• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Pendidikan Sebagai Suatu Yang Natural Bagi Manusia Dan Masyarakat

BAB VI : Dalam bab enam ini berisi tentang penutup yang memuat

SOSIO-PROGRESIF

A. Hakikat Pendidikan Sebagai Suatu Yang Natural Bagi Manusia Dan Masyarakat

Menurut Ibnu Khaldun pendidikan pada manusia merupakan sesuatu proses yang natural (Thobi’i), dan proses pendidikan tersebut terjadi dalam masyarakat atau peradapan bangsa. Dan dalam perkembangannya manusia akan menggunakan naluri dan akalnya tersebut untuk terus terlibat dalam penambahan wawasan dan pengetahuan. Hal ini dikarenakan manusia berbeda dengan makhluk lain yang diberikan kelebihan oleh Allah SWT berupa akal pikiran. Akal pikiran menjadikan insting manusia berkeinginan memperoleh sesuatu wawasan yang belum diketahuinya. Sehingga manusia melakukan kegiatan apa saja untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Seperti ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan mata pencahariaan, norma kehidupan sosial masyarakat, ketuhanan, beserta amal ibadah, yang pada akhirnya mereka juga ikut menjalankan pengetahuan tersebut, seperti kegiatan masyarakat, kegiatan keagamaan. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Bab enam pasal 1 Muqoddimah Ibnu Khaldun.

174

Ilmu Pengetahuan dan Pengajaran merupakan sesuatu yang Natural dalam peradapan Manusia

Hal ini karena manusia memilki kesamaan dengan makhluk hidup dalam sifat kemahklukannya, seperti perasaan, bergerak, makan, bertempat tinggal dan lainnya. Namun manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya karena kemampunnya berpikir yang memberikan petunjuk kepadanya, mendapatkan mata pencahariaan, bekerjasama dengan antar sesamanya, berkumpul dalam rangka untuk bekerjasama, menerima dan menjalankan ajaran yang dibawa para Nabi dari Allah SWT.319

Pernyataan Ibnu Khladun tentang pendidikan diatas yang menyatakan bahwa manusia berbeda dengan makhluk lain, yakni diberikan kelebihan oleh Allah SWT berupa akal pikiran, dan dengan akal pikilan tersebut menjadikan insting manusia berkeinginan memperoleh sesuatu wawasan yang belum diketahuinya, serta menjadikan manusia melakukan kegiatan apa saja untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Di sini Ibnu Khladun memandang manusia/peserta didik merupakan subyek dari proses pendidikan. Dengan nalurinya tersebut, manusia akan terus mencari pengetahuan dan wawasan. Oleh karena itu dapat kita katakan jika pemikiran pendidikannya tesebut merupakan pemikiran pendidikan progresif, karena salah satu

319

175

ciri pendidikan progresif itu bahwa peserta didik yang menjadi pusat pendidikan (student center).320

Selain bersifat progresif, pernyataan Ibnu khaldun di atas memandang jika pada hakikatnya pendidikan merupakan suatu proses alami dari masyarakat dan peradaban. Sebagaimana menurutnya jika ilmu dan pengajaran merupakan fenomena sosial yang bercirikan hubungan sosial masyarakat dan merupakan pengaplikasian dari keyakinan keagamaan.

Pernyataan Ibnu Khaldun tentang hakikat pendidikan ini, sangatlah Nampak jika menggunakan pendekatan sosiologis. Karena menurut CA. Elwood dalam bukunya The Psycology of Human Society menyatakn bahwa ada 3 unsur biologis yang menyebabkan manusia hidup bermasyarakat dan saling ketergantungan, yaitu dorongan untuk makan, dorongan untuk mempertahankan diri dan dorongan untuk melangsungkan jenisnya.

Kemudian, jika kita hubungkan dengan Bab II yang menjelaskan mengenai ciri-ciri sosiologis dari pemikiran pendidikan, yakni pada poin a, dan b, yaitu: a) Memperhatikan aspek sosial dalam mengkaji permasalahan pendidikan, dan b), Melihat manusia sebagai bagian dari masyarakat sosial. Maka dapat kita nyatakan jika Ibnu Khaldun dalam mengungkapkan hakikat pendidikan menggunakan pendekatan sosiologis.

320 Diantara prinsip-prinsip pendidikan progresif yang berkembang dalam teori pendidikan dibarat yaitu, a) Proses Pendidikan Menemukan Asal-Muasal dan Tujuannya pada Anak,. b)

Subjek-Subjek Didik adalah Aktif Bukan Pasif, lihat, George R. Knight, penj. Mahmud Arif, Filsafat Pendidikan, (Jogjakarta: Gana Media, 2007), h. 149

176

Pernyatan Ibnu Khaldun yang lain, yang menunjukkan jika dia memandang hakikat pendidikan itu sebagai suatu pendidikan yang dinamis dengan mengedepankan kemaslahatan kehidupan social (sosio-progresif). Seperti ungkapan Ibnu Khaldun321.

“Kemudian pikiran sangat berhasrat untuk memperoleh ilmu pengetahuan

yang belum dimilikinya dia kembali pada orang yang lebih dahulu memiliki ilmu daripadanya atau orang yang mempunyai kelebihan ilmu pengetahuan dan pemahaman atau mengambil ajaran yang disampaikan oleh para nabi yang mendahuluinya, kemudian ia mempelajari ajaran tersebut dan mengambil ilmu dari mereka.”

Dapat kita pahami jika pemikiran manusia ini menghasilkan industri yang muncul dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk pemikiran ini adalah berusaha mencari ilmu pengetahuan. Karena manusia selalu butuh untuk mengenal pengetahuan dari orang-orang sebelumnya, dari pengalaman, dan dari kerajinan-kerajinan dan industri-industri yang diikutinya322

Seperti pernyataan Ibnu Khaldun di awal, jika pernyataannya ini dapat kita katakan sebagai pemikiran pendidikan , karena salah satu ciri pendidikan itu bahwa peserta didik (siswa) yang menjadi pusat pendidikan atau pemikiran yang bercorak

321 Ibid.,h. 429-430

322

177

student-centered dan melibatkan orang lain dilingkungan sosialnya dalam mencari ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu pendidikan menurutnya disandarkan pada pengalaman dan pengamatan sehingga hasil dari pendidikan adalah kemandirian dan keberanian dalam menghadapi kenyataan.323 Pandangannnya mengenai pendidikan dan pengajaran didasarkan filsafatnya yang realistis pragmatis yang disarikan dari filsafat sosialnya ia menjadikan pengajaran sebagai profesi untuk mencari rizki. Hal ini sangat berbeda dengan pandangan Imam al-Ghazali yang Idealis Sufistik dengan memandang tujuan pengajaran hanyalah untuk mencapai keridhoan Allah semata324. Sebagaimana pernyataan Ibnu Khaldun:325.

Kemahiran (malakah326) semuanya bersifat jasmaniyah, baik itu kemahiran yang ada pada tubuh, seperti aritmetika yang ada pada otak sebagai kemampuan manusia untuk berfikir dan sebagainya, dan semua benda jasmaniyah adalah sensibilia, karenanya membutuhkan pengajaran."

Pernyataan Ibnu Khaldun tersebut senada dengan karakteristik fungsi pendidikan sosio-progresif yakni pendidikan berfungsi sebagai upaya melakukan

323 Abdul Khaliq, dkk. Op. cit., h. 22

324

Ibid. h. 43

325 Abdul al-Rahman Ibnu Muhammad Ibnu Khaldun,. Op. cit. h. 112

326 Ibnu Khaldun memasukkan Malakah lebih dalam makna "kualitatif" daripada "kuantitatifnya", Malakah tidak sekedar sebagai kemahiran rutin, tetapi juga sebagai kemampuan melakukan sesuatu yang sudah sedemikian terbiasa dan professional/ mahir.

178

rekonstruksi pengalaman yang terus menerus agar dapat berbuat sesuatu yang intelligent dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dari lingkungan pada masa sekarang. Merupakan pendidikan yang dirancang, dilaksanakan, dinilai, dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha menjawab tantangan dan peluang yang ada dilingkungan masyarakat tertentu pada masa depan.

B. Tujuan Pendidikan Sebagai Wahana Untuk Memenuhi Kebutuhan