentu.

Anak usia sekolah dasar berada dalam tahap operasional konkret. Sehingga anak akan lebih mudah memahami sesuatu yang bersifat konkret daripada yang abstrak. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menggunakan berbagai media atau alat peraga untuk mempermudah anak dalam menyerap materi yang diberikan guru.

Pembelajaran matematika selama ini seringkali disajikan oleh guru dengan memberikan soal latihan sebanyak mungkin. Hal ini tentu saja ada manfaatnya, yaitu melatih kemampuan anak dalam mengerjakan soal-soal

commit to user

19

matematika. Tetapi, guru seringkali lupa untuk membuat matematika menjadi menyenangkan. Guru juga seringkali memacu siswa untuk terus belajar dan melakukan perhitungan yang hanya berhubungan dengan angka-angka dan lambang bilangan yang abstrak. Padahal sebenarnya matematika dapat dihubungkan dengan kehidupan siswa sehari-hari yang konkret.

Metode jarimatika adalah metode yang sedang tren saat ini. Metode ini dapat menjembatani antara dunia anak yang konkret dengan matematika yang bersifat abstrak. Melalui metode ini, anak dibimbing untuk belajar dengan cara yang lebih menyenangkan. Anak juga dapat mengotak-atik benda konkret berupa jari-jari tangannya sendiri, sehingga praktis dan tidak memberatkan memori otak. Jarimatika merupakan sebuah solusi dari masalah-masalah di atas. Jarimatika juga memenuhi kaidah-kaidah pembelajaran matematika. Dengan metode ini, anak diharapkan akan lebih tertarik dan senang belajar matematika.

c. Sejarah Jarimatika

Berikut ini adalah intisari sejarah jarimatika yang penulis akses www.jarimatika.com:

1) Jarimatika ditemukan oleh Ibu Septi Peni Wulandani. Bermula dari kecintaannya terhadap anak-anak dan keinginan untuk mendidik mereka. 2) Ketiga anaknya mendapat didikan langsung dari Septi di rumah alias

ber-homeschooling. Salah satu tantangan Septi adalah mengajari anak berhitung alias Matematika, materi yang selama ini dianggap ”menakutkan”.

3) Salah satu anaknya, Enes mengikuti kursus swipoa. Enes berusia tiga tahun. ”Saya lantas berpikir untuk ikut kursus, kemudian mengajari Enes,” ujar Septi yang lalu mengikuti kursus swipoa.

4) Berbekal pengetahuan dari kursus itu, Septi berupaya menciptakan metode yang disukai anaknya. Ia lalu menemukan metode jarimatika.

commit to user

20

Dalam jarimatika, tangan kanan diibaratkan tangan satuan dan tangan kiri sebagai tangan puluhan. Metode itu terus dikembangkan hingga mencapai angka ratusan dan ribuan, dengan menggunakan biku-biku jari. Selama 2000-2003 metode ciptaan Septi itu dipraktikkan kepada Enes, salah satu putrinya yang ternyata sangat menyukainya. Metode itu kemudian dinamai Jarimatika singkatan dari jari dan matematika.

Aplikasinya mudah sehingga dapat menjadi jembatan pertama anak memasuki dunia matematika yang dianggap sukar dan sering membuat minder. Kalau anak sudah percaya diri, mata pelajaran lain akan berkembang baik. Metode pembelajaran dengan jarimatika dikemas menyerupai permainan. Septi lalu menuliskan metode berhitung itu dan diterbitkan menjadi buku berjudul Jarimatika Penambahan dan Pengurangan (Teknik Berhitung Mudah dan Menyenangkan dengan Menggunakan Jari Tangan). Buku itu sudah memasuki cetakan ke-10, bahkan akan dibuat versi braille bagi tunanetra. Setelah itu juga terbit buku Jarimatika Perkalian dan Pembagian karangan Septi.

d. Keunggulan Metode Jarimatika

Metode jarimatika mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:

1) Berhitung dengan metode jarimatika mudah dipelajari dan menyenangkan bagi peserta didik. Mudah dipelajari karena jarimatika mampu menjembatani antara tahap perkembangan kognitif peserta didik yang konkret dengan materi berhitung yang bersifat abstrak.

2) Jarimatika memberikan visualisasi proses berhitung, peserta didik belajar dengan memanipulasi hal-hal konkret tersebut untuk memepelajari materi matematika yang bersifat abstrak dan deduktif. Ilmu ini mudah dipelajari segala usia, minimal anak usia 3 tahun. Menyenangkan karena peserta didik merasakan seolah mereka bermain sambil belajar dan merasa tertantang dengan metode jarimatika

3) Tidak membebani memori otak peserta didik. Metode berhitung jarimatika mampu menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, hal itu dapat

commit to user

21

ditunjukkan pada waktu berhitung mereka akan mengotak-atik jari-jari tangan kanan dan kirinya secara seimbang. Jarimatika mengajak peserta didik untuk dapat mengaplikasikan operasi hitung dengan dengan cepat dan akurat menggunakan alat bantu jari-jari tangan, tanpa harus banyak menghafalkan semua hasil operasi hitung tersebut.

4) Praktis dan efisien. Dikatakan praktis karena alat hitungnya jari maka selalu dibawa kemana-mana. Alatnya tidak akan pernah ketinggalan dan tidak akan disita apalagi diambil, jika si anak ketahuan memakai Jari-jari sebagai alat hitungnya pada saat ujian. Efisien karena alatnya selalu tersedia dan tidak perlu dibeli.

5) Penggunaan “Jarimatika” lebih menekankan pada penguasaan konsep

terlebih dahulu baru ke cara cepatnya, sehingga anak-anak menguasai ilmu secara matang. Selain itu metode ini disampaikan secara fun, sehingga anak-anak akan merasa senang dan gampang bagaikan “tamasya belajar”. 6) Pengaruh daya pikir dan psikologis karena diberikan secara

menyenangkan maka sistem limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru. Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal. Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal membangun rasa percaya dirinya untuk lebih jauh menguasai ilmu matematika secara luas.

e. Formasi Jarimatika Perkalian

Sebelum mengajarkan anak untuk menggunakan metode jarimatika dalam perkalian, anak perlu dibimbing untuk memahami konsep dasar tentang perkalian terlebih dahulu. Di bawah ini merupakan langkah-langkah pembelajaran perkalian kelompok dasar (bilangan 6-10):

1) Sebelum mempelajari jarimatika, siswa terlebih dahulu perlu memahami angka atau lambang bilangan.

commit to user

22

3) Siswa sebelumnya diajak bergembira, bisa dengan bernyanyi.

4) Mengenal lambang-lambang yang digunakan di dalam jarimatika. Pengenalannya dengan praktek secara langsung yaitu siswa diminta mengangkat jari-jarinya ke atas kemudian mendemonstrasikan formasi jari tangan yang digunakan dalam jarimatika seperti pada gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1. Formasi Jarimatika Perkalian 6-10

5) Siswa diajarkan cara-cara menghitung dengan jarimatika dengan ketentuan sebagai berikut :

Rumus: (T1 + T2) + (B1 x B2) Keterangan:

T1 = jari tangan kanan yang ditutup (puluhan) T2 = jari tangan kiri yang ditutup (puluhan) B1 = jari tangan kanan yang dibuka (satuan) B2 = jari tangan kiri yang dibuka (satuan)

commit to user

23

7) Guru dan siswa melakukan operasi perkalian dengan mendemonstrasikan menggunakan jari tangan. Guru mengajarkan dengan pelan-pelan dan menyenangkan sehingga siswa dapat memahami dengan baik penggunaan metode jarimatika.

Contoh:

Gambar 2. Formasi Berhitung Perkalian Tangan kanan (7) : kelingking dan jari manis ditutup (dilipat).

Tangan kiri (8) : kelingking, jari manis, dan jari tengah ditutup (dilipat). 7 x 8 dapat diselesaikan sebagai berikut:

Jari yang ditutup bernilai puluhan, dijumlahkan. Jari yang terbuka bernilai satuan, dikalikan. Formasi Jarimatikanya adalah sebagai berikut:

commit to user 24 7 x 8 = (T1 + T2) + (B1 x B2) = (20 + 30) + (3 x 2) = 50 + 6 = 56

7) Ajak siswa terus bergembira, jangan merepotkan anak untuk menghafal lambang-lambang jarimatika.

8) Melakukan latihan secara rutin dengan demikian anak merasa senang tanpa ada paksaan untuk menghafal.

Dokumen terkait