• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Pendidikan Sosio-progresif

BAB VI : Dalam bab enam ini berisi tentang penutup yang memuat

SIFAT SOSIOLOGIS DALAM PEMIKIRAN PENDIDIKAN DAN FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIF

C. Karakteristik Pendidikan Sosio-progresif

a. Pengertian Pendidikan Sosio-progresif

Secara bahasa sosial memiliki arti yaitu segala sesuatu mengenai masyarakat112. sedangkan progresif memiliki arti kearah kemajuan, berpandangan kearah perbaikan keadaan sekarang dibandingkan dahulu113. Sedangkan jika dua kata tersebut digabung menjadi satu kata maka memilki arti yang berbeda seperti penggabungan kata sosial dan ekonomi menjadi sosio-ekonomi114. Adapun arti penggabungan sosio dan progresif menjadi Sosio-progresif yaitu segala sesuatu mengenai masyarakat yang bersifat kearah kemajuan atau kearah perbaikan keadaan sekarang dibandingkan dahulu. Namun dalam penelitian ini, yang penulis maksud dengan Sosio-progresif yaitu suatu pendekatan filsafat115 dalam keilmuan pendidikan Islam. Sebagai suatu pencarian konsep pemikiran pendidikan yang

111 Ibid, h. 146–147

112 Pius A Partanto & M. Dahlan al-Barry, Op, cit., h. 718

113 W.J.S. Poerwadarminta, Op, cit.,h. 769

114

Gabungan kata, termasuk sitilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengantanda hubung untuk menegaskan pertalian diantara unsure yang bersangkutan. Susilo Mansuruddin, Op, cit., h. 28

115 Pendekatan Filsafat yang penulis maksud yaitu pendekatan dari aspek Ontologi,

77

dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan saat ini untuk mewujudkan Islamisasi Ilmu pengetahuan.

Dari pengertian pendidikan progresif dan pengertian sifat sosiologis dalam pemikiran pendidikan, maka dapat kita artikan bahwa pengertian pendidikan Sosio-progresif yaitu pemikiran pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan disekolah berpusat pada anak (child centered), berwasan pendidikan yang bebas, modifikatif, progresif, dinamis dan berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. sehingga pendidikan berfungsi sebagai upaya melakukan rekonstruksi pengalaman yang terus menerus agar dapat berbuat sesuatu yang intelligent dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dari lingkungan pada masa sekarang. Merupakan pendidikan yang dirancang, dilaksanakan, dinilai, dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha menjawab tantangan dan peluang yang ada dilingkungan masyarakat tertentu pada masa depan.

b. Tujuan Pendidikan Sosio-progresif

Tujuan pendidikan Sosio-progresif adalah membentuk anak agar kelak dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang diperlukan dilingkungan sosialnya, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, memilki jiwa berkembang, dinamis dalam mengupdate keilmuan dan keterampilan, dan bekerja dengan otak dan hati.

78

Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. Pendidikan juga harus pembentuk akhlak anak yang berusaha untuk menjadikan diri dan lingkungannya lebih baik dan terbaik. Dan pendidikan harus melibatkan lingkungan sosialnya dalam memberikan pengetahuan serta keterampilan kepada anak didik, siswa juga diharapkan memiliki keterampilan, alat dan pengalaman sosial, dan memiliki pengalaman problem solving.116

c. Kurikulum Pendidikan Sosio-progresif

Pendidikan Sosio-progresif menempatkan subjek didik pada titik sumbu sekolah (child-centered). Mereka lalu berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan inisiatif subjek didik dengan pendekatan sosial lingkungannya. Jadi, ketertarikan anak adalah titik tolak bagi pengalaman belajar.

Kurikulum pendidikan Sosio-progresif adalah kurikulum yang tidak kaku dan dapat direvisi, sehingga kurikulum yang berpusat pada pengalaman dan sosial cocok sebagai pusat pengembangan kurikulumnya. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Disini guru menggunakan ketertarikan alamiah anak untuk membantunya belajar berbagai keterampilan yang akan mendukung anak menemukan kebutuhan dan keinginan terbarunya. Akhirnya, ini akan membantu anak (subjek didik) mengembangkan

116

79

keterampilan pemecahan masalah dan membangun ‘gudang’ kognitif informasi yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sosial. Oleh karena itu kurikulum pendidikan Sosio-progresif, di sekolah hendaknya mengandung:

a. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar dan Mengembangkan ketrampilan berfikir, hasrat ingin tahu, serta kemampuan problem solving dan mengambil keputusan

b. Membina kesadaran moral dan tingkah laku sosial dalam upaya pembinaan rasa tanggung jawab dan menghargai akal budi.

c. Menumbuhkan sikap mandiri di dalam melakukan telaahan serta mengembangkan kekuatan intelektual yang bebas dan bertanggung jawab. d. Memberikan sejumlah pengetahuan dan pengertian tentang fakta-fakta dan

peristiwa-peristiwa yang menentukan dunia kehidupan yang bakal dialami. e. Mengembangkan kemampuan murid untuk menyadari maslaha-masalah dan

resiko yang bakal muncul didalam pengambilan tindakan atau pilihan disepanjang hidup kelak.

d. Metode Pendidikan Sosio-progresif

Metode pendidikan Sosio-progresif tentu menekankan kepada student center dan pendekatan lapangan sosial langsung, oleh karena itu diantara metode yang dapat digunakan dalam pendidikan Sosio-progresif adalah;

a. Metode Pendidikan Aktif, Pendidikan Sosio-progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya;

80

b. Metode Memonitor Kegiatan Belajar, Mengikuti proses kegiatan anak belajar sendiri maupun bersama kelompoknya, sambil memberikan bantuan-bantuan apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut;

c. Metode Penelitian Ilmiah, Pendidikan Sosio-progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep;

d. Pemerintahan Pelajar, Pendidikan Sosio-progresif memperkenalkan pemerintahan pelejar dalam kehidupan sekolah dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan sekolah;

e. Kerjasama Sekolah Dengan Keluarga dan Masyarakat, Pendidikan Sosio-progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga, sekolah dengan masyarakat, keluarga dan masyarakat dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak;

f. Sekolah Sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan, Sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperanan pula sebagai laboratoriun dan pengembangan gagasan baru pendidikan.117

e. Pandangan Pemikiran Pendidikan Sosio-progresif terhadap Peserta didik

Pemikiran pendidikan Sosio-progresif menganggap subjek-subjek didik adalah aktif, bukan pasif, sekolah adalah dunia kecil (miniatur) masyarakat besar,

117

81

aktifitas ruang kelas difokuskan pada praktik pemecahan masalah, serta atmosfer sekolah diarahkan pada situasi yang kooperatif dan demokratis. Mereka menganut prinsip pendidikan perpusat pada anak (child-centered). Mereka menganggap bahwa anak itu unik. Anak adalah anak yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak mempunyai alur pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan sendiri yang berbeda dengan orang dewasa.118

f. Pandangan Pemikiran Pendidikan Sosio-progresif terhadap Pendidik

Dalam pemikiran pendidikan Sosio-progresif, guru mempunyai peranan sebagai; (1) Fasilitator, orang yang menyediakan diri untuk memberikna jalan kelancaran proses belajar sendiri siswa; (2) Motivator, orang yang mampu membangkitkan minat siswa untuk terus giat belajar sendiri; (3) Konselor, orang yang membantu siswa menemukan dan mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapi oleh setiap siswa;119 (4) Sosiator, orang yang mendampingi siswa mengenal dan masuk dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian guru perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik siswa, dan teknik-teknik memimpin perkembangan siswa, keadaan lingkungan masyarakat siswa, serta kecintaan pada anak agar dapat menjalankan peranannya dengan baik.

118 Ibid, h. 146 – 147

119

82

BAB III

BIOGRAFI IBNU KHALDUN