• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Motivasi Memilih Program Studi

LANDASAN TEORI

A. Hakikat Motivasi Memilih Program Studi

1. Pengertian Motivasi Memilih Program Studi

Slavin, (2011) mendefinisikan motivasi sebagai proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu kewaktu. McDonal (dalam Hamalik, 2005) mengartikan mo-tivasi sebagai perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurut Stipek (Slavin, 2011) motivasi melakukan sesuatu dapat terjadi dalam banyak cara. Motivasi juga merupakan karak-teristik kepribadian, orang bisa mempunyai minat yang stabil untuk berpartisipasi dalam kategori kegiatan yang luas seperti pendidikan, olahraga, atau kegiatan sosial.

Handoko (1992), motivasi sebagai suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Sebuah mo-tivasi bukan merupakan suatu kekuatan yang netral, atau kekuatan yang kebalterhadap pengaruh faktor-faktor lain, misalnya: pen-galaman masa lampau, taraf intelegensi, kemampuan fisik, situasi

lingkungan, cita-cita hidup dan sebagainya. Suatu motivasi umumnya terdapat dua unsur pokok, yaitu unsur dorongan/ kebu-tuhan dan unsur tujuan.

Purwanto (Uno, 2007) mengatakan bahwa ada 4 fungsi motiva-si yaitu:

a. Sebagai penggerak tujuan, maksudnya motivasi dapat mem-berikan energi baru bagi seseorang untuk memulai tindakan yang berkaitan dengan tujuan yang diharapkannya.

b. Menentukan perbuatan ke arah pencapaian suatu tujuan dan cita-cita, maksudnya motivasi akan membantu individu untuk menentukan arah perilaku yang sesuai untuk mencapai pilihan dan tujuan yang diharapkannya.

c. Mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan, maksudnya individu sudah siap dan sadar ten-tang tanten-tangan yang akan dihadapi oleh individu ketika memilih program studi yang di tawarkan.

d. Menyeleksi perbuatan diri, dengan menentukan tindakan mana yang tepat untuk dilakukan.

Handoko, (1992) menjelaskan bahwa motivasi dalam diri seseorang dapat menjadi kekuatan. Kekuatan tersebut terlihat misalnya, ketika seseorang melakukan suatu perbuatan. Tampak tingkah laku yang terjadi itu disebabkan oleh adanya kebutuhan yang sedang dirasakan oleh orang tersebut. Seseorang secara

lang-sung melakukan perbuatan, ingin memuaskan kebutuhan yang dirasakannya.

Kebutuhan seseorang dipengaruhi oleh suatu dorongan yang menimbulkan kesiapan bagi seseorang untuk mencapai tujuan (goal). Semua usaha yang dilakukan disebut sebagai tingkah laku menuju tujuan. Tingkah laku sadar akan tujuan merupakan tingkah laku yang selalu didorong oleh keingian demi tercapainya tujuan yang berguna bagi kehidupannya. Oleh karena itu, tercapainya se-buah tujuan dipengaruhi oleh besarnya kekuatan yang mendorong seseorang melakukan perbuatan tertentu.

Aprilianto, (2008) Motivasi merupakan hal paling dasar yang ditunjukkan oleh mahasiswa melalui komitmen untuk belajar. Komitmen mahasiswa yang tinggi akan tampak ketika mahasiswa giat untuk mempelajari pengetahuan terkait dengan perkuliahan, sedangkan komitmen mahasiswa yang rendah tampak perilaku lain selain belajar. Motivasi dalam memilih program studi tidak serta merta menjadi perilaku, karena masih ada faktor penting yang menentukan apakah motivasi yang dimiliki dapat menjadi perilaku. Faktor penting itu adalah volution (kemauan untuk bertahan pada komitmen yang telah dibuat).

Faktor kemauan bersifat dinamis, bisa tinggi atau rendah. Dinamika yang terjadi dipengaruhi oleh adanya proses belajar, artinya kemauan adalah proses untuk membuat pilihan secara bebas

yaitu menggunakan motivasi dengan kegiatan belajar, atau memilih kegiatan lain (selain belajar).

Setiap orang dalam kehidupan sehari-hari akan selalu menghadapi masalah yang berbeda-beda. Selalu ada kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, baik masalah yang ringan maupun masalah yang berat, masalah se-derhana ataupun kompleks. Individu berlatih untuk berfikir mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Karena itu, untuk melatih cara berfikir seseorang harus berani menghadapi masalahnya.

Walgito (1982) menjelaskan bahwa sumber masalah yang merupakan sebab kesukaran mahasiswa baru dalam memilih pro-gram studi secara garis besar yaitu:

a. Sebab yang bersumber dari diri sendiri

Mahasiswa merupakan kesatuan fisik dan psikologis, maksud-nya komponen satu dengan yang lain saling berhubungan dan mempengaruhi. Jika jasmani mengalami gangguan maka psikisnya juga terganggu, demikian juga sebaliknya. Penjelasan mengenai masalah fisik dan psikologis yang dapat menggangu proses pendidikan misalnya:

1) Timbul masalah yangbersumber dari fisik, maksudnya kondi-si fikondi-sik yang kurang sehat dapat menghambat tujuan siswa dalam melanjutkan pendidikan. Kebanyakan maha-siswa baru yang melanjutkan studi diperguruan tinggi cenderung lupa untuk menjaga kesehatan dengan makan

ja-janan dipinggir jalan atau kurang melihat kondisi kebersihan tempat tersebut. Akibatnya dengan mudah dan cepat maha-siswa terserang penyakit dan sulit mengerjakan tugasnya. Sangat penting bagi mahasiswa agar selalu menjaga jas-maninya. Hal tersebut didukung dengan aktivitas yang terar-tur, mulai dengan berolahraga secara rutin dan berlanjut. 2) Sebab masalah yang timbul karena kondisi psikologis,

mak-sudnya keadaan psikologis yang kurang mendukung mempengaruhi kesukaran mahasiswa dalam melanjutkan studi. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah psikologis se-bagai berikut:

a) Faktor intelegensi merupakan faktor yang kadang-kadang menjadi penghambat ketika melanjutkan studi. Bila taraf intelegensi kurang mendukung maka sulitlah untuk men-capai hasil yang memuaskan.

b) Minat merupakan salah satu sebab kesulitan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang dari jurusan satu pindah ke juru-san yang lainnya. Salah satu faktornya yaitu minat. Bila mahasiswa tidak mempunyai minat terhadap yang di-tuntutnya maka akan sulit baginya untuk meneruskan studinya.

c) Emosi, mahasiswa mempunyai emosi yang kurang stabil. Ketidakstabilan inilah yang kurang mendukung maha-siswa dalam melakukan tugas dan tujuannya. Hal tersebut

berkaitan pula dengan konflik-konfliik yang dihadapi oleh mahasiswa.

b. Sebab-sebab dari luar diri mahasiswa

Di samping faktor dari dalam diri mahasiswa, banyak pula faktor dari luar diri mahasiswa yaitu:

1) Sebab yang berasal dari keluarga atau orang tua

Faktor keluarga/orang tua memegang peran yang cukup penting menentukan berhasil atau tidaknya mahasiswa menentukan tujuannya diperguruan tinggi. Keluarga/orang tua merupakan tumpuan anak menumbuhkan pribadi dan membentuk pribadinya. Ada beberapa faktor penting beri-kut ini:

a) Orang tua, pribadi seorang mahasiswa terbentuk sejak perkembangan dimulai. Pribadinya akan terbentuk selama dia tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, tidak kecil pengaruh/peran orang tua dalam mem-berikan sikap yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Secara tidak sadar anak akan anak membentuk diri atas norma-norma yang diajarkan orang tuanya.

b) Hubungan orang tua dengan anak, kadang-kadang hub-ungan orang tua dan anak kurang diperhatikan. Ketika hubungan yang dijalin acuh tak acuh tanpa kasih sa-yang, tanpa pengertian dari orang tua dan anak secara langsung menghambat yang akan dicapai. Oleh karena

itu, perlu dibina dengan baik hubungan antara orang tua dengan anak.

c) Cara mendidik orang tua, orang tua yang memberikan pendidikan kepada anaknya akan berpengaruh terhadap perkembangan pribadi mahasiswa, termasuk pilihan saat akan memutuskan studi lanjutan. Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan pada umumnya akan kurang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anaknya. Kebutuhan psikologis, fisik, maupun sosial-nya. Ketika anak yang mempunyai kemampuan intele-gensi yang cukup tinggi, tetapi kurang diperhatikan oleh orang tua bisa saja anak tersebut terhambat proses pendidikannya dan mengalami kesukaran yang lain. d) Keadaan ekonomi keluarga, tidak dapat dipungkiri

bahwa studi mahasiswa akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Ketika ekonomi kurang mendukung, maka mahasiswa terhambat pula melanjutkan pendidikan. e) Suasana tepat tinggal, suasana yang ditemapati

maha-siswa mempengaruhi berhasilnya tujuan mahamaha-siswa. Tidak sedikit mahasiswa akan tinggal di koast atau asrama.

2) Keadaan Perguruan Tinggi

a) Fasilitas, kekurangan fasilitas diperguruan tinggi meru-pakan sebab terhambatnya proses pendidikan

maha-siswa. Kekurangan buku-buku, alat praktikum, dan lain-lain.

b) Kurikulum, penting bagi mahasiswa untuk mengetahui kurikulum yang dipakai oleh program studi yang men-jadi pilihan. Kurikulum yang belum mantap dan beru-bah-ubah sering kali menjadi penghambat mahasiswa dalam menjalankan pendidikannya. Tentu diperhatikan adanya peninjauan kurikulum yang terus berubah-ubah agar mahasiswa dapat lebih siap dalam menjalankan pendidikannya.

c) Peraturan-peraturan, yang dimiliki oleh setiap program studi. Sama halnya dengan kurikulum ketika peraturan juga dapat dengan mudah berubah maka mahasiswa akan terhambat pula pendidikannya.

3) Kondisi sosial/masyarakat

Masyarakat dimana tempat mahasiswa berada akan mempengaruhi keberhasilan tujuan mahasiswa. Banyak tan-tangan yang dihadapi oleh mahasiswa baru dilingkungann-ya. Besar pula pengaruh dari masyarakan atau teman sebaya yang berada disekitarnya. Terkadang persepsi masyarakat menjadi hambatan ketika mahasiswa hendak melanjutkan studinya. Misalnya persepsi program studi tertentu tidak bergengsi/kurang menantang dan lain-lain.

Singkatnya ada banyak tantangan yang dihadapi mahasiswa yang menyulitkan atau menghambat mahasiswa saat akan menentukan pilihan dalam melanjutkan studi. Masalah tersebut dapat muncul dari dalam diri maupun dari luar diri mahasiswa. Mahasiswa yang memotivasi dirinyadapat melewati tantangan hingga mampu menjalankan studinya dan berhasil dengan baik.

2. Faktor-Faktor Pemicu Motivasi Memilih Program Studi

Menurut Spillane, dkk (1887), faktor-faktor penting yang mempengaruhi motivasi memilih program studi yaitu:

a. Kebutuhan pribadi yaitu kesadaran mahasiswa untuk melanjut-kan pendidimelanjut-kan keperguruan tinggi. Misalnya mahasiswa baru tahu bahwa penting baginya untuk melanjutkan pendidikan dan memilih program studi yang sesuai dengan kebutuhan dirinya. b. Tujuan mahasiswa yaitu target yang akan dicapai oleh maha-siswa baru. Mahamaha-siswa yang hendak memilih hendaknya perlu memiliki tujuan yang jelas atau tidak coba-coba. Mahasiswa perlu berfikir matang dan pasti untuk menjalankannya. Misal-nya mahasiswa baru bertekad untuk fokus dalam menjalankan perkuliahannya.

c. Mempunyai rencana yang matang berkaitan dengan kebutuhan atau tujuan. Sebagai mahasiswa penting untuk memikirkan dan mempertimbangkan tujuan yang telah dipilih, agar sesuatu

yang telah dipersiapkan benar-benar tepat sasaran dan ter-laksana. Misalnya selama menjalankan perkuliahan mahasiswa baru mempersiapkan berbagai hal yang mendukung keberhasi-lan perkuliahannya.

Motivasi yang bekerja dalam diri mahasiswa baru memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Menurut Spillane, dkk (1887) Kekuatan relatif motif-motif yang sedang menguasai seseorang umumnya dapat dilihat melalui :

1) Kuatnya kemauan untuk berbuat, tampak ketika mahasiwa selalu ingin melakukan kegiatan yang mendukung perkuli-ahan yang dipilih oleh mahasiswa.

2) Jumlah waktu yang disediakan lebih banyak dari pada kegiatan yang kurang diminatinya. Mahasiswa melu-angkan banyak waktu untuk hal-hal yang disukainya, tidak merasa bosan atau jenuh mempelajari bidang ilmu mengenai program studi yang dipilih oleh mahasiswa. 3) Kerelaan meninggalkan kewajiban atau tugas yang lain

yang seharusnya juga akan dikerjakan. Tugas yang lain bukan menjadi hambatan bagi dirinya untuk meneruskan kegiatan/ keinginan yang berkaitan dengan program studi yang dipilih mahasiswa.

4) Kerelaan untuk mengeluarkan biaya demi keinginan terse-but. Mahasiswa tidak merasa rugi untuk mengeluarkan

biaya demi mendukung berjalannya program studi yang dipilih hingga selesai perkuliahannya.

5) Ketekunan dalam mengerjakan tugas dan lain-lain. Maha-siswa menggeluti tugas dengan senang hati tanpa ada beban yang membuat dirinya merasa lelah.

Perbedaan motivasi tersebut membuat setiap orang akan melakukan kebiasaan tersebut dengan berbeda, hal tersebut sangat tampak ketika mahasiswa melakukan kegiatan yang menjadi pilihannya.

3. Aspek-aspek motivasi memilih program studi

Handoko, (1992) salah satu penggolongan motivasi manusia yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Pembagian moti-vasi tersebut didasarkan oleh munculnya suatu tindakan. Tindakan yang digerakkan dari luar diri individu disebut motivasi ekstrinsik. Sedangkan tindakan yang digerakkan dari dalam diri individu dise-but motivasi intrinsik. Menurut Jahja, (2011)Motivasi mempunyai tiga aspek yaitu pertama, keadaan yang mendorongdiri seseorang misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan, atau keadaan mental seperti berfikir dan ingatan. Kedua, perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan ini. Ketiga sasaran atau tujuan yang dituju oleh perilaku tersebut.

Menurut Walgito (1982) dua aspek yang mempengaruhi pen-capaian tujuan mahasiswa di perguruan tinggi yaitu aspek motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

a. Motivasi intrinsik

Motivasi Intrinsik merupakan faktor internal dari dalam maha-siswa tanpa ada paksaan atau pengaruh dari luar diri. Motivasi intrinsik tersebut yaitu:

1) Menetapkan tujuan/ goal yang akan dicapai.

Memilih program studi Bimbingan dan Konseling merupa-kan bentuk rencana mahasiswa baru dalam memahami peluang kerja dan memiliki keahlian yang sesuai diprogram studi yang dipilih. Mahasiswa yang memiliki tujuan dalam memilih program studi misalnya:

a) Selalu optimis untuk menggeluti dunia pendidikan khu-susnya menjadi guru Bimbingan dan Konseling. b) Mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat

menerap-kan seluruh pengetahuan dan potensi yang dimilikinya untuk peserta didik dan lingkungan sekitarnya.

2) Kesadaran untuk memahami diri.

Memilih program studi Bimbingan dan Konseling merupa-kan salah satu hal yang sangatmendasar harus dimiliki oleh mahasiswa baru karena dipengaruhi minat dan bakat yang dimilikinya. Mahasiswa yang tertarik dengan program studi yang dipilih, yaitu:

a) Mulai tertarik dan senang membaca buku-buku berkai-tan dengan program studi Bimbingan dan Konseling yang dipilih.

b) Mempunyai rencana dan keinginan yang kuat untuk dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu.

c) Mempunyai kepercayaan diri setelah mengikuti berbagai program Bimbingan dan Konseling melalui pendidikan karakter.

d) Semakin meningkatkan potensi diri dan mengem-bangkan kemampuan yang dimilikinya.

3) Nilai-nilai yang dipegang.

Memilih program studi Bimbingan dan Konseling menjadi bentuk keyakinan mahasiswa baru melalui keinginannya mandiri dalam mencari informasi, mempertimbangkan pro dan kontra, serta tanggung jawab yang akan dijalani selama kuliah di program studi yang dipilih. Mahasiswa yang mempunyai nilai-nilai yang pegang yaitu:

a) Mencoba untuk mencari berbagai informasi tentang Bimbingan dan Konseling.

b) Berpikir dengan matang ketika hendak memilih pro-gram studi.

c) Bersedia untuk mengikuti segala peraturan selama kuliah.

b. Motivasi ekstrinsik

Mahasiswa baru memilih program studi bimbingan dan konsel-ing dipengaruhi oleh faktor motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik tersebut yaitu :

1) Kondisi lingkungan masyarakat yang mendukung.

Mahasiswa memilih program studi karena dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Mahasiswa baru memperoleh banyak informasi mengenai program studi yang akan dipilih me-lalui teman sebaya atau di lingkungan sosialnya. Kondisi masyarakat yang mendukung, misalnya:

a) Teman akrab/sebaya yang memperhatikan ketika maha-siswa baru menceritakan program studi yang dipilih. b) Adanya kesan positif bahwa program studi Bimbingan

dan Konseling sangat dibutuhkan mengembangkan pendidikan disekolah.

2) Komunikasi yang baik antara anak dan orang tua.

Mahasiswa baru tidak lepas dari keluarga. Keluarga meru-pakan orang terdekat dan tempat dirinya berkembang secara optimal. Pengaruh kondisi itu dapat terjadi ketika maha-siswa mulai mempertimbangkan pendapatan orang tua, atau bentuk partisipasi dari orang tua mahasiswa dalam memilih program studi. Mahasiswa memilih program studi berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi keluarga, Misalnya:

a) Memilih program studi karena sesuai dengan penghasi-lan orang tua/keluarga.

b) Dukungan keluarga/orang tua untuk sepenuhnya mem-biayai pendidikan anaknya.

3) Memilih jurusan Bimbingan dan Konseling dengan tujuan tertentu. Mahasiswa memilih program studi Bimbingan dan Konseling mengharapkan sesuatu, misalnya demi mendapatkan beasiswa yang di tawarkan oleh program studi, mahasiwa ingin mengembangkan diri dan merasa puas ketika sudah memilih program studi yang menjadi tujuannya. Sehingga tujuan yang dipilih oleh mahasiswa sangat memengaruhi daya tahan dalam menjalani perkulia-han.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa individu yang telah memiliki motivasi dalam pemilihan program studi lebih mampu dan siap dan yakin untuk menjalani perkuliahan. Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik yang seimbang akan membantu individu untuk berkembang menjadi lebih optimal.

Dokumen terkait