• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Pendidikan Karakter a. Pendidikan

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. Tinjauan Pustaka

4. Hakikat Pendidikan Karakter a. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupan sesuai dengan minat mereka masing-masing begitulah hakekat pendidikan menurut John Dewey (A‟la, 2012:10). Dewey adalah salah satu pendidik paling berpengaruh pada awal abad kedua puluh. Dewey juga meyakini bahwa pendidikan memiliki tanggungjawab untuk meningkatkan minat siswa, memperluas

commit to user

dan mengembangkan horizon keilmuan mereka, dan membantu mereka agar mampu menjawab tantangan dan gagasan baru di masa mendatang (Huda, 2013: 3).

Sejalan dengan pendapat John Dewey, banyak ahli dari berbagai bidang berpendapat bahwa sebenarnya pendidikan merupakan pintu menuju ke arah kemajuan. Pendidikan bukan hanya dilaksanakan dalam lingkungan formal atau sekolah, namun pendidikan juga terjadi di ruang non-formal yaitu keluarga dan lingkungan masyarakat. Dewantara berpendapat bahwa pendidikan ialah usaha kebudayaan yang bermaksud memberi bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak agar dalam kodrat pribadinya serta pengaruh lingkungannya mereka memperoleh kemajuan lahir dan batin menuju ke arah adab kemanusiaan (Suratman, 1987: 12).

Berkembangnya kekuatan nafsu dan datangnya kelemahan budi dikuasai oleh nafsu-birahi sangat mengkhawatirkan bagi dunia pendidikan saat ini. Jika anak-anak sama lupa dan yang mendidik tidak awas disitulah bahaya datang. Maka dari itu dalam waktu birahi haruslah si pendidik memegang teguh segala peraturan mengenai perhubungan anak-anak laki-laki dan perempuan (Dewantara, 1977: 17). Bahaya yang telah ditengarai oleh Bapak Pendidikan kita di awal Bangsa Indonesia membangun fondasi pendidikan, terbukti benar dan semakin menjadi. Bukan hanya di kalangan pelajar kekuatan nafsu yang disebutkan juga telah menjadi kekuatan merusak dalam masyarakat umum.

Sangat disayangkan,, sejalan dengan era modernisme, pendidikan di Indonesia justru lebih menekankan kepada peningkatan ketrampilan dan kognitif, utamanya

commit to user

berhubungan dengan peluang untuk mendapat pekerjaan formal. Seakan mengabaikan peringatan Ki Hajar Dewantara. Tentu saja hal ini adalah sebuah bumerang bagi pendidikan di Indonesia, karena ketrampilan dan kecerdasan memiliki nilai netral dan yang menjadikannya baik atau buruk adalah nilai-nilai yang menjadi ruhnya. Jika kecerdasan dirasuki nilai kerakusan maka amat mungkin akan menghasilkan anak didik yang pandai korupsi. Seorang yang memiliki ketrampilan namun tanpa rasa tanggung jawab maka amat mungkin menghasilkan karya tanpa perduli akibat karyanya bagi orang lain, sebagai misal anak-anak kreatif yang mengotak-atik motor balap lalu menggunakannya di jalan raya (A‟la, 2012: 13).

Pendidikan utamanya adalah cara suatu komunitas untuk menanamkan nilai-nilai, berbeda dengan tujuan dari pembelajaran. Mendidik adalah upaya membangun

software, dan penekanannya tidak pada hardware. Sekolah yang dalam bahasa

Yunani skhole, scolae atau scola berarti waktu luang, saat ini justru menjadi waktu yang menyita banyak hal dari siswa.Waktu bermain, berinteraksi, menyendiri sudah semakin sedikit demi meningkatkan kepandaian ilmu. Padahal setiap orang tumbuh dalam fase- fase yang membutuhkan situasi dan suasana yang sesuai.

Wajar jika seseorang yang di masa kecilnya tidak punya „waktu bermain‟ sampai usia dewasa ia masih bermain-main, wajar jika banyak kita temui orang-orang yang gagal dalam bersikap karena tidak pernah punya waktu dan ketrampilan untuk merenung dan mengambil jarak. Akibatnya sangat mudah ia terombang-ambing dan terbujuk rayuan bahkan hanya oleh iklan misalnya, seseorang menjadi berubah sikap dan pilihan (A‟la, 2012: 11). Pendidikan umumnya berarti daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect)

commit to user

dan tubuh anak. Sedangkan pendidikan budi pekerti harus mempergunakan syarat-syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan menuju kepada kesucian, ketertiban dan kedamaian lahir batin (Dewantara, 1977: 16). Pendidikan yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan nasional, hal ini bisa diartikan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa harus didasari jiwa merdeka dan jiwa nasional dari bangsa itu. Hanya orang-orang yang berjiwa merdeka saja yang sanggup berjuang menuntut dan selanjutnya mempertahankan kemerdekaan. Syaratnya ialah pendidikan Nasional dan pendidikan merdeka pada anak-anak yang akan dapat memberi bekal kuat untuk membangun karakter bangsa.

b. Pendidikan Karakter

Watak atau karakter itulah paduan daripada segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda yang khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain. Dalam bahasa Yunani character itu asalnya dari perkataan charassein – mengukir corak yang tetap dan tidak terhapuskan (Dewantara, 1977: 407). Lickona dianggap sebagai pendukung pendidikan karakter . Karakter adalah “A

reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way”. Menurut

Lickona pendidikan karakter mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan ( knowing the Good), mencintai kebaikan (desiring the Good), dan melakukan kebaikan (doing the good) (Lickona, 2013: 51).

Dewantara (2011:25), memandang karakter sebagai watak atau budi pekerti. Menurut Ki Hadjar Dewantara, budi pekerti adalah bersatunya antara gerak fikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan, yang kemudian menimbulkan tenaga.

commit to user

Karakter merupakan sifatnya jiwa manusia, mulai dari angan-angan hingga terjelma sebagai tenaga. Dengan adanya budi pekerti manusia akan menjadi pribadi yang merdeka sekaligus berkepribadian dan dapat mengendalikan diri sendiri.Berdasarkan pengujian dan observasi yang dilakukan terdapat perbedaan signifikan terhadap siswa-siswa di sekolah program pendidikan nilai dibandingkan sekolah yang tidak menerapkan pendidikan nilai terhadap perilaku di kelas, perilaku di halaman bermain, ketrampilan penyelesaian persoalan sosial, dan komitmen kepada nilai-nilai demokrasi (Lickona, 2013: 41).

Salah satu aspek penting proses pendidikan memang adalah membangun karakter siswa. Karakter merupakan standar atau norma dan sistem nilai yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai luhur yang pada akhirnya terwujud di dalam perilaku. Oleh karena itu pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika, moral dan tanggung-jawab”.

Secara sederhana dapatlah diuraikan bahwa sikap adalah cara seseorang melihat sesuatu secara mental (dari dalam diri) yang mengarah pada perilaku yang ditujukan pada orang lain, ide, objek maupun kelompok tertentu. Sikap juga tercermin dari cara seseorang mengkomunikasikan perasaannya kepada orang lain, termasuk juga melalui perilaku (Hutagalung, 2007: 51). Jika perasaan seseorang terhadap sesuatu adalah positif maka akan terpancar pula perilaku positif dari individu bersangkutan. Jika perasaan sedang tidak nyaman (negatif) maka yang nampak adalah wajah yang keruh, semangat kerja menurun, hari-hari terasa

commit to user

membosankan. Sikap adalah sesuatu bisa dipelajari bukan bawaan, lebih bisa dibentuk, dikembangkan, dipengaruhi dan diubah. Sikap mengandung tiga bagian yaitu kognitif (keyakinan, kesadaran), afektif (perasaan), konatif (perilaku) dengan uraian sebagai berikut:

Komponen kognitif adalah komponen yang berisikan apa yang diyakini dan apa yang dipikirkan seseorang mengenai objek sikap tertentu – fakta, pengetahuan dan keyakinan tentang objek. Misalnya, sikap mahasiswa terhadap impor beras, komponen kognitif dapat meliputi beberapa informasi, adanya mafia importir beras, kemampuan bangsa sendiri memproduksi beras. Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek, terutama penilaian. Tumbuhnya rasa senang atau tidak ditentukan oleh keyakinan seseorang terhadap objek sikap. Semakin dalam komponen keyakinan positif maka akan semakin senang orang terhadap objek sikap. Misalnya kekhawatiran atau ketakutan akan terjadinya pelemahan kemampuan bangsa oleh kekuatan asing. Keyakinan negatif ini akan menghasilkan penilaian negatif pula terhadap impor.

Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek. Bila seseorang menyenangi suatu objek, maka ada kecenderungan individu tersebut akan mendekati objek dan sebaliknya. Misalnya kecenderungan mahasiswa untuk bertindak terhadap impor beras dengan menandatangani petisi dan mengadakan demonstrasi untuk menentang impor beras, menentang orang yang mendukung impor beras. Dengan mengetahui kognisi dan perasaan seseorang terhadap suatu objek sikap tertentu maka akan dapat

commit to user

diketahui pula kecenderungan perilakunya, namun dalam kenyataannya tidak selalu suatu sikap tertentu berakhir dengan perilaku yang sesuai. Artinya terjadi proses pengaruh mempengaruhi dari komponen kognitif, afektif dan perilaku (Hutagalung, 2007:53).

“Character educators can recognize religion‟s contribution to our culture

while honoring the first amendment. Schools can help students understand religion‟s role in our nation‟s beginnings, major social-reform movements, and individuals‟

motivation; construct special curricula; and encourage students to tap inner

resources to address social issues and ultimate questions (Lickona, 1999: 26).

Pendidikan karakter adalah sesuatu yang harus dan wajib. Setiap orang bisa menjadi canggih tapi tanpa karakter dan nilai baik dalam dirinya maka ia akan menjadi seperti mesin. Baik atau buruknya tidak tergantung oleh dirinya tapi oleh orang lain yang mengoperasikannya. Dia bukan lagi pribadi yang merdeka namun sepenuhnya terjajah. Dengan demikian hakikat pendidikan berbeda dengan pembelajaran, adalah pendidikan karakter, watak dan nilai dimana suatu kompetensi, ketrampilan, kecerdasan bisa diarahkan supaya bernilai positif.

c. Pendidikan Karakter dalam Budaya Jawa

Dalam proses pembelajaran berdasarkan UU Nomer 20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan Nasional disebutkan salah satu sumber pembentukan karakter adalah dengan bersumber kepada kebudayaan. Setiap kebudayaan terdapat model dari karakter yang baik. Pendidikan karakter berbasis kebudayaan dapat menjadi pembendung arus modernisasi dan globalisasi yang tidak sejalan dengan kebudayaan

commit to user

Indonesia. Sekaligus bisa memberikan tawaran nilai-nilai alternatif. “Pendidikan karakter dalam konteks membangun karakter bangsa memiliki pertautan erat dengan basis kebudayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkepribadian luhur. Di konteks kebudayaan yang lebih luas, pendidikan karakter tentu merupakan pranata penting dan strategis untuk membangun kebudayaan dan peradaban bangsa.

Joesoef nmengatakan bahwa Dewantara mengadopsi sistem pendidikannya ke tanah air dengan konsepnya education part of culture, jadi yang diajarkan adalah

culture atau kebudayaan. Tentu kebudayaan bukan dalam arti seni pertunjukan.

Sistem pendidikan Indonesia yang ideal adalah yang menghamba pada pertumbuhan dan perkembangan anak didik sebagai warga negara Indonesia, oleh karena itu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan pemikiran mendalam soal kebudayaan bangsanya (2007:6).

Pendidikan budaya dan bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis produktif dan kreatif (Kemendiknas Balitbang, 2010: 4). Anak yang sejak kecil selalu dibiasakan pada bahasa asing dan dijauhkan dari bahasanya sendiri, ia akan kehilangan perhubungan batin dengan orang-orang tuanya sendiri, dan kelak dikemudian hari ia juga akan terasing perasaannya terhadap bangsanya sendiri (Dewantara, 1977: 11). Anak tersebut cenderung akan tercerabut dari latar budayanya. Teristimewa haruslah kita memperhatikan pangkal kehidupan

commit to user

kita yang terus dalam kesenian, peradaban, syarat-syarat agama atau terdapat dalam kitab-kitab cerita. Semua itu adalah arsip nasional dalam mana tersimpan beberapa kekayaan batin dari bangsa kita (Dewantara, 1977: 16).

Pendidikan memiliki metode, alat-alat yang pokok, cara-cara mendidik. Cara-cara itu amat banyaknya, akan tetapi dalam pokoknya semua Cara-cara itu bisa dibagi seperti berikut: a. memberi contoh, b. pembiasaan, c. pengajaran, d. perintah, paksaan dan hukuman, e. laku (zelfbeheresching, zelfdiscipline), f. pengalaman lahir dan batin

(nglakoni, ngrasa, beleving) (Dewantara, 1977: 28). Khusus tentang cara mendidik

dengan laku akan menjadi perhatian dalam penelitian ini. Laku merupakan salah satu metode kuno bagi manusia Jawa untuk memperoleh kawicaksanan dan kasampurnan. Sehubungan dengan konsep laku, Ki Hajar Dewantara membagi tingkatan psikologis manusia yang sekaligus menjadi dasar metode pengajaran dengan memperbandingan dengan tradisi pendidikan Islam.

Tingkatan pertama adalah pengajaran syariat diartikan sebagai pembiasaan bertingkah laku serta berbuat menurut peraturan atau kebiasaan yang umum. Tingkatan kedua adalah hakikat yang berarti kenyataan atau kebenaran dan yang mengandung maksud memberi pengertian kepada anak-anak agar mereka menjadi insyaf serta sadar tentang segala kebaikan dan kebalikan-kebalikannya. Tingkatan ketiga ialah tarikat yang lebih terkenal dengan sebutan tirakat. Tarikat berarti laku, yakni perbuatan yang dengan sengaja kita lakukan dengan maksud supaya kita melatih diri untuk melaksanakan berbagai kebaikan, bagaimanapun sukarnya atau beratnya. Metode keempat ialah makrifat berarti faham benar-benar. Siswa harus

commit to user

sudah mengerti akan adanya hubungan antara tata tertib lahir dan kedamaian batin, sudah cukup berlatih dan biasa berlatih dan biasa menguasai dirinya sendiri serta menempatkannya di dalam garis-garis syariat dan makrifat (Dewantara, 1977: 485-487). Laku dengan demikian oleh Ki hajar Dewantara dianggap memiliki konsep yang sama dengan tingkatan tarikat dalam agama Islam.

Pada umumnya segala laku yang disengaja yang memerlukan kekuatan kehendak dan kegiatan tenaga yang istimewa bisa dianggap sebagai bentuk pengajaran budipekerti. Pokok isinya pengajaran budi pekerti yaitu segala apa yang mengandung maksud memelihara keinsyafan dan kesadaran dalam hal hidup tertib-damai, bagi diri dan masyarakat, anak-anak. Selain bahan-bahan pengajaran budi pekerti yang secara spontan dan occasional, hendaknyalah diinsyafi bahwa segala ceritera yang dikenal sebagai dongeng-dongeng atau mythen dan legenden, ataupun lakon-lakon dalam pertunjukan-pertunjukan wayang dan sandiwara, akhirnya segala babad dan sejarah, baik yang mengenai hidup kebangsaan sendiri maupun kebangsaan-kebangsaan lain sedunia, dapat dimasukkan dalam reportoire pendidikan Nasional (Dewantara, 1977: 489-490).

Karya sastra Jawa banyak mengandung ajaran tentang laku, yang bisa menjadi tauladan bagi peserta didik dalam usaha mengenal lingkungan utamanya mengenal dirinya sendiri. Melalui sastra Jawa dan cerita wayang masyarakat Jawa melakukan pendidikan. Melalui pengajaran yang efektif dan sungguh-sungguh karya sastra Jawa klasik akan mampu menjadi bagian dari usaha pemerintah dan sekolah untuk mengembangkan pendidikan karakter bagi siswa-siswi yang saat ini teramat kering

commit to user

dari acuan nilai-nilai keindahan, kehalusan, kerendahatian, kedewasaan, kepedulian, kelapangan dada, keteguhan niat. Metode pendidikan Jawa laku sejajar artinya dengan pendekatan saintifik yang ada dalam kurikulum 2013. Kebudayaan Jawa yang memiliki kandungan nilai-nilai kehidupan memiliki potensi sebagai jalan alternatif dari pendidikan Indonesia yang selama ini kering dari nilai-nilai karakter.

Dokumen terkait