• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. JANJI PERKAWINAN PASUTRI

A. Perkawinan

5. Hakikat Perkawinan

Perkawinan Katolik pada intinya atau hakikatnya adalah persatuan seluruh hidup antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berpegang pada perjanjian cinta kasih dengan pasangan dan Allah dengan maksud mencapai

kebahagiaan serta kesejahteraan bersama. I Ketut Adi Hardana dalam Persiapan Kursus Perkawinan (2010: 10) menuliskan beberapa inti/hakikat dalam perkawinan, yaitu:

 Perkawinan adalah sebuah perjanjian. Istilah perjanjian atau kesepakatan mau membarui istilah hukum: “kontrak”. Kata “Perjanjian” dipilih karena lebih bernuansa rohani yang mengingatkan akan perjanjian antara Allah dan manusia yang bernuansa cinta kasih.

 Bentuk perkawinan: perkawinan adalah persekutuan seluruh hidup antara pria dan wanita. Persekutuan seluruh hidup ini menyangkut: kesatuan hati dan perasaan walaupun mereka adalah dua pribadi yang berbeda; tempat tinggal, artinya tinggal di rumah yang sama; kesatuan ekonomi atau keuangan, artinya penghasilan dan pendapatan antara suami-istri disatukan dan dikelola secara bersama demi kesejahteraan seluruh keluarga; kesatuan badan yang diungkapkan dalam hubungan seks antara suami-istri.

 Subyek yang mengadakan perkawinan itu adalah seorang pria dan seorang wanita yang sungguh-sungguh; artinya pria dan wanita yang normal, baik secara fisik maupun psikis. Karena itu, Gereja Katolik menolak mengakui keabsahan perkawinan antara dua orang yang sesama jenis atau antara orang yang melakukan pergantian kelamin.

 Dasar dari sebuah perkawinan adalah cinta kasih yang tampak dalam persetujuan bebas dari kedua calon mempelai. Secara yuridis, persetujuan bebas itu menjadi prasyarat dari sebuah perjanjian perkawinan yang sah.

 Tujuan dari sebuah perkawinan: kebahagiaan bersama suami-istri dan keluarga dalam seluruh aspek hidupnya serta kelahiran dan pendidikan anak.

 Dalam Gereja Katolik, hakikat perkawinan dipahami secara lebih mendalam sebagai Sakramen yaitu ikatan cinta mesra dalam hidup bersama antara suami dan istri yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dilindungi dengan hukum-hukum-Nya yang menampakkan cinta kasih Allah kepada umat-Nya (GS, 48).

Berdasarkan beberapa hakikat perkawinan yang ditulis oleh Timotius I Ketut Adi Hardana tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal sehubungan dengan hakikat/inti perkawinan. Perkawinan pada masa lalu diistilahkan sebagai sebuah kontrak antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Istilah kontrak saat ini diganti dengan istilah janji dengan alasan lebih bernuansa rohani, selain alasan tersebut istilah janji sudah sering kita jumpai dalam Kitab Suci, baik Perjanjian

Lama maupun Perjanjian Baru sehingga kita dapat dengan baik mengistilahkan kata janji tersebut dalam perkawinan terlebih janji dalam perkawinan tidak jauh berbeda dengan istilah janji dalam Alkitab yang melibatkan Allah sebagai pengikat janji. Perkawinan merupakan sebuah bentuk persekutuan seluruh hidup dan seumur hidup. Dalam perkawinan segala sisi yang ada pada seorang laki-laki maupun seorang perempuan tidak terkecuali melebur menjadi satu dan membentuk persekutuan hidup bersama yang hanya dapat dipisahkan oleh Allah dengan adanya maut. Gereja Katolik tidak mendiskriminasi pribadi yang memiliki kelainan seksual seperti homoseksual melainkan justru menerima dan memberikannya tempat. Sikap mau menerima pribadi yang memiliki kelainan homoseksual bukan berarti setuju serta menerima perkawinan sesama jenis ataupun perkawinan yang dilangsungkan oleh seorang laki-laki dan perempuan namun salah satunya sudah melakukan operasi pergantian kelamin. Gereja Katolik menolak karena sudah melanggar keluhuran ciptaan Tuhan dan kodrat sebagai seorang laki-laki maupun seorang perempuan. Ada berbagai ketentuan yang mengawali sebuah perkawinan, salah satu yang mutlak adanya unsur kebebasan yang dimiliki masing-masing pribadi sebelum melangsungkan perkawinan. Keterpaksaan menjadikan perkawinan yang dilangsungkan secara Katolik menjadi tidak sah (Rubiyatmoko, 2011: 80).

Perjanjian dalam perkawinan juga memiliki tujuan dalam melangsungkan kehidupan bersama, tujuan dari perkawinan secara umum adalah kesejahteraan pasangan dan pendidikan anak. Ada 7 (tujuh) sakramen dalam Gereja Katolik dan salah satunya adalah Sakramen Perkawinan. Perkawinan bisa menjadi sebuah

Sakramen jika dilangsungkan antara laki-laki dan perempuan yang telah dibabtis secara Katolik atau dilangsungkan antara laki-laki dan perempuan yang salah satunya dibabtis secara Katolik dengan orang yang pembabtisannya diterima secara Katolik atau dilangsungkan antara laki-laki dan perempuan yang pembabtisannya diterima secara Katolik, sehingga dalam perkawinan Katolik ada 2 (dua) jenis perkawinan, yakni perkawinan yang sakramen dan yang non sakramen (KWI, 2011: 8-10).

6. Perkawinan yang Sakramen dan Non Sakramen

Perkawinan dalam Gereja Katolik dibedakan menjadi dua, yakni perkawinan yang sakramen dan yang bukan sakramen (non sakramen).

a. Perkawinan sakramen

Perkawinan disebut sakramen apabila dilangsungkan oleh dua orang yang dibabtis hal ini selaras dengan yang ada dalam KHK, kan. 1055§ 2 “Karena itu antara orang-orang yang dibabtis, tidak ada kontrak perkawinan sah yang tidak sendirinya sakramen”. Jadi perkawinan yang dilangsungkan antara laki-laki dan perempuan yang telah dibabtis secara Katolik atau dilangsungkan antara laki-laki dan perempuan yang salah satunya dibabtis secara Katolik dengan orang yang pembabtisannya diterima secara Katolik atau dilangsungkan antara laki-laki dan perempuan yang pembabtisannya diterima secara Katolik secara langsung diangkat menjadi sakramen. Perkawinan yang sakramen menjadi gambaran dari pengambilan bagian dalam persatuan kasih abadi antara Kristus dengan Gereja- Nya. Ini yang membedakan Sakramen Perkawinan dengan sakramen yang

lainnya. Sakramen Perkawinan bukan diterima dari Imam atau dari pelayan Gereja serta siapapun itu, namun Sakramen Perkawinan saling diterimakan oleh pasangan melalui janji perkawinan yang mereka ucapkan. Janji perkawinan juga merupakan janji yang diucapkan kepada Allah dan juga Injil Suci.

b. Perkawinana non sakramen

Perkawinan non sakramen adalah perkawinan yang dilakukan antara seorang yang dibabtis secara Katolik dan yang tidak dibabtis. Perkawinan non sakramen bisa dilangsungkan dalam Gereja Katolik dan sah. Hal ini selaras dengan yang ada dalam KWI (2011: 8-10) yang mengatakan bahwa “Secara yuridis perkawinan antara seorang yang dibabtis secara Katolik adalah sah jika diteguhkan dengan forma canonica (di depan pejabat Gereja Katolik dan dua orang saksi), namun bukanlah sakramen”. Karena salah satu pasangan tidak dibabtis maka tidak bisa disebut saling menerimakan sakramen”. Jadi jelaslah ada perbedaan antara perkawinan orang yang keduanya dibabtis secara Katolik dan hanya salah satu yang dibabtis secara Katolik. Perkawinan yang dilangsungkan antara seorang laki-laki dan perempuan yang keduanya dibabtis secara Katolik akan membawa dampak sakramen pada perkawinannya, sedangkan perkawinan yang dilangsung antara seorang laki-laki dan perempuan yang hanya salah satunya saja yang dibabtis secara Katolik maka perkawinan tersebut bukanlah sakramen. Namun yang perlu diingat adalah kedua perkawinan tersebut sah karena diteguhkan di depan pejabat Gereja Katolik dan dua orang saksi. Jadi jelas bahwa tidak semua perkawinan yang dilakukan secara Katolik adalah sakramen.

Dokumen terkait